FOMO Investor Ledakan Pendanaan Startup Teknologi China, Risiko Gelembung Mengintai
Dana modal ventura baru yang terdaftar sepanjang lima bulan pertama 2026 mencapai Rp406,4 triliun, lampaui total dana sepanjang 2025.
(Kompas.com) 25/06/26 14:16 259540
KOMPAS.com – Ambisi China mengembangkan "industri masa depan" seperti antariksa, teknologi kuantum, fusi nuklir, kecerdasan buatan (AI), hingga antarmuka otak-komputer memicu lonjakan investasi modal ventura (venture capital/VC), sekaligus menimbulkan kekhawatiran terbentuknya gelembung valuasi di sektor teknologi.
Fenomena tersebut terlihat dari agresivitas perusahaan rintisan dalam menghimpun pendanaan. Salah satunya adalah Tectronic Maritime Space Systems, startup peluncuran roket berbasis laut yang baru berdiri tiga bulan lalu di Shanghai.
Dalam presentasi kepada investor pada pertengahan Juni, perusahaan itu menargetkan pendanaan awal sebesar 150 juta yuan dengan valuasi mencapai 1,5 miliar yuan. Tectronic bahkan memproyeksikan valuasinya dapat melonjak menjadi 50 miliar yuan saat melantai di bursa pada 2032.
Perusahaan tersebut menargetkan penggalangan dana tambahan hingga 3 miliar yuan dalam lima tahun mendatang dan menjanjikan potensi imbal hasil hingga 26,7 kali bagi investor awal.
Gelombang pendanaan ini sejalan dengan strategi Beijing yang menjadikan sektor-sektor teknologi maju sebagai prioritas pembangunan nasional. Dalam rencana pembangunan lima tahunan terbaru yang dirilis Maret lalu, pemerintah China menempatkan industri antariksa, robotika, teknologi kuantum, biomanufaktur, dan energi hidrogen sebagai sektor strategis masa depan.
Data ChinaVenture Investment Consulting menunjukkan nilai investasi modal ventura dan private equity di China mencapai 620 miliar yuan pada Januari-Mei 2026, melonjak hampir 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, dana modal ventura baru yang terdaftar sepanjang lima bulan pertama tahun ini mencapai 154 miliar yuan (Rp406,4 triliun), melampaui total penghimpunan dana sepanjang 2025.
"Tingkat kegilaan yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sepanjang karier saya," kata Yan Kai, mitra di Ivy Capital seperti dilansir Reuters.
Menurutnya, startup yang belum memiliki pendapatan kini dapat memperoleh pendanaan miliaran yuan pada putaran pertama, bahkan sebelum transaksi selesai investor sudah mengantre untuk putaran pendanaan berikutnya.
Persaingan ketat antar investor juga terjadi di sektor-sektor seperti fusi nuklir, teknologi kuantum, AI fisik (embodied AI), dan teknologi antariksa.
Ketua Zero2IPO Holdings, Ni Zhengdong, mengatakan banyak investor mengalami fenomena fear of missing out (FOMO) sehingga mengambil keputusan investasi lebih cepat dibandingkan biasanya.
Meski demikian, sejumlah pelaku industri mulai mengingatkan risiko kenaikan valuasi yang terlalu cepat.
"Sebuah proyek chip fotonik bernilai 1 miliar yuan tahun lalu, sekarang bisa dihargai 10 miliar yuan," ujar salah satu investor teknologi yang dikutip Reuters.
Selain dana lokal, investor global juga mulai kembali melirik sektor teknologi China. Data Preqin menunjukkan lima dana investasi berbasis dolar AS yang berfokus pada China berhasil menghimpun dana sekitar US$4 miliar hingga pertengahan Juni, melampaui total penghimpunan dana tahunan dalam dua tahun terakhir.
Pelaku industri menilai strategi Beijing mempercepat pengembangan teknologi mutakhir memang dapat membantu mempersempit kesenjangan teknologi dengan Amerika Serikat.
Namun, lonjakan modal yang terlalu cepat juga berpotensi menciptakan gelembung valuasi jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan bisnis dan kemampuan komersialisasi yang memadai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang