Praktisi: Petani sawit berorientasi kuantitas belum kualitas buah
Kalangan praktisi perkebunan menilai salah satu tantangan utama petani sawit rakyat saat ini adalah masih berorientasi pada kuantitas panen dan bukan kualitas ...
(Antara) 23/06/26 17:31 257618
Jakarta (ANTARA) - Kalangan praktisi perkebunan menilai salah satu tantangan utama petani sawit rakyat saat ini adalah masih berorientasi pada kuantitas panen dan bukan kualitas buah.
Menurut praktisi kebun Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Hartono, petani sering fokus pada berat buah, padahal tingkat kematangan yang tepat menentukan rendemen minyak dan kadar asam lemak bebas.
"Kalau kualitas bagus, pabrik untung, harga TBS petani juga lebih baik,” ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Terkait hal itu, AKPY bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian menggelar pembelajaran lapangan bagi petani sawit dalam Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026.
Sebanyak 149 peserta terdiri petani sawit swadaya dan penyuluh di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah melihat praktik budi daya, panen, hingga pascapanen secara nyata di kebun dan pabrik kelapa sawit.
Mereka mengikuti kunjungan ke kebun PT Bumitama Gunajaya Agro (BGA) Region 3 Pundu untuk materi budi daya, sementara 88 petani lainnya belajar praktik panen dan pascapanen di kebun serta pabrik milik PT Bisma Dharma Kencana (BDK).
"Metode belajar langsung di lapangan sebagai pendekatan paling efektif untuk meningkatkan pemahaman teknis petani, yang akhirnya mampu meningkatkan produktivitas dan kualitas buah sawit," ujar Hartono.
Praktisi kebun AKPY Tri Haryadi menegaskan pengalaman lapangan menjadi bagian penting dalam proses belajar petani karena mereka bisa melihat langsung bagaimana best practice management diterapkan.
Oleh karena itu mereka dikenalkan pada praktik perkebunan yang baik mulai dari persiapan lahan, pembibitan, penanaman, pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM), pengelolaan tanaman menghasilkan (TM), hingga teknik panen dan sortasi tandan buah segar (TBS).
Melalui kegiatan ini, lanjutnya, diharapkan petani tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga perubahan pola pikir, bahwa produktivitas tinggi harus berjalan seiring dengan kualitas hasil dan efisiensi pengelolaan kebun.
Di kebun BGA, peserta mendapat pemahaman mendalam tentang pentingnya penggunaan bibit unggul sebagai fondasi produktivitas. Region Head 3 Pundu BGA, Lavin D. Saputra, menegaskan kualitas bibit menjadi titik awal keberhasilan kebun.
"Bibit yang berkualitas akan menjadi fondasi pohon yang sehat dan produktif. Ini langkah awal yang sangat menentukan hasil kebun ke depan,” ujar Lavin.
Sementara itu, Manager Kebun PT Bisma Dharma Kencana Hery Subagyo mengatakan keberhasilan kebun sawit bukan sekadar soal tingginya produksi, tetapi konsistensi dalam menjalankan standar teknis dan keselamatan kerja.
"Di lapangan, petani bisa melihat langsung bagaimana proses dari hulu sampai hilir berjalan. Mulai dari perawatan tanaman, teknik panen, sampai bagaimana buah dinilai kualitasnya di pabrik,” katanya.
Menurut dia, keterbukaan perusahaan menerima kunjungan petani merupakan bentuk kontribusi dunia usaha dalam mendukung peningkatan kapasitas pekebun rakyat.
Dengan sinkronisasi antara teori dan praktik, petani sawit Kotim diharapkan mampu menerapkan teknik budidaya, panen, dan pascapanen yang lebih baik di kebun masing-masing, sehingga produktivitas meningkat, kualitas TBS terjaga, dan kesejahteraan petani dapat terus tumbuh secara berkelanjutan.
Pewarta: Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026