#30 tag 24jam
Patriot Bond Bukan Tax Amnesty, Purbaya: Perusahaan Tetap Diperiksa
Purbaya menegaskan Patriot Bond bukan tax amnesty. Perlindungan hukum hanya berlaku untuk dana di obligasi, bukan seluruh aset investor. [530] url asal
#surat-utang #tax-amnesty #instrumen-investasi #purbaya-yudhi-sadewa #patriot-bond #menkeu-purbaya #merah-putih-bond
(Kompas.com - Money) 27/06/26 20:55
v/261773/
JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa Patriot Bond dan Merah Putih Bond yang tengah disiapkan pemerintah bukan merupakan program pengampunan pajak (tax amnesty).
Perlindungan hukum yang diberikan kepada investor kedua instrumen tersebut hanya berlaku terhadap dana yang ditempatkan pada surat utang, bukan terhadap seluruh aset maupun aktivitas usaha investor.
"Pokoknya uang yang masuk ke situ aman lah, tetapi kalau dia punya perusahaan maka dia akan diperiksa seperti biasa. Perusahaannya enggak imun, jadi tidak seperti tax amnesty," kata Purbaya dalam keterangan resmi, Jumat (26/6/2026).
Menurut Purbaya, perusahaan maupun aset lain yang dimiliki investor tetap dapat diperiksa apabila melanggar ketentuan perpajakan atau aturan hukum lainnya.
Berbeda dengan tax amnesty, perlindungan dalam Patriot Bond dan Merah Putih Bond hanya melekat pada dana yang ditempatkan dalam instrumen tersebut.
"Jadi nggak seperti tax amnesty. Tax amnesty kan bebas semua, ini nggak," ujar dia saat ditemui di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, Selasa (23/6/2026).
Dirancang Menarik Dana Masuk ke Dalam Negeri
Purbaya menjelaskan, kebijakan tersebut disiapkan untuk mendorong dana milik warga Indonesia yang selama ini berada di luar negeri atau di luar sistem keuangan domestik agar kembali masuk ke perekonomian nasional.
Menurut dia, masuknya dana tersebut akan meningkatkan likuiditas dalam negeri dan mendukung aktivitas ekonomi serta pembiayaan pembangunan.
"Daripada uangnya di luar terus. Biar dia masuk ke sistem, memang ada loss sedikit. Menurut saya uangnya masuk ke ekonomi kita," ujar dia.
Pemerintah juga akan memberikan waktu selama enam bulan bagi masyarakat yang ingin menempatkan dana pada Patriot Bond maupun Merah Putih Bond.
"Jadi, kalau Anda punya uang banyak, masuk ke situ cepat-cepat. Seperti saya bilang gitu kan, 6 bulan saya kasih waktu masuk," tuturnya.
Aturan Perlindungan Investor Tuai Sorotan
Ketentuan mengenai perlindungan hukum bagi pembeli surat utang khusus yang diterbitkan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara diatur dalam Pasal 50A Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).
Dalam aturan tersebut, investor memperoleh perlindungan dari tuntutan pidana umum, pidana khusus termasuk pidana perpajakan, serta gugatan perdata atas transaksi pembelian instrumen tersebut di pasar primer.
Ketentuan itu menuai sorotan dari sejumlah pihak.
Perlindungan hukum bagi pembeli Patriot Bond dan Merah Putih Bond dinilai berpotensi menimbulkan persepsi negatif terhadap komitmen Indonesia dalam tata kelola pemerintahan, pencegahan korupsi, serta pemberantasan pencucian uang lintas negara.
Menanggapi kekhawatiran tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa instrumen yang diterbitkan Danantara tetap berada dalam koridor regulasi dan pengawasan yang berlaku di Indonesia.
Menurut Airlangga, pemerintah tetap berkomitmen menjaga kredibilitas sistem keuangan nasional sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi.
Dia juga menilai anggapan bahwa investor memperoleh kekebalan hukum secara menyeluruh tidak sesuai dengan substansi aturan dalam revisi UU P2SK.
Pemerintah menyatakan Patriot Bond dan Merah Putih Bond merupakan bagian dari upaya memperluas sumber pembiayaan domestik sekaligus memperkuat likuiditas pasar keuangan nasional.
Dana yang dihimpun melalui instrumen tersebut diharapkan dapat mendukung pembiayaan investasi dan berbagai proyek strategis yang memberikan dampak ekonomi lebih luas.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Purbaya Tegaskan Patriot Bond dan Merah Putih Bond Berbeda dengan Tax Amnesty
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
OJK: Kenaikan BI Rate Ubah Strategi Investasi Industri Asuransi
Perubahan suku bunga acuan BI Rate menjadi salah satu faktor yang selalu diperhatikan industri asuransi dalam menyusun strategi investasi. [1,156] url asal
#bi-rate #asuransi #suku-bunga-acuan #perusahaan-asuransi #instrumen-investasi #kenaikan-suku-bunga
(Kompas.com - Money) 25/06/26 18:18
v/259903/
JAKARTA, KOMPAS.com – Perubahan suku bunga acuan BI Rate menjadi salah satu faktor yang selalu diperhatikan industri asuransi dalam menyusun strategi investasi.
Kenaikan suku bunga dapat membuka peluang pada sejumlah instrumen investasi, tetapi di sisi lain juga menghadirkan tantangan baru karena kondisi pasar keuangan yang berubah.
Bagi perusahaan asuransi, pengelolaan investasi memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan keuangan.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi suku bunga, suku bunga acuan, BI Rate.Dana yang dihimpun dari premi tidak hanya disiapkan untuk memenuhi kewajiban pembayaran klaim kepada pemegang polis, tetapi juga ditempatkan pada berbagai instrumen investasi untuk menghasilkan imbal hasil.
Karena itu, setiap perubahan kebijakan moneter, termasuk kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi strategi penempatan aset perusahaan asuransi.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai dampak kenaikan BI Rate terhadap industri asuransi tidak dapat dilihat hanya dari sisi perubahan tingkat bunga semata.
Kinerja investasi perusahaan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor lain, mulai dari kondisi pasar keuangan, pergerakan harga aset, hingga karakteristik portofolio investasi masing-masing perusahaan.
Di tengah dinamika tersebut, regulator menilai industri masih mampu menjaga kinerja investasinya.
Namun, perusahaan tetap dituntut menjaga keseimbangan antara mengejar hasil investasi dengan penerapan prinsip kehati-hatian agar kemampuan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis tetap terjaga.
KOMPAS.com/ AGUSTINUS RANGGA RESPATI Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono saat ditemui di Gedung DPR, Selasa (27/6/2023)Kenaikan BI Rate berpengaruh terhadap strategi investasi
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono mengatakan, kenaikan BI Rate pada prinsipnya memang dapat memengaruhi strategi investasi industri asuransi.
Menurut dia, pengaruh tersebut terutama terlihat pada instrumen pendapatan tetap maupun instrumen pasar uang yang selama ini menjadi bagian dari portofolio investasi perusahaan asuransi.
"Kenaikan BI Rate pada prinsipnya dapat memengaruhi strategi investasi industri asuransi, khususnya pada instrumen pendapatan tetap dan pasar uang," kata Ogi dalam jawaban tertulis Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK, ditulis pada Kamis (25/6/2026).
Meski demikian, Ogi menegaskan dampak kenaikan suku bunga tidak dapat dinilai secara parsial.
Menurut dia, selain dipengaruhi oleh tingkat suku bunga, hasil investasi perusahaan juga bergantung pada kondisi pasar keuangan secara keseluruhan, pergerakan harga aset, hingga komposisi portofolio investasi yang dimiliki masing-masing perusahaan.
"Namun demikian, dampaknya perlu dilihat secara menyeluruh karena selain dipengaruhi oleh suku bunga, kinerja investasi juga dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan, pergerakan harga aset, dan karakteristik portofolio masing-masing perusahaan," ujarnya.
Dengan demikian, respons setiap perusahaan asuransi terhadap perubahan BI Rate dapat berbeda-beda, bergantung pada strategi investasi dan profil risiko yang dimiliki.
Stabilitas yield SBN dinilai menopang kinerja investasi
OJK juga menilai kondisi pasar obligasi pemerintah masih memberikan dukungan terhadap kinerja investasi industri asuransi.
Dok. Shutterstock/ Monster Ztudio Ilustrasi asuransi kesehatanMenurut Ogi, meskipun terjadi kenaikan BI Rate, stabilitas imbal hasil atau yield Surat Berharga Negara (SBN) yang tetap terjaga menjadi salah satu faktor yang membantu mempertahankan kinerja investasi perusahaan.
"Meskipun terjadi kenaikan BI Rate, stabilitas yield Surat Berharga Negara (SBN) yang tetap terjaga turut membantu menjaga kinerja investasi industri," kata dia.
Di sisi lain, kondisi pasar saham masih menghadapi tantangan.
Ogi mengatakan, volatilitas di pasar saham masih dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik yang berasal dari perkembangan global maupun kondisi domestik.
"Di sisi lain, pasar saham masih menghadapi volatilitas yang dipengaruhi oleh berbagai faktor global maupun domestik," ujarnya.
Kondisi tersebut membuat perusahaan asuransi perlu mempertimbangkan berbagai aspek dalam menentukan komposisi portofolio investasinya agar tetap sesuai dengan profil risiko masing-masing.
