"Impulse Buying" dan Dopamin Instan, Saat Belanja Jadi Pelarian Emosi
Impulse buying merujuk pada keputusan membeli barang atau jasa secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
(Kompas.com) 25/06/26 09:19 259211
JAKARTA, KOMPAS.com – Diskon besar, promo terbatas, flash sale, hingga kemudahan pembayaran digital membuat aktivitas belanja kini semakin mudah dilakukan.
Hanya dengan beberapa kali sentuhan di layar ponsel, barang yang diinginkan bisa langsung dibeli dan dikirim ke rumah.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dialami konsumen, yakni impulse buying atau belanja impulsif.
Dok. Freepik Ilustrasi belanja onlinePerilaku ini merujuk pada keputusan membeli barang atau jasa secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
Meski terlihat sepele, berbagai penelitian menunjukkan impulse buying dapat berdampak terhadap kondisi keuangan pribadi apabila terjadi secara berulang.
Pengeluaran yang awalnya dianggap kecil dapat menumpuk dan mengganggu perencanaan keuangan dalam jangka panjang.
Fenomena ini juga semakin relevan di era media sosial ketika konsumen terus-menerus terpapar iklan, promosi, serta rekomendasi produk yang disesuaikan dengan minat mereka.
Saat rasa bosan berubah menjadi keinginan berbelanja
Salah satu pemicu impulse buying yang sering tidak disadari adalah rasa bosan.
Mengutip Investopedia, banyak orang berbelanja bukan karena membutuhkan sesuatu, melainkan karena sedang mencari hiburan atau aktivitas untuk mengisi waktu luang.
Ketika seseorang membuka media sosial, berbagai iklan dan promosi akan muncul secara otomatis berdasarkan riwayat pencarian maupun kebiasaan konsumsi sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.
Ilustrasi Belanja KosmetikSelain rasa bosan, kondisi emosional lain seperti stres dan kelelahan juga dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif.
Edukator finansial Kim Scouller mengatakan banyak orang berbelanja untuk mendapatkan dorongan perasaan positif secara cepat.
"Kita cenderung membeli (barang) ketika merasa lelah, stres, bosan, atau hanya butuh suntikan dopamin cepat," ujar Scouller, dikutip dari Real Simple.
Menurut dia, aktivitas belanja sering kali memberikan sensasi menyenangkan dalam jangka pendek. Namun, efek tersebut umumnya hanya bersifat sementara sehingga tidak menyelesaikan sumber masalah yang sebenarnya.
Keputusan yang lebih banyak dipengaruhi emosi
Impulse buying bukan sekadar keputusan spontan. Berbagai studi menunjukkan perilaku tersebut erat kaitannya dengan faktor psikologis dan emosional.
Menurut consumer behaviorist sekaligus profesor pemasaran Nicole Arnett Sanders, banyak pembelian impulsif sebenarnya bukan didorong oleh kebutuhan terhadap suatu produk, melainkan kebutuhan emosional.
"Ketika kita melakukan pembelian yang tidak perlu, kita sering kali berbelanja untuk sebuah emosi: kenyamanan, kegembiraan, rasa kendali, atau bahkan versi diri kita yang ingin kita wujudkan," ujar Sanders, dikutip dari Real Simple.
Ia menjelaskan, konsumen kerap membeli gambaran tentang diri mereka di masa depan, bukan sekadar barang yang sedang dilihat.
"Gaun itu bukan sekadar kain. Itu adalah \'diriku di masa depan\' di acara itu, yang merasa percaya diri," kata Sanders.
Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi belanja online.Penjelasan tersebut sejalan dengan penelitian mengenai perilaku konsumsi bertajuk Factors AffectingImpulse Buying Behavior of Consumers yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine (PMC).
Penelitian tersebut menunjukkan, aktivitas belanja sering kali digunakan sebagai cara untuk mengelola emosi, baik emosi positif maupun negatif.
Dalam kondisi stres, cemas, sedih, atau bahkan terlalu gembira, seseorang dapat terdorong membeli sesuatu demi memperoleh perasaan nyaman dalam waktu singkat.
Para peneliti menjelaskan, pembelian dapat memicu sensasi menyenangkan yang bersifat sementara. Namun setelah efek tersebut hilang, individu berpotensi kembali mencari kepuasan melalui aktivitas konsumsi.
Akibatnya, belanja dapat berkembang menjadi kebiasaan yang berulang, terutama ketika seseorang menjadikan konsumsi sebagai cara utama untuk mengatur emosi.
Media sosial mendorong belanja impulsif
Perkembangan media sosial turut memperbesar peluang terjadinya impulse buying.
Penelitian bertajuk Online Antecedents for Young Consumers’ Impulse Buying Behavior yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan penggunaan media sosial dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif melalui berbagai mekanisme psikologis.
Para peneliti menemukan, paparan konten secara terus-menerus dapat menciptakan dorongan untuk membeli barang secara spontan.
Efek tersebut diperkuat oleh interaksi sosial yang terjadi di platform digital.
Ketika pengguna melihat teman, influencer, atau figur publik menggunakan suatu produk, muncul keinginan untuk memiliki barang yang sama.
Penelitian tersebut juga menemukan adanya peran fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren.
PIXABAY/PREIS_KING Ilustrasi belanja.Perasaan tersebut membuat konsumen terdorong membeli produk tertentu karena khawatir kehilangan kesempatan atau tidak mengikuti perkembangan yang sedang populer.
Selain itu, berbagai fitur yang umum digunakan dalam pemasaran digital seperti diskon terbatas, promosi eksklusif, notifikasi stok yang hampir habis, dan rekomendasi produk personal turut meningkatkan rasa urgensi untuk melakukan pembelian.
Dalam kondisi tersebut, konsumen cenderung mengambil keputusan lebih cepat tanpa mempertimbangkan secara matang apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa keputusan pembelian di era digital semakin dipengaruhi faktor emosional dan sosial, bukan semata-mata pertimbangan kebutuhan.
Dampaknya terhadap keuangan pribadi
Dampak impulse buying tidak selalu terlihat secara langsung.
Banyak konsumen menganggap pembelian impulsif sebagai pengeluaran kecil yang tidak akan memengaruhi kondisi keuangan mereka.
Namun, dikutip dari Forbes, kebiasaan tersebut dapat mengganggu kesehatan finansial apabila dilakukan secara berulang.
Pembelian impulsif membuat konsumen mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan prioritas ke pengeluaran yang tidak direncanakan.
Akibatnya, kemampuan untuk menabung, berinvestasi, atau membangun dana darurat dapat berkurang.
Masalah lain yang sering muncul adalah akumulasi pengeluaran kecil yang luput dari perhatian.
Satu transaksi mungkin hanya bernilai puluhan ribu rupiah. Namun ketika dilakukan berulang kali dalam satu bulan, total pengeluarannya bisa menjadi signifikan.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknyaKondisi tersebut dapat menghambat pencapaian berbagai tujuan keuangan jangka panjang, mulai dari membeli rumah, mempersiapkan biaya pendidikan, hingga menyiapkan dana pensiun.
Sanders menilai salah satu tanda perilaku impulse buying mulai menjadi masalah dapat dilihat dari banyaknya barang yang dibeli tetapi tidak digunakan.
"Tanda yang paling jelas bukanlah jumlah paket yang datang. Melainkan ketidaksesuaian antara membeli dan menggunakan. Jika Anda memiliki barang-barang dengan label yang masih terpasang, produk yang Anda lupa pesan, atau barang duplikat dari barang yang sudah Anda miliki, itu adalah tanda bahaya," jelasnya.
Menurut dia, masalah utama bukan terletak pada frekuensi pembelian, melainkan pada ketidaksesuaian antara barang yang dibeli dan kebutuhan yang sebenarnya.
Munculnya penyesalan setelah berbelanja
Salah satu konsekuensi yang paling sering muncul setelah impulse buying adalah penyesalan.
Perasaan tersebut biasanya muncul ketika konsumen mulai mengevaluasi kembali keputusan yang telah dibuat.
Setelah euforia pembelian mereda, muncul pertanyaan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya dibeli karena dorongan sesaat.
Fenomena ini dikenal dalam psikologi konsumen sebagai post-purchase dissonance atau ketidaknyamanan psikologis setelah pembelian.
Banyak konsumen membeli barang secara spontan karena tergoda iklan atau promosi. Namun ketika produk akhirnya diterima beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, mereka menyadari bahwa barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
Dalam banyak kasus, kepuasan yang diperoleh dari transaksi impulsif hanya berlangsung singkat. Sebaliknya, dampaknya terhadap kondisi keuangan dapat bertahan jauh lebih lama.
DOK. Shutterstock/SuPatMaN. Ilustrasi layanan digital, belanja online.Semakin besar nilai transaksi yang dilakukan tanpa perencanaan, semakin besar pula potensi munculnya penyesalan setelah pembelian.
Saat belanja menjadi siklus yang sulit dihentikan
Penelitian yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine menunjukkan, bagi sebagian orang, belanja dapat berkembang menjadi pola perilaku yang sulit dikendalikan.
Aktivitas konsumsi digunakan untuk mengurangi tekanan emosional atau memperbaiki suasana hati. Setelah membeli, individu merasakan kepuasan sementara.
Namun ketika perasaan tersebut menghilang, muncul dorongan untuk kembali berbelanja.
Siklus tersebut dapat terus berulang dan menyebabkan pengeluaran semakin sulit dikendalikan.
Meski tidak semua pelaku impulse buying mengalami kondisi tersebut, para peneliti menilai penting bagi konsumen untuk memahami hubungan antara emosi dan keputusan konsumsi.
Di tengah kemudahan transaksi digital, maraknya promosi, serta pengaruh media sosial yang semakin kuat, dorongan untuk membeli barang secara spontan menjadi semakin sulit dihindari.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa impulse buying tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan belanja, tetapi juga menyangkut aspek psikologis, pengelolaan emosi, dan kesehatan keuangan.
Ketika keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi rasa bosan, tekanan emosional, atau dorongan mengikuti tren, risiko munculnya pengeluaran yang tidak direncanakan ikut meningkat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#belanja #membeli-barang #belanja-impulsif #indepth #impulse-buying