Goldman Sachs Prediksi Lalu Lintas Selat Hormuz Tak Akan Kembali Normal
Lalu lintas kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz diperkirakan tidak akan kembali sepenuhnya ke level sebelum konflik di Timur Tengah.
(Kompas.com) 19/06/26 11:10 254334
JAKARTA, KOMPAS.com - Lalu lintas kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz diperkirakan tidak akan kembali sepenuhnya ke level sebelum konflik di Timur Tengah.
Analis Goldman Sachs memperkirakan arus minyak yang melalui jalur pelayaran strategis tersebut hanya akan pulih hingga sekitar 70 persen dari kondisi sebelum perang atau setara 13 juta barel per hari.
Pemulihan itu diperkirakan berlangsung secara bertahap dan baru tercapai pada akhir Juli 2026. Sementara itu, produksi minyak secara keseluruhan diperkirakan baru kembali normal pada Oktober 2026.
SHUTTERSTOCK/SVEN HANSCHE Ilustrasi kapal tanker.Goldman Sachs menyebutkan, perubahan pola perdagangan minyak selama konflik berpotensi menjadi permanen karena negara-negara produsen di kawasan Teluk telah mengembangkan jalur ekspor alternatif.
Arus minyak diperkirakan hanya pulih 70 persen
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur perdagangan minyak paling penting di dunia. Sebelum konflik, sebagian besar ekspor minyak dari negara-negara Teluk bergantung pada jalur tersebut.
Namun, penutupan Selat Hormuz selama perang memaksa produsen minyak di kawasan untuk mencari rute lain agar ekspor tetap berjalan.
Goldman Sachs menilai perubahan tersebut dapat mengubah peta perdagangan minyak dalam jangka panjang.
Co-Head of Global Commodities Research Goldman Sachs Daan Struyven mengatakan, pasar minyak mengalami guncangan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
"Menghadapi guncangan pasokan minyak terbesar yang pernah ada, kita kehilangan sekitar 14 persen produksi global dari Timur Tengah," kata Struyven dalam podcast Goldman Sachs Exchanges yang direkam pada Selasa (16/6/2026).
ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Warga Iran duduk di tepi Pantai Suru, Bandar Abbas, pesisir Selat Hormuz, 1 Juni 2026, ketika perang Iran masih berkecamuk.Meski demikian, harga minyak justru turun dari lebih dari 120 dollar AS per barrel menjadi di kisaran 80 dollar AS.
Menurut Struyven, pasar memperkirakan pasokan minyak dari Timur Tengah akan pulih secara bertahap.
Selain itu, negara-negara di luar kawasan juga menunjukkan kemampuan beradaptasi yang cukup besar, termasuk melalui penurunan permintaan minyak global sekitar 5 persen dan peningkatan pasokan dari wilayah lain.
Ia menjelaskan, ekspor minyak dari kawasan Teluk sebenarnya dapat kembali ke tingkat normal meskipun lalu lintas di Selat Hormuz hanya pulih sekitar 70 persen.
Hal itu dimungkinkan karena selama konflik, produsen minyak mengalihkan sebagian ekspor melalui jaringan pipa.
"Agar ekspor dari kawasan ini kembali normal sepenuhnya, arus melalui selat harus kembali ke sekitar 70 persen dari tingkat normal karena kita telah melihat banyak pengalihan melalui jalur pipa khususnya," ujar Struyven.
Ia mengatakan, faktor utama yang akan menentukan pemulihan lalu lintas kapal di Selat Hormuz adalah sikap Iran.
"Saya rasa pertanyaan kuncinya adalah, apakah ada kemauan di Iran untuk melihat peningkatan aliran dana?" kata dia.
AS dan Iran capai kesepakatan damai awal
Prospek pemulihan lalu lintas di Selat Hormuz menguat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan damai awal.
Pada Rabu (17/6/2026), presiden kedua negara menandatangani dokumen fisik kesepakatan pendahuluan yang mengakhiri konflik dan membuka jalan bagi dibukanya kembali Selat Hormuz.
AFP Baliho di bangunan Lapangan Valiasr, Teheran, Iran, menggambarkan wajah Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Selat Hormuz, ketika difoto pada 2 Mei 2026.Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran akan membuka kembali jalur pelayaran itu.
Sebagai gantinya, AS akan mencabut seluruh sanksi terhadap Teheran, termasuk sanksi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Selain itu, AS juga berkomitmen mengucurkan dana sebesar 300 miliar dollar AS untuk membantu rekonstruksi Iran, di samping sejumlah komitmen lain yang disepakati kedua negara.