Penempatan investasi disesuaikan profil perusahaan
OJK menegaskan keputusan mengenai penempatan investasi tetap menjadi kewenangan masing-masing perusahaan asuransi.
Menurut Ogi, setiap perusahaan memiliki karakteristik bisnis, profil liabilitas, serta produk yang berbeda sehingga strategi investasinya juga tidak dapat diseragamkan.
"Pada dasarnya, keputusan penempatan investasi merupakan kewenangan masing-masing perusahaan sesuai profil liabilitas, karakteristik produk, dan manajemen risikonya," tutur Ogi.
Artinya, perusahaan memiliki fleksibilitas dalam menentukan instrumen investasi yang dinilai paling sesuai dengan kebutuhan pengelolaan aset dan kewajiban mereka.
SHUTTERSTOCK/PASUWAN Ilustrasi asuransi.Meski demikian, OJK tetap melakukan pengawasan terhadap pengelolaan investasi yang dilakukan perusahaan asuransi.
Pengawasan tersebut dilakukan agar seluruh perusahaan menerapkan tata kelola investasi yang baik, mematuhi ketentuan yang berlaku, serta menjaga prinsip kehati-hatian dalam setiap keputusan investasi.
"OJK terus melakukan pengawasan untuk memastikan perusahaan menerapkan tata kelola investasi yang baik, mematuhi ketentuan mengenai batasan penempatan investasi, serta mengedepankan prinsip kehati-hatian agar ketahanan keuangan dan kemampuan memenuhi kewajiban kepada pemegang polis tetap terjaga," ujar Ogi.
Dengan pendekatan tersebut, regulator berharap pengelolaan investasi industri tetap berada dalam koridor manajemen risiko yang memadai.
Kinerja investasi asuransi umum masih positif
Di tengah kondisi pasar keuangan yang dinamis, OJK mencatat kinerja investasi industri asuransi umum masih menunjukkan perkembangan positif hingga April 2026.
Berdasarkan data posisi April 2026, investment yield pada industri asuransi umum konvensional mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya.
Ogi mengatakan, investment yield asuransi umum konvensional pada April 2026 tercatat sebesar 0,55 persen.
Angka tersebut meningkat dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar 0,27 persen.
"Berdasarkan data posisi April 2026, kinerja investasi industri asuransi umum masih menunjukkan hasil yang positif. Pada asuransi umum konvensional, investment yield tercatat sebesar 0,55 persen, meningkat dibandingkan 0,27 persen pada Maret 2026," terang Ogi.
Peningkatan juga terjadi pada industri asuransi umum syariah.
Menurut OJK, investment yield asuransi umum syariah mencapai 0,44 persen pada April 2026.
Capaian tersebut lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,36 persen.
SHUTTERSTOCK/REDPIXEL.PL Ilustrasi asuransi."Sementara itu, asuransi umum syariah mencatat investment yield sebesar 0,44 persen, juga meningkat dari 0,36 persen pada bulan sebelumnya," ujar Ogi.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa di tengah dinamika pasar, industri masih mampu mempertahankan kinerja investasi yang positif.
"Perkembangan ini menunjukkan bahwa industri masih mampu menjaga kinerja investasinya di tengah kondisi pasar yang dinamis," kata dia.
Menjaga profitabilitas di tengah volatilitas pasar
Meski kinerja investasi masih bertumbuh, OJK menilai industri asuransi tetap menghadapi sejumlah tantangan hingga akhir tahun.
Menurut Ogi, tantangan terbesar adalah menjaga keseimbangan antara upaya mengoptimalkan hasil investasi dengan pengelolaan risiko yang memadai.
Hal tersebut menjadi semakin penting mengingat pasar keuangan masih bergerak dinamis seiring berbagai perkembangan ekonomi.
"Ke depan, tantangan utama industri adalah menjaga keseimbangan antara optimalisasi hasil investasi dan pengelolaan risiko, khususnya di tengah volatilitas pasar keuangan, dinamika ekonomi global, dan perubahan suku bunga," papar Ogi.
Perubahan suku bunga, perkembangan ekonomi global, hingga fluktuasi pasar keuangan menjadi faktor yang harus terus diperhatikan oleh perusahaan asuransi dalam mengelola aset investasinya.
Di tengah kondisi tersebut, OJK menekankan pentingnya penguatan manajemen risiko di seluruh perusahaan asuransi.
Selain itu, kualitas aset investasi juga dinilai menjadi aspek penting yang harus dijaga agar kondisi keuangan perusahaan tetap sehat.
"Oleh karena itu, OJK terus mendorong perusahaan asuransi untuk memperkuat manajemen risiko dan menjaga kualitas aset investasi agar kinerja industri tetap sehat dan berkelanjutan," sebut Ogi.
Dengan demikian, strategi investasi perusahaan asuransi tidak hanya diarahkan untuk mengejar imbal hasil, tetapi juga memastikan keberlangsungan kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada pemegang polis di tengah perubahan kondisi pasar keuangan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangPerlindungan Hukum Patriot-Merah Putih Bond, Ini Respons DPR untuk Investor
Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menegaskan perlindungan hukum bagi investor Patriot dan Merah Putih Bond untuk menjamin kepastian dan insentif investasi. [342] url asal
#investor-patriot-bond #merah-putih-bond #kepastian-hukum-investor #instrumen-investasi #tingkat-imbal-hasil #undang-undang-investasi #pembelian-surat-utang #bpi-danantara #perlindungan-hukum #insentif
(Bisnis.Com - Terbaru) 24/06/26 11:11
v/258243/
Bisnis.com, JAKARTA - Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menjelaskan tujuan pemberian payung hukum terhadap investor Patriot Bond dan Merah Putih Bond adalah memberikan kepastian sekaligus insentif khusus kepada para pembeli instrumen investasi itu.
Dia menyampaikan, instrumen tersebut menawarkan tingkat imbal hasil yang relatif rendah sehingga diperlukan perlakuan khusus yang dijamin melalui undang-undang agar dapat menarik minat investor.
"Karena Patriot Bond ini kan memberikan timbal balik yang rendah, makanya kita sampaikan kepada mereka bahwa mereka akan mendapatkan perlakuan yang khusus. Tentunya sesuai dengan apa yang dijaminkan oleh undang-undang itu," jelasnya di Ruangan Komisi XI DPR RI, Senin (23/6/2026).
Dia menjelaskan, kebijakan tersebut bertujuan mendorong pembelian surat utang seperti Patriot Bond dan Merah Putih Bond maupun instrumen lain yang diterbitkan oleh BPI Danantara.
Menurutnya, sebagai representasi negara yang memegang saham seluruh BUMN, BPI Danantara dinilai perlu memberikan kepastian kepada para pembeli surat utangnya, termasuk jaminan bahwa mereka tidak akan menghadapi upaya penindakan atau tindakan lain terkait kepemilikan instrumen tersebut.
kepastian tersebut dianggap merupakan bentuk insentif yang ditegaskan secara kuat dalam undang-undang.
"Karena BPI Danantara itu adalah representasinya negara dalam posisi pemegang saham semua BUMN negara, maka negara juga harus memberikan kepastian kepada pembelinya bahwa apabila mereka membeli surat utang BPI Danantara, mereka tidak dilakukan upaya penindakan atau apapun dan ini adalah bentuknya sebuah insentif dan kita sebutkan secara kuat, secara kuat di dalam undang-undang," tandasnya.
Diketahui, dalam revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK) Pasal 50A ayat (4) yang telah disahkan, dijelaskan bahwa setiap pembelian instrumen surat utang khusus oleh investor merupakan transaksi yang sah pada sistem keuangan nasional.
"Negara menjamin dan melindungi pembelian instrumen surat utang khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dari penuntutan secara pidana umum, pidana khusus, termasuk di dalamnya pidana perpajakan, dan dari gugatan secara perdata," demikian tertulis di ayat (5) Pasal 50A revisi UU PPSK.
Dalam ayat (6) dijelaskan bahwa data dan informasi dari kegiatan yang dilakukan oleh investor dalam membeli surat utang khusus tidak dapat dijadikan dasar pengenaan pajak dan tidak dapat dijadikan bukti hukum di pengadilan.
Mengapa Trader Asia Tenggara Semakin Melirik Emas dan Perak pada 2026?
Aktivitas perdagangan aset keuangan di Asia Tenggara terus berkembang sepanjang 2026. [1,034] url asal
#logam-mulia #instrumen-investasi #emas #harga-emas #mata-uang
(Kompas.com - Money) 20/06/26 16:16
v/255239/
JAKARTA, KOMPAS.com - Aktivitas perdagangan aset keuangan di Asia Tenggara terus berkembang sepanjang 2026.
Di tengah ketidakpastian geopolitik dan tingginya volatilitas pasar, semakin banyak pelaku pasar beralih ke emas dan perak sebagai instrumen investasi maupun perdagangan jangka pendek.
Data World Gold Council (WGC) dan laporan pasar komoditas kuartal I 2026 menunjukkan permintaan aset keras (hard assets) di kawasan Asia Tenggara meningkat signifikan.
FREEPIK/wirestock Ilustrasi emas.Permintaan emas batangan dan koin emas di kawasan ini bahkan tumbuh dua digit secara tahunan pada awal 2026.
