#30 tag 24jam
Dubes RI: AI, Startup, hingga Diplomasi Kuliner Jadi Agenda Baru Hubungan RI-Swiss (Bagian Ketiga)
AI, startup, hingga kuliner dinilai menjadi babak baru hubungan Indonesia-Swiss setelah 75 tahun kerja sama diplomatik. [1,354] url asal
#startup #kuliner #swiss #ai #75-tahun-indonesia-swiss #bern
(Kompas.com - Money) 30/06/26 17:00
v/264000/
BERN, KOMPAS.com — Selain memperkuat perdagangan, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia, Indonesia dan Swiss juga mulai membuka ruang kerja sama di sektor-sektor baru.
Hal itu disampaikan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya dalam wawancara khusus dengan tim jurnalis Kompas Gramedia Grup (KG Media), termasuk Kompas.com, di KBRI Bern, Swiss, pada Senin (30/6/2026).
Dalam kesempatan wawancara tersebut, Ngurah menilai ekonomi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), hingga ekosistem startup akan menjadi salah satu mesin pertumbuhan hubungan bilateral pada masa mendatang.
Menurut Ngurah, Swiss selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling inovatif di dunia. Namun, Indonesia memiliki keunggulan berupa pasar digital yang besar, bonus demografi, dan tingkat adopsi teknologi yang berkembang pesat. Kedua keunggulan tersebut dinilai dapat saling melengkapi.
Di sisi lain, diplomasi ekonomi tidak hanya dilakukan melalui investasi dan perdagangan. Promosi produk Indonesia, restoran, pariwisata, hingga pembelajaran bahasa Indonesia juga menjadi bagian dari upaya memperluas kehadiran Indonesia di Swiss.
Berikut bagian akhir wawancara Kompas.com dan tim jurnalis KG Media dengan Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya, dalam format tanya-jawab.
Untuk membaca bagian pertama dan kedua artikel ini, klik link ini dan link ini.
Setelah kerja sama hilirisasi mineral dan logam, sektor apa lagi yang berpotensi dikembangkan?
Menurut saya, sektor yang sangat potensial adalah ekonomi digital.
Selama ini Indonesia belum banyak melihat Switzerland sebagai mitra ekonomi digital. Sebaliknya, Swiss juga belum banyak melihat Indonesia sebagai pasar maupun mitra strategis di sektor tersebut.
Padahal Swiss memiliki ekosistem startup yang sangat kuat. Saat ini ada sekitar 15 hingga 24 startup yang telah mencapai status unicorn. Selain itu, terdapat sekitar 250 startup yang berpotensi berkembang menjadi unicorn.
Saya sering menyampaikan kepada pelaku startup di Swiss, kalau ingin menguji pasar, Indonesia merupakan tempat yang sangat ideal. Indonesia memiliki pasar yang besar dengan berbagai segmen konsumen sehingga menjadi lokasi yang tepat untuk mengembangkan berbagai inovasi digital.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Duta Besar RI untuk Swiss Ngurah Swajaya, Ketua Komite Hubungan Bilateral Swiss dan Liechtenstein Kadin Indonesia Francis Wanandi, serta Dominic Gorecky berbincang di sela International Smart Factory Summit di depan demonstrasi teknologi physical AI di Swiss Smart Factory, Bern, Swiss, Kamis (25/6/2026). #RICH_75indonesiaswissMengapa ekonomi digital menjadi fokus baru kerja sama Indonesia-Swiss?
Pada Business Forum Indonesia-Swiss tahun ini, kami memang memilih ekonomi digital sebagai tema utama.
Diskusinya difokuskan pada tiga bidang.
Pertama adalah infrastruktur digital, termasuk data center dan seluruh ekosistem pendukungnya.
Kedua adalah financial technology. Indonesia memiliki perkembangan yang sangat baik, misalnya melalui QRIS. Saya melihat Indonesia bahkan lebih maju dibandingkan Swiss dalam adopsi pembayaran digital.
Namun Swiss memiliki keunggulan pada aspek keamanan sistem, perlindungan data, dan trust. Dua kekuatan tersebut bisa saling melengkapi.
Ketiga adalah artificial intelligence.
Semua negara sekarang berbicara mengenai AI. Yang paling penting bukan sekadar membicarakan istilahnya, tetapi bagaimana AI benar-benar diterapkan dalam industri dan kehidupan sehari-hari.
Bagaimana Bapak melihat perkembangan AI di Swiss?
Teman-teman sudah melihat langsung Smart Factory ketika berkunjung ke Swiss.
Di sana AI bukan lagi konsep, tetapi sudah diterapkan dalam robotika, cobot, maupun pengelolaan ekosistem industri.
Swiss bahkan sudah mulai berbicara mengenai Industry 5.0, ketika kecerdasan buatan menjadi bagian dari proses produksi.
Kalau Indonesia mampu memanfaatkan perkembangan ini melalui kerja sama teknologi dan pengembangan sumber daya manusia, manfaatnya akan sangat besar.
Bagaimana KBRI mendorong lebih banyak produk Indonesia masuk ke Swiss?
Kami tentu mengapresiasi langkah Eiger yang membuka toko di Swiss.
Menurut saya, kalau sebuah produk Indonesia mampu bertahan di pasar Swiss, maka produk tersebut juga akan lebih percaya diri memasuki pasar negara-negara lain di Eropa karena standar pasar Swiss cukup tinggi.
Selain itu, ekspor kopi Indonesia ke Swiss juga meningkat sangat signifikan, bahkan hampir dua kali lipat.
Yang menarik, kami tidak hanya mempromosikan kopi. Saat Coffee Festival, kami juga membawa pelaku UMKM yang memproduksi mesin kopi dan kapsul buatan Indonesia.
Kapsul tersebut bukan hanya untuk kopi, tetapi juga untuk jamu. Inovasi seperti itu kami perkenalkan kepada pasar Swiss.
Selain kopi, kami terus mendorong produk alas kaki, makanan olahan, seafood, hingga berbagai produk UMKM lainnya selama memenuhi standar yang berlaku.
Kalau suatu produk sudah diterima di pasar Swiss, peluang masuk ke pasar Eropa lainnya akan jauh lebih besar.
Bagaimana peluang produk sawit Indonesia di Swiss?
Produk sawit Indonesia dapat masuk ke Swiss selama memenuhi standar sertifikasi yang berlaku, termasuk sertifikasi keberlanjutan.
Sebagai minyak nabati, kebutuhan sawit sebenarnya cukup besar, terutama untuk industri makanan dan cokelat.
