35 Juta Barrel Minyak Keluar dari Selat Hormuz Setelah Konflik Mereda

35 Juta Barrel Minyak Keluar dari Selat Hormuz Setelah Konflik Mereda

Sedikitnya 20 kapal tanker minyak yang mengangkut 35 juta barrel minyak telah keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz sejak kesepakatan AS-Iran

(Kompas.com) 25/06/26 05:15 259062

JAKARTA, KOMPAS.com – Arus ekspor minyak melalui Selat Hormuz mulai meningkat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.

Dikutip dari CNBC, Kamis (25/6/2026), data perusahaan pelacak perdagangan global Kpler menunjukkan sedikitnya 20 kapal tanker minyak yang mengangkut 35 juta barrel minyak telah keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz sejak kesepakatan AS-Iran diberlakukan.

Dalam catatan analis yang dirilis pada Selasa (24/6/2026), Kpler menyebut kapal-kapal tanker tersebut bukan berasal dari Iran dan sebelumnya tertahan di kawasan Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan setelah Teheran secara efektif menutup Selat Hormuz pada awal konflik.

ISNA/AMIRHOSSEIN KHORGOOEI via AFP Warga Iran duduk di tepi Pantai Suru, Bandar Abbas, pesisir Selat Hormuz, 1 Juni 2026, ketika perang Iran masih berkecamuk.

Menurut Kpler, kapal-kapal tersebut diperkirakan akan mencapai tujuan akhirnya, yang sebagian besar berada di kawasan Asia, pada awal Agustus mendatang.

Pengiriman minyak naik menjadi 4,8 juta barrel per hari

Secara keseluruhan, volume pengiriman minyak yang telah terkonfirmasi melalui Selat Hormuz meningkat menjadi sekitar 4,8 juta barrel per hari (bph) sejak tercapainya kesepakatan antara AS dan Iran.

Kpler mencatat, arus minyak pada Juni 2026 menjadi yang tertinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026 lalu.

Meski demikian, volume ekspor tersebut masih jauh di bawah tingkat sebelum perang. Sebelum konflik pecah, sekitar 15 juta barrel minyak per hari melintasi Selat Hormuz menuju pasar global.

Di sisi lain, kapal tanker Iran yang mengangkut sekitar 21 juta barrel minyak juga telah keluar melalui Selat Hormuz sepanjang Juni 2026, menurut analis Kpler.

Peningkatan aktivitas ekspor minyak terjadi setelah Angkatan Laut AS mencabut blokade terhadap Iran pada 18 Juni 2026.

NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.

Selain itu, Departemen Keuangan AS pada pekan ini juga memberikan pengecualian sanksi terhadap penjualan minyak Iran hingga Agustus 2026.

Kapal yang tertahan sejak April 2026 mulai bergerak

Analis Kpler juga mencatat kapal-kapal tanker yang dimuat sejak akhir April 2026 telah membawa total 51 juta barrel minyak keluar melalui Selat Hormuz sepanjang bulan ini.

Kapal-kapal tersebut bukan berasal dari Iran dan diketahui menonaktifkan transponder atau perangkat pelacak selama periode konflik berlangsung.

Menurut Kpler, jumlah sebenarnya kemungkinan lebih tinggi dibandingkan angka yang telah teridentifikasi saat ini.

Meningkatnya ekspor minyak tersebut terjadi seiring penurunan tingkat ancaman keamanan di Selat Hormuz.

Joint Maritime Information Center (JMIC), organisasi keamanan maritim yang dipimpin AS dan berpusat di Bahrain, menurunkan status ancaman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz menjadi "moderat".

Lembaga tersebut sebelumnya mengategorikan situasi keamanan sebagai "kritis", atau tingkat ancaman tertinggi, pada 4 Juni 2026 lalu.

Risiko serangan dinilai menurun

Dalam peringatan terbarunya yang diterbitkan Selasa, JMIC menyatakan risiko serangan terhadap kapal masih ada, namun peluangnya dinilai lebih rendah dibandingkan sebelumnya.

“Serangan mungkin terjadi tetapi tidak mungkin, dan risiko secara keseluruhan telah menurun setelah implementasi Nota Kesepahaman AS-Iran,” tulis JMIC dalam advis terbarunya.

Penurunan tingkat ancaman tersebut menjadi salah satu faktor yang mendorong kembali aktivitas pelayaran dan perdagangan energi melalui jalur laut yang selama ini menjadi salah satu titik terpenting bagi distribusi minyak dunia.

GOOGLE MAPS Ilustrasi Selat Hormuz.

IMO siapkan evakuasi lebih dari 11.000 pelaut

Sementara itu, Organisasi Maritim Internasional (IMO), badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang menangani sektor pelayaran, mengumumkan rencana evakuasi bagi lebih dari 11.000 pelaut yang masih terjebak di kawasan Teluk Persia.

Dalam pernyataannya pada Selasa, IMO menyebut rencana tersebut mendapat dukungan dari Iran, Oman, AS, serta negara-negara Teluk lainnya.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan pihaknya telah memperoleh jaminan keamanan yang diperlukan untuk menjalankan operasi tersebut.

“Kami telah mengamankan jaminan keselamatan yang diperlukan dan telah memverifikasi secara menyeluruh kondisi untuk navigasi yang aman guna mendukung operasi ini,” kata Dominguez dalam sebuah pernyataan.

Rencana evakuasi tersebut dilakukan di tengah membaiknya kondisi keamanan pelayaran di kawasan setelah implementasi nota kesepahaman antara AS dan Iran yang membuka kembali akses pelayaran melalui Selat Hormuz.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#ekspor-minyak #kapal-tanker-minyak #kapal-tanker #selat-hormuz #pengiriman-minyak

https://money.kompas.com/read/2026/06/25/051500526/35-juta-barrel-minyak-keluar-dari-selat-hormuz-setelah-konflik-mereda