Kredit Perbankan Tumbuh Dua Digit, BI Yakin Ruang Ekspansi Masih Besar
Di tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan justru menunjukkan penguatan.
(Kompas.com) 19/06/26 13:08 254427
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah kebijakan moneter yang semakin ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, pertumbuhan kredit perbankan justru menunjukkan penguatan.
Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan pada Mei 2026 tumbuh 11,51 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang tumbuh 9,98 persen.
Kenaikan ini menjadi sorotan karena terjadi ketika bank sentral menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate secara agresif.
Laman resmi Bank Indonesie (BI), bi.go.id Bank Indonesia (BI).Dalam satu bulan terakhir, BI telah menaikkan BI Rate sebesar 100 basis poin, terdiri dari kenaikan 25 basis poin, 50 basis poin, dan terakhir 25 basis poin pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026.
Meski demikian, Wakil Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai kondisi tersebut belum menghambat laju penyaluran kredit perbankan.
"Bank Indonesia masih optimistis terhadap pertumbuhan dan peran perbankan saat ini. Kalau kita lihat pada Mei 2026, pertumbuhan kredit mencapai sekitar 11,5 persen year on year," ujar Destry dalam konferensi pers hasil RDG BI, Kamis (18/6/2026).
Menurut Destry, pertumbuhan kredit saat ini lebih banyak ditopang oleh kredit produktif, khususnya kredit investasi.
"Pertumbuhan kredit tersebut lebih terfokus pada kredit investasi. Artinya, terdapat pertumbuhan kredit yang produktif, di mana kredit investasi tumbuh 21,95 persen, kemudian diikuti kredit modal kerja yang tumbuh sekitar 8 persen," kata dia.
Kredit investasi melesat
Data BI menunjukkan, berdasarkan kelompok penggunaan, kredit investasi menjadi penopang utama pertumbuhan kredit pada Mei 2026.
ANTARA/Rizka Khaerunnisa Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Bulan Maret 2025 di Jakarta, Rabu (19/3/2025).Kredit investasi tercatat tumbuh 21,95 persen secara tahunan. Sementara itu, kredit modal kerja tumbuh 8,09 persen dan kredit konsumsi tumbuh 5,89 persen.
Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, pertumbuhan kredit yang tetap kuat tersebut penting untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.
"Pertumbuhan kredit perbankan tetap kuat untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lebih lanjut," kata Perry.
Menurut dia, akselerasi kredit pada Mei mencerminkan sektor riil masih membutuhkan pembiayaan, terutama untuk aktivitas investasi.
Destry juga menilai komposisi pertumbuhan kredit yang didominasi sektor produktif menjadi indikasi bahwa aktivitas ekonomi masih terus bergerak.
"Artinya terdapat geliat ekonomi yang terus tumbuh. Hal itu dicerminkan oleh kredit produktif yang tumbuh jauh lebih kuat dibandingkan kredit konsumtif," ujarnya.
Kredit investasi sendiri merupakan pembiayaan yang digunakan perusahaan untuk memperluas usaha, membangun fasilitas produksi, maupun melakukan ekspansi bisnis.
Sementara kredit modal kerja digunakan untuk mendukung operasional perusahaan sehari-hari, seperti pembelian bahan baku dan pembayaran biaya operasional.
Adapun kredit konsumsi merupakan pinjaman yang digunakan masyarakat untuk kebutuhan pribadi, seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor, maupun kartu kredit.
BI masih optimistis kredit tumbuh
Meski BI tengah fokus menjaga stabilitas rupiah melalui kenaikan suku bunga, bank sentral tetap memproyeksikan pertumbuhan kredit tahun ini berada di kisaran 8 hingga 12 persen.
KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti.Destry mengatakan, peluang pertumbuhan kredit masih terbuka cukup besar.
"Kalau ditanya apakah peluang pertumbuhan kredit masih ada, tentu kami masih sangat confident," ucap dia.
Menurut Destry, tren pertumbuhan kredit dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan peningkatan yang konsisten.
"Dengan pertumbuhan kredit dalam beberapa bulan terakhir yang relatif stabil di level 8 sampai 9 persen, dan sekarang sudah mencapai 11 persen, nampaknya peluang pertumbuhan masih terbuka," ujarnya.
Optimisme tersebut juga didukung oleh masih banyaknya sektor ekonomi yang penyaluran kreditnya belum mencapai potensi optimal.
Destry menyebut sektor pertanian, pengangkutan, dan perdagangan sebagai beberapa sektor yang masih memiliki ruang pertumbuhan besar.