Namun saat ini sebagian besar impor sawit Swiss masih melalui Belanda atau negara lain di Eropa. Jadi belum banyak yang masuk langsung dari Indonesia.
Ke depan saya melihat peluang tersebut masih bisa dikembangkan.
Selain perdagangan, bagaimana diplomasi kuliner berperan dalam hubungan kedua negara?
Kuliner adalah salah satu bentuk diplomasi yang paling efektif.
Melalui makanan, masyarakat bisa langsung mengenal budaya Indonesia.
Kami terus mendorong diaspora yang ingin membuka restoran Indonesia di Swiss.
Menurut saya, pemerintah juga dapat memberikan bentuk penghargaan atau pengakuan kepada restoran Indonesia di luar negeri yang konsisten memperkenalkan kuliner Indonesia.
Penghargaan seperti itu mungkin sederhana, tetapi memiliki arti besar bagi pelaku usaha.
Di Swiss sendiri sudah ada beberapa restoran Indonesia yang bertahan lebih dari sepuluh bahkan dua puluh tahun.
Kami juga berusaha membantu mempromosikan mereka melalui berbagai kegiatan dan media sosial.
Bagaimana dengan sektor pariwisata?
Jumlah wisatawan Swiss ke Indonesia memang tidak sebesar negara lain.
Namun mereka memiliki karakteristik yang berbeda.
Wisatawan Swiss rata-rata tinggal lebih lama di Indonesia dan memiliki tingkat pengeluaran yang lebih tinggi.
Mereka juga umumnya datang karena benar-benar tertarik menikmati alam dan budaya Indonesia.
Menariknya, ketika saya bertemu pelaku industri di Swiss, banyak yang pernah berlibur ke Bali, Raja Ampat, atau Labuan Bajo.
Saya selalu bertanya, mengapa belum berinvestasi di Indonesia?
Artinya, pariwisata bisa menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan peluang bisnis Indonesia kepada masyarakat Swiss.
Bagaimana KBRI memperkuat hubungan antarmasyarakat?
Kami memiliki berbagai program people-to-people contact.
Salah satunya adalah program BIPA atau Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing.
Minat masyarakat Swiss belajar bahasa Indonesia cukup tinggi.
Ketika kami bertanya alasan mereka belajar, sebagian ingin berwisata ke Indonesia, sementara sebagian lainnya ingin mengenal peluang bisnis di Indonesia.
Kami juga rutin mengadakan kegiatan seni budaya, bekerja sama dengan berbagai institusi di Swiss, mulai dari pertunjukan tari hingga pameran seni rupa.
Semua itu bertujuan memperkenalkan Indonesia lebih luas kepada masyarakat Swiss.
Bagaimana KBRI mengantisipasi maraknya penipuan tawaran kerja di Swiss?
Kami selalu mengingatkan masyarakat agar berhati-hati.
Memang kebutuhan tenaga kerja di Swiss ada, tetapi aturan untuk bekerja di sini sangat ketat.
Persetujuan bekerja berada pada tingkat kanton, sehingga prosesnya tidak mudah.
Karena itu masyarakat jangan mudah percaya terhadap tawaran pekerjaan yang menjanjikan proses cepat atau tanpa prosedur resmi.
Saya melihat solusi jangka panjang justru mendorong perusahaan Swiss berinvestasi di Indonesia sehingga lapangan kerja tercipta di dalam negeri.
KOMPAS.com/APRILLIA IKA Imbauan kewaspadaan heatwave di Swiss oleh KBRI Bern.
Bagaimana perlindungan WNI di tengah gelombang panas yang melanda Eropa?
Heatwave memang mulai sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Namun di Swiss masyarakat sudah mulai beradaptasi.
Sejauh ini kami belum menerima laporan WNI yang terdampak serius akibat gelombang panas.
KBRI tetap menyiapkan layanan perlindungan selama 24 jam untuk membantu warga negara Indonesia apabila menghadapi keadaan darurat.
Kami juga terus mengimbau WNI agar melakukan lapor diri. Dengan begitu, ketika terjadi keadaan darurat atau bencana, KBRI dapat lebih cepat memberikan informasi maupun bantuan.
Selain itu, kami juga berharap ke depan layanan penerbitan paspor elektronik dapat dilakukan di KBRI Bern sehingga pelayanan kepada masyarakat Indonesia menjadi lebih mudah.
Apa harapan Bapak terhadap hubungan Indonesia dan Swiss setelah 75 tahun?
Saya melihat Indonesia memiliki peluang yang sangat besar.
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang besar.
Kalau kedua kekuatan itu dipadukan dengan teknologi, inovasi, pendidikan vokasi, dan investasi dari Swiss, saya optimistis hubungan kedua negara akan semakin kuat.
Yang terpenting adalah bagaimana kita memanfaatkan setiap peluang yang muncul di tengah tantangan global.
Bagi saya, hubungan Indonesia dan Swiss bukan lagi sekadar hubungan diplomatik yang sudah berlangsung selama 75 tahun, tetapi kemitraan yang dapat saling melengkapi untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan bagi kedua negara.
#RICH_75indonesiaswiss
(Selesai)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
FOMO Investor Ledakan Pendanaan Startup Teknologi China, Risiko Gelembung Mengintai
Dana modal ventura baru yang terdaftar sepanjang lima bulan pertama 2026 mencapai Rp406,4 triliun, lampaui total dana sepanjang 2025. [479] url asal
#china #fomo #startup #investor #startup-teknologi
(Kompas.com - Money) 25/06/26 14:16
v/259540/
KOMPAS.com – Ambisi China mengembangkan "industri masa depan" seperti antariksa, teknologi kuantum, fusi nuklir, kecerdasan buatan (AI), hingga antarmuka otak-komputer memicu lonjakan investasi modal ventura (venture capital/VC), sekaligus menimbulkan kekhawatiran terbentuknya gelembung valuasi di sektor teknologi.
Fenomena tersebut terlihat dari agresivitas perusahaan rintisan dalam menghimpun pendanaan. Salah satunya adalah Tectronic Maritime Space Systems, startup peluncuran roket berbasis laut yang baru berdiri tiga bulan lalu di Shanghai.
Dalam presentasi kepada investor pada pertengahan Juni, perusahaan itu menargetkan pendanaan awal sebesar 150 juta yuan dengan valuasi mencapai 1,5 miliar yuan. Tectronic bahkan memproyeksikan valuasinya dapat melonjak menjadi 50 miliar yuan saat melantai di bursa pada 2032.
Perusahaan tersebut menargetkan penggalangan dana tambahan hingga 3 miliar yuan dalam lima tahun mendatang dan menjanjikan potensi imbal hasil hingga 26,7 kali bagi investor awal.
Gelombang pendanaan ini sejalan dengan strategi Beijing yang menjadikan sektor-sektor teknologi maju sebagai prioritas pembangunan nasional. Dalam rencana pembangunan lima tahunan terbaru yang dirilis Maret lalu, pemerintah China menempatkan industri antariksa, robotika, teknologi kuantum, biomanufaktur, dan energi hidrogen sebagai sektor strategis masa depan.
Data ChinaVenture Investment Consulting menunjukkan nilai investasi modal ventura dan private equity di China mencapai 620 miliar yuan pada Januari-Mei 2026, melonjak hampir 60 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, dana modal ventura baru yang terdaftar sepanjang lima bulan pertama tahun ini mencapai 154 miliar yuan (Rp406,4 triliun), melampaui total penghimpunan dana sepanjang 2025.
"Tingkat kegilaan yang terjadi saat ini adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sepanjang karier saya," kata Yan Kai, mitra di Ivy Capital seperti dilansir Reuters.
Menurutnya, startup yang belum memiliki pendapatan kini dapat memperoleh pendanaan miliaran yuan pada putaran pertama, bahkan sebelum transaksi selesai investor sudah mengantre untuk putaran pendanaan berikutnya.
Persaingan ketat antar investor juga terjadi di sektor-sektor seperti fusi nuklir, teknologi kuantum, AI fisik (embodied AI), dan teknologi antariksa.
Ketua Zero2IPO Holdings, Ni Zhengdong, mengatakan banyak investor mengalami fenomena fear of missing out (FOMO) sehingga mengambil keputusan investasi lebih cepat dibandingkan biasanya.
Meski demikian, sejumlah pelaku industri mulai mengingatkan risiko kenaikan valuasi yang terlalu cepat.
"Sebuah proyek chip fotonik bernilai 1 miliar yuan tahun lalu, sekarang bisa dihargai 10 miliar yuan," ujar salah satu investor teknologi yang dikutip Reuters.
Selain dana lokal, investor global juga mulai kembali melirik sektor teknologi China. Data Preqin menunjukkan lima dana investasi berbasis dolar AS yang berfokus pada China berhasil menghimpun dana sekitar US$4 miliar hingga pertengahan Juni, melampaui total penghimpunan dana tahunan dalam dua tahun terakhir.
Pelaku industri menilai strategi Beijing mempercepat pengembangan teknologi mutakhir memang dapat membantu mempersempit kesenjangan teknologi dengan Amerika Serikat.
Namun, lonjakan modal yang terlalu cepat juga berpotensi menciptakan gelembung valuasi jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan bisnis dan kemampuan komersialisasi yang memadai.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Inkubator Startup Swiss Buka Peluang bagi Talenta Indonesia
Trust Village di Swiss menawarkan program inkubator gratis dan soft landing yang membuka peluang bagi startup serta talenta Indonesia mengembangkan bi [595] url asal
#inkubator #swiss #startup #lausanne
(Kompas.com - Money) 25/06/26 05:45
v/259067/
LAUSANNE, KOMPAS.com — Swiss membuka peluang bagi startup dan talenta Indonesia untuk mengembangkan bisnis melalui program inkubator yang tidak dipungut biaya. Kesempatan tersebut diperkenalkan kepada delegasi jurnalis Kompas Gramedia (KG) Group, termasuk Kompas.com dan KBRI Bern, dalam rangkaian kunjungan memperingati 75 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Swiss yang menyoroti kerja sama kedua negara di bidang inovasi, teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Program tersebut dijalankan oleh Trust Village, inkubator yang berfokus pada pengembangan startup di bidang digital trust, mulai dari keamanan siber, perlindungan data, manajemen identitas digital, hingga tata kelola kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Saat ini, lebih dari 25 proyek teknologi dari berbagai bidang telah menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
"Program inkubasi ini tidak dipungut biaya. Startup yang diterima juga dapat menggunakan fasilitas di sini secara gratis hingga satu tahun, sehingga sangat membantu perusahaan rintisan yang sedang berkembang," kata Head of Partnerships Trust Village Josua Rochat saat menerima delegasi jurnalis Kompas Gramedia di Lausanne, Swiss.
Rochat menjelaskan, startup yang mengikuti program tersebut tidak hanya memperoleh ruang kerja, tetapi juga mengikuti berbagai lokakarya mengenai dasar-dasar membangun bisnis, pemasaran, penjualan, serta kesempatan memperluas jejaring dengan pelaku industri, akademisi, hingga perusahaan teknologi yang menjadi bagian dari ekosistem Trust Village.
Bantu Startup Menembus Pasar Global
Selain program inkubasi, Trust Village juga menawarkan program soft landing bagi perusahaan yang berasal dari luar Swiss. Program ini ditujukan untuk membantu perusahaan asing memahami karakteristik pasar Swiss sebelum memutuskan membuka kantor maupun menjalankan kegiatan bisnis secara permanen.
"Kami juga memiliki program soft landing bagi perusahaan dari luar Swiss. Mereka bisa memanfaatkan fasilitas yang sama untuk melihat apakah produknya sesuai dengan kebutuhan pasar Swiss sebelum memutuskan membuka kantor di sini," ujar Rochat.
Program tersebut berlangsung selama enam bulan dan dapat diperpanjang hingga maksimal satu tahun. Selama mengikuti program, peserta memperoleh pendampingan bisnis sekaligus akses ke ekosistem Trust Village yang terdiri atas lebih dari 50 mitra dari kalangan pemerintah, perguruan tinggi, hingga perusahaan swasta. Melalui jaringan tersebut, startup didorong membangun kolaborasi, memperluas pasar, serta menemukan calon pelanggan.
Unlimitrust Campus Manager SICPA Elisabeth Wallace mengatakan kesempatan mengikuti program tersebut terbuka sepanjang tahun sehingga startup maupun perusahaan dari berbagai negara dapat mengajukan diri kapan saja.
Menurut Wallace, informasi mengenai program tersebut juga dapat disebarluaskan melalui berbagai kanal agar semakin banyak talenta Indonesia mengetahui peluang yang tersedia di Swiss.
"Kami akan sangat senang apabila informasi mengenai kesempatan ini dapat dipublikasikan melalui situs web maupun media sosial sehingga semakin banyak talenta Indonesia yang tertarik datang ke Swiss," kata Wallace.
Perluas Akses Pendanaan
Selain memberikan pendampingan bisnis, Trust Village juga membantu startup memperluas akses terhadap pendanaan dengan mempertemukan perusahaan rintisan dengan investor.
"Kami memang tidak memberikan pendanaan langsung kepada startup. Namun, kami mempertemukan mereka dengan perusahaan modal ventura dan business angel agar dapat memperoleh akses pembiayaan untuk mengembangkan bisnis," ujar Rochat.
Ia mengatakan, sejumlah startup yang pernah mengikuti program tersebut berhasil memperoleh pendanaan lanjutan. Salah satunya mampu meraih pendanaan sebesar 7 juta franc Swiss pada putaran pendanaan Series A.
"Ada startup yang berhasil memperoleh pendanaan sebesar 7 juta franc Swiss pada putaran pendanaan Series A. Namun, keberhasilan seperti itu tidak terjadi pada semua peserta," kata Rochat.
Menurut dia, tantangan terbesar biasanya muncul ketika startup memasuki tahap pendanaan setelah Series A menuju Series C yang membutuhkan modal lebih besar. Sementara itu, pendanaan dari tahap awal hingga Series A masih relatif tersedia, terutama bagi perusahaan yang bergerak di bidang AI.Artikel di atas disusun berdasarkan transkrip kunjungan Trust Village dan pernyataan narasumber yang tersedia dalam bahan.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
BSPD 2026 Pertemukan Startup dan Investor
Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong inovasi. [402] url asal
#bandung-startup-pitching-day-2026 #bspd-2026 #startup-indonesia #sbm-itb #investor-startup #venture-capital #startup-bandung #inovasi-indonesia #pendanaan-startup #startup-teknologi #kilatsoon #tofly
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Sebanyak 21 startup bertemu dengan 15 investor dan venture capital dalam Bandung Startup Pitching Day (BSPD) 2026. Ajang tersebut digelar untuk membuka peluang kolaborasi, pendanaan, dan pengembangan bisnis bagi startup Indonesia.
Kegiatan yang berlangsung di Auditorium Nemangkawi SBM ITB pada Rabu (24/6/2026) itu diselenggarakan oleh The Greater Hub SBM ITB bersama Direktorat Kawasan Sains dan Teknologi (DKST) ITB, Startup Bandung, Innovation Factory, Geek Hunter, dan Artha Enterprise. BSPD 2026 mengusung tema "Impactful Innovation and Beyond".
Investor yang hadir antara lain Angin Foundation, BNI Ventures, Mandiri Capital Indonesia, Rahmania Islamic Social Ventures, Spill Ventures, Telkomsel Ventures, MDI Ventures, Genesia Ventures, hingga DSX Ventures.
Koordinator The Greater Hub ITB Dina Dellyana mengatakan, BSPD menjadi ruang bagi startup untuk bertemu langsung dengan investor sekaligus memperoleh masukan dalam mengembangkan bisnis mereka.
"Kami berharap acara ini dapat menjadi kesempatan bagi startup untuk terhubung langsung dengan para investor. Setiap masukan yang diberikan sangat berharga, tidak hanya selama sesi pitching berlangsung, tetapi juga setelah acara ini berakhir," kata Dina.
Deputy Director for Area Business Development DKST ITB Melia Famiola menilai perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendorong inovasi agar dapat diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat ekonomi maupun sosial.
"Perguruan tinggi perlu menjadi motor penggerak inovasi dengan menerjemahkan hasil riset menjadi solusi yang nyata, membawanya ke masyarakat dan pasar, memperluas dampaknya, serta menciptakan nilai ekonomi dan sosial yang berkelanjutan," ujar Melia.
Sementara itu, Wakil Dekan Bidang Akademik SBM ITB Eko Agus Prasetio mengatakan semangat kewirausahaan tetap penting di tengah kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian.
"Di tengah kondisi yang penuh volatilitas dan ketidakpastian seperti saat ini, semangat kewirausahaan tetap tumbuh karena adanya keberanian untuk melihat peluang dan menghadapi tantangan," kata Eko.
Sebanyak 21 startup mengikuti ajang tersebut dengan berbagai bidang usaha, mulai dari pendidikan, kecerdasan buatan, agritech, energi, teknologi digital, hingga pengembangan sumber daya manusia.
Setelah melalui proses pitching dan penilaian, KILATSOON meraih penghargaan The Most Innovative Startup. TOFLY terpilih sebagai The Best Pitch, WearaTech memperoleh penghargaan The Most Impactful Startup, sedangkan Batari Energy dinobatkan sebagai The Most Marketable Startup.
Pada sesi Artha Speed Dating, Flame Street Indonesia meraih posisi pemenang. Tanabur menempati posisi pertama runner up, sementara Natance Corporation berada di posisi kedua runner up.
Penyelenggara menilai BSPD 2026 menunjukkan pentingnya kolaborasi antara startup, investor, akademisi, dan pelaku industri dalam memperkuat ekosistem inovasi nasional. Melalui forum tersebut, berbagai startup berkesempatan memperluas jaringan sekaligus membuka peluang kerja sama dan investasi di masa depan.
GDP Venture Ungkap Kunci Bertahan Startup di Era AI, Tidak Cukup Produk Bagus
GDP Ventures menekankan pentingnya pemahaman AI bagi startup untuk bertahan. Startup harus mengkalkulasi risiko AI dan fokus pada model bisnis kuat serta manajemen keuangan. [456] url asal
#startup-ai #gdp-ventures #teknologi-ai #risiko-ai #bisnis-rintisan #disrupsi-teknologi #investasi-startup #model-bisnis #fundamental-keuangan #cash-flow-management #unit-economics #gross-margin #ventu
(Bisnis.Com - Teknologi) 19/06/26 13:45
v/254451/
Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan modal ventura sekaligus venture builder, GDP Venture, mengingatkan para pelaku startup untuk memahami implementasi serta mengalkulasi risiko pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) agar model bisnis yang dijalankan tidak tergerus oleh perkembangan teknologi tersebut.
GDP Ventures menilai hadirnya teknologi AI memberi peluang sekaligus tantangan bagi bisnis startup.
Investing Partner GDP Ventures Antonny Liem mengatakan pemahaman terhadap AI saat ini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan instrumen krusial bagi keberlanjutan bisnis rintisan. Pelaku usaha dituntut jeli melihat potensi disrupsi teknologi ini, baik sebagai peluang efisiensi maupun ancaman eksistensial yang dapat melenyapkan bisnis mereka dalam waktu singkat.
