#30 tag 24jam
Daya Beli Lesu, Produsen Tisu Miutiss (MMIX) Bikin Kemasan Ekonomis
Produsen tisu Miutiss, MMIX, menghadirkan kemasan ekonomis untuk menyesuaikan dengan daya beli masyarakat yang melemah akibat inflasi dan pelemahan rupiah. [747] url asal
#daya-beli #produsen-tisu #kemasan-ekonomis #inflasi-indonesia #perubahan-perilaku-belanja #strategi-bisnis-mmix #produk-esensial #popok-bayi #tisu-basah #pelemahan-rupiah #kenaikan-harga-bahan-baku
(Bisnis.Com - Market) 01/07/26 17:59
v/265376/
Bisnis.com, JAKARTA — Pelemahan daya beli masyarakat mendorong emiten konsumsi dan retail, PT Multi Medika Internasional Tbk. (MMIX) mengubah strategi bisnisnya.
Produsen tisu Miutiss hingga Miubaby ini fokus menghadirkan produk berukuran lebih kecil dengan harga yang lebih terjangkau untuk mengikuti perubahan perilaku belanja konsumen.
Dalam rilis terbarunya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juni 2026 mencapai 0,44% secara bulanan (month to month/MtM), lebih tinggi dibandingkan inflasi Mei 2026 yang sebesar 0,28%.
Secara tahunan, inflasi Indonesia tercatat sebesar 3,34% (year on year/YoY), sedangkan secara tahun kalender mencapai 1,79% (year to date/YtD). Kenaikan Indeks Harga Konsumen dari 111,40 pada Mei 2026 juga tercatat meningkat menjadi 111,89 pada Juni 2026.
Founder & CEO MMIX Mengky Mangarek mengatakan masyarakat kini semakin selektif dalam berbelanja akibat tekanan ekonomi, pelemahan rupiah, dan kenaikan harga bahan baku.
Konsumen yang sebelumnya berbelanja kebutuhan bulanan kini mulai beralih menjadi mingguan, bahkan sebagian memilih berbelanja harian agar pengeluaran lebih terkontrol.
"Perubahan pola konsumsi itu menjadi perhatian kami. Karena itu kami melakukan penyesuaian ukuran kemasan atau repackaging sehingga harga produk menjadi lebih terjangkau," ujarnya dikutip, Rabu (1/7/2026).
Dia melanjutkan strategi tersebut diterapkan pada sejumlah produk utama perseroan, seperti popok bayi, tisu, tisu basah, hingga air minum. Produk yang sebelumnya dijual dalam kemasan besar kini akan tersedia dalam ukuran lebih kecil agar sesuai dengan kemampuan belanja konsumen.
Selain menghadirkan kemasan ekonomis, MMIX juga memperkuat portofolio produk yang bersifat kebutuhan sehari-hari alias essential goods.
Perseroan meyakini kategori seperti popok bayi, tisu, tisu basah, pembalut wanita, dan air minum memiliki permintaan yang lebih stabil dibandingkan produk konsumsi non-esensial di tengah tekanan daya beli
"Yang kami cari adalah produk yang rutin, berulang, dan menjadi kebutuhan sehari-hari. Itu strategi kami agar bisnis tetap tahan banting dalam berbagai kondisi ekonomi," kata Mengky.
Emiten yang memproduksi popok bayi, tisu bambu, dan masker dengan merek MIU tersebut tetap mempertahankan target pertumbuhan pendapatan sekitar 25,3% pada 2026 dengan proyeksi penjualan mencapai hingga Rp388 miliar. Target tersebut ditopang oleh ekspansi distribusi, peluncuran produk baru, serta peningkatan kapasitas produksi popok bayi.
Meski demikian, MMIX menegaskan ekspansi dilakukan secara hati-hati. Perseroan membuka peluang menaikkan belanja modal sekitar 20%, tetapi realisasinya akan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan daya beli masyarakat.
"Ekspansi akan kami lakukan secara prudent, dimulai dari riset pasar, melihat perilaku konsumen, serta daya beli masyarakat," ujarnya.
Saat ini perseroan tengah membangun pabrik popok bayi. Pabrik tersebut merupakan fasilitas modern yang berlokasi di Legok KM 5 dan telah dibangun sejak tahun lalu melalui anak usaha perseroan.
Total rencana investasi pabrik mencapai sekitar US$4 juta. Dari jumlah tersebut, investasi yang telah direalisasikan mencapai sekitar US$600.000 atau setara 15%.
Kehadiran pabrik tersebut diharapkan dapat mempercepat lokalisasi produksi untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sehingga perseroan mampu menjaga margin keuntungan di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Perseroan menargetkan porsi produk impor turun secara bertahap menjadi 80% pada tahun pertama, 60% pada tahun kedua, hingga di bawah 30% pada tahun ketiga setelah pengembangan pabrik popok bayi di dalam negeri berjalan optimal.
Ke depan, perseroan juga memperkuat ekspansi distribusi melalui kerja sama strategis dengan PT Sari Ayu Indonesia atau SAI Melalui kolaborasi tersebut, MMIX berharap dapat memperluas akses pasar ke sekitar 300.000 toko baru, mulai dari pasar tradisional, toko kosmetik khusus, hingga jaringan toko health and beauty.
Direktur Keuangan MMIX Eveline N Susanto memaparkan pada Kuartal I/2026, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp50,1 miliar atau meningkat 2,6% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp48,8 miliar.
Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan tersebut, laba bersih perseroan juga meningkat signifikan menjadi Rp1,5 miliar, atau tumbuh 20,6% dibandingkan dengan pada kuartal I/2025.
Adapun lembaga pemeringkat global, Fitch Ratings, dalam rilis terbarunya melaporkan bahwa perusahaan di sektor konsumsi di Indonesia akan menghadapi tekanan besar, seiring melemahnya kondisi makro ekonomi dan ketidakpastian regulasi.
Tekanan tersebut dipicu oleh kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi, meningkatnya suku bunga, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Ketiga faktor tersebut diperkirakan akan mendorong inflasi lebih tinggi sehingga mengurangi daya beli rumah tangga.
Penurunan daya beli itu berpotensi menekan belanja masyarakat, terutama untuk produk dan layanan yang bersifat non esensial atau diskresioner.
Sektor yang dinilai paling rentan terhadap kondisi tersebut adalah industri yang permintaannya sangat bergantung pada pengeluaran konsumen dan pembiayaan melalui kredit, seperti otomotif dan properti.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Pemkot Palembang Ungkap Strategi Hadapi Kemungkinan Pemangkasan TKD 2027
Pemkot Palembang siapkan strategi hadapi pemangkasan TKD 2027 dengan efisiensi anggaran, fokus pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur. [250] url asal
#palembang-strategi-tkd #pemkot-palembang #tkd-2027 #transfer-ke-daerah #alokasi-transfer #pembangunan-daerah #efisiensi-belanja #pelayanan-masyarakat #program-pembangunan #kebutuhan-daerah #anggaran-p
(Bisnis.Com - Terbaru) 01/07/26 16:29
v/265221/
Bisnis.com, PALEMBANG — Pemerintah Kota (Pemkot) Palembang mulai menyiapkan langkah antisipatif menyusul informasi mengenai kemungkinan kembali berkurangnya Transfer Ke Daerah (TKD) pada 2027.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa mengatakan alokasi transfer dari pemerintah pusat yang selama ini menjadi salah satu penopang pembiayaan pembangunan daerah telah mengalami penurunan signifikan.
"Nah terkait itu, saya sudah meminta BPKAD dan Sekretaris Daerah untuk mencermati, memang dana transfer daerah kemarin cukup besar kita (Pemkot Palembang)," kata Ratu Dewa, Rabu (1/7/2026).
Selain memetakan dampak fiskal yang mungkin timbul, Pemkot Palembang juga menyiapkan usulan kepada pemerintah pusat agar kebijakan tersebut mempertimbangkan kebutuhan daerah dalam menjalankan program pembangunan dan pelayanan masyarakat.
"Saya sudah minta konsepnya seperti apa, untuk kita usulkan ke Menteri Dalam Negeri. Karena kita ingin pembangunan, pemerintahan, dan masalah program kemasyarakatan butuh anggaran. Maka dari itu kita minta ada pertimbangan dari pemerintah pusat," jelas Dewa.
Dia menilai berkurangnya alokasi transfer berpotensi memengaruhi pelaksanaan sejumlah program daerah. Meski demikian, pemerintah kota akan melakukan penyesuaian melalui efisiensi pada pos-pos belanja tertentu yang tidak bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat.
"Kalau ada pengaruh pasti ada pengaruh. Tetapi tinggal bagaimana kita menyiasatinya melalui efisiensi pada sektor dan nomenklatur tertentu sehingga tidak mengurangi pelayanan yang penting bagi masyarakat," ujarnya.
Dewa menambahkan, di tengah keterbatasan fiskal, Pemkot Palembang tetap akan memfokuskan anggaran pada 3 sektor utama yang dinilai berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi kota.
"Bagi saya prioritasnya tetap sektor pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur perkotaan. Program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat harus tetap berjalan," pungkasnya.
MAPI, ERAL hingga PJAA Berebut Berkah Libur Sekolah
Libur sekolah mendorong pertumbuhan sektor ritel, pariwisata, dan transportasi. MAPI, ERAL, dan PJAA manfaatkan momentum ini untuk tingkatkan penjualan. [1,270] url asal
#libur-sekolah #momentum-libur #peningkatan-belanja #mobilitas-masyarakat #pertumbuhan-penjualan #ekspansi-gerai #promosi-ritel #pariwisata-ancol #transportasi-liburan #peningkatan-kunjungan #aktivitas
(Bisnis.Com - Market) 01/07/26 06:00
v/264463/
Bisnis.com, JAKARTA — Momentum libur sekolah pertengahan tahun menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten di sektor ritel, pariwisata, hingga transportasi.
Peningkatan aktivitas belanja keluarga dan mobilitas masyarakat selama Juni-Juli dinilai mampu menopang pertumbuhan kinerja perusahaan di tengah tantangan daya beli dan ketidakpastian ekonomi global.
PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI), misalnya, menilai periode libur sekolah menjadi salah satu faktor musiman yang menjaga pertumbuhan penjualan pada kuartal II/2026. Perseroan menyebut kontribusi kuartal II secara historis hampir setara dengan kuartal III yang biasanya ditopang momentum back to school.
VP Investor Relations, Corporate Communications, and Sustainability MAP Group Ratih Darmawan Gianda mengatakan lazimnya kinerja perseroan pada April menjadi periode yang lebih lemah setelah lebaran. Namun, aktivitas konsumsi mulai meningkat kembali pada Mei hingga Juni seiring naiknya mobilitas masyarakat dan belanja keluarga.
"Pada Juni umumnya mulai mengalami peningkatan aktivitas. Secara kontribusi kuartalan, kuartal II hampir mirip dengan kuartal III karena ada faktor musiman [libur sekolah] yang cukup kuat," ujarnya dikutip, Senin (29/6/2026).
Perseroan juga menilai segmen pelanggan menengah hingga atas yang menjadi fokus bisnis masih memiliki daya tahan konsumsi yang relatif lebih baik dibandingkan kelompok masyarakat lainnya, meski tetap mewaspadai berbagai risiko ekonomi dan geopolitik.
Di tengah kondisi tersebut, MAPI tetap menjalankan ekspansi secara selektif dengan target membuka hingga 600 gerai baru sepanjang 2026 serta mengalokasikan belanja modal sekitar Rp2 triliun.
Perseroan juga mulai menyiapkan ekspansi merek ACE Hardware yang baru diakuisisi melalui pembukaan empat hingga lima gerai awal di wilayah Jabodetabek.
Meski mencatat pertumbuhan laba yang cukup tinggi pada awal tahun, MAP memilih mempertahankan target pertumbuhan konservatif pada level high single digit sepanjang 2026.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, MAPI membukukan pendapatan bersih sebesar Rp12,29 triliun, melonjak 32,03% dibandingkan Rp9,31 triliun pada periode sebelumnya. Sejalan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp628,03 miliar, meningkat 32,98% dari posisi Rp472,26 miliar.
Sementara itu, PT Sinar Eka Selaras Tbk. (ERAL) juga memanfaatkan momentum libur sekolah untuk mengejar target pertumbuhan penjualan sebesar 20% sepanjang tahun ini.
Direktur ERAL Andre Tanudjaja mengatakan berbagai promosi telah disiapkan guna memanfaatkan meningkatnya aktivitas belanja selama periode kenaikan kelas dan kelulusan siswa.
"Di bulan Juni-Juli memang banyak aktivitas yang terkait sekolah. Pada saat yang sama terdapat kesempatan bagi para orang tua untuk memberikan hadiah kenaikan kelas maupun kelulusan. Kami juga menjalankan berbagai promo di seluruh jaringan toko untuk menyambut momentum ini," ujarnya.
Selain musim liburan sekolah, ERAL juga mengandalkan penyelenggaraan Pekan Raya Jakarta (PRJ) sebagai pendorong peningkatan trafik pengunjung.
Hingga kuartal I/2026, ERAL telah mengoperasikan 219 toko, meningkat dari sekitar 205 toko pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan juga mencatat pertumbuhan same store sales growth (SSSG) sebesar 20,1%, penjualan bersih naik 24%, dan laba kotor meningkat 42% hingga kuartal I/2026.
Sepanjang 2026, ERAL menargetkan pertumbuhan penjualan minimal 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Target tersebut akan didukung oleh ekspansi agresif sebanyak 50 hingga 60 toko baru secara organik, peningkatan toko eksisting, hingga penambahan merek baru yang akan diperkenalkan ke pasar Indonesia.
Meski demikian, perseroan tetap mewaspadai sejumlah tantangan yang berpotensi memengaruhi industri pada paruh kedua tahun ini, mulai dari pelemahan daya beli, fluktuasi nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian geopolitik global.
Sebagai langkah antisipasi, ERAL terus menggencarkan program promosi, menawarkan fasilitas cicilan 0%, serta menyesuaikan portofolio produk dengan tren dan kemampuan belanja konsumen. Perseroan juga tengah menyiapkan program midyear sale secara tahunan yang diharapkan dapat menjaga minat belanja masyarakat selama musim liburan.
Pariwisata dan Transportasi Ikut Tadah Berkah
Di sektor pariwisata, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk. (PJAA) menyebut libur sekolah merupakan salah satu periode terpenting setiap tahun karena secara historis selalu mendorong lonjakan kunjungan wisatawan.
Corporate Communication Ancol Daniel Windriatmoko mengatakan perseroan telah menyiapkan berbagai atraksi dan penyelenggaraan event untuk memaksimalkan momentum tersebut.
"Libur sekolah merupakan salah satu momentum paling penting bagi Ancol setiap tahunnya. Pada periode ini kami melihat peningkatan minat masyarakat untuk berwisata bersama keluarga, sehingga secara historis jumlah kunjungan maupun aktivitas ekonomi di kawasan Ancol cenderung meningkat," ujarnya.
PJAA menargetkan jumlah pengunjung selana liburan sekolah di angka 720.000 pengunjung.
Menurut Daniel, unit rekreasi seperti Pantai Ancol, Dunia Fantasi, Sea World, Samudra, Jakarta Bird Land hingga berbagai event selama musim liburan menjadi kontributor utama pertumbuhan. Perseroan juga memperkirakan bisnis kuliner, ritel, dan hospitality ikut menikmati peningkatan permintaan karena wisatawan menghabiskan waktu lebih lama di kawasan wisata.
Sejalan dengan prospek tersebut, Ancol juga memandang sektor rekreasi masih memiliki peluang pertumbuhan pada semester II/2026 seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan tingginya kebutuhan akan destinasi wisata yang mudah dijangkau.
Meski demikian, perseroan tetap mewaspadai tantangan berupa dinamika daya beli masyarakat, persaingan dengan destinasi wisata lain, serta faktor cuaca yang berpotensi memengaruhi jumlah kunjungan.
Untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan, Ancol akan terus mengandalkan inovasi produk, penyelenggaraan event yang lebih menarik, peningkatan kualitas layanan, serta efisiensi operasional guna menjaga kesehatan kinerja perusahaan.
Sejauh ini, berdasarkan laporan keuangan, kinerja pendapatan usaha PJAA tercatat sebesar Rp207,58 miliar pada kuartal I/2026, turun tipis 1,52% dari Rp 210,80 miliar pada kuartal I/2025.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp38,80 miliar, melonjak dari Rp11,17 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Momentum serupa juga dirasakan sektor transportasi. Direktur Utama PT Blue Bird Tbk. (BIRD) Andre Djokosoetono mengatakan peningkatan aktivitas wisata biasanya diikuti kenaikan permintaan layanan transportasi.
Sebagai gambaran, pada Juli 2025 permintaan layanan taksi Bluebird meningkat hampir 10% dibandingkan Juni 2025. Selain layanan taksi reguler, perseroan juga melihat potensi pertumbuhan pada layanan Silverbird, Goldenbird, Bigbird, hingga Cititrans selama musim liburan.
"Kami melihat layanan transportasi yang aman, nyaman, dan andal masih menjadi kebutuhan utama masyarakat dalam mendukung aktivitas selama masa libur sekolah," ujarnya.
Equity Ressaerch Analyst Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis mengatakan libur sekolah memang menjadi salah satu katalis musiman yang mampu mendorong konsumsi masyarakat, terutama pada sektor transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, pusat perbelanjaan, serta tempat hiburan.
"Permintaan terhadap transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, pusat perbelanjaan hingga tempat hiburan biasanya meningkat selama periode liburan sekolah," ujarnya.
Menurut Alrich, emiten yang berpotensi memperoleh sentimen positif antara lain BIRD, JSMR, MAPI, MAPA, dan ACES.
Dari sisi rekomendasi, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham JSMR dengan area masuk di atas Rp2.900 per saham. Target harga pertama berada di level Rp3.150 dan target kedua Rp3.300, dengan batas stop loss di bawah Rp2.800.
Alrich juga mengantisipasi setelah musim liburan berakhir, konsumsi dan mobilitas masyarakat umumnya kembali ke level normal sehingga momentum pertumbuhan pendapatan dapat melambat.
"Tantangan terbesar setelah periode libur sekolah adalah normalisasi permintaan. Aktivitas konsumsi dan mobilitas yang meningkat selama masa liburan berpotensi kembali ke level normal pada bulan berikutnya," ujar Alrich.
Senada, Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto menilai momentum libur sekolah mampu menopang konsumsi rumah tangga meski dampaknya tidak bersifat spektakuler.
Menurutnya, sektor pariwisata, transportasi, ritel, serta makanan dan minuman menjadi penerima manfaat utama karena meningkatnya aktivitas bepergian dan belanja keluarga.
"Secara domestik, momen libur sekolah biasanya mendukung konsumsi rumah tangga, terutama di sektor pariwisata, transportasi, ritel, dan makanan-minuman karena ada peningkatan aktivitas bepergian dan belanja keluarga. Di antaranya pengelola pusat perbelanjaan dan ritel discretionary seperti MAPI, serta emiten consumer seperti AMRT." ujarnya.
Meski demikian, Rully menilai dampak positif tersebut tidak bersifat spektakuler. Namun setidaknya dapat membantu menahan pelemahan sentimen pasar yang dipengaruhi faktor eksternal.
Selain itu, Rully menambahkan bahwa arah pasar ke depan masih akan dipengaruhi faktor-faktor eksternal seperti pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga global, arus dana asing, hingga isu terkait klasifikasi pasar oleh MSCI.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Optimisme Mitra Adiperkasa (MAPI) Andalkan Libur Sekolah Masuki Semester II/2026
Mitra Adiperkasa (MAPI) optimis libur sekolah Juni 2026 dorong penjualan Q2, meski waspadai ketidakpastian ekonomi. Ekspansi tetap jalan, target 550-600 gerai baru. [527] url asal
#mapi #mitra-adiperkasa #libur-sekolah #kuartal-ii-2026 #pertumbuhan-penjualan #musim-belanja #aktivitas-konsumsi #segmen-pelanggan #ketidakpastian-ekonomi #strategi-bisnis #ekspansi-gerai #belanja-mod
(Bisnis.Com - Market) 29/06/26 13:57
v/262595/
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Grup MAP PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) memperkirakan momentum libur sekolah pada Juni 2026 menjadi salah satu pendorong kinerja pada kuartal II/2026.
Periode liburan ini dinilai menjadi katalis musiman yang mampu menjaga pertumbuhan penjualan, terutama karena berdekatan dengan musim belanja kebutuhan sekolah pada kuartal III/2026.
VP Investor Relations, Corporate Communications, and Sustainability MAP Group Ratih Darmawan Gianda mengatakan bahwa pada periode April, kinerja biasanya cenderung lebih lemah setelah momentum Lebaran berakhir.
Namun, kondisi tersebut mulai membaik pada Mei dan Juni seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan aktivitas konsumsi keluarga.
Dia menyebut secara historis kontribusi kinerja pada kuartal II/2026 hampir setara dengan kuartal III/2026 . Jika kuartal III ditopang oleh momentum back to school pada Juli, maka kuartal II/2026 mendapat dukungan dari peningkatan aktivitas belanja selama Mei dan Juni, termasuk saat libur sekolah.
"Kami perkiraan pada Juni mulai mengalami peningkatan aktivitas. Secara kontribusi kuartalan, kuartal II hampir mirip dengan kuartal III karena ada faktor musiman [libur sekolah] yang cukup kuat," ujarnya dalam public expose yang dikutip, Senin (29/6/2026).
MAP menilai daya tahan kinerjanya turut ditopang oleh segmen pelanggan yang menjadi target utama perusahaan, yakni kelompok menengah hingga atas. Segmen ini dinilai relatif lebih resilien terhadap tekanan ekonomi dibandingkan kelompok konsumen lainnya.
Meski demikian, perseroan tetap mengakui bahwa ketidakpastian global dan domestik masih menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Mulai dari perkembangan geopolitik hingga dinamika ekonomi dalam negeri berpotensi memengaruhi tingkat konsumsi masyarakat.
"Konsumen yang kami sasar memang lebih resilien. Namun bukan berarti mereka sepenuhnya kebal terhadap berbagai tekanan ekonomi. Karena itu kami tetap berhati-hati dalam menyusun strategi bisnis," ujar manajemen.
Strategi tersebut dinilai menjadi salah satu alasan MAP tetap optimistis menjaga pertumbuhan kinerja sepanjang 2026 meski lingkungan bisnis masih dibayangi ketidakpastian.
Ekspansi Tetap Jalan, Tapi Lebih Selektif
Wakil Presiden Direktur MAPI, V.P. Sharma mengatakan di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, pihaknya memilih mempertahankan strategi ekspansi yang terukur.
Perseroan menargetkan pembukaan sekitar 550-600 gerai secara bruto sepanjang tahun ini dengan alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp2 triliun. Per kuartal I/2026, perseroan telah merealisasikan sebanyak 200 toko baru.
Dia menegaskan langkah tersebut bukan berarti perusahaan menahan ekspansi secara signifikan, melainkan menyesuaikan dengan peluang pasar yang tersedia.
MAP mengaku selalu melakukan studi kelayakan secara mendalam sebelum membuka gerai baru, termasuk mempertimbangkan demografi, lokasi, dan potensi pasar jangka panjang.
"Kami tidak ingin membuka lalu menutup toko. Karena itu setiap ekspansi selalu dilakukan dengan sangat hati-hati dan berbasis studi yang matang," kata manajemen.
Meski mencatat pertumbuhan laba yang cukup tinggi pada awal tahun, MAP memilih mempertahankan target pertumbuhan konservatif pada level high single digit sepanjang 2026.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, MAPI membukukan pendapatan bersih sebesar Rp12,29 triliun, melonjak 32,03% dibandingkan Rp9,31 triliun pada periode sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar Rp628,03 miliar, meningkat 32,98% dari posisi Rp472,26 miliar.
Perseroan menilai capaian kuartal I/2026 yang kuat turut dipengaruhi basis perbandingan yang lebih rendah pada tahun sebelumnya. Selain itu, peluncuran produk baru seperti iPhone 16 serta meningkatnya kontribusi segmen digital dan perbaikan kinerja bisnis makanan dan minuman turut menjadi pendorong utama.
Wamenkeu pastikan fiskal RI tetap terjaga dengan baik
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memastikan kondisi fiskal Indonesia hingga saat ini terjaga dengan baik."Tadi dibahas bahwa kondisi fiskal ... [362] url asal
#apbn-2026 #juda-agung #apbn #defisit #belanja-negara #pendapatan-negara
Tadi dibahas bahwa kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik
Jakarta (ANTARA) - Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung memastikan kondisi fiskal Indonesia hingga saat ini terjaga dengan baik.
"Tadi dibahas bahwa kondisi fiskal itu masih sangat terjaga dengan baik," kata Juda Agung dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin.
Hal itu tercermin dari sejumlah indikator kinerja APBN hingga Mei 2026.
"Defisit hingga bulan Mei kemarin 0,7 persen dan diperkirakan sampai dengan akhir tahun juga masih di bawah 3 persen, jadi masih sangat terjaga. Pajak juga tumbuh dengan baik, 19,1 persen dan juga dari sisi belanja juga masih di atas 30 persen," terang Juda.
Adapun dalam laporan APBN Kinerja dan Fakta (KiTa) Edisi Juni 2026, APBN mencetak defisit sebesar Rp180,4 triliun atau 0,70 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) per Mei 2026. Secara keseluruhan, pendapatan negara terhimpun sebesar Rp1.185 triliun atau setara 37,6 persen target APBN senilai Rp3.153,6 triliun. Realisasi ini tumbuh sebesar 19,1 persen (year-on-year/yoy).
Komponen penerimaan perpajakan tercatat mencapai Rp958,2 triliun, yang ditopang oleh serapan pajak. Penerimaan pajak terserap senilai Rp834,4 triliun atau tumbuh positif sebesar 22,1 persen (yoy).
Sementara penerimaan kepabeanan dan cukai tumbuh moderat 0,7 persen (yoy) dengan nilai Rp123,8 triliun. Komponen penerimaan negara bukan pajak (PNBP) terhimpun sebesar Rp226,4 triliun atau tumbuh 19,9 persen (yoy).
Kemudian, dari sisi belanja negara, realisasi per Mei 2026 tercatat mencapai Rp1.365,4 triliun atau setara 35,5 persen dari target APBN Rp3.842,7 triliun, tumbuh sebesar 34,4 persen (yoy). Pertumbuhan pesat terjadi pada belanja pemerintah pusat, dengan kenaikan 52, 6 persen (yoy) atau senilai Rp1.059,3 triliun.
Penyaluran belanja kementerian/lembaga (K/L) tercatat mencapai Rp517,7 triliun atau tumbuh signifikan 58,9 persen (yoy). Sedangkan belanja non-K/L tersalurkan Rp541,6 triliun atau tumbuh 47 persen (yoy).
Sementara, penyaluran transfer ke daerah masih terkoreksi 4,9 persen (yoy), dengan realisasi senilai Ro306,1 triliun.
Dengan kinerja itu, keseimbangan primer mencetak surplus sebesar Rp58,6 triliun, yang mengindikasikan fiskal masih cukup memadai untuk mengelola pendapatan, belanja, dan utang.
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Ahmad Wijaya
Copyright © ANTARA 2026
Alfamidi di Depok sebut belum ada kenaikan harga jual selama Januari 2019
BRI dan Alfamidi hadirkan promo akhir pekan, beri bonus Ultramilk UHT 750ml untuk transaksi minimal Rp350 ribu dengan BRI Kartu Kredit. [262] url asal
#bri #bri-kartu-kredit #alfamidi #promo-belanja #bonus-akhir-pekan #corporate #gerai-alfamidi #bri-kartu-kredit #ultramilk-uht #struk #apresiasi #camilan #tangga #pcs #bri-kartu-kredit-gandeng-alfa
(CNN Indonesia - Ekonomi) 27/06/26 20:21
v/261798/
Belanja kebutuhan rumah tangga pada akhir pekan menjadi rutinitas banyak keluarga untuk mempersiapkan kebutuhan selama sepekan ke depan. Selain melengkapi stok kebutuhan harian, momen tersebut kini juga dapat memberikan nilai tambah melalui program promo yang dihadirkan BRI bersama Alfamidi.
Melalui program yang berlangsung setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu hingga 31 Juli 2026, pemegang BRI Kartu Kredit berkesempatan memperoleh bonus langsung berupa satu kotak Ultramilk UHT 750 ml untuk setiap transaksi minimal Rp350 ribu di gerai Alfamidi.
Program ini berlaku untuk seluruh jenis BRI Kartu Kredit, kecuali Corporate Card. Bonus diberikan selama persediaan masih tersedia di masing-masing gerai Alfamidi.
Dalam keterangan tertulis, BRI menyampaikan bahwa program tersebut dirancang untuk memberikan manfaat tambahan bagi nasabah yang rutin berbelanja kebutuhan sehari-hari.
"Bagi keluarga muda dan nasabah yang aktif memenuhi kebutuhan rumah tangga, efisiensi adalah kunci. BRI Kartu Kredit hadir untuk memberikan penawaran dan hadiah yang membuat pengeluaran rumah tangga jadi lebih spesial," bunyi keterangan tertulis, Sabtu (27/6).
Untuk memperoleh bonus tersebut, nasabah dapat mengikuti mekanisme detail berikut:
Melalui promo ini, BRI ingin menghadirkan pengalaman berbelanja yang lebih bernilai bagi para pemegang kartu kreditnya. Selain menawarkan kemudahan transaksi nontunai, program tersebut menjadi salah satu bentuk apresiasi bagi nasabah yang memenuhi kebutuhan rumah tangga di Alfamidi.
"Jadi, jangan biarkan akhir pekan Anda berlalu begitu saja. Mulailah menyusun daftar belanjaan kebutuhan rumah tangga, mulai dari sabun, deterjen, hingga camilan sehat, dan pastikan Anda adalah nasabah BRI Kartu Kredit yang beruntung," tulis rilis resmi.
Informasi lebih lanjut mengenai syarat, ketentuan, dan berbagai promo lain BRI Kartu Kredit dapat diakses melalui kanal resmi BRI di tautan berikut.
Belanja Impulsif Diam-diam Menguras Dompet, Ini Penyebabnya
Belanja impulsif tidak hanya terjadi saat belanja daring, tetapi juga ketika konsumen mengunjungi supermarket, minimarket, maupun pusat perbelanjaan. [1,315] url asal
#belanja #belanja-online #belanja-impulsif #transaksi-digital #indepth #impulse-buying
(Kompas.com - Money) 25/06/26 17:17
v/259810/
JAKARTA, KOMPAS.com – Pernah masuk supermarket hanya untuk membeli sabun dan susu, tetapi keluar dengan keranjang berisi camilan, minuman, hingga barang promosi yang sebenarnya tidak masuk daftar belanja?
Atau membuka aplikasi belanja online sekadar melihat-lihat, lalu berakhir menekan tombol checkout?
Fenomena tersebut dikenal sebagai impulse buying atau belanja impulsif, yakni keputusan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan matang.
FREEPIK/ALEKSANDARLITTLEWOLF Ilustrasi supermarket.Perilaku ini tidak hanya terjadi saat berbelanja daring, tetapi juga ketika konsumen mengunjungi supermarket, minimarket, maupun pusat perbelanjaan.
Di tengah kemudahan transaksi digital, maraknya promosi, dan berbagai strategi pemasaran yang dirancang untuk menarik perhatian konsumen, pembelian impulsif menjadi salah satu tantangan dalam mengelola keuangan rumah tangga.
Menariknya, para ahli menilai kebiasaan ini tidak semata-mata dipengaruhi oleh kurangnya disiplin dalam mengatur uang, tetapi juga berkaitan dengan faktor psikologis, kondisi emosional, hingga cara otak merespons berbagai rangsangan saat berbelanja.
Ketika emosi berperan dalam keputusan belanja
Dikutip dari Real Simple, Kamis (25/6/2026), salah satu alasan seseorang melakukan pembelian impulsif adalah keinginan memperoleh kepuasan instan.
Saat melihat barang yang menarik atau menemukan penawaran yang tampak menguntungkan, otak cenderung memberikan respons cepat yang mendorong seseorang segera melakukan pembelian.
Psikolog klinis Bethany Cook menjelaskan, aktivitas berbelanja sering kali memiliki kaitan dengan kondisi emosional seseorang.
Dok. Freepik Ilustrasi belanja online."Berbelanja dapat menciptakan rasa kendali sementara," ujar Cook.
Bagi sebagian orang, belanja dapat memberikan rasa nyaman atau kendali sementara ketika menghadapi tekanan pekerjaan, masalah pribadi, maupun ketidakpastian dalam kehidupan sehari-hari.
Akibatnya, keputusan membeli barang tidak lagi didasarkan pada kebutuhan, melainkan pada keinginan memperoleh perasaan yang lebih baik dalam jangka pendek.
Kondisi stres dan kecemasan dapat memperkuat kecenderungan tersebut.
Saat seseorang merasa tertekan, aktivitas membeli sesuatu yang diinginkan dapat memicu rasa puas sesaat yang kemudian mendorong perilaku belanja berulang.
Selain faktor emosional, kondisi fisik juga dapat memengaruhi keputusan konsumen. Salah satu contohnya adalah berbelanja saat lapar.
Cook mengatakan, rasa lapar membuat seseorang lebih fokus pada pemenuhan kebutuhan instan dibandingkan mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang.
"Saat kita lapar, otak kita menjadi lebih fokus pada kepuasan instan," kata dia.
Karena itu, konsumen yang berbelanja dalam kondisi lapar cenderung membeli lebih banyak makanan atau produk lain yang sebenarnya tidak masuk dalam rencana awal.
Mengapa keranjang belanja sering bertambah?
Banyak orang datang ke supermarket dengan daftar belanja tertentu, tetapi pulang dengan jumlah barang yang jauh lebih banyak.
Menurut para ahli, fenomena tersebut terjadi karena kombinasi faktor psikologis dan lingkungan belanja.
Salah satu penyebabnya adalah kurangnya perencanaan sebelum berbelanja. Ketika konsumen tidak memeriksa stok barang yang tersedia di rumah atau tidak membuat daftar belanja yang jelas, mereka lebih mudah tergoda membeli barang tambahan yang ditemui selama berada di toko.
PIXABAY/TUNG LAM Ilustrasi belanja, belanja di supermarket.Selain itu, supermarket dirancang untuk membuat konsumen melihat sebanyak mungkin produk.
Tata letak rak, penempatan barang promosi, hingga area kasir dirancang agar pembeli terpapar berbagai pilihan produk selama perjalanan berbelanja.
Dalam kondisi tersebut, konsumen harus membuat banyak keputusan, mulai dari memilih merek, ukuran produk, hingga membandingkan harga.
Semakin banyak keputusan yang dibuat, semakin besar kemungkinan seseorang mengalami decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan.
Ketika kelelahan mental muncul, kemampuan untuk mengendalikan diri cenderung menurun.
Hal ini menjelaskan mengapa banyak konsumen tiba-tiba memasukkan cokelat, permen, minuman ringan, atau camilan ke dalam keranjang ketika berada di dekat kasir.
Produk-produk tersebut biasanya memiliki harga relatif murah sehingga terasa tidak terlalu membebani anggaran.
Namun jika dilakukan berulang kali, pembelian spontan semacam ini dapat meningkatkan total pengeluaran secara signifikan.
Diskon tidak selalu berarti hemat
Salah satu pemicu belanja impulsif yang paling umum adalah promosi dan diskon.
Dalam berbagai kesempatan, konsumen sering kali merasa mendapatkan keuntungan ketika menemukan produk dengan potongan harga besar.
Namun, para ahli mengingatkan diskon tidak otomatis menghasilkan penghematan.
Pakar keuangan Ashley Feinstein Gerstley mengatakan, konsumen perlu melihat kembali tujuan awal mereka saat berbelanja.
PEXELS/PORAPAK APICHODILOK Ilustrasi belanja produk lokal"Anda hanya menghemat uang jika itu adalah sesuatu yang memang sudah akan Anda beli," jelas dia.
Pernyataan tersebut menunjukkan, penghematan baru benar-benar terjadi apabila barang yang dibeli memang sudah direncanakan sejak awal.
Sebaliknya, jika konsumen membeli produk hanya karena sedang mendapat diskon, maka uang tetap keluar untuk sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Fenomena ini menjadi semakin relevan di era perdagangan digital. Berbagai platform e-commerce rutin menawarkan flash sale, voucher, gratis ongkos kirim, hingga diskon khusus dalam waktu terbatas.
Strategi tersebut dapat menciptakan rasa urgensi yang mendorong konsumen segera mengambil keputusan sebelum sempat mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan.
Akibatnya, banyak orang menganggap dirinya sedang berhemat padahal sebenarnya sedang menambah pengeluaran.
Takut kehabisan barang
Faktor lain yang turut mendorong impulse buying adalah pola pikir kelangkaan atau scarcity mindset.
Menurut Cook, pengalaman hidup seseorang dapat memengaruhi cara mereka berbelanja di masa depan.
Individu yang pernah mengalami kesulitan ekonomi atau hidup dalam lingkungan yang terbiasa menimbun barang cenderung memiliki kekhawatiran lebih besar terhadap kemungkinan kekurangan barang di kemudian hari.
"Orang yang pernah mengalami kelangkaan mungkin merasa terdorong untuk membeli lebih banyak karena memiliki cukup perasaan lebih aman," tutur Cook.
Karena alasan tersebut, sebagian konsumen memilih membeli barang dalam jumlah lebih besar dari kebutuhan saat ini atau membeli produk yang sebenarnya belum diperlukan.
SHUTTERSTOCK/ODUA IMAGES Ilustrasi belanja di supermarket atau pasar swalayan.Perilaku tersebut sering muncul ketika ada promosi besar, informasi mengenai keterbatasan stok, atau kekhawatiran terhadap kenaikan harga di masa mendatang.
Meskipun dapat memberikan rasa aman secara psikologis, kebiasaan membeli berlebihan juga berpotensi meningkatkan pengeluaran dan membuat anggaran rumah tangga menjadi kurang efisien.
Belanja online membuat pembelian impulsif semakin mudah
Jika pada masa lalu konsumen harus datang langsung ke toko untuk membeli suatu barang, kini seluruh proses dapat dilakukan hanya melalui ponsel.
Kemudahan akses tersebut membuat jarak antara keinginan dan pembelian menjadi semakin pendek.
Seseorang dapat melihat iklan produk di media sosial, membuka aplikasi belanja, melakukan pembayaran digital, dan menyelesaikan transaksi hanya dalam hitungan menit.
Kondisi ini membuat konsumen memiliki lebih sedikit waktu untuk mempertimbangkan keputusan pembelian secara rasional.
Berbagai fitur seperti rekomendasi produk, notifikasi promo, diskon personal, hingga sistem pembayaran instan semakin memperbesar peluang terjadinya belanja impulsif.
Karena itu, para ahli menyarankan konsumen menciptakan jeda sebelum melakukan transaksi, terutama untuk barang-barang yang tidak termasuk kebutuhan utama.
Cara mengendalikan belanja impulsif
Para ahli menawarkan sejumlah langkah yang dapat membantu konsumen mengurangi kebiasaan berbelanja impulsif.
Langkah pertama adalah memiliki tujuan keuangan yang jelas. Perencana keuangan bersertifikat Sarah Tew mengatakan, seseorang akan lebih mudah menahan godaan berbelanja ketika mengetahui secara pasti tujuan yang ingin dicapai.
DOK. Shutterstock/SuPatMaN. Ilustrasi layanan digital, belanja online."Jika Anda tahu untuk apa Anda menabung, akan jauh lebih mudah untuk menghindari pembelian yang tidak perlu," kata Tew.
Tujuan tersebut dapat berupa menyiapkan dana darurat, melunasi cicilan, membeli rumah, membayar biaya pendidikan, atau menabung untuk kebutuhan tertentu di masa depan.
Dengan memiliki target yang jelas, konsumen dapat membandingkan manfaat jangka panjang dari tabungan yang dimiliki dengan kepuasan sesaat dari pembelian impulsif.
Selain itu, Tew menyarankan agar Anda menciptakan jeda sebelum mengambil keputusan membeli barang yang tidak direncanakan.
"Bayangkan rambu berhenti dan ingatkan diri Anda tentang tujuan Anda," ujarnya.
Cara sederhana tersebut bertujuan membantu konsumen menghentikan dorongan sesaat dan mengingat kembali prioritas keuangan yang sedang dikejar.
Para ahli juga menyarankan beberapa langkah praktis lainnya, seperti tidak berbelanja saat lapar, membuat daftar belanja sebelum pergi ke toko, memeriksa stok barang yang tersedia di rumah, serta lebih kritis dalam menyikapi berbagai promosi dan diskon.
Langkah-langkah tersebut dapat membantu konsumen membedakan antara kebutuhan dan keinginan, sekaligus mengurangi kemungkinan pengeluaran yang tidak direncanakan.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki pemicu belanja impulsif yang berbeda-beda.
Ada yang lebih mudah tergoda ketika sedang stres, ada yang sulit menolak diskon, dan ada pula yang terdorong membeli karena takut kehilangan kesempatan memperoleh barang tertentu.
Karena itu, memahami pola perilaku pribadi menjadi salah satu langkah penting dalam mengelola pengeluaran.
Dengan mengenali situasi yang paling sering memicu pembelian spontan, konsumen dapat menyusun strategi yang lebih sesuai dengan kebiasaan masing-masing.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Mengapa Belanja Impulsif Sulit Dihindari? Ini Penjelasan Penelitian
Di era digital, impulse buying semakin mudah terjadi. Belanja kini hanya membutuhkan beberapa sentuhan jari melalui aplikasi e-commerce atau medsos. [1,126] url asal
#belanja #belanja-impulsif #e-commerce #indepth #impulse-buying #apa-itu-impulse-buying
(Kompas.com - Money) 25/06/26 16:16
v/259704/
JAKARTA, KOMPAS.com – Pernah membeli barang hanya karena melihat diskon besar, flash sale, atau rekomendasi yang muncul di media sosial? Jika ya, Anda tidak sendiri.
Perilaku tersebut dikenal sebagai impulse buying atau belanja impulsif, yakni keputusan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
Di era digital, impulse buying semakin mudah terjadi. Belanja kini hanya membutuhkan beberapa sentuhan jari melalui aplikasi e-commerce atau media sosial.
Dok. Freepik Ilustrasi belanja online promo tanggal kembar.Berbagai fitur seperti notifikasi promo, flash sale, rekomendasi produk yang dipersonalisasi, hingga metode pembayaran yang semakin praktis membuat konsumen dapat bertransaksi dalam hitungan detik.
Meski sering dianggap sebagai hal yang wajar, kebiasaan membeli secara impulsif dapat menimbulkan berbagai konsekuensi finansial maupun psikologis jika dilakukan berulang kali.
Apa itu impulse buying?
Impulse buying didefinisikan sebagai pembelian yang terjadi secara spontan, tidak direncanakan sebelumnya, dan umumnya dipicu oleh dorongan emosional yang kuat.
Dalam proses ini, konsumen cenderung mengambil keputusan secara cepat tanpa mempertimbangkan secara matang manfaat, kebutuhan, maupun dampak keuangan dari pembelian tersebut.
Kajian ilmiah berjudul Impulse Buying: A Literature Review yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers inPsychology menjelaskan, impulse buying merupakan perilaku konsumsi yang terjadi ketika seseorang mengalami dorongan mendadak untuk membeli sesuatu dan kesulitan menahan keinginan tersebut.
Dorongan itu sering kali muncul akibat rangsangan eksternal seperti promosi, tampilan produk, suasana belanja, maupun faktor internal seperti suasana hati dan emosi.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustras belanja, belanja pakaian di mal.Penelitian tersebut juga menunjukkan impulse buying berbeda dengan pembelian yang direncanakan.
Pada pembelian terencana, konsumen umumnya melakukan pencarian informasi, membandingkan alternatif, serta mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan sebelum mengambil keputusan.
Sebaliknya, pembelian impulsif lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dibandingkan pertimbangan rasional.
Media sosial memicu belanja spontan
Fenomena impulse buying semakin menguat seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan platform digital.
Penelitian bertajuk The Relationship Between Social Media Addiction and Impulse Buying Behavior: The Mediating Role of Self-Control and Moderating Role of Consumption Culture yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada 2023 menemukan, kecanduan media sosial memiliki hubungan positif dengan perilaku impulse buying.
Semakin tinggi tingkat keterikatan seseorang terhadap media sosial, semakin besar pula kecenderungannya melakukan pembelian impulsif.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang pemasaran yang sangat efektif.
Pengguna terus-menerus terpapar iklan, konten promosi, ulasan produk, hingga rekomendasi influencer yang dapat memicu keinginan membeli secara spontan.
Dalam penelitian itu dijelaskan, individu yang memiliki tingkat kecanduan media sosial lebih tinggi cenderung mengalami penurunan kontrol diri ketika berhadapan dengan berbagai stimulus pemasaran yang muncul di platform digital.
Kondisi tersebut membuat pengguna lebih mudah terdorong melakukan pembelian tanpa perencanaan sebelumnya, terutama ketika produk yang ditawarkan dianggap menarik, sedang tren, atau tersedia dalam waktu terbatas.
Dok. Unsplash/charlesdeluvio Ilustrasi belanja.Peran emosi dalam keputusan belanja
Salah satu faktor utama yang mendorong impulse buying adalah emosi.
Banyak orang menggunakan aktivitas belanja sebagai cara untuk memperbaiki suasana hati ketika sedang merasa stres, sedih, bosan, atau lelah.
Aktivitas membeli barang dapat memberikan sensasi menyenangkan dan kepuasan instan yang membuat seseorang merasa lebih baik dalam jangka pendek.
Namun, efek tersebut sering kali bersifat sementara.
Kajian dalam Frontiers in Psychology menemukan kondisi emosional memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif. Ketika individu berada dalam kondisi emosional tertentu, kemampuan untuk berpikir rasional dan mengevaluasi kebutuhan dapat menurun.
Akibatnya, keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan sesaat dibandingkan pertimbangan logis.
Penelitian tersebut juga menunjukkan, karakteristik individu seperti tingkat pengendalian diri turut memengaruhi kemungkinan seseorang melakukan impulse buying.
Individu dengan kontrol diri yang lebih rendah cenderung lebih rentan terhadap perilaku pembelian spontan.
Strategi platform digital mendorong konsumsi
Perkembangan teknologi digital turut menciptakan lingkungan yang semakin mendukung perilaku impulse buying.
Platform e-commerce dan media sosial memanfaatkan berbagai strategi untuk mempercepat proses pengambilan keputusan konsumen. Mulai dari notifikasi diskon, hitung mundur flash sale, stok terbatas, hingga rekomendasi produk yang disesuaikan dengan preferensi pengguna.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior menemukan, paparan berulang terhadap konten komersial di media sosial dapat memperkuat dorongan untuk membeli secara impulsif.
Dok. Shutterstock Ilustrasi belanja onlineKehadiran fitur belanja langsung di media sosial juga memperpendek proses antara melihat produk dan melakukan transaksi.
Konsumen tidak perlu lagi berpindah platform atau melakukan pencarian tambahan untuk menyelesaikan pembelian.
Dengan semakin sedikit hambatan dalam proses transaksi, keputusan pembelian menjadi lebih cepat dan sering kali kurang mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya.
Dampak terhadap kondisi keuangan
Meskipun satu kali pembelian impulsif mungkin tidak memberikan dampak besar, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika terjadi secara berulang.
Impulse buying berpotensi mengganggu perencanaan keuangan karena pengeluaran dilakukan tanpa alokasi anggaran yang jelas.
Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan prioritas, tabungan, atau investasi dapat habis untuk pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.
Kajian dalam Frontiers in Psychology mencatat, perilaku impulse buying yang berlebihan dapat berkaitan dengan berbagai masalah keuangan, termasuk kesulitan mengelola pengeluaran dan meningkatnya risiko tekanan finansial.
Dalam beberapa kasus, kebiasaan membeli secara impulsif juga dapat menimbulkan penyesalan setelah transaksi selesai dilakukan.
Konsumen menyadari barang yang dibeli tidak benar-benar dibutuhkan atau tidak memberikan manfaat yang sebanding dengan uang yang telah dikeluarkan.
Penyesalan tersebut kemudian dapat memicu stres dan ketidakpuasan terhadap kondisi keuangan pribadi.
Dari kebiasaan menjadi masalah serius
Dok. Freepik/rawpixel.com Ilustrasi belanja online di e-commerce.Penelitian ilmiah menunjukkan, impulse buying yang tidak terkendali berpotensi berkembang menjadi perilaku pembelian kompulsif.
Perilaku ini ditandai dengan dorongan yang terus-menerus untuk berbelanja meskipun individu menyadari konsekuensi negatif yang ditimbulkan terhadap kondisi keuangan maupun kehidupan pribadinya.
Kajian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menjelaskan, pembelian kompulsif memiliki keterkaitan dengan faktor psikologis seperti stres, kecemasan, serta kesulitan dalam mengendalikan emosi.
Dalam kondisi tertentu, individu menggunakan aktivitas belanja sebagai mekanisme pelarian dari masalah atau tekanan yang sedang dihadapi.
Akibatnya, siklus belanja terus berulang. Setelah membeli barang, seseorang mungkin merasa puas untuk sementara waktu.
Namun, ketika perasaan tersebut menghilang, dorongan untuk berbelanja kembali muncul sehingga menciptakan pola konsumsi yang sulit dihentikan.
Mengapa sulit menolak godaan?
Salah satu alasan impulse buying sulit dihindari adalah karena keputusan pembelian sering kali terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Penelitian menunjukkan, ketika konsumen menghadapi rangsangan yang menarik, seperti diskon besar atau promosi waktu terbatas, fokus cenderung tertuju pada manfaat jangka pendek yang akan diperoleh.
Sebaliknya, konsekuensi jangka panjang seperti berkurangnya tabungan atau terganggunya anggaran rumah tangga sering kali kurang diperhatikan.
Lingkungan digital juga memperkuat kondisi tersebut. Berbagai platform dirancang agar pengguna dapat bertransaksi dengan cepat dan mudah.
Semakin sedikit hambatan dalam proses pembelian, semakin besar kemungkinan seseorang bertindak berdasarkan dorongan sesaat.
Penelitian dalam Computers in Human Behavior menegaskan, kombinasi antara kecanduan media sosial dan rendahnya kontrol diri dapat meningkatkan risiko impulse buying secara signifikan.
Karena itu, paparan yang terus-menerus terhadap konten promosi dan iklan digital menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh konsumen dalam mengelola perilaku belanja mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangCek Deretan Saham yang Potensi Cuan saat Musim Liburan
Libur sekolah dorong saham sektor konsumsi, ritel, transportasi, dan pariwisata. Saham JSMR, MAPI, dan AMRT potensi untung. [629] url asal
#libur-sekolah #saham-rekomendasi #emiten-konsumsi #sektor-pariwisata #peningkatan-mobilitas #aktivitas-belanja #transportasi-liburan #emiten-ritel #saham-jsmr #rekomendasi-beli-saham #konsumsi-rumah-t
(Bisnis.Com - Market) 25/06/26 15:18
v/259636/
Bisnis.com, JAKARTA — Momen libur sekolah pertengahan tahun diperkirakan menjadi katalis positif bagi sejumlah emiten di sektor konsumsi, ritel, transportasi, hingga pariwisata.
Peningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas belanja keluarga selama masa liburan dinilai berpotensi mendongkrak kinerja emiten-emiten yang memiliki eksposur langsung terhadap belanja rekreasi dan perjalanan.
Analis Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis mengatakan libur sekolah merupakan salah satu katalis musiman yang secara historis mampu mendorong konsumsi masyarakat.
Selama periode tersebut, masyarakat cenderung meningkatkan aktivitas wisata, mengunjungi keluarga, hingga berbelanja kebutuhan sekunder.
"Permintaan terhadap transportasi, akomodasi, makanan dan minuman, pusat perbelanjaan hingga tempat hiburan biasanya meningkat selama periode liburan sekolah," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (25/6/2026).
Menurut Alrich, kondisi tersebut berpotensi memberikan kontribusi positif terhadap pendapatan emiten yang bergerak di sektor konsumsi, transportasi, pariwisata, dan rekreasi.
Namun demikian, dampaknya umumnya lebih terlihat pada kinerja kuartalan dan belum tentu mengubah fundamental perusahaan secara signifikan dalam jangka panjang.
Sejumlah sektor diperkirakan menjadi penerima manfaat utama dari peningkatan mobilitas masyarakat.
Pada sektor transportasi dan jalan tol, kenaikan volume perjalanan selama masa liburan berpotensi meningkatkan jumlah penumpang maupun lalu lintas kendaraan.
"Emiten yang terkait antara lain BIRD dan JSMR," kata Alrich.
Sementara itu, sektor konsumsi dan ritel juga diperkirakan menikmati lonjakan permintaan.
Aktivitas belanja keluarga, khususnya untuk kebutuhan rekreasi dan produk discretionary seperti pakaian, alas kaki, hingga perlengkapan gaya hidup, cenderung meningkat selama musim liburan.
Beberapa emiten yang dinilai berpotensi mendapatkan sentimen positif antara lain MAPI, MAPA, dan ACES.
Dari sisi rekomendasi, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham PT Jasa Marga Tbk. (JSMR) dengan area masuk di atas Rp2.900 per saham. Target harga pertama berada di level Rp3.150 dan target kedua Rp3.300, dengan batas stop loss di bawah Rp2.800.
Senada, analis Mirae Asset Sekuritas Rully menyebut libur sekolah dapat menjadi penopang konsumsi rumah tangga di tengah berbagai sentimen global yang masih membayangi pasar keuangan.
"Secara domestik, momen libur sekolah biasanya mendukung konsumsi rumah tangga, terutama di sektor pariwisata, transportasi, ritel, dan makanan-minuman karena ada peningkatan aktivitas bepergian dan belanja keluarga," ujarnya.
Meski demikian, Rully menilai dampak positif tersebut tidak bersifat spektakuler. Namun setidaknya dapat membantu menahan pelemahan sentimen pasar yang dipengaruhi faktor eksternal.
Menurutnya, emiten yang paling sering menikmati sentimen musiman libur sekolah adalah perusahaan yang memiliki keterkaitan langsung dengan sektor pariwisata, konsumsi, dan ritel.
Di antaranya pengelola pusat perbelanjaan dan ritel discretionary seperti MAPI, serta emiten consumer seperti AMRT.
Namun para analis mengingatkan investor untuk tidak hanya mengandalkan sentimen musiman dalam mengambil keputusan investasi. Setelah musim liburan berakhir, konsumsi dan mobilitas masyarakat umumnya kembali ke level normal sehingga momentum pertumbuhan pendapatan dapat melambat.
Tantangan
Namun para analis mengingatkan investor untuk tidak hanya mengandalkan sentimen musiman dalam mengambil keputusan investasi.
Setelah musim liburan berakhir, konsumsi dan mobilitas masyarakat umumnya kembali ke level normal sehingga momentum pertumbuhan pendapatan dapat melambat.
"Tantangan terbesar setelah periode libur sekolah adalah normalisasi permintaan. Aktivitas konsumsi dan mobilitas yang meningkat selama masa liburan berpotensi kembali ke level normal pada bulan berikutnya," ujar Alrich.
Selain itu, Rully menambahkan bahwa arah pasar ke depan masih akan dipengaruhi faktor-faktor eksternal seperti pergerakan dolar AS, kebijakan suku bunga global, arus dana asing, hingga isu terkait klasifikasi pasar oleh MSCI.
Investor perlu memperhatikan keberlanjutan pertumbuhan pendapatan, kualitas laba pada semester II/2026, efisiensi biaya, kekuatan arus kas, arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan dana asing, serta stabilitas nilai tukar rupiah.
Untuk strategi investasi, para analis menilai saham-saham yang diuntungkan oleh momentum libur sekolah dapat dimanfaatkan untuk perdagangan jangka pendek.
Adapun untuk investasi jangka menengah hingga panjang, fokus tetap diarahkan pada emiten yang memiliki fundamental kuat, pertumbuhan laba berkelanjutan, dan valuasi yang masih menarik.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
"Impulse Buying" dan Dopamin Instan, Saat Belanja Jadi Pelarian Emosi
Impulse buying merujuk pada keputusan membeli barang atau jasa secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya. [1,267] url asal
#belanja #membeli-barang #belanja-impulsif #indepth #impulse-buying
(Kompas.com - Money) 25/06/26 09:19
v/259211/
JAKARTA, KOMPAS.com – Diskon besar, promo terbatas, flash sale, hingga kemudahan pembayaran digital membuat aktivitas belanja kini semakin mudah dilakukan.
Hanya dengan beberapa kali sentuhan di layar ponsel, barang yang diinginkan bisa langsung dibeli dan dikirim ke rumah.
Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul fenomena yang semakin sering dialami konsumen, yakni impulse buying atau belanja impulsif.
Dok. Freepik Ilustrasi belanja onlinePerilaku ini merujuk pada keputusan membeli barang atau jasa secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
Meski terlihat sepele, berbagai penelitian menunjukkan impulse buying dapat berdampak terhadap kondisi keuangan pribadi apabila terjadi secara berulang.
Pengeluaran yang awalnya dianggap kecil dapat menumpuk dan mengganggu perencanaan keuangan dalam jangka panjang.
Fenomena ini juga semakin relevan di era media sosial ketika konsumen terus-menerus terpapar iklan, promosi, serta rekomendasi produk yang disesuaikan dengan minat mereka.
Saat rasa bosan berubah menjadi keinginan berbelanja
Salah satu pemicu impulse buying yang sering tidak disadari adalah rasa bosan.
Mengutip Investopedia, banyak orang berbelanja bukan karena membutuhkan sesuatu, melainkan karena sedang mencari hiburan atau aktivitas untuk mengisi waktu luang.
Ketika seseorang membuka media sosial, berbagai iklan dan promosi akan muncul secara otomatis berdasarkan riwayat pencarian maupun kebiasaan konsumsi sebelumnya. Dalam kondisi tersebut, batas antara kebutuhan dan keinginan menjadi semakin kabur.
Ilustrasi Belanja KosmetikSelain rasa bosan, kondisi emosional lain seperti stres dan kelelahan juga dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif.
Edukator finansial Kim Scouller mengatakan banyak orang berbelanja untuk mendapatkan dorongan perasaan positif secara cepat.
"Kita cenderung membeli (barang) ketika merasa lelah, stres, bosan, atau hanya butuh suntikan dopamin cepat," ujar Scouller, dikutip dari Real Simple.
Menurut dia, aktivitas belanja sering kali memberikan sensasi menyenangkan dalam jangka pendek. Namun, efek tersebut umumnya hanya bersifat sementara sehingga tidak menyelesaikan sumber masalah yang sebenarnya.
Keputusan yang lebih banyak dipengaruhi emosi
Impulse buying bukan sekadar keputusan spontan. Berbagai studi menunjukkan perilaku tersebut erat kaitannya dengan faktor psikologis dan emosional.
Menurut consumer behaviorist sekaligus profesor pemasaran Nicole Arnett Sanders, banyak pembelian impulsif sebenarnya bukan didorong oleh kebutuhan terhadap suatu produk, melainkan kebutuhan emosional.
"Ketika kita melakukan pembelian yang tidak perlu, kita sering kali berbelanja untuk sebuah emosi: kenyamanan, kegembiraan, rasa kendali, atau bahkan versi diri kita yang ingin kita wujudkan," ujar Sanders, dikutip dari Real Simple.
Ia menjelaskan, konsumen kerap membeli gambaran tentang diri mereka di masa depan, bukan sekadar barang yang sedang dilihat.
"Gaun itu bukan sekadar kain. Itu adalah 'diriku di masa depan' di acara itu, yang merasa percaya diri," kata Sanders.
Dok. Freepik/Freepik Ilustrasi belanja online.Penjelasan tersebut sejalan dengan penelitian mengenai perilaku konsumsi bertajuk Factors AffectingImpulse Buying Behavior of Consumers yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine (PMC).
Penelitian tersebut menunjukkan, aktivitas belanja sering kali digunakan sebagai cara untuk mengelola emosi, baik emosi positif maupun negatif.
Dalam kondisi stres, cemas, sedih, atau bahkan terlalu gembira, seseorang dapat terdorong membeli sesuatu demi memperoleh perasaan nyaman dalam waktu singkat.
Para peneliti menjelaskan, pembelian dapat memicu sensasi menyenangkan yang bersifat sementara. Namun setelah efek tersebut hilang, individu berpotensi kembali mencari kepuasan melalui aktivitas konsumsi.
Akibatnya, belanja dapat berkembang menjadi kebiasaan yang berulang, terutama ketika seseorang menjadikan konsumsi sebagai cara utama untuk mengatur emosi.
Media sosial mendorong belanja impulsif
Perkembangan media sosial turut memperbesar peluang terjadinya impulse buying.
Penelitian bertajuk Online Antecedents for Young Consumers’ Impulse Buying Behavior yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior menemukan penggunaan media sosial dapat meningkatkan kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif melalui berbagai mekanisme psikologis.
Para peneliti menemukan, paparan konten secara terus-menerus dapat menciptakan dorongan untuk membeli barang secara spontan.
Efek tersebut diperkuat oleh interaksi sosial yang terjadi di platform digital.
Ketika pengguna melihat teman, influencer, atau figur publik menggunakan suatu produk, muncul keinginan untuk memiliki barang yang sama.
Penelitian tersebut juga menemukan adanya peran fear of missing out (FOMO) atau rasa takut tertinggal tren.
PIXABAY/PREIS_KING Ilustrasi belanja.Perasaan tersebut membuat konsumen terdorong membeli produk tertentu karena khawatir kehilangan kesempatan atau tidak mengikuti perkembangan yang sedang populer.
Selain itu, berbagai fitur yang umum digunakan dalam pemasaran digital seperti diskon terbatas, promosi eksklusif, notifikasi stok yang hampir habis, dan rekomendasi produk personal turut meningkatkan rasa urgensi untuk melakukan pembelian.
Dalam kondisi tersebut, konsumen cenderung mengambil keputusan lebih cepat tanpa mempertimbangkan secara matang apakah produk tersebut benar-benar dibutuhkan.
Temuan tersebut memperkuat pandangan bahwa keputusan pembelian di era digital semakin dipengaruhi faktor emosional dan sosial, bukan semata-mata pertimbangan kebutuhan.
Dampaknya terhadap keuangan pribadi
Dampak impulse buying tidak selalu terlihat secara langsung.
Banyak konsumen menganggap pembelian impulsif sebagai pengeluaran kecil yang tidak akan memengaruhi kondisi keuangan mereka.
Namun, dikutip dari Forbes, kebiasaan tersebut dapat mengganggu kesehatan finansial apabila dilakukan secara berulang.
Pembelian impulsif membuat konsumen mengalihkan dana yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan prioritas ke pengeluaran yang tidak direncanakan.
Akibatnya, kemampuan untuk menabung, berinvestasi, atau membangun dana darurat dapat berkurang.
Masalah lain yang sering muncul adalah akumulasi pengeluaran kecil yang luput dari perhatian.
Satu transaksi mungkin hanya bernilai puluhan ribu rupiah. Namun ketika dilakukan berulang kali dalam satu bulan, total pengeluarannya bisa menjadi signifikan.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan, membuat resolusi keuangan. Freelancer kerap berhadapan dengan penghasilan naik-turun. Lalu, bagaimana cara agar keuangan tetap stabil tanpa gaji tetap? Berikut tips dan triknyaKondisi tersebut dapat menghambat pencapaian berbagai tujuan keuangan jangka panjang, mulai dari membeli rumah, mempersiapkan biaya pendidikan, hingga menyiapkan dana pensiun.
Sanders menilai salah satu tanda perilaku impulse buying mulai menjadi masalah dapat dilihat dari banyaknya barang yang dibeli tetapi tidak digunakan.
"Tanda yang paling jelas bukanlah jumlah paket yang datang. Melainkan ketidaksesuaian antara membeli dan menggunakan. Jika Anda memiliki barang-barang dengan label yang masih terpasang, produk yang Anda lupa pesan, atau barang duplikat dari barang yang sudah Anda miliki, itu adalah tanda bahaya," jelasnya.
Menurut dia, masalah utama bukan terletak pada frekuensi pembelian, melainkan pada ketidaksesuaian antara barang yang dibeli dan kebutuhan yang sebenarnya.
Munculnya penyesalan setelah berbelanja
Salah satu konsekuensi yang paling sering muncul setelah impulse buying adalah penyesalan.
Perasaan tersebut biasanya muncul ketika konsumen mulai mengevaluasi kembali keputusan yang telah dibuat.
Setelah euforia pembelian mereda, muncul pertanyaan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan atau hanya dibeli karena dorongan sesaat.
Fenomena ini dikenal dalam psikologi konsumen sebagai post-purchase dissonance atau ketidaknyamanan psikologis setelah pembelian.
Banyak konsumen membeli barang secara spontan karena tergoda iklan atau promosi. Namun ketika produk akhirnya diterima beberapa hari atau beberapa minggu kemudian, mereka menyadari bahwa barang tersebut tidak terlalu dibutuhkan.
Dalam banyak kasus, kepuasan yang diperoleh dari transaksi impulsif hanya berlangsung singkat. Sebaliknya, dampaknya terhadap kondisi keuangan dapat bertahan jauh lebih lama.
DOK. Shutterstock/SuPatMaN. Ilustrasi layanan digital, belanja online.Semakin besar nilai transaksi yang dilakukan tanpa perencanaan, semakin besar pula potensi munculnya penyesalan setelah pembelian.
Saat belanja menjadi siklus yang sulit dihentikan
Penelitian yang dipublikasikan dalam National Library of Medicine menunjukkan, bagi sebagian orang, belanja dapat berkembang menjadi pola perilaku yang sulit dikendalikan.
Aktivitas konsumsi digunakan untuk mengurangi tekanan emosional atau memperbaiki suasana hati. Setelah membeli, individu merasakan kepuasan sementara.
Namun ketika perasaan tersebut menghilang, muncul dorongan untuk kembali berbelanja.
Siklus tersebut dapat terus berulang dan menyebabkan pengeluaran semakin sulit dikendalikan.
Meski tidak semua pelaku impulse buying mengalami kondisi tersebut, para peneliti menilai penting bagi konsumen untuk memahami hubungan antara emosi dan keputusan konsumsi.
Di tengah kemudahan transaksi digital, maraknya promosi, serta pengaruh media sosial yang semakin kuat, dorongan untuk membeli barang secara spontan menjadi semakin sulit dihindari.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa impulse buying tidak hanya berkaitan dengan kebiasaan belanja, tetapi juga menyangkut aspek psikologis, pengelolaan emosi, dan kesehatan keuangan.
Ketika keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi rasa bosan, tekanan emosional, atau dorongan mengikuti tren, risiko munculnya pengeluaran yang tidak direncanakan ikut meningkat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangBelanja Masyarakat pada Libur Sekolah 2026 Melambat dari Tahun Lalu
Belanja masyarakat pada libur sekolah Juni 2026 melambat dibanding tahun lalu, dengan pertumbuhan terbatas dan penurunan keyakinan konsumen kelompok atas. [467] url asal
#belanja-masyarakat #libur-sekolah-2026 #belanja-melambat #indeks-keyakinan-konsumen #mandiri-spending-index #pertumbuhan-belanja #belanja-kuartal-ii-2026 #belanja-kelompok-atas #belanja-kelompok-menen
(Bisnis.Com - Ekonomi) 24/06/26 13:44
v/258390/
Bisnis.com, JAKARTA — Belanja masyarakat pada pekan kedua Juni 2026 tercatat tumbuh lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu. Pada waktu yang sama, pengeluaran kelompok atas juga turun sejalan dengan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang tumbuh moderat.
Hal ini terlihat dari Mandiri Spending Index (MSI) pada pekan kedua Juni 2026 yang berada di level 122,9 atau tumbuh terbatas 0,1% secara mingguan. Meski tumbuh terbatas, ini menjadi pertumbuhan positif yang terjadi usai kontraksi berturut-turut pada tiga pekan sebelumnya yakni 0,24%, 0,06% serta 0,05%.
"Meski kembali positif, pola belanja sejak Mei belum mencerminkan tren peningkatan," demikian dikutip dari keterangan tertulis Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., dikutip Rabu (24/6/2026).
Pola ini terlihat berbeda apabila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2025. Pada periode Juni 2025, pertumbuhan mingguan MSI cenderung menguat hingga 0,25% dibandingkan dengan pekan sebelumnya menjelang dan memasuki libur sekolah.
Di sisi lain, rata-rata pertumbuhan belanja pada kuartal II/2026 dibandingkan kuartal II/2025 yakni 6,1% (yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama di 2025 yakni 5,9% (yoy).
Namun demikian, pertumbuhan belanja pada kuartal II/2026 terlibat mulai melandai dibandingkan dengan kuartal I/2026 yakni 6,4% (yoy).
"Ini menunjukkan belanja masih resilien, tetapi momentum pertumbuhannya mulai lebih moderat. Efek awal libur sekolah lebih terbatas," demikian analisis dari kalangan ekonom Bank Mandiri.
Belanja pada minggu pertama libur sekolah 2026 juga masih stagnan dibanding dengan rata-rata empat minggu sebelum libur. Pola ini berbeda dari awal libur sekolah 2024 dan 2025, ketika belanja masing-masing meningkat sekitar 0,6% dan 0,4% dibandingkan dengan periode sebelum libur.
Secara historis, kenaikan belanja libur sekolah biasanya lebih terlihat pada pekan-pekan berikutnya. Kenaikannya bisa mencapai sekitar 2,4% di akhir periode libur, sebelum kembali melandai setelah periode libur berakhir.
Dari segi kelompok pengeluaran, kelompok menengah dan atas lebih banyak menopang belanja pada libur sekolah 2025 dengan peningkatan masing-masing sebesar 1,8% dan 2,2% dibandingkan dengan periode sebelum libur.
Sementara itu, kelompok bawah meningkat lebih terbatas sebesar 1,3%. Pola awal libur sekolah tahun ini berbeda, lantaran belanja kelompok atas turun 0,6% dibandingkan dengan rata-rata sebelum libur.
Kondisi ini sejalan dengan keyakinan konsumen kelompok atas yang lebih moderat, dengan rata-rata pertumbuhan bulanan IKK 2026 turun 1,8%, lebih dalam dibanding kelompok bawah (-1,0%) dan menengah (-0,9%).
Adapun Bank Indonesia (BI) pada Mei 2026 melalui IKK mencatat pola konsumsi masyarakat yang juga melandai. Pada bulan lalu, BI mencatat IKK turun ke 120,9 dari posisi 123 pada April 2026.
Sebagai salah satu komponen IKK, Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) yang menggambarkan ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi enam bulan ke depan relatif stagnan. IEK Mei 2026 tercatat sebesar 129,7 atau relatif sama dengan bulan sebelumnya yakni 129,6.
Kemendag Siapkan Sederet Program Diskon untuk Jaga Daya Beli Masyarakat
Kemendag terus berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global, salah satunya dengan program stimulus dan diskon belanja. - Bagian all [384] url asal
#mendag #budi-santoso #stimulus #diskon-belanja #hippindo #nilai-transaksi
JAKARTA, iNews.id - Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus berupaya menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Salah satunya melalui berbagai program stimulus dan diskon belanja.
Menteri Perdagangan (Mendag), Budi Santoso mengatakan, selain menjaga stabilitas harga, pihaknya menggelar berbagai program diskon, salah satunya melalui program BINA Holiday and Back to School.
"Kita ingin terus menjaga pasar ini berjalan dengan baik, salah satunya banyak kegiatan yang kita lakukan, misalnya Juni-Juli ini kan kita membuat diskon ya di ritel modern dengan nama BINA Holiday and Back to School," kata pria yang akrab disapa Busan saat dijumpai di kawasan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (22/6/2026).
Busan menambahkan, program tersebut melibatkan sekitar 414 department store dengan total 80.000 gerai yang tergabung dalam Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo).
Dari kegiatan itu, pemerintah menargetkan nilai transaksi mencapai Rp30 triliun.
"Ini pada bulan Juli-Juli yang melibatkan sekitar 414 department store dengan gerai sekitar 80.000, di bawah anggota Hipimdo dan transaksinya diharapkan sekitar Rp30 triliun," kata dia.
Selain itu, pemerintah juga mendukung pelaksanaan Jakarta Great Sale dalam rangka perayaan Hari Ulang Tahun Jakarta. Program yang berlangsung pada Juni hingga Juli tersebut melibatkan 104 department store dengan target transaksi mencapai Rp16 triliun.
Menurut Busan, berbagai program diskon tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga perputaran ekonomi sekaligus meningkatkan daya beli masyarakat.
"Kita ingin setiap bulan itu ada big sale di sini. Nah ini salah satu cara sebenarnya bagaimana kita terus menggerakkan ekonomi kita, meningkatkan daya beli masyarakat," tuturnya.
Kemendag juga terus mendorong pemanfaatan platform digital untuk memperluas pemasaran produk dalam negeri. Revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 19 disebut menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan penjualan produk lokal melalui platform e-commerce.
Tak hanya mengandalkan konsumsi domestik, pemerintah juga memperkuat kinerja ekspor sebagai salah satu penopang pertumbuhan ekonomi. Mendag Busan menyebut program UMKM Bisa Ekspor menunjukkan hasil yang positif sepanjang tahun ini.
Tercatat, transaksi ekspor UMKM selama periode Januari-Mei 2026 telah mencapai 193 juta dolar AS. Angka tersebut melampaui capaian sepanjang tahun 2025 yang sebesar 134 juta dolar AS.
"Jadi semua dampak dari krisis global ini mudah-mudahan kita bisa mengatasi dengan cara kita. Jadi kita bareng-bareng baik pemerintah maupun masyarakat maupun pula perusahaan bagaimana cara menghidupkan ekonomi supaya bisa mengatasi permasalahan-permasalahan krisis global yang sekarang terjadi," ucapnya.
Editor: Aditya Pratama
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56