Tren tersebut juga tercermin dari data agregat industri broker komoditas dan platform fintech regional.
Sepanjang semester I-2026, jumlah pengguna aktif yang memperdagangkan emas dan perak tercatat meningkat rata-rata 35 persen hingga 50 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lalu, apa yang mendorong pergeseran minat trader dan investor terhadap logam mulia?
Emas dan perak dinilai menjadi pelindung saat pasar tidak pasti
Partner Relationship Manager JustMarkets Yasser Mansour mengatakan, emas dan perak selama ini dikenal sebagai aset safe haven atau instrumen yang kerap dicari saat kondisi pasar sedang bergejolak.
Menurut dia, karakteristik tersebut masih relevan pada 2026, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, fluktuasi mata uang, dan kekhawatiran terhadap inflasi.
"Aset safe haven semakin banyak digunakan untuk mengunci nilai selama ketidakpastian pasar, menghasilkan keuntungan di saat tekanan pasar, dan melindungi taruhan pasar yang lebih berisiko," ujar Mansour dalam keterangannya, Sabtu (20/6/2026).
PIXABAY/PAUL (PWLPL) Ilustrasi perak, harga perak, investasi perak. Harga perak dunia anjlok tajam pada perdagangan Jumat (30/1/2026), setelah Presiden Donald Trump mencalonkan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve (The Fed).Dengan kata lain, emas dan perak tidak hanya digunakan untuk menjaga nilai kekayaan, tetapi juga menjadi instrumen diversifikasi ketika pasar saham maupun aset berisiko lainnya mengalami tekanan.
Indonesia menjadi salah satu pendorong pertumbuhan
Indonesia disebut menjadi salah satu motor utama lonjakan investasi logam mulia di Asia Tenggara.
Berdasarkan data WGC, pada kuartal I-2026, permintaan emas batangan dan koin di Indonesia meningkat 47 persen secara tahunan menjadi 23,6 ton.
Capaian tersebut menjadi salah satu rekor permintaan kuartalan terkuat dalam sejarah Indonesia.
Peningkatan permintaan ini menunjukkan bahwa minat masyarakat terhadap logam mulia tidak hanya berasal dari investor jangka panjang, tetapi juga dari trader yang memanfaatkan pergerakan harga untuk mencari peluang keuntungan.
Volatilitas tinggi membuka peluang perdagangan
Meski selama ini identik dengan instrumen yang stabil, emas juga dikenal memiliki volatilitas yang cukup tinggi sehingga menarik bagi trader jangka pendek.
Mansour mengatakan, pergerakan harga emas kerap dipengaruhi berbagai indikator ekonomi global, mulai dari data inflasi, kebijakan suku bunga bank sentral, hingga perkembangan geopolitik.
"Meskipun emas sering dikaitkan dengan stabilitas, emas juga menawarkan peluang signifikan untuk perdagangan intraday dan jangka pendek. Logam mulia dikenal karena reaksinya yang kuat terhadap indikator ekonomi, level teknis yang jelas dan dihormati oleh pelaku institusional, serta likuiditas yang stabil selama sesi perdagangan utama," kata Mansour.
Menurut dia, karakteristik tersebut membuat emas dan perak menjadi instrumen yang menarik di pasar Asia Tenggara yang bergerak cepat.
Freepik Ilustrasi emas.Pergerakan harga yang dinamis memberi peluang bagi trader untuk mengambil posisi berdasarkan analisis teknikal maupun sentimen pasar dalam kerangka yang lebih terstruktur.
Akses perdagangan semakin mudah
Meningkatnya minat terhadap logam mulia juga didukung oleh kemudahan akses melalui platform perdagangan digital.
Saat ini, trader dapat mengakses instrumen emas dan perak melalui berbagai platform, termasuk kontrak derivatif seperti CFD (contract for difference) yang memungkinkan perdagangan berdasarkan pergerakan harga tanpa harus memiliki emas fisik.
Platform perdagangan modern juga menawarkan berbagai fitur pendukung, seperti spread yang kompetitif, eksekusi order yang cepat, serta alat analisis teknikal yang semakin lengkap.
Kemudahan tersebut membuat perdagangan logam mulia dapat dijangkau oleh lebih banyak kalangan, termasuk investor pemula.
Generasi muda hingga investor berpengalaman
Lanskap trader logam mulia di Asia Tenggara saat ini terbagi ke dalam dua kelompok besar.
Kelompok pertama adalah generasi muda berusia 22 hingga 35 tahun. Mereka dinilai aktif memperdagangkan emas digital, kontrak berjangka, maupun perak mikro melalui aplikasi fintech.
Tujuan utama kelompok ini adalah memanfaatkan volatilitas harga harian untuk memperoleh keuntungan jangka pendek.
Sementara itu, kelompok kedua adalah investor berpengalaman dan institusi yang umumnya berusia di atas 40 tahun.
Mereka lebih fokus pada alokasi aset strategis dengan menempatkan sekitar 2,5 persen hingga 10 persen portofolio pada emas.
Tujuannya adalah menjaga nilai kekayaan dalam jangka panjang sekaligus melakukan diversifikasi dari aset lain seperti saham.
sahabat.pegadaian.co.id Ilustrasi perak batangan. Harga perak melonjak tajam di tengah proyeksi pasar yang masih defisit. Namun, permintaan industri diperkirakan melemah pada tahun depan.Mengurangi ketergantungan pada mata uang lokal
Di sejumlah negara Asia Tenggara, mata uang lokal dapat mengalami periode ketidakstabilan maupun tekanan inflasi.
Dalam kondisi seperti itu, emas dan perak dinilai menawarkan alternatif karena nilainya tidak sepenuhnya bergantung pada pergerakan mata uang domestik.
Selain itu, trader dapat memanfaatkan tema-tema makroekonomi global, seperti arah suku bunga bank sentral, perkembangan geopolitik, maupun pergerakan harga komoditas dunia.
Indonesia dan Vietnam disebut menjadi negara dengan pertumbuhan perdagangan logam mulia tertinggi sepanjang tahun ini.
Indonesia mencatat pertumbuhan dari sisi adopsi ritel dan munculnya regulasi institusional baru, sementara Vietnam mengalami peningkatan permintaan emas fisik yang tinggi di tengah kekhawatiran terhadap devaluasi mata uang Dong dan inflasi.
Komunitas dan edukasi ikut berkembang
Pertumbuhan perdagangan emas dan perak juga diikuti dengan berkembangnya komunitas trader di berbagai negara Asia Tenggara.
Melalui komunitas tersebut, trader saling berbagi analisis pasar, mendiskusikan kondisi makroekonomi, hingga mengikuti pameran, forum, maupun kelas master.
Berbagai sumber edukasi yang disediakan pelaku industri juga dimanfaatkan untuk memperdalam pemahaman mengenai karakteristik perdagangan logam mulia.
Prospek logam mulia hingga akhir 2026
Prospek perdagangan logam mulia hingga akhir 2026 diproyeksikan masih tetap kuat, meski pergerakannya diperkirakan berada dalam fase konsolidasi dengan volatilitas yang tinggi.
DOK. Pixabay/hamiltonleen. Ilustrasi emas.Menurut Mansour, sejumlah faktor diperkirakan akan menjadi penentu utama arah harga emas dan perak ke depan.
Faktor tersebut antara lain arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed) melalui proyeksi dot plot, tingkat inflasi global yang dipengaruhi harga minyak mentah pasca-kesepakatan geopolitik, serta konsistensi bank-bank sentral dunia dalam menambah cadangan emas mereka.
Selain itu, lembaga keuangan global seperti J.P. Morgan memproyeksikan harga emas berpotensi mengarah ke rata-rata 6.000 dollar AS per ounce pada kuartal akhir tahun ini.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IHSG Terjun Bebas, Investor Disarankan Perbanyak Aset Aman
Investor disarankan memperbesar porsi aset defensif seperti kas dan obligasi pemerintah jangka pendek di tengah tekanan IHSG [720] url asal
#pasar-saham #instrumen-investasi #ihsg-anjlok #ihsg-melemah #obligasi-pemerintah #aset-aman
(Kompas.com - Money) 06/06/26 12:41
v/241992/
JAKARTA, KOMPAS.com – Investor disarankan memperbesar porsi aset defensif seperti kas dan obligasi pemerintah jangka pendek di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham Indonesia.
Rekomendasi ini muncul setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terus melemah dan arus keluar modal asing belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), IHSG ditutup turun 4,20 persen atau 245,02 poin ke level 5.594,77. Jika dibandingkan dengan posisi puncaknya, pelemahan IHSG kini mencapai sekitar 38 persen, lebih dalam dibandingkan koreksi yang terjadi saat pandemi Covid-19 pada 2020.
Managing Director PT Samuel Tumbuh Bersama, Shim Tae Yong, mengatakan pasar saham Indonesia masih tertinggal dibandingkan mayoritas negara berkembang yang justru mencatat kinerja positif sepanjang tahun ini.
Data Samuel Sekuritas menunjukkan indeks MSCI Emerging Market naik 22,5 persen secara year-to-date (YTD) hingga April 2026, melampaui kenaikan MSCI World yang mencapai 9 persen. Sebaliknya, pasar saham Indonesia masih terkoreksi 29,1 persen pada periode yang sama.
“Emerging market secara umum sedang bergerak positif, tetapi Indonesia justru bergerak berlawanan arah. Ini menunjukkan bahwa tekanan di pasar domestik masih cukup kuat,” ujar Shim dalam Media Connect Samuel Sekuritas, Kamis (4/6/2026).
Menurut dia, pemulihan pasar domestik masih tertahan oleh sejumlah sentimen dalam negeri yang memengaruhi kepercayaan investor.
Salah satunya adalah sorotan Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap jumlah saham yang benar-benar beredar di publik (free float) serta tingkat keteraksesan atau investability pasar saham Indonesia.
MSCI disebut masih mencermati transparansi struktur kepemilikan saham, keandalan data free float, dan jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di pasar.
“Ketika transparansi free float dan investability masih dipertanyakan, investor cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk lebih agresif ke pasar Indonesia,” kata Shim.
Perbesar porsi aset defensif
Dalam kondisi pasar yang masih bergejolak, Samuel Sekuritas merekomendasikan investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan memperkuat porsi aset defensif dalam portofolio.
Komposisi investasi yang disarankan terdiri dari 30 persen kas, 30 persen aset pendapatan tetap (fixed income), 20 persen saham, 15 persen aset kripto, dan 5 persen emas.
Untuk instrumen pendapatan tetap, investor disarankan memilih obligasi pemerintah berjangka pendek. Adapun pada instrumen saham, fokus investasi diarahkan ke emiten berkapitalisasi besar atau blue chip yang memiliki fundamental kuat.
Menurut Shim, terdapat tiga faktor utama yang dibutuhkan agar pasar saham Indonesia kembali menarik bagi investor global, yakni peningkatan likuiditas pasar, pertumbuhan laba emiten, dan dukungan kebijakan yang kondusif.
Tekanan dinilai lebih kompleks
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan tekanan terhadap pasar saham saat ini tidak berasal dari satu faktor, melainkan kombinasi berbagai persoalan yang terjadi secara bersamaan.
Dalam 12 bulan terakhir, investor asing tercatat membukukan aksi jual bersih sekitar Rp 78 triliun. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah sekitar 8 persen sejak awal tahun.
Sejumlah lembaga pemeringkat global seperti Moody's, Fitch, dan S&P juga disebut tengah mencermati kondisi fiskal Indonesia.
Menurut Azharys, salah satu perkembangan yang memengaruhi persepsi investor global adalah keputusan MSCI memberlakukan interim freeze pada 28 Februari 2026. Langkah tersebut menyoroti isu transparansi dan tata kelola pasar modal Indonesia.
Selain itu, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang mendorong kenaikan harga minyak dunia turut meningkatkan risiko inflasi dan menambah tekanan terhadap fiskal nasional.
Meski demikian, Azharys menilai kondisi saat ini berbeda dengan krisis yang terjadi pada masa pandemi Covid-19.
Saat pandemi, tekanan ekonomi dipicu oleh faktor eksternal yang bersifat sementara. Aktivitas ekonomi terhenti akibat pembatasan mobilitas, tetapi pasar memiliki gambaran yang relatif jelas mengenai jalan keluar krisis melalui vaksinasi dan pelonggaran aktivitas ekonomi.
“Begitu solusi ditemukan dalam bentuk vaksin dan pelonggaran restriksi, pasar langsung melakukan rebound dan mencapai pemulihan penuh pada Januari 2021,” ujar Azharys kepada Kompas.com, Jumat (5/6/2026).
Menurut dia, tantangan yang dihadapi pasar saat ini lebih kompleks karena berkaitan dengan kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar, kondisi fiskal, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga arus modal asing.
Faktor-faktor tersebut, lanjut Azharys, membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk dipulihkan dibandingkan krisis yang terjadi saat pandemi.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Investor Disarankan Perbanyak Aset Ini Saat Pasar Saham Lesu Akibat Isu Domestik dan Kompas.com dengan judul Lebih Parah dari Pandemi Covid-19, IHSG Ambles 38 Persen dari Puncaknya
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Tren Investasi Semakin Beragam, Generasi Muda Mulai Pahami Pentingnya Diversifikasi
Diversifikasi investasi penting dilakukan agar risiko tidak bergantung pada satu instrumen saja. [819] url asal
#saham #reksa-dana #ksei #layanan-keuangan-digital #instrumen-investasi #aplikasi-jago
(Kompas.com - Money) 03/06/26 13:41
v/238671/
JAKARTA, KOMPAS.com – Awal 2026 menjadi momen spesial bagi Yusan (29). Setelah berhasil berangkat umrah bersama ibunya pada Januari lalu, tiga bulan kemudian ia kembali bepergian ke China bersama sahabatnya.
Bagi perempuan asal Bandung, Jawa Barat, itu, dua perjalanan tersebut bukan hasil impulsif, melainkan buah dari kebiasaan mengatur keuangan dan investasi yang sudah dibangun sejak lama.
“Sejak SD, aku memang sudah terbiasa nyisihin uang jajan. Dulu bentuknya sederhana, cuma nabung biasa. Bahkan, sempat ikut investasi beli sapi juga,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Kamis (14/5/2026).
Kebiasaan tersebut terus berlanjut ketika ia mulai bekerja. Penghasilannya tak lagi hanya disimpan di rekening tabungan. Yusan mulai belajar opsi investasi lain hingga akhirnya memilih reksa dana dan saham.
Namun, semakin banyak instrumen yang dimiliki, semakin besar pula tantangan yang dihadapi. Yusan mengaku, ia sempat kewalahan menjaga konsistensi investasi sambil tetap memenuhi kebutuhan harian.
“Kadang uang untuk investasi tercampur sama kebutuhan bulanan. Belum lagi harus buka beberapa aplikasi buat cek saldo, investasi, dan pengeluaran. Lama-lama bikin ribet,” katanya.
Generasi muda makin aktif berinvestasi
Pengalaman Yusan menjadi gambaran perubahan perilaku finansial masyarakat Indonesia saat ini. Investasi memang semakin diminati, terutama di kalangan generasi muda yang akrab dengan layanan keuangan digital.
Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 20,32 juta Single Investor Identification (SID) pada akhir 2025 atau meningkat sekitar 37 persen jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Sementara itu, dalam kuliah umum "Sosialisasi dan Edukasi Pasar Modal Terpadu 2025" di Padang, Jumat (21/2/2025), Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Inarno Djajadi merinci, per Desember 2024, mayoritas investor berasal dari kelompok usia di bawah 30 tahun dengan persentase 54,83 persen. Total aset mereka mencapai Rp 54,12 triliun.
Istimewa Yusan dan sang ibu saat umrah pada Januari 2026.Meningkatnya jumlah investor muda menunjukkan bahwa investasi kini mulai menjadi bagian dari gaya hidup finansial generasi muda.
Namun, di tengah tren tersebut, pemahaman mengenai pengelolaan risiko dan diversifikasi investasi juga dinilai semakin penting.
Diversifikasi investasi merupakan strategi membagi dana ke beberapa instrumen berbeda agar risiko tidak bertumpu pada satu jenis investasi saja. Dengan cara tersebut, kondisi keuangan dinilai lebih stabil ketika pasar mengalami fluktuasi.
Kian nyaman berinvestasi secara digital
Kehadiran ekosistem keuangan digital turut membuat proses investasi terasa lebih sederhana dan dekat dengan kebiasaan sehari-hari generasi muda. Kini, masyarakat dapat mengatur pengeluaran, menabung, hingga berinvestasi melalui layanan yang saling terhubung dalam satu aplikasi. Misalnya, lewat aplikasi Jago.
Head of Digital Lending Business Bank Jago Irene Santoso mengatakan, tren tersebut terlihat dari peningkatan jumlah pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra, seperti Bibit dan Stockbit.
“Seiring meningkatnya kebutuhan dan literasi nasabah dalam pengelolaan keuangan, pengguna Aplikasi Jago semakin aktif berinvestasi. Hal ini tecermin dari pengguna Aplikasi Jago yang terhubung dengan platform investasi mitra Bibit dan Stockbit yang terus meningkat sebesar 38,2 persen secara tahunan per 31 Desember 2025,” ujar Irene dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Menurut dia, minat masyarakat terhadap investasi juga semakin beragam. Dari sisi komposisi investasi, reksa dana menjadi instrumen yang paling banyak dipilih dengan porsi 44 persen, disusul saham sebesar 42 persen, dan obligasi sebesar 14 persen.
Irene menilai, kondisi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat mulai memahami pentingnya diversifikasi investasi untuk mengelola risiko sekaligus mencapai tujuan keuangan jangka panjang.
“Minat investasi yang meningkat di pasar saham juga terlihat dari pembukaan rekening dana nasabah (RDN) Bank Jago yang naik lebih dari dua kali lipat sepanjang 2025,” kata Irene.
Bank Jago Tampilan portofolio investasi di aplikasi JagoKemudahan integrasi dengan platform investasi juga membantu pengguna memantau perkembangan aset secara lebih praktis. Melalui tampilan portofolio investasi di aplikasi Jago, nasabah dapat melihat berbagai aset investasi dalam satu tampilan, termasuk investasi yang tercatat di KSEI.
Langkah sederhana memulai investasi
Di tengah tren investasi yang semakin berkembang, ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan generasi muda saat mulai berinvestasi.
Pertama, tentukan tujuan keuangan sejak awal. Dengan begitu, kita bisa memilih instrumen investasi yang paling sesuai, baik untuk kebutuhan jangka pendek, menengah, maupun panjang.
Kedua, pahami dulu profil risiko sebelum memilih instrumen investasi. Dengan mengenali tingkat toleransi terhadap risiko, investor bisa lebih mudah menentukan produk yang sesuai dengan tujuan keuangan serta jangka waktu investasinya.
Ketiga, mulailah berinvestasi secara rutin, meski dari nominal kecil. Konsistensi ini penting untuk membangun kebiasaan mengelola keuangan dalam jangka panjang, sekaligus membantu memaksimalkan potensi pertumbuhan investasi dari waktu ke waktu.
Selain konsisten berinvestasi, investor juga perlu menerapkan konsep “set and don’t forget”. Artinya, setelah mulai membeli instrumen investasi, portofolio tetap perlu dipantau dan dievaluasi secara berkala agar tetap sesuai dengan tujuan keuangan dan kondisi pasar.
Diversifikasi investasi juga penting dilakukan agar risiko tidak bergantung pada satu instrumen saja. Misalnya, dengan mengombinasikan tabungan, reksa dana pasar uang, reksa dana saham, hingga saham sesuai profil risiko, tujuan, dan jangka waktu keuangan masing-masing.
Bagi investor pemula, pendekatan tersebut dinilai dapat membantu menjaga kestabilan portofolio sekaligus membuat kebiasaan investasi terasa lebih realistis dijalani dalam jangka panjang.
AASI Ungkap Penyebab Hasil Investasi Asuransi Syariah Minus Rp121,84 Miliar per Maret 2026
Hasil investasi asuransi syariah minus Rp121,84 miliar per Maret 2026 akibat pelemahan IHSG, volatilitas pasar, dan nilai tukar rupiah. [316] url asal
#asuransi-syariah #hasil-investasi #investasi-syariah #minus-investasi #aasi #ojk #ihsg #volatilitas-pasar #geopolitik-global #konflik-timur-tengah #nilai-tukar-rupiah #instrumen-investasi #portofolio
(Bisnis.Com - Finansial) 02/06/26 10:33
v/237268/
Bisnis.com, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat hasil investasi asuransi syariah pada Maret 2026 terkontraksi atau minus Rp121,84 miliar, setelah sebelumnya pada posisi positif Rp545,24 miliar per Februari 2026.
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) menilai selain pelemahan IHSG, meningkatnya volatilitas pasar akibat ketidakpastian geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi penyebab minusnya hasil investasi industri.
“Kondisi tersebut memengaruhi sentimen pasar, volatilitas harga komoditas, hingga kinerja beberapa emiten dan instrumen investasi yang menjadi bagian dari portofolio perusahaan asuransi syariah,” ungkap Ketua Umum AASI Fauzi Arfan kepada Bisnis, dikutip pada Selasa (2/6/2026).
Dia melanjutkan, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga memberikan pengaruh terhadap pasar keuangan domestik, sehingga berdampak pada valuasi beberapa instrumen investasi, khususnya yang sensitif terhadap kondisi makroekonomi global.
Dalam situasi seperti itu, ucap Fauzi, perusahaan asuransi syariah mengambil langkah yang lebih prudent dan selektif dalam pengelolaan investasi. Hal ini dilakukan untuk menjaga stabilitas portofolio, likuiditas, dan kesehatan keuangan perusahaan.
“Karakteristik investasi asuransi syariah yang tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian serta kepatuhan terhadap instrumen syariah juga membuat strategi investasi industri cenderung lebih konservatif,” ungkapnya.
Kendati begitu, lanjutnya, hal tersebut justru menjadi bagian penting dalam menjaga sustainability industri dalam jangka panjang, terutama di tengah kondisi pasar yang masih cukup dinamis.
Fauzi menekankan bahwa pihaknya melihat kontraksi hasil investasi ini masih lebih banyak dipengaruhi oleh faktor siklus pasar dan tekanan eksternal jangka pendek.
“Karena itu, ke depan perusahaan diharapkan terus memperkuat strategi asset allocation, diversifikasi portofolio investasi, serta memperkuat manajemen risiko investasi agar lebih resilien menghadapi dinamika pasar global maupun domestik,” tegasnya.
Dia meneruskan, di tengah kondisi pasar yang dinamis, monitoring portofolio investasi juga perlu dilakukan secara aktif dan terukur. Perusahaan perlu memiliki agility dalam membaca perkembangan pasar sehingga dapat menentukan momentum yang tepat dalam melakukan penyesuaian portofolio investasi.
“Dengan pengelolaan yang responsif dan terukur, perusahaan dapat menjaga stabilitas hasil investasi sekaligus menjaga tingkat solvabilitas tetap sehat,” pungkasnya.
BI Rate Naik 50 Bps, Deposito Mulai Dilirik Masyarakat?
Bank Indonesia menaikkan BI Rate 50 bps ke 5,25% untuk stabilitas rupiah. Masyarakat mulai melirik deposito, meski sebagian tetap memilih diversifikasi investasi. [399] url asal
#bi-rate #suku-bunga #deposito #investasi #bank-indonesia #kenaikan-suku-bunga #stabilitas-rupiah #diversifikasi-investasi #instrumen-investasi #pasar-tidak-menentu #tabungan-aman #imbal-hasil #reksa-d
(Bisnis.Com - Finansial) 22/05/26 10:19
v/228646/
Bisnis.com, JAKARTA — Keputusan Bank Indonesia (BI) mengerek suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2026 mulai memengaruhi preferensi masyarakat dalam mengelola dana dan investasi.
Untuk diketahui, BI memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25%. Otoritas moneter juga menetapkan suku bunga Deposit Facility sebesar 50 bps menjadi 4,25%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 50 bps menjadi 6,00%.
Langkah ini merupakan upaya bank sentral dalam memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah, di tengah tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah.
Bagi sebagian masyarakat, kenaikan suku bunga membuat mereka lebih berhati-hati dalam mengatur keuangan. Afiffah Rahmah (26), karyawan swasta di salah satu perusahaan media nasional, mengaku lebih selektif dalam mengatur keuangan dan memiliki diversifikasi instrumen investasi.
“Karena saya masih pemula, jadi sekarang lebih hati-hati atur uang. Masih dominan simpan cash, sambil diversifikasi ke deposito dan instrumen lain,” kata Afiffah kepada Bisnis, Kamis (21/5/2026).
Menurut dia, deposito menjadi lebih menarik di tengah kondisi pasar yang tidak menentu. Meski demikian, dia belum berniat memindahkan seluruh dana investasinya ke deposito. Afiffah tetap memertahankan strategi diversifikasi dengan membagi dana ke beberapa instrumen seperti emas dan deposito.
“Sekarang lebih pilih kombinasi cash, deposito, dan emas. Biar tetap ada dana cair, tapi juga ada tabungan yang relatif aman,” ujarnya.
Pandangan berbeda disampaikan oleh Hestin. Karyawan swasta di salah satu perusahaan yang berlokasi di Jakarta Pusat itu menilai kenaikan BI Rate belum cukup membuat deposito menjadi instrumen yang menarik, karena tingkat bunganya masih relatif rendah.
Saat ini, Hestin masih memilih menyimpan dana di tabungan biasa, sedangkan sebagian lainnya ditempatkan di Surat Berharga Negara (SBN) dan reksa dana pasar uang.
“Belum ada rencana [memindahkan sebagian dana ke deposito], karena memang kembali lagi bunganya/imbal hasil per tahunnya rendah,” ungkapnya saat ditemui Bisnis.
Sementara itu, Andi justru tidak melihat kenaikan BI Rate sebagai alasan untuk beralih ke deposito. Pria berusia 31 tahun itu menilai instrumen seperti emas dan reksa dana tetap lebih menarik meskipun kondisi pasar sedang bergejolak.
“Tentu tidak, karena fluktuasi pasar tetap membuat reksa dana lebih menarik walaupun risikonya naik,” ujar Andi saat ditanya mengenai minat menyimpan dana di deposito.
Selain itu, Andi menilai bunga deposito saat ini belum mampu menyaingi potensi imbal hasil dari instrumen lain. Karena itu, dia mengaku tidak memiliki rencana memindahkan dana investasinya ke deposito. “Tidak semenarik itu karena masih tetap lebih rendah dari emas maupun reksa dana,” tegasnya.
Cara Lapor SPT Jika Punya Saham di AS
Wajib pajak harus melaporkan dividen saham AS dalam SPT Tahunan, kecuali jika diinvestasikan kembali di Indonesia sesuai aturan PMK No. 18/2021. [423] url asal
#spt-tahunan #lapor-spt #dividen-luar-negeri #pajak-penghasilan #saham-amerika-serikat #investasi-indonesia #objek-pajak #dividen-saham #laporan-spt #penghasilan-luar-negeri #instrumen-investasi #pasar
(Bisnis.Com - Ekonomi) 25/04/26 16:10
v/202693/
Bisnis.com, JAKARTA — Wajib pajak tetap harus melaporkan penghasilan dari portofolio saham luar negeri seperti dari Amerika Serikat (AS) dalam laporan Surat Pemberitahuan (SPT) Tahunan, terutama apabila tidak diinvestasikan lagi di dalam negeri.
Dalam Pasal 4 ayat (1) huruf g Bab III UU No. 7/2021 tentang Harmonisasi Peraturan Perpajakan (UU HPP), ditegaskan bahwa dividen termasuk objek pajak penghasilan (PPh). Dengan demikian, objek pajak itu harus dilaporkan dalam SPT Tahunan.
Berdasarkan laman Coretaxpedia milik Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan, ditegaskan bahwa dividen luar negeri yang tidak memenuhi syarat investasi harus dilaporkan dalam laporan SPT Tahunan.
"Dividen luar negeri tersebut harus dilaporkan pada Lampiran 2 Bagian C Penghasilan Luar Negeri," jelas penjelasan DJP, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Adapun dalam Lampiran 2 Bagian C Penghasilan Luar Negeri itu diisi total penghasilan dividen yang diterima selama setahun. Data tersebut dapat dilihat di Stock Dividend Listing yang diterbitkan perusahaan sekuritas.
Di samping itu, Pasal 4 ayat (3) huruf f UU HPP menyatakan dividen dikecualikan dari objek PPh asalkan kembali diinvestasikan kembali di Indonesia. Pemerintah mengatur jenis instrumen investasinya dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 18/2021, tepat dalam Pasal 34 dan Pasal 35.
Investasi yang dimaksud bisa di instrumen pasar keuangan seperti efek bersifat utang (termasuk medium term notes); sukuk; saham; unit penyertaan reksa dana; efek beragun aset; unit penyertaan dana investasi real estat; deposito; tabungan; giro; kontrak berjangka yang di perdagangkan di bursa berjangka di Indonesia.
Instrumen investasi pasar keuangan lainnya termasuk produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi, perusahaan pembiayaan, dana pensiun, atau modal ventura yang mendapatkan persetujuan Otoritas Jasa Keuangan.
Selain itu, investasi bisa dilakukan di luar pasar keuangan seperti investasi infrastruktur melalui kerja sama pemerintah dengan badan usaha; investasi sektor riil berdasarkan prioritas yang ditentukan oleh pemerintah; investasi pada properti dalam bentuk tanah dan/atau bangunan yang didirikan di atasnya; investasi langsung pada perusahaan di Indonesia.
Kemudian investasi pada logam mulia berbentuk emas batangan atau lantakan; kerja sama dengan lembaga pengelola investasi; penggunaan untuk mendukung kegiatan usaha lainnya dalam bentuk penyaluran pinjaman bagi usaha mikro dan kecil di dalam Indonesia; dan bentuk investasi lainnya di luar pasar keuangan yang sah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dalam Pasal 36 ayat (1) PMK 18/2021 ditegaskan investasi tersebut harus dilakukan paling lambat akhir bulan ketiga untuk wajib pajak (WP) orang pribadi atau akhir bulan keempat untuk WP badan setelah tahun pajak berakhir.
Catatannya, meskipun penghasilan dari dividen luar negeri yang diinvestasikan kembali di Indonesia itu tidak dikenakan pajak, Wajib Pajak tetap wajib melaporkan Penghasilan Brutonya dalam SPT Tahunan pada Lampiran 2 Bagian B.
Sederet Tantangan Dana Pensiun Terapkan Life Cycle Fun (LCF)
Penerapan Life Cycle Fund (LCF) di dana pensiun Indonesia menghadapi tantangan kompetensi pengelola, ketersediaan produk investasi, dan literasi peserta. [1,189] url asal
#life-cycle-fund #dana-pensiun #tantangan-dana-pensiun #strategi-investasi #ojk-dana-pensiun #pengelolaan-investasi #risiko-likuiditas #fase-akumulasi-dana #instrumen-investasi #kompetensi-pengelola
(Bisnis.Com - Finansial) 20/04/26 09:00
v/196290/
Bisnis.com, JAKARTA — Penerapan skema durasi masa kerja peserta ataulife cycle fund(LCF) di industri dana pensiun masih dihadapkan pada berbagai tantangan.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan bahwa saat ini perusahaan dana pensiun (dapen) sudah mulai menyesuaikan atau menerapkan strategi LCF tersebut.Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun (PPDP) OJK Ogi Prastomiyono menjelaskan LCF adalah konsep pengelolaan dana pensiun, yang mana strategi investasi di industri bersifat adaptif.
“Program dapen itu menyesuaikan komposisi aset ataupun portofolio dengan usia peserta pensiun dari masing-masing program dana pensiunnya,” katanya dalam konferensi pers daring RDK OJK Maret 2026, dikutip pada Senin (20/4/2026).
Sebab itu, Ogi menekankan LCF ini harus menyeimbangkan antara imbal hasil portofolio dengan risiko likuiditas untuk memenuhi kewajiban kepada para peserta. Bila LCF diterapkan secara efektif, pengelolaan investasi dana pensiun diharapkan dapat lebih optimal pada setiap fasenya.
Fase yang dimaksudnya adalah fase akumulasi dana investasi ataupun penempatan pada instrumen yang cenderung agresif dengan imbal hasil yang lebih tinggi.
“Serta fase perlindungan dana yang bertujuan melindungi peserta yang mendekati usia pensiun dari potensi risiko penurunan nilai pasar portofolio dan juga ketersediaan likuiditasnya,” jelasnya.
Kendati demikian, Ogi turut membeberkan beberapa tantangan yang dihadapi industri dapen menerapkan LCF itu.Pertama, dari sisi pengelola terkait dengan kompetensi kemampuan dalam mengelola investasi yang optimal sesuai dengan fase investasi dan liabilitas dana pensiun.
Tantangankedua, lanjutnya, berkenaan dengan ketersediaan alternatif produk investasi di pasar (market) yang sesuai dengan profil peserta dana pensiun.
“Kemudian yang ketiga adalah dari sisi peserta terkait dengan literasi mengenai prinsip-prinsip investasi dan optimalisasireturnsesuai dengan siklus pengelolaan investasi,” bebernya.
Secara umum, dia menegaskan bahwa penerapan LCF menjadi perhatiansecara global. Hal ini diketahui dalam acaraOrganisation for Economic Co-operation and Development(OECD) danInternational Organization of Pension Supervisors(IOPS) untuk memperhatikan pengelolaan bebasiskan LCF.
“Dan OJK mempunyai komitmen bahwapracticesyang sudah dilakukan di global akan kami terapkan secara bertahap dan tentunya melalui persiapan-persiapan lebih baik,” tegasnya.
LCF di Dapen Indonesia Sudah Berjalan
Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) mengungkapkan penerapan LCF di industri dapen sudah berjalan, tetapi belum optimal karena masih pada tahap transisi. Humas ADPI Syarifudin Yunus menuturkan regulasi sudah ada, tetapi implementasi dan SDM masih dalam tahap penyesuaian.
Sebab demikian, dia menilai tantangan terletak pada kompetensi pengelolaan investasi yang harus mampu menyesuaikan strategi dengan fase usia dan liabilitas peserta.
“Jadi poinnya, bukan pada apakah bisa diterapkan? Namun, seberapa mampu industri mampu mengelolanya secara optimal?” katanya kepadaBisnis, dikutip pada Senin (20/4/2026).
Baginya, tantangan tersebut sangat krusial karena dana pensiun bukan sekadar mengumpulkan iuran, tetapi memastikan dananya cukup untuk membayar manfaat pensiun peserta. Sebab, profil risiko peserta dan kebutuhannya berbeda.
Oleh karena itu, pengelola investasi harus mampu melakukanasset-liability matching, mengelola risiko pasar, inflasi, dan likuiditas serta memastikan arus kas tetap tersedia saat manfaat pensiun dibayarkan.
“Di situlah pentingnya kompetensi pengelola, bukan hanya soal imbal hasil tapi soal ketahanan dalam memenuhi janji manfaat kepada peserta,” tegas Syarifudin.
Pilihan Instrumen Investasi Dana Pensiun Masih Minim
Lebih lanjut, Syarifudin melihat sebenarnya saat ini instrumen investasi di pasar sudah tersedia, tetapi belum sepenuhnya memadai untuk mendukung LCF secara optimal dan otomatis. Menurutnya, saat ini portofolio industri dana pensiun masih terlalu konservatif. Lebih dari 50% dana diparkirkan di obligasi atau Surat Berharga Negara (SBN) sedangkan saham sangat kecil, yakni di bawah 5%.
“Harusnya prinsip LCF kan usia muda agak agresif, saat mendekati pensiun baru konservatif, tetapi nyatanya, dari awal sudah cenderung konservatif. Jadi, saat ini LCF sudah ada tapi belum ideal,” tegasnya.
Senada, Dana Pensiun Pemberi Kerja Penyelenggara Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) Bank Central Asia atau Dapen BCA berpendapat untuk penerapan LCF secara keseluruhan di semua tahapan usia peserta, pilihan instrumen di pasar masih cenderung terbatas pada instrumen yang umum digunakan.
Direktur Utama Dapen BCA Budi Sutrisno mengatakan pengelolaan pergeseran dari investasi yang lebih berisiko ke yang lebih konservatif masih perlu dilakukan secara aktif oleh pengelola, karena belum banyak instrumen yang secara otomatis menyesuaikan komposisi investasinya mengikuti siklus usia peserta.
“Secara umum, instrumen yang tersedia saat ini sudah dapat digunakan untuk mendukung strategi LCF. Namun, implementasinya masih memerlukan pengelolaan yang lebih aktif agar tetap sesuai dengan tujuan dan profil risiko peserta di setiap tahapannya,” tegasnya kepadaBisnis.
Di lain sisi, Budi mengungkapkan untuk kebutuhan investasi yang bersifat konservatif, saat ini pasar sudah menyediakan pilihan yang cukup memadai. Instrumen itu seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia (SBI), dan Surat Berharga Negara (SBN).
“Yang relatif mudah diakses dan memiliki tingkat risiko yang rendah, sehingga sesuai untuk digunakan pada fase menjelang pensiun dalam skema LCF,” ucapnya.
Selain tantangan itu, Budi menuturkan hal yang perlu menjadi perhatian adalah memastikan pengelolaan investasi tetap selaras dengan kondisi pasar serta kebutuhan peserta di setiap tahap usia, sehingga alokasi dana dapat tetap optimal dari waktu ke waktu.
Selain itu, imbuhnya, diperlukan penyesuaian strategi investasi secara bertahap seiring dengan mendekatnya usia pensiun peserta.
“Proses ini membutuhkan perencanaan dan pelaksanaan yang konsisten agar perpindahan antar jenis investasi dapat berjalan dengan baik tanpa menimbulkan dampak yang kurang optimal,” ungkapnya.
Di sisi lain, pemahaman peserta mengenai konsep investasi dan perubahan risiko juga menjadi faktor penting. Hal ini karena tidak semua peserta memiliki tingkat pemahaman yang sama terhadap pengelolaan dana pensiun.
“Untuk menghadapi hal tersebut, perusahaan terus memperkuat proses pengelolaan investasi, melakukan penyesuaian portofolio secara hati-hati dan bertahap, serta memberikan edukasi kepada peserta agar lebih memahami tujuan dan manfaat dari strategi investasi yang diterapkan,” ungkapnya.
Secara keseluruhan, Dapen BCA melihat skema LCF adalah pendekatan yang baik dalam pengelolaan dana pensiun karena memungkinkan penyesuaian investasi sesuai dengan usia dan kebutuhan peserta. Semakin mendekati masa pensiun, pengelolaan investasi diarahkan menjadi lebih konservatif agar nilai dana yang sudah terkumpul tetap terjaga.
“Saat ini, Dapen BCA sudah menerapkan prinsip tersebut. Peserta yang memasuki sekitar dua tahun sebelum usia pensiun akan dialihkan ke instrumen yang lebih aman seperti deposito, Sertifikat Bank Indonesia [SBI], dan Surat Berharga Negara [SBN],” bebernya.
Tujuannya adalah untuk mengurangi risiko naik turunnya nilai investasi akibat kondisi pasar, sehingga dana peserta tetap stabil ketika akan dicairkan. Keuntungan dari skema ini adalah risiko dapat ditekan menjelang pensiun dan nilai manfaat menjadi lebih terjaga.
“Namun, di sisi lain, ada kemungkinan peserta tidak mendapatkan hasil yang lebih tinggi jika pasar sedang dalam kondisi baik. Selain itu, pengelolaan skema ini juga membutuhkan pengaturan yang disiplin dan tidak semua peserta memiliki tingkat kenyamanan risiko yang sama,” ucap Budi.
Lebih jauh, dia turut menyampaikan komposisi penempatan dana investasi Dapen BCA per Maret 2026 masih didominasi oleh SBN sebesar 38,84%. Diikuti tanah dan bangunan (15,22%), penyertaan (14,37%), SBI/SRBi (11,63%), deposito (9,11%), obligasi korporasi (5,90%), dan saham serta reksadana (4,94%).
Adapun, Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) mendorong penerapan skema Life Cycle Fund sebagai strategi pengelolaan investasi industri dana pensiun.
Ketua Umum Asosiasi DPLK Tondy Suradiredja mengatakan sebenarnya porsi penempatan dana di berbagai instrumen investasi saat ini sudah sangat optimal untuk menjaga stabilitas. Namun, skema yang didorongnya ini dinilai dapat membuat pengelolaan dana pensiun lebih adaptif sesuai dengan segmen peserta dana pensiun.
“Strategi ini menyeimbangkan porsi instrumen agresif untuk mengejar return tinggi bagi peserta muda dan instrumen konservatif untuk menjaga keamanan dana peserta yang mendekati pensiun,” ucapnya kepadaBisnis.
Sebab demikian, dia melihat arah investasi dana pensiun dalam beberapa tahun ke depan akan mulai melirik instrumen saham secara selektif untuk mendongkrak akumulasi return.
Bingung Pilih Tabungan atau Investasi? Ini Cara Menentukannya
Di tengah beragam pilihan instrumen keuangan yang semakin berkembang, menentukan jenis tabungan maupun investasi yang tepat tidak selalu mudah. [1,071] url asal
#tabungan #investasi #dana-darurat #instrumen-investasi #produk-keuangan #indepth
(Kompas.com - Money) 16/04/26 12:53
v/193226/
JAKARTA, KOMPAS.com — Ketika seseorang telah terbebas dari utang dan memiliki sisa pendapatan setelah memenuhi kebutuhan utama, langkah berikutnya yang kerap menjadi pertanyaan adalah: ke mana uang tersebut sebaiknya dialokasikan?
Di tengah beragam pilihan instrumen keuangan yang semakin berkembang, menentukan jenis tabungan maupun investasi yang tepat tidak selalu mudah.
Selain itu, kebutuhan finansial setiap individu juga berbeda, mulai dari membeli rumah, mempersiapkan kelahiran anak, melanjutkan pendidikan, hingga memenuhi kebutuhan gaya hidup.
FREEPIK/JCOMP Ilustrasi mengelola keuanganHead of Trainer Development The Financial Gym Bridget Todd mengatakan, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami tujuan keuangan berdasarkan jangka waktu.
“Secara umum, Anda harus memikirkan tujuan Anda dan memecahnya menjadi beberapa kategori berdasarkan jangka waktu,” ujar Todd, dikutip dari CNBC, Kamis (16/4/2026).
“Dari situ Anda dapat menentukan cara terbaik untuk mengalokasikan uang tunai Anda," imbuh dia.
Menentukan tujuan sebelum memilih instrumen investasi
Pendiri The Financial Gym Shannon McLay menekankan, perencanaan keuangan sebaiknya dimulai dari pemahaman terhadap tujuan hidup.
“Apakah kamu ingin dana perjalanan? Apakah kamu akan menikah? Apakah Anda ingin membeli rumah dalam lima atau 10 tahun?” kata McLay.
Menurut dia, setiap tujuan memiliki konsekuensi biaya yang berbeda serta membutuhkan strategi penyimpanan atau investasi yang berbeda pula.
Bahkan, pengeluaran yang sering dianggap kecil atau tidak penting, atau memelihara hewan peliharaan, tetap perlu diperhitungkan dalam perencanaan.
Dok. Shutterstock Ilustrasi investasi. Cara beli ORI028. Kupon ORI028. Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI028.Dengan kata lain, keputusan finansial tidak hanya soal memilih produk keuangan, tetapi juga tentang memahami kebutuhan hidup yang akan datang.
Dana darurat sebagai fondasi
Sebelum mulai berinvestasi, kondisi keuangan yang ideal adalah ketika seseorang telah memiliki dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran serta mampu mengendalikan utang.
Dalam posisi ini, individu dinilai memiliki fleksibilitas lebih untuk mulai mengembangkan kekayaan.
Setelah itu, barulah alokasi dana dapat dibagi ke dalam berbagai “keranjang” sesuai tujuan dan jangka waktu.
Menyimpan dana untuk tujuan jangka pendek
Untuk kebutuhan yang akan terjadi dalam waktu dekat, sekitar nol hingga dua tahun, Todd menyarankan agar dana disimpan dalam instrumen berisiko rendah dan mudah diakses, seperti rekening tabungan.
“Simpan tabungan tunai di rekening tabungan yang mudah diakses untuk keperluan penting dalam hidup yang akan datang dalam dua tahun ke depan,” jelas Todd.
Instrumen seperti tabungan berbunga tinggi menjadi pilihan karena relatif aman dan tidak terpengaruh fluktuasi pasar. Meskipun imbal hasilnya tidak besar, stabilitas menjadi keunggulan utama.
Dengan pendekatan ini, pemilik dana tidak perlu khawatir terhadap pergerakan pasar atau risiko kehilangan nilai investasi ketika dana dibutuhkan dalam waktu dekat.
Investasi untuk jangka menengah
Untuk tujuan jangka waktu tiga hingga lima tahun, strategi yang digunakan mulai berubah. Dana dapat mulai diinvestasikan di pasar, namun dengan pendekatan yang lebih konservatif.
Todd menyarankan agar komposisi portofolio tetap mempertahankan porsi obligasi yang signifikan.
SHUTTERSTOCK/OK-PRODUCT STUDIO Ilustrasi obligasi.“Anda sebaiknya menyimpan setidaknya 40 persen portofolio Anda dalam obligasi,” ujar dia.
Pendekatan ini bertujuan menjaga keseimbangan antara potensi imbal hasil dan risiko.
Saham memberikan peluang pertumbuhan, sementara obligasi membantu menahan volatilitas.
Sementara itu, untuk jangka waktu enam hingga 10 tahun, strategi investasi dapat menjadi sedikit lebih agresif.
“Anda tetap perlu bersikap agak konservatif dalam berinvestasi untuk mencapai tujuan dalam jangka waktu ini. Namun, Anda perlu sedikit meningkatkan risiko untuk meningkatkan keuntungan,” kata Todd.
Dalam periode ini, ia merekomendasikan portofolio dengan sekitar 75 persen saham dan 25 persen obligasi.
Komposisi tersebut dinilai mampu meningkatkan potensi imbal hasil tanpa mengabaikan aspek mitigasi risiko.
Investasi jangka panjang dan pensiun
Untuk tujuan jangka panjang, seperti pensiun yang umumnya lebih dari 10 tahun, strategi investasi dapat menjadi lebih agresif.
“Tujuan jangka panjang, seperti pensiun, membutuhkan alokasi yang agresif, artinya minimal 90 persen dalam saham,” kata Todd.
Ia menambahkan, secara historis, pasar saham memiliki kecenderungan untuk berlipat ganda setiap tujuh hingga 10 tahun.
Karena itu, alokasi yang lebih besar pada saham dinilai relevan untuk memaksimalkan pertumbuhan dalam jangka panjang.
Namun, pendekatan ini juga mengandung risiko fluktuasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu, faktor waktu menjadi kunci, karena investor memiliki ruang untuk “menahan” gejolak pasar.
PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV Ilustrasi saham.McLay menegaskan, risiko tersebut seharusnya tidak menjadi penghalang.
“Jika target Anda lebih dari dua tahun, Anda dapat mengatasi naik turunnya pasar,” ujarnya.
Memilih antara aktif atau pasif
Selain menentukan alokasi aset, investor juga dihadapkan pada pilihan cara mengelola investasi, apakah secara aktif atau pasif.
McLay menjelaskan, pilihan ini bergantung pada preferensi masing-masing individu.
“Apakah Anda ingin lebih aktif dalam mengelola investasi Anda, atau Anda ingin membiarkannya saja dan melupakannya?” kata dia.
Bagi investor yang ingin lebih terlibat, pengelolaan aktif melalui akun broker bisa menjadi pilihan.
Sementara itu, bagi yang menginginkan kemudahan, robo-advisor menawarkan pendekatan otomatis dengan penyesuaian portofolio secara berkala.
Memahami hubungan risiko dan imbal hasil
Dalam setiap keputusan investasi, hubungan antara risiko dan imbal hasil menjadi faktor utama.
Instrumen berisiko rendah seperti tabungan menawarkan pertumbuhan yang stabil namun terbatas.
Sebaliknya, instrumen berisiko tinggi seperti saham memiliki potensi imbal hasil lebih besar, tetapi juga disertai kemungkinan kerugian.
Portofolio yang berisi kombinasi saham dan obligasi mencerminkan upaya menyeimbangkan kedua aspek tersebut.
Saham cenderung lebih volatil, sementara obligasi memberikan stabilitas relatif. Komposisi keduanya perlu disesuaikan dengan jangka waktu dan toleransi risiko masing-masing individu.
FREEPIK/8PHOTO Ilustrasi investasiMenyusun strategi berdasarkan “keranjang tujuan”
Dikutip dari Investopedia, pendekatan yang disarankan oleh para perencana keuangan adalah membagi dana ke dalam beberapa “keranjang” berdasarkan tujuan.
Setiap keranjang memiliki karakteristik berbeda:
- Jangka pendek (0–2 tahun): fokus pada likuiditas dan keamanan
- Jangka menengah (3–10 tahun): kombinasi pertumbuhan dan stabilitas
- Jangka panjang (lebih dari 10 tahun): fokus pada pertumbuhan agresif
Dengan pendekatan ini, individu tidak hanya mengandalkan satu jenis instrumen, melainkan membangun portofolio yang lebih terdiversifikasi.
Menyelaraskan keuangan dengan kehidupan
McLay mengingatkan, perjalanan keuangan tidak hanya tentang pensiun.
“Masih banyak waktu yang bisa dijalani sebelum pensiun,” jelas dia.
“Banyak hal penting yang bisa terjadi antara sekarang dan usia 59 tahun," imbuhny.
Artinya, kebutuhan finansial akan terus muncul sepanjang hidup, dan investasi dapat menjadi alat untuk membantu mewujudkannya.
Mulai dari pernikahan, pendidikan, hingga pembelian aset, semuanya membutuhkan perencanaan yang matang.
Menggabungkan berbagai strategi
Pendekatan yang dinilai paling efektif adalah mengombinasikan berbagai jenis instrumen dan jangka waktu.
Portofolio yang mencakup instrumen berisiko rendah dan tinggi, serta tujuan jangka pendek dan panjang, memberikan fleksibilitas sekaligus potensi pertumbuhan.
Dengan strategi tersebut, Anda dapat menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan tujuan masa depan.
Pada akhirnya, keberhasilan dalam mengelola keuangan tidak hanya ditentukan oleh pilihan instrumen, tetapi juga oleh kemampuan memahami tujuan hidup dan menyesuaikan strategi secara konsisten.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
"Tokenized Stocks" Buka Peluang Investasi Saham Global bagi Investor Ritel
Platform aset kripto INDODAX menghadirkan tujuh aset tokenized stocks sebagai bagian dari upaya memperluas akses investor terhadap saham global. [464] url asal
#blockchain #aset-kripto #instrumen-investasi #indodax #tokenisasi
(Kompas.com - Money) 15/04/26 20:44
v/192620/
JAKARTA, KOMPAS.com – Platform aset kripto INDODAX menghadirkan tujuh aset tokenized stocks sebagai bagian dari upaya memperluas akses investor Indonesia terhadap saham global melalui teknologi blockchain.
Langkah ini menjadi bagian dari inovasi dalam menyediakan alternatif instrumen investasi bagi para member, seiring berkembangnya integrasi antara pasar keuangan tradisional dan ekosistem aset digital yang semakin terbuka bagi investor ritel.
Adapun tujuh aset yang tersedia di INDODAX merepresentasikan saham perusahaan global, yakni Tesla (TSLAX), Alphabet (GOOGLX), NVIDIA (NVDAX), Circle (CRCLX), Apple (AAPLX), Amazon (AMZNX), dan Coinbase (COINX).
etty Images/iStockphoto/Peshkov Ilustrasi blockchainSeluruh aset tersebut berjalan di jaringan Solana.
Vice President INDODAX Antony Kusuma mengatakan, kehadiran tokenized stocks mencerminkan tren global dalam menjembatani akses antara pasar keuangan tradisional dan teknologi blockchain.
“Melalui tokenized stocks, kami melihat adanya pergeseran cara investor mengakses aset global menjadi lebih terbuka dan fleksibel. Ini bukan hanya soal kemudahan akses, tetapi juga bagaimana teknologi blockchain dapat menyederhanakan proses yang sebelumnya lebih kompleks," ujar Antony dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).
"Namun, pemahaman terhadap mekanisme dan risiko tetap menjadi hal penting agar investor dapat mengambil keputusan secara bijak,” imbuh dia.
Tokenized stocks merupakan aset digital yang nilainya dipatok (pegged) dengan rasio 1:1 terhadap harga saham perusahaan di pasar modal tradisional.
PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.Melalui skema ini, investor dapat membeli saham global dalam bentuk token yang diperdagangkan di jaringan blockchain tanpa harus melalui mekanisme pembukaan akun broker internasional secara konvensional.
Dibandingkan perdagangan saham tradisional, tokenized stocks memungkinkan kepemilikan dalam jumlah fraksional.
Hal ini membuat investor dapat mengakses aset dengan nominal yang lebih kecil.
Selain itu, perdagangan tokenized stocks dapat berlangsung selama 24 jam penuh tanpa henti. Hal ini berbeda dengan bursa saham konvensional yang memiliki jam operasional terbatas.
Dari sisi akses, instrumen ini dinilai memberikan kemudahan bagi investor untuk masuk ke pasar global tanpa melalui proses pembukaan akun broker internasional yang relatif lebih kompleks.
Sementara dari sisi efisiensi transaksi, sistem berbasis blockchain memungkinkan proses penyelesaian transaksi dilakukan secara real-time serta memungkinkan penarikan aset kapan saja.
Meski demikian, perbedaan karakteristik antara pasar kripto yang berjalan 24/7 dan bursa saham konvensional yang memiliki jam operasional terbatas berpotensi menimbulkan selisih harga pada waktu tertentu.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap mekanisme instrumen tetap menjadi hal penting bagi investor.
Bagi para member INDODAX, jadwal perdagangan aset ini dimulai dengan open deposit pada 9 April 2026 pukul 14.00 WIB, diikuti open trading pada 16 April 2026 pukul 14.00 WIB.
Ke depan, INDODAX menegaskan komitmennya untuk menjaga keseimbangan antara inovasi dan penguatan edukasi, seiring dengan berkembangnya variasi instrumen di industri aset digital.
Upaya ini diharapkan dapat mendorong ekosistem yang lebih transparan, aman, dan berkelanjutan bagi seluruh member.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56