“Startup harus sudah tau AI itu dia bisa pakai buat apa? Ataupun AI itu bakal jadi resiko baru bisnisnya dia ke depan kah? Bisa aja misalnya dia mulai sebuah perusahaan yang dalam 2 tahun, atau lebih cepat digantikan oleh AI," ujar Antonny kepada Bisnis, dikutip Jumat (19/7/2026).
Menurutnya, kalkulasi risiko makro ini tidak hanya berlaku bagi korporasi skala besar, tetapi juga menjadi kewajiban mutlak bagi perusahaan rintisan sejak fase awal.
Selain memikirkan aspek produktivitas, profitabilitas, dan efisiensi, para pendiri (founders) harus mengantisipasi kemungkinan layanan atau produk mereka tidak lagi dibutuhkan pasar akibat tergantikan oleh ekosistem AI yang bergerak cepat.
Di sisi lain, dalam hal penilaian potensi pendanaan di tengah ketidakpastian global, GDP Ventures tetap memprioritaskan kekuatan model bisnis dan fundamental keuangan.
Antonny menyebut tantangan makro, tensi geopolitik, serta lonjakan biaya operasional menuntut pelaku usaha memiliki kompetensi tinggi dalam pengelolaan arus kas (cash flow management) dan manajemen keuangan.
Para pendiri startup tidak bisa lagi sekadar mengandalkan narasi potensi pasar yang besar tanpa kalkulasi unit ekonomi (unit economics) dan margin kotor (gross margin) yang jelas untuk mencetak laba.
“Startup harus tahu bagaimana untuk mencapai sana, bagaimana, butuh uang berapa. Dan kalau udah mencapai sana bisa membuat profit seberapa. Jadi betul-betul fundamental,” kata Antonny.
Dalam memetakan potensi investasi, GDP Ventures menerapkan tiga pilar evaluasi utama. Faktor manusia, yang mencakup kualitas pendiri, manajemen, dan soliditas tim, menempati posisi teratas. Faktor kedua adalah pemahaman mendalam terhadap teknologi secara luas, bukan terbatas pada AI semata.
Sementara itu, aspek produk justru ditempatkan pada urutan ketiga karena sifatnya yang harus terus berubah dan menyesuaikan diri dengan dinamika pasar.
Terkait strategi bisnis perusahaan saat ini, Antonny mengungkapkan GDP Ventures sedang mengambil posisi tidak aktif dalam menyuntikkan investasi baru. Sebagai venture builder yang telah beroperasi selama 15 tahun, fokus utama perusahaan kini dialihkan pada optimalisasi dan penguatan portofolio serta lini bisnis internal yang dikelola sendiri di dalam ekosistem.
Selain mendukung Blibli Group yang telah melantai di bursa saham, GDP Ventures sedang agresif mendorong ekspansi portofolio di sektor hiburan dan media, seperti PT Rising dan Visinema. Perusahaan berkomitmen memperbesar skala bisnis operating yang ada agar memiliki fundamental yang lebih kuat di tengah situasi pasar yang menantang.
100x100 Galang US$100 Juta untuk 50 Startup Hijau di Asia Tenggara dan India
Investasi akan difokuskan pada startup di sektor energi, pangan, material, dan rantai pasok. [407] url asal
#startup #investasi-hijau #pembiayaan-berkelanjutan #update-me #industri-hijau
(Katadata - Ekonomi Hijau) 18/06/26 18:49
v/253727/
Perusahaan venture builder dan investasi iklim asal Singapura, 100×100, meluncurkan dana investasi keduanya (Fund II) untuk menggalang dana US$100 juta atau sekitar Rp1,7 triliun. Dana tersebut akan digunakan untuk membangun dan mengembangkan 50 perusahaan berbasis teknologi rendah emisi di Asia Tenggara dan India.
Investasi akan difokuskan pada sektor energi, pangan, material, dan rantai pasok yang dinilai tengah mengalami transformasi akibat meningkatnya permintaan, fragmentasi geopolitik, keterbatasan sumber daya, serta dorongan menuju kemandirian ekonomi dan energi.
Pendiri sekaligus Mitra 100×100, Marie Cheong, mengatakan upaya menekan emisi karbon tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang bisnis yang besar. "Kami percaya bahwa menyelesaikan tantangan emisi terbesar di dunia juga merupakan peluang ekonomi yang signifikan," kata Cheong dikutip dari Ecobiz Asia, Kamis (17/6).
Menurut dia, nama 100×100 mencerminkan keyakinan perusahaan bahwa keuntungan bisnis dan pengurangan emisi karbon dapat berjalan beriringan. "Dengan Fund II, kami menggandakan strategi yang telah terbukti berhasil dan siap memperluas dampaknya," ujarnya.
Berbeda dengan perusahaan modal ventura yang umumnya berinvestasi pada startup yang sudah berdiri, 100×100 membangun perusahaan sejak tahap awal bersama para pendiri startup. Setiap perusahaan ditargetkan mampu mengurangi emisi hingga 100 juta ton setara karbon dioksida sekaligus menghasilkan pendapatan tahunan minimal US$100 juta.
Peluncuran Fund II dilakukan setelah dana investasi pertama perusahaan mencapai batas maksimal US$60 juta pada 2023. Pendanaan tersebut didukung berbagai investor institusi, mitra strategis, dan family office, termasuk U.S. International Development Finance Corporation (DFC), Singapore Economic Development Board (EDB), British International Investment (BII), Triple Jump, Qarlbo Energy, JG Digital Equity Ventures, Kajima Corporation, dan Beacon Ventures.
Sejak saat itu, 100×100 telah ikut mendirikan 27 perusahaan di delapan negara. Perusahaan mengklaim tingkat keberlangsungan portofolionya hampir dua kali lebih tinggi dibanding rata-rata industri modal ventura berkat model venture building yang memberikan pendampingan operasional secara intensif serta kepemilikan saham yang lebih besar.
100×100 memandang Asia Tenggara dan India sebagai pasar strategis bagi inovasi iklim. Kawasan ini dinilai akan menjadi pusat pertumbuhan permintaan energi, ekspansi industri, sekaligus menghadapi tekanan besar untuk menurunkan emisi dari sektor-sektor ekonomi utama.
Pendiri dan Mitra 100×100 Quentin Vaquette mengatakan Asia Tenggara dan Asia Selatan kini menjadi kawasan penting dalam agenda dekarbonisasi global, sekaligus berkembang sebagai pusat manufaktur, infrastruktur kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan transformasi sistem pangan.
"Dengan membangun perusahaan-perusahaan baru di kawasan ini, kami menargetkan pengurangan emisi global hingga 10 persen secara kolektif, sekaligus menciptakan peluang investasi paling menarik dalam dekade ini," kata Vaquette.
Eks Bos BRI Ventures Nicko Widjaja Ungkap Awal Mula Investasi di TaniHub
Nicko Widjaja tidak pernah membayangkan keputusan investasi terhadap perusahaan yang dahulu dianggap menjanjikan kini berubah menjadi perkara pidana. [929] url asal
#nicko-widjaja #bri-ventures #tanihub #startup #give-me-perspective
Mantan Direktur Utama BRI Ventura Investama (BVI) atau BRI Ventures Nicko Widjaja menceritakan awal mula investasi di TaniHub. Investasi yang dahulu didukung pemerintah itu kini justru menuai dakwaan kasus dugaan korupsi karena dianggap merugikan negara.
Nicko didakwa melakukan tindak pidana korupsi bersama William Gozali, Ivan Arie Sustiawan, Edison TPL Tobing, dan korporasi TaniHub Group. Dalam dakwaan disebutkan negara mengalami kerugian US$ 5 juta atau ekuivalen Rp 73,3 miliar.
Dalam tuntutan yang dibacakan Kamis (21/5), jaksa menuntut Nicko dengan pidana penjara 11 tahun serta denda Rp 1 miliar subsider 190 hari penjara. Jaksa menyebut Nicko melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dakwaan primer.
Cerita awal investasi ini ia bagikan melalui akun Instagram @nickowidjaja yang kini dikelola oleh keluarganya.
“Nicko ingin bercerita sedikit tentang nostalgia investasi BVI di @tanihub. Pada awal 2020, ketika keputusan investasi BVI dibuat, TaniHub bukan dilihat sebagai masalah. TaniHub justru hadir sebagai harapan,” ujar Nicko melalui akun Instagram itu, Selasa (16/6).
Ia mengungkapkan, harapan bahwa teknologi bisa membantu petani, membuat rantai pasok pangan lebih efisien, dan membawa agritech Indonesia menjadi bagian dari masa depan ekonomi digital.
Tidak lama setelah itu, pandemi mengubah banyak hal. Aktivitas offline terbatas, masyarakat semakin terbiasa memesan kebutuhan sehari-hari secara online, dan digitalisasi menjadi semakin relevan.
Di tengah konteks itu, TaniHub terlihat membawa solusi untuk menghubungkan petani, produk pangan, teknologi, dan konsumen dalam satu ekosistem yang lebih modern. Banyak pihak percaya pada misi itu dan pemerintah memberi perhatian.
“Media menulisnya sebagai inovasi. Investor dari Indonesia, Singapura, dan Amerika Serikat juga melihat potensinya,” katanya.
BVI pun melihat potensi yang sama. Menurut Nicko, mungkin itulah bagian paling menyedihkan dari semua ini yaitu tidak ada yang pernah membayangkan keputusan investasi terhadap perusahaan yang dulu dianggap menjanjikan, suatu hari akan berubah menjadi perkara pidana.
Nicko mengatakan modal ventura memang bekerja di ruang risiko karena tidak semua perusahaan berhasil. Selain itu, tidak semua tesis investasi berakhir sesuai harapan.
Namun, risiko investasi yang telah melalui proses, standar operasional prosedur atau SOP, dan tata kelola seharusnya tidak dinilai hanya dari hasil akhirnya. Nicko khawatir, jika risiko seperti ini dipidana, semakin sedikit orang yang berani mengambil risiko untuk membangun inovasi bagi bangsa dan negara.
“Padahal, Indonesia membutuhkan keberanian itu,” ujarnya.
TaniHub Dukung Akselerasi Agritech
Dalam unggahan itu, Nicko juga membagikan tangkapan layar press release Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian pada 10 November 2021. Dalam rilis itu, pemerintah menjelaskan digitalisasi yang bisa mengakselerasi transformasi menuju ekonomi baru dengan nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi.
Kala itu pemerintah menyatakan masyarakat semakin adaptif dalam memanfaatkan teknologi, termasuk untuk tujuan ekonomi. Teknologi digital telah membuka kemungkinan kolaborasi yang lebih besar di antara para pemangku kepentingan ekonomi dalam rangka memperluas perdagangan, menciptakan lapangan pekerjaan, dan meningkatkan akses ke layanan publik.
“Momentum ini harus dimanfaatkan untuk mempercepat proses transformasi digital,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan opening address dalam acara Indonesia: Tech Innovation for Profit and Purpose pada the Singapore Week of Innovation and Technology 2021, di Jakarta, Rabu (10/11).
Pemerintah menyatakan perkembangan ekonomi digital di Indonesia juga dapat dilihat dari total investasi pada platform digital yakni sekitar 38,7%, jumlah terbesar di Asia Tenggara. Sektor strategis yang menjadi kekuatan baru ekonomi digital antara lain agritech, fintech, edutech, dan healthtech.
Akselerasi agritech tercermin dari perkembangan Tanihub, salah satu startupagritech terkemuka di Indonesia. Perkembangan Fintech juga semakin cepat. Total penyaluran pinjaman peer-to-peer (P2P) per Maret 2020 tercatat sebesar US$ 7 miliar.
Pemerintah Resmikan NFC Milik Tanihub
Nicko juga membagikan informasi terkait Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo yang meresmikan National Fulfillment Center (NFC) milik TaniHub pada 21 April 2021. NFC merupakan bagian dari upaya TaniHub Group membangun infrastruktur rantai pasok pertanian yang komprehensif untuk menunjang permintaan pasar nasional hingga global.
Syahrul mengungkapkan upaya yang dilakukan TaniHub adalah bukti bahwa pertanian bisa berkembang di tangan para generasi milenial, dengan sentuhan teknologi yang tepat dan semangat generasi muda pertanian bisa lebih maju, mandiri, dan modern.
“Saya kira apa yang diperlihatkan TaniHub kali ini bisa menjadi role model bagi para anak muda agar lebih berperan dan memberi energi untuk pertanian kita, yang dilakukan TaniHub ini bukan hanya sebatas membuka akses pasar bagi petani dengan mempermudah komoditas pertanian agar bisa langsung dinikmati oleh masyarakat secara luas, tetapi juga bagian dari upaya membuka lapangan pekerjaan di bidang pertanian” kata Syahrul usai meresmikan NFC TaniHub di Cikarang, seperti dikutip dari laman resmi Kementerian Pertanian.
Syahrul mengatakan kolaborasi Kementerian Pertanian (Kementan) dengan TaniHub akan menciptakan banyak kesempatan bagi para petani untuk mengembangkan usaha taninya. Syahrul mengungkapkan pihaknya akan mendukung penuh upaya yang dilakukan TaniHub dalam membangun ekosistem yang lebih baik di sektor pertanian.
TaniHub Dapat Pendanaan dari Berbagai Investor
Nicko juga membagikan tangkapan layar dari berita yang dipublikasi oleh AFN pada 1 April 2020. Berita itu menunjukan pendanaan yang didapatkan TaniHub berasal dari berbagai investor.
TaniHub dilaporkan berhasil memperoleh pendanaan Seri A+ senilai US$ 17 juta, melanjutkan putaran pendanaan Seri A sebesar US$ 10 juta yang diraih pada Mei 2019.
Putaran pendanaan terbaru ini dipimpin bersama oleh Intudo Ventures dari Indonesia dan Openspace Ventures yang berbasis di Singapura. Keduanya juga berpartisipasi dalam pendanaan Seri A sebelumnya.
Investor lain yang ikut serta dalam pendanaan Seri A+ ini antara lain UOB Venture Management (unit modal ventura milik bank Singapura UOB), Vertex Ventures milik Temasek, BRI Ventures, Golden Gate Ventures, dan Tenaya Capital.
Sejak diluncurkan pada pertengahan 2016, startup ini telah mengamankan total pendanaan ekuitas sebesar US$ 29 juta. TaniHub mengoperasikan dua layanan yang saling melengkapi bagi petani Indonesia, yaitu marketplace agribisnis TaniHub dan platform pembiayaan peer-to-peer lending TaniFund.
Perusahaan mengklaim lebih dari 30 ribu petani kecil telah bergabung ke dalam ekosistemnya hanya dalam satu tahun terakhir.
Dituntut 12 Tahun di Kasus TaniHub, Aldi Adrian Ungkap Dampaknya bagi Keluarga
Selama sembilan bulan ditahan, Aldi Adrian mengaku belum pernah melihat wajah dan memeluk putrinya yang berusia 2 tahun. [769] url asal
#aldi-adrian #tanihub #mdi-ventures #investasi #startup #give-me-perspective
Terdakwa dalam perkara dugaan korupsi investasi MDI Ventures kepada startup TaniHub, Aldi Adrian Hartanto, mengungkapkan beratnya dampak yang dirasakan keluarganya selama dirinya menjalani proses hukum. Aldi merupakan salah satu dari enam terdakwa termasuk mantan Direktur Utama PT Metra Digital Investama (MDI) Ventures Donald Surjana Wihardja dan PT BRI Ventura Investama (BVI) atau BRI Ventures Nicko Widjaja.
Aldi, yang merupakan eks VP of Investment MDI Ventures, dalam nota pembelaan atau pleidoi yang dibacakannya di persidangan pada Rabu (3/6) menyebut sang istri, anak, hingga ibunya menjadi pihak yang paling merasakan beban dari perkara tersebut.
Aldi mengaku sejak ditangkap pada 3 September 2025, seluruh tanggung jawab keluarga praktis berada di pundak istrinya.
“Istri saya lah yang harus menahan beban ini sendirian. Dia harus mengurus putri kecil kami yang saat itu baru berusia 1,5 tahun. Dia harus merawat ibu saya yang rentan dan adik saya yang sedang menempuh kuliah,” kata Aldi saat membacakan pembelaannya dalam persidangan tersebut.
Selama sembilan bulan ditahan, Aldi mengaku belum pernah melihat wajah dan memeluk putri kecilnya. Ia harus melakukan ini meski mengaku rindu karena atas rekomendasi psikolog anak, ia melarang istri membawa anak ke rutan.
“Saya memilih menahan kerinduan ini sampai mati, daripada membiarkan anak saya yang masih suci harus merekam memori trauma, melihat bapaknya dikurung, dituduh sebagai penjahat, dan harus berpisah di tempat yang mengerikan ini,” kata Aldi dalam pleidoinya.
Tak hanya itu, Aldi juga mengungkapkan kondisi ibunya yang pernah mengalami serangan stroke. Ia mengatakan sang ibu tidak pernah hadir di ruang persidangan dan komunikasi sengaja dibatasi untuk menghindari tekanan psikologis yang dikhawatirkan dapat memicu gangguan kesehatan kembali.
Meski begitu, ia mengaku tidak membacakan pembelaan itu untuk untuk meminta belas kasihan. Ia menyatakan hanya memohon keadilan yang hakiki.
“Saya masuk ke BUMN dengan niat beribadah, dengan tangan yang bersih, dan tidak sepeser pun mengambil hak negara. Saya hanyalah roda kecil dari sistem administrasi perusahaan,” kata Aldi dalam pleidoi yang juga dibagikan melalui akun Instagram @aldiadrians, Minggu (14/6). Akun Instagram tersebut kini dikelola oleh pihak keluarga Aldi.
Ia meminta untuk dibebaskan dari segala tuntutan yang menurutnya sudah salah alamat. Aldi menyampaikan harapannya untuk bisa bertemu kembali kepada istri, anak, dan ibunya.
“Kembalikan saya kepada istri saya yang kini sedang menangis sendirian di titik terendah hidupnya. Kembalikan saya kepada ibu saya, agar beliau bisa memaafkan dirinya dan menyadari bahwa negara ini masih memiliki keadilan. Dan, izinkanlah saya untuk pulang, untuk bisa memeluk putri kecil saya kembali,” ujar Aldi.
Hadapi Tuntutan Jaksa Penuntut Umum
Aldi, yang merupakan eks VP of Investment MDI Ventures, didakwa merugikan keuangan negara US$ 20 juta atau sekitar Rp 290,92 miliar berdasarkan audit BPKP. Jaksa menuntut Aldi dengan hukuman 12 tahun penjara.
Dalam pleidoinya, Aldi menyatakan sebagai VP of Investment, ia tidak memiliki kewenangan untuk memutuskan aksi korporasi berupa investasi ekuitas di PT Tani Nusantara Pte. Ltd, perusahaan induk dan pemegang saham pengemdali ekosistem TaniHub.
Aldi menyatakan dirinya tidak memiliki hak veto bahkan suara, apalagi kuasa untuk menyetujui, menolak, atau mencairkan dana. Ia menyatakan, tugasnya hanya menyiapkan draft dan memproses dokumen yang dikerjakan bersama dalam sebuah tim lintas fungsi yang solid.
“Kami secara kolektif menyajikan data sesuai informasi atau data yang tersedia pada saat itu. Sekali lagi Yang Mulia, saya hanya menjalankan tugas administratif korporasi, bukan pengambil keputusan,” kata Aldi saat menyampaikan pembelaan pada persidangan, Rabu (3/6).
Dalam pleidoinya, Aldi juga menegaskan tidak terdapat penambahan aset yang tidak wajar atas nama dirinya maupun keluarganya selama periode yang dipersoalkan dalam perkara tersebut.
“Koruptor macam apa yang dituduh mengendalikan dana ratusan miliar, tetapi untuk punya rumah pun saya dan keluarga harus hidup berpindah-pindah kontrakan sejak 2005?” ujarnya.
Aldi mengaku baru pada 2018 memberanikan diri mengambil KPR rumah tua dan bobrok di pinggiran Jakarta. Ia membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menabung dan sekadar merenovasi rumah itu menjadi layak huni pada 2021.
“KPR tersebut, Yang Mulia, masih menjadi beban utang yang mencekik saya hingga detik ini. Bahkan ketika saya menikah pada 2021 di tengah pandemi, sejujurnya, itu adalah cara paling masuk akal bagi saya untuk menekan biaya karena tabungan saya tidak seberapa,” tulis Aldi.
Dalam perkara dugaan ini, Jaksa Penuntut Umum atau JPU menilai terdapat permasalahan dalam proses investasi yang dilakukan BRI Ventures kepada TaniHub. Dalam tuntutannya pada 21 Mei 2026, jaksa meminta majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara 12 tahun kepada Aldi serta denda Rp 1 miliar subsider 190 hari penjara.
Jaksa juga menyatakan Aldi dinilai bersalah melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama sebagaimana dakwaan primer.
Perkara itu, tidak hanya menyangkut investasi pada startup seperti TaniHub, tetapi juga menyentuh isu yang lebih luas mengenai penerapan prinsip Business Judgment Rule, tata kelola investasi modal ventura, serta batas pertanggungjawaban profesional dalam pengambilan keputusan bisnis berisiko tinggi.
Aurora Ventures Siapkan Pendanaan untuk Startup Perempuan
Founder perempuan masih menghadapi kesenjangan dalam memperoleh investasi. [403] url asal
#aurora-ventures #founder-perempuan #startup-perempuan #pendanaan-startup #investasi-startup #venture-capital #women-founder #emerging-markets #akses-modal #startup-teknologi #ekosistem-startup #invest
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekosistem startup di negara berkembang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, akses pendanaan bagi founder perempuan masih menjadi tantangan, meski banyak startup yang dipimpin perempuan menunjukkan pertumbuhan bisnis yang kompetitif.
Sejumlah studi menunjukkan founder perempuan masih menghadapi kesenjangan dalam memperoleh investasi tahap awal dibandingkan founder laki-laki. Tantangan tersebut mencakup keterbatasan akses jaringan investor hingga keraguan terhadap kapasitas kepemimpinan perempuan dalam membangun bisnis berskala besar.
Kondisi itu mendorong lahirnya berbagai inisiatif yang berfokus pada peningkatan akses pendanaan bagi startup yang dipimpin perempuan. Salah satunya melalui peluncuran Aurora Ventures, program investasi tahap awal yang menyasar founder perempuan di negara berkembang.
Program yang didukung inDrive tersebut diluncurkan setelah penyelenggaraan Aurora Tech Award 2026 di Santiago, Chile. Ajang itu mencatat lebih dari 3.400 pendaftar dari berbagai negara dan menghadirkan sejumlah founder perempuan dari Amerika Latin, Afrika, hingga Timur Tengah sebagai finalis.
Aurora Ventures dibentuk berdasarkan temuan selama lima tahun penyelenggaraan Aurora Tech Award yang menunjukkan masih adanya kesenjangan akses pendanaan bagi founder perempuan, khususnya di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, Afrika, serta Amerika Latin.
Riset Aurora yang melibatkan lebih dari 900 founder dari 127 negara juga menemukan bahwa banyak founder perempuan masih menghadapi fenomena yang disebut competence scepticism atau keraguan terhadap kemampuan mereka, serta tuntutan pencapaian bisnis yang lebih tinggi dibandingkan founder laki-laki.
Melalui program tersebut, startup yang terpilih akan memperoleh investasi tahap awal senilai 180 ribu dolar AS hingga 250 ribu dolar AS. Selain pendanaan, peserta juga mendapatkan akses mentoring, jaringan investor, dan dukungan operasional untuk membantu pengembangan bisnis menuju tahap pendanaan berikutnya.
Country Manager inDrive Indonesia, Rio Aristo, mengatakan dukungan terhadap program tersebut dilatarbelakangi masih terbatasnya akses pendanaan yang diterima founder perempuan di sejumlah negara berkembang.
“inDrive lahir dan berkembang dengan menghadapi berbagai tantangan besar di industri. Kami melihat semangat yang sama juga dimiliki oleh banyak founder perempuan di emerging markets saat ini. Karena itu, dukungan terhadap Aurora Ventures bukan hanya soal inisiatif sosial, tetapi juga tentang membuka peluang besar yang selama ini kurang mendapatkan perhatian,” ujar Rio, Senin (8/6/2026).
Program percontohan Aurora Ventures 2026 akan difokuskan untuk membangun portofolio awal sekaligus memperkuat fondasi pembentukan skema pendanaan venture capital yang lebih besar pada masa mendatang.
Di tengah meningkatnya jumlah startup di negara berkembang, isu kesetaraan akses pendanaan diperkirakan akan menjadi perhatian yang semakin penting. Pelaku industri menilai keberagaman pendiri perusahaan dapat memperluas inovasi dan menciptakan peluang ekonomi yang lebih inklusif di berbagai sektor.
Grab Bantah Rumor Akan Tinggalkan Indonesia, Tegaskan Komitmen Jangka Panjang
Grab Indonesia membantah kabar yang beredar mengenai rencana perusahaan untuk menghentikan operasinya atau keluar dari Indonesia. [261] url asal
#grab-indonesia #grab #startup #ekonomi-digital #ekonomi-indonesia #aplikasi-transportasi-daring
Jakarta: Grab Indonesia membantah kabar yang beredar mengenai rencana perusahaan untuk menghentikan operasinya atau keluar dari Indonesia. Perusahaan menegaskan informasi tersebut tidak benar dan tidak memiliki