"Kami juga melihat masih banyak sektor yang pertumbuhan kreditnya jauh di bawah potensinya, seperti sektor pertanian, pengangkutan, dan perdagangan," kata dia.
"Sehingga hal ini tentunya akan memberi peluang bagi perbankan ke depan untuk menyalurkan kredit kepada sektor-sektor yang memiliki potensi besar, tetapi saat ini penyaluran kreditnya masih di bawah potensinya," lanjut Destry.
Dana tersedia, bank punya ruang ekspansi
Selain permintaan kredit yang dinilai masih kuat, BI juga melihat kapasitas pembiayaan perbankan masih memadai.
Salah satu indikator yang menjadi perhatian adalah besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan.
Perry mengungkapkan, hingga Mei 2026 nilai undisbursed loan mencapai Rp 2.576 triliun atau setara 22,41 persen dari total plafon kredit yang tersedia.
SHUTTERSTOCK/JUICY FOTO Ilustrasi kredit, kredit perbankan.Besarnya dana yang belum tersalurkan tersebut menunjukkan perbankan masih memiliki ruang untuk meningkatkan pembiayaan.
Destry mengatakan, likuiditas perbankan sebenarnya masih tersedia dan dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan kredit.
"Kalau kita lihat juga, loan yang masih tersedia sekitar Rp 2.000 triliun lebih menjadi potensi bagi bank untuk menyalurkan kredit ke depan," ujar Destry.
"Artinya, likuiditas sebenarnya tersedia di perbankan. Tinggal masalah timing," tambahnya.
Menurut dia, pertumbuhan kredit yang sudah bergerak secara persisten akan mendorong bank untuk semakin aktif menyalurkan pembiayaan.
"Kalau kita lihat, kredit sudah tumbuh secara persisten seperti yang kita lihat pada Mei. Tentunya ini juga akan mendorong bank untuk menyalurkan kredit kepada sektor-sektor yang memang masih mempunyai ruang pertumbuhan ke depan," kata Destry.
Selain undisbursed loan, kapasitas pembiayaan perbankan juga tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK).
BI mencatat rasio AL/DPK perbankan pada Mei 2026 berada di level 24,74 persen.
Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 13,47 persen secara tahunan.
Kondisi tersebut menunjukkan sumber pendanaan perbankan masih cukup kuat untuk menopang ekspansi kredit.
Suku bunga kredit masih terjaga
Di tengah kenaikan BI Rate, BI juga menilai perkembangan suku bunga perbankan masih mendukung prospek penyaluran kredit.
Perry mengatakan, pada Mei 2026 suku bunga kredit tercatat sebesar 8,72 persen.
SHUTTERSTOCK/JANEWS Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan.Sementara itu, suku bunga deposito tenor satu bulan berada pada level 4,26 persen.
Perkembangan suku bunga tersebut dinilai masih memberikan ruang bagi bank untuk menyalurkan kredit sekaligus menjaga daya tarik simpanan masyarakat.
Namun, di sisi lain, BI tetap memprioritaskan stabilitas sistem keuangan dan nilai tukar rupiah.
Destry menjelaskan, kenaikan BI Rate yang dilakukan dalam beberapa waktu terakhir merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas, khususnya stabilitas nilai tukar.
"Yang dilakukan Bank Indonesia saat ini, seperti yang kita lakukan hari ini, adalah menaikkan kembali BI Rate sebesar 25 basis poin karena stabilitas menjadi fokus kami, khususnya terkait stabilitas nilai tukar rupiah," papar Destry.
Menurut dia, kebijakan tersebut juga bertujuan mendorong aliran modal asing masuk ke pasar domestik.
Hingga 17 Juni 2026, BI mencatat aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 4,9 triliun.
Sementara itu, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencatat inflow sebesar Rp 55,3 triliun.
"Artinya, dengan inflow asing yang masuk cukup banyak, tentu ini menambah pasokan valuta asing di pasar kita," ujar Destry.
"Itulah yang menjelaskan mengapa rupiah, alhamdulillah, dalam beberapa hari terakhir mengalami penguatan, termasuk pada hari ini," tambahnya.
Meski fokus utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas nilai tukar, bank sentral menilai kondisi perbankan masih cukup solid untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Pertumbuhan kredit yang sudah menembus dua digit, dominasi kredit produktif, serta likuiditas yang masih longgar menjadi faktor yang membuat BI tetap optimistis terhadap prospek pembiayaan perbankan hingga akhir tahun.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#bi-rate #pertumbuhan-kredit #nilai-tukar-rupiah #kpr #suku-bunga #kredit