Meski demikian, Goldman Sachs menilai ketidakpastian masih tinggi.
"Namun secara keseluruhan masih cenderung ke arah positif, karena belum tentu selat itu akan terbuka sepenuhnya. Belum tentu, bahkan jika terbuka sepenuhnya, selat itu akan tetap terbuka," tutur Struyven.
Aktivitas kapal tanker mulai meningkat
Berdasarkan laporan terbaru, aktivitas kapal tanker di Selat Hormuz mulai meningkat meskipun masih jauh di bawah level sebelum perang.
Bloomberg melaporkan, arus minyak yang dapat terpantau secara langsung di Selat Hormuz mencapai sekitar 1,3 juta barrel per hari.
Selain itu, terdapat tambahan sekitar 1,6 juta barrel per hari yang dikirim dari Teluk Oman menggunakan kapal-kapal yang mematikan perangkat geolokasi mereka untuk menghindari deteksi militer Iran.
Data tersebut menunjukkan bahwa perdagangan minyak mulai pulih, tetapi sebagian aktivitas masih berlangsung secara terbatas.
Di sisi lain, negara-negara produsen juga mulai terbiasa menggunakan jalur ekspor alternatif yang dinilai lebih aman dari risiko geopolitik di Selat Hormuz.
SHUTTERSTOCK/GOLDEN DAYZ Ilustrasi produksi minyak, harga minyak mentah.Arab Saudi maksimalkan jaringan pipa
Arab Saudi menjadi salah satu negara yang paling agresif mengalihkan jalur ekspor minyak selama penutupan Selat Hormuz.
Negara tersebut meningkatkan aliran minyak melalui East-West Pipeline yang menghubungkan ladang minyak di bagian timur dengan pelabuhan Yanbu di Laut Merah.
Saat ini, aliran minyak melalui jaringan pipa tersebut rata-rata mencapai sekitar 7,5 juta barel per hari.
Pemanfaatan pipa ini memungkinkan Arab Saudi tetap mengekspor minyak tanpa harus melalui Selat Hormuz.
Strategi serupa juga dilakukan oleh negara-negara lain di kawasan.
Uni Emirat Arab (UEA) telah keluar dari OPEC dan berencana meningkatkan kapasitas produksi serta ekspor minyak.
UEA juga menyiapkan pembangunan jaringan pipa baru yang ditargetkan selesai tahun depan sehingga dapat mengekspor minyak tanpa melewati Selat Hormuz.
Sementara itu, Irak mempertimbangkan peningkatan signifikan aliran minyak melalui jaringan pipa menuju Turki untuk memperluas pilihan jalur ekspor.
Risiko harga minyak masih tinggi
Meski memperkirakan pemulihan bertahap, Goldman Sachs menilai risiko terhadap pasokan minyak global masih cukup besar.
Struyven mengatakan terdapat skenario di mana ekspor minyak dari Teluk pulih lebih lambat dan Selat Hormuz tidak pernah sepenuhnya dibuka kembali.
"Kami menjabarkan skenario kenaikan harga di mana ekspor dari Teluk hanya pulih secara bertahap dan Selat Hormuz tidak pernah sepenuhnya dibuka kembali," sebut dia.
Dalam kondisi tersebut, Goldman Sachs memperkirakan harga minyak Brent dapat menembus 130 dollar AS per barel pada akhir tahun.
Namun, seiring bertambahnya kapasitas jaringan pipa dan kemampuan pasar menyesuaikan diri, gangguan pasokan diperkirakan akan lebih mudah dikelola.
Struyven menilai konflik tersebut menunjukkan dunia kemungkinan akan menghadapi gangguan pasokan komoditas yang lebih sering di tengah fragmentasi geopolitik global.
"Masa depan mungkin akan ditandai dengan gangguan pasokan yang lebih sering dan besar di dunia yang sangat terfragmentasi, di mana AS dan China bersaing untuk kekuasaan geopolitik, dominasi AI, dan dominasi komoditas," ujar dia.
"Namun, ini juga bisa menjadi dunia di mana kita akan terkejut dengan kemampuan untuk mengatasi gangguan pasokan tersebut," sebut dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#kapal-tanker #ekspor-minyak #konflik-di-timur-tengah #selat-hormuz #perdagangan-minyak