Mengapa Trader Asia Tenggara Semakin Melirik Emas dan Perak pada 2026?

Mengapa Trader Asia Tenggara Semakin Melirik Emas dan Perak pada 2026?

Aktivitas perdagangan aset keuangan di Asia Tenggara terus berkembang sepanjang 2026.

(Kompas.com) 20/06/26 16:16 255239

JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas perdagangan aset keuangan di Asia Tenggara terus berkembang sepanjang 2026.

Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tingginya volatilitas pasar, semakin banyak pelaku pasar beralih ke emas dan perak sebagai instrumen investasi maupun perdagangan jangka pendek.

Data World Gold Council (WGC) dan laporan pasar komoditas kuartal I 2026 menunjukkan permintaan aset keras (hard assets) di kawasan Asia Tenggara meningkat signifikan.

FREEPIK/wirestock Ilustrasi emas.

Permintaan emas batangan dan koin emas di kawasan ini bahkan tumbuh dua digit secara tahunan pada awal 2026.

Tren tersebut juga tercermin dari data agregat industri broker komoditas dan platform fintech regional.

Sepanjang semester I-2026, jumlah pengguna aktif yang memperdagangkan emas dan perak tercatat meningkat rata-rata 35 persen hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Lalu, apa yang mendorong pergeseran minat trader dan investor terhadap logam mulia?

Emas dan perak dinilai menjadi pelindung saat pasar tidak pasti

Partner Relationship Manager JustMarkets Yasser Mansour mengatakan, emas dan perak selama ini dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen yang kerap dicari saat kondisi pasar sedang bergejolak.

Menurut dia, karakteristik tersebut masih relevan pada 2026, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, fluktuasi mata uang, dan kekhawatiran terhadap inflasi.

"Aset safe haven semakin banyak digunakan untuk mengunci nilai selama ketidakpastian pasar, menghasilkan keuntungan di saat tekanan pasar, dan melindungi taruhan pasar yang lebih berisiko," ujar Mansour dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).

PIXABAY/PAUL (PWLPL) Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak dunia anjlok tajam pada perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah Presiden Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).

Dengan kata lain, emas dan perak tidak hanya digunakan untuk menjaga nilai kekayaan, tetapi juga menjadi instrumen diversifikasi ketika pasar saham maupun aset berisiko lainnya mengalami tekanan.

Indonesia menjadi salah satu pendorong pertumbuhan

Indonesia disebut menjadi salah satu motor utama lonjakan investasi logam mulia di Asia Tenggara.

Berdasarkan data WGC, pada kuartal I-2026, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia meningkat 47 persen secara tahunan menjadi 23,6 ton.

Capaian tersebut menjadi salah satu rekor permintaan kuartalan terkuat dalam sejarah Indonesia.

Peningkatan permintaan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia tidak hanya berasal dari investor jangka panjang, tetapi juga dari trader yang memanfaatkan pergerakan harga untuk mencari peluang keuntungan.

Volatilitas tinggi membuka peluang perdagangan

Meski selama ini identik dengan instrumen yang stabil, emas juga dikenal memiliki volatilitas yang cukup tinggi sehingga menarik bagi trader jangka pendek.

Mansour mengatakan, pergerakan harga emas kerap dipengaruhi berbagai indikator ekonomi global, mulai dari data inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga perkembangan geopolitik.

"Meskipun emas sering dikaitkan dengan stabilitas, emas juga menawarkan peluang signifikan untuk perdagangan intraday dan jangka pendek. Logam mulia dikenal karena reaksinya yang kuat terhadap indikator ekonomi, level teknis yang jelas dan dihormati oleh pelaku institusional, serta likuiditas yang stabil selama sesi perdagangan utama," kata Mansour.

Menurut dia, karakteristik tersebut membuat emas dan perak menjadi instrumen yang menarik di pasar Asia Tenggara yang bergerak cepat.

Freepik Ilustrasi emas.

Pergerakan harga yang dinamis memberi peluang bagi trader untuk mengambil posisi berdasarkan analisis teknikal maupun sentimen pasar dalam kerangka yang lebih terstruktur.

Akses perdagangan semakin mudah

Meningkatnya minat terhadap logam mulia juga didukung oleh kemudahan akses melalui platform perdagangan digital.

Saat ini, trader dapat mengakses instrumen emas dan perak melalui berbagai platform, termasuk kontrak derivatif seperti CFD (contract for difference) yang memungkinkan perdagangan berdasarkan pergerakan harga tanpa harus memiliki emas fisik.

Platform perdagangan modern juga menawarkan berbagai fitur pendukung, seperti spread yang kompetitif, eksekusi order yang cepat, serta alat analisis teknikal yang semakin lengkap.

Kemudahan tersebut membuat perdagangan logam mulia dapat dijangkau oleh lebih banyak kalangan, termasuk investor pemula.

Generasi muda hingga investor berpengalaman

Lanskap trader logam mulia di Asia Tenggara saat ini terbagi ke dalam dua kelompok besar.

Kelompok pertama adalah generasi muda berusia 22 hingga 35 tahun. Mereka dinilai aktif memperdagangkan emas digital, kontrak berjangka, maupun perak mikro melalui aplikasi fintech.

Tujuan utama kelompok ini adalah memanfaatkan volatilitas harga harian untuk memperoleh keuntungan jangka pendek.

Sementara itu, kelompok kedua adalah investor berpengalaman dan institusi yang umumnya berusia di atas 40 tahun.

Mereka lebih fokus pada alokasi aset strategis dengan menempatkan sekitar 2,5 persen hingga 10 persen portofolio pada emas.

Tujuannya adalah menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang sekaligus melakukan diversifikasi dari aset lain seperti saham.

sahabat.pegadaian.co.id Ilustrasi perak batangan. Harga perak melonjak tajam di tengah proyeksi pasar yang masih defisit. Namun, permintaan industri diperkirakan melemah pada tahun depan.

Mengurangi ketergantungan pada mata uang lokal

Di sejumlah negara Asia Tenggara, mata uang lokal dapat mengalami periode ketidakstabilan maupun tekanan inflasi.

Dalam kondisi seperti itu, emas dan perak dinilai menawarkan alternatif karena nilainya tidak sepenuhnya bergantung pada pergerakan mata uang domestik.

Selain itu, trader dapat memanfaatkan tema-tema makroekonomi global, seperti arah suku bunga bank sentral, perkembangan geopolitik, maupun pergerakan harga komoditas dunia.

Indonesia dan Vietnam disebut menjadi negara dengan pertumbuhan perdagangan logam mulia tertinggi sepanjang tahun ini.

Indonesia mencatat pertumbuhan dari sisi adopsi ritel dan munculnya regulasi institusional baru, sementara Vietnam mengalami peningkatan permintaan emas fisik yang tinggi di tengah kekhawatiran terhadap devaluasi mata uang Dong dan inflasi.

Komunitas dan edukasi ikut berkembang

Pertumbuhan perdagangan emas dan perak juga diikuti dengan berkembangnya komunitas trader di berbagai negara Asia Tenggara.

Melalui komunitas tersebut, trader saling berbagi analisis pasar, mendiskusikan kondisi makroekonomi, hingga mengikuti pameran, forum, maupun kelas master.

Berbagai sumber edukasi yang disediakan pelaku industri juga dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman mengenai karakteristik perdagangan logam mulia.

Prospek logam mulia hingga akhir 2026

Prospek perdagangan logam mulia hingga akhir 2026 diproyeksikan masih tetap kuat, meski pergerakannya diperkirakan berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang tinggi.

DOK. Pixabay/hamiltonleen. Ilustrasi emas.

Menurut Mansour, sejumlah faktor diperkirakan akan menjadi penentu utama arah harga emas dan perak ke depan.

Faktor tersebut antara lain arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) melalui proyeksi dot plot, tingkat inflasi global yang dipengaruhi harga minyak mentah pasca-kesepakatan geopolitik, serta konsistensi bank-bank sentral dunia dalam menambah cadangan emas mereka.

Selain itu, lembaga keuangan global seperti J.P. Morgan memproyeksikan harga emas berpotensi mengarah ke rata-rata 6.000 dollar AS per ounce pada kuartal akhir tahun ini.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#logam-mulia #instrumen-investasi #emas #harga-emas #mata-uang

https://money.kompas.com/read/2026/06/20/161600426/mengapa-trader-asia-tenggara-semakin-melirik-emas-dan-perak-pada-2026-