IBC Kembangkan Baterai Generasi Baru, Jaga Nikel Tetap Relevan di Era LFP
Indonesia Battery Corporation (IBC) mengembangkan baterai genarasi baru berbasis nikel untuk menjaga relevansi nikel Indonesia di era baterai LFP
(Bisnis.Com) 23/06/26 18:25 257675
Bisnis.com, JAKARTA — PT Industri Baterai Indonesia atau Indonesia Battery Corporation (IBC) tengah menjajaki pengembangan teknologi baterai generasi baru yang tetap mengandalkan kandungan nikel tinggi.
Langkah ini ditempuh untuk menjaga relevansi komoditas nikel Indonesia di tengah perubahan tren industri baterai global. Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengatakan, perusahaan memiliki mandat untuk mendukung hilirisasi nikel nasional.
Oleh karena itu, IBC tidak hanya berfokus pada pengembangan baterai berbasis nickel manganese cobalt (NMC) maupun lithium iron phosphate (LFP), tetapi juga mulai mengeksplorasi teknologi baterai baru yang berpotensi menggunakan nikel dalam porsi signifikan.
"Kami juga sekarang sedang mengembangkan juga potensi-potensi kerja sama lain untuk teknologi baterai yang lebih baru. Jadi supaya, teknologi baterai yang baru yang kami approach itu adalah yang memang posibilitas untuk menggunakan nikelnya masih cukup tinggi," jelas Aditya dalam podcast Broad Cash Bisnis.com, dikutip Selasa (23/6/2026).
Menurut dia, IBC tengah membuka peluang kerja sama dengan berbagai pihak untuk mengembangkan teknologi baterai generasi berikutnya. Salah satu pendekatan yang dikaji adalah teknologi yang memungkinkan material dasar atau base chemistry baterai menggunakan nikel, bukan lagi LFP seperti yang banyak digunakan saat ini.
Aditya menjelaskan, pengembangan teknologi tersebut masih berada pada tahap awal sehingga pilihan kimia baterai (battery chemistry) dan material yang digunakan masih sangat beragam.
Berbeda dengan baterai lithium-ion yang sudah mencapai tingkat kematangan teknologi tinggi, teknologi baru tersebut masih dalam fase pengembangan sehingga arah komersialisasinya masih terus terbentuk.
Meski demikian, dia menilai IBC tidak bisa menunggu terlalu lama untuk masuk ke segmen tersebut. Pasalnya, sejumlah produsen baterai global telah mengumumkan rencana komersialisasi teknologi serupa dalam waktu dekat.
"Kita juga harus cepat-cepat. Karena negara lain sudah banyak yang mulai, pabrikan lain sudah banyak yang, bahkan sebetulnya sudah announce akan melakukan yang skala komersialnya di akhir tahun ini," katanya.
Oleh karena itu, IBC memandang keterlibatan sejak fase awal pengembangan teknologi menjadi krusial agar Indonesia tidak tertinggal dalam rantai pasok baterai masa depan.
Apalagi, posisi Indonesia sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia berpotensi tergerus apabila tren teknologi baterai bergeser ke arah yang semakin mengurangi penggunaan nikel.
"Nah, kalau kita tidak terjun sekarang ke sana, kita enggak bisa menjaga nikel itu relevan," ujar Aditya.
Langkah IBC tersebut mencerminkan upaya industri baterai nasional untuk mengantisipasi perubahan lanskap teknologi global.
Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan baterai LFP terus meningkat, terutama untuk kendaraan listrik segmen massal. Sebab, menawarkan biaya produksi lebih murah dibandingkan baterai berbasis nikel.
Di sisi lain, pengembangan teknologi baterai baru yang tetap memanfaatkan kandungan nikel tinggi dinilai menjadi salah satu strategi penting untuk menjaga keberlanjutan agenda hilirisasi mineral Indonesia. Ini sekaligus mempertahankan nilai tambah industri nikel di masa depan.
"Nah, kami ingin masuk ke sana supaya yang nanti yang dipakai nikel. Jadi setidaknya kita punya economies of scale untuk sodium ion battery yang pakai katodanya ada nikelnya," tutur Aditya.
#indonesia-battery-corporation-ibc #baterai #pabrik-baterai #baterai-mobil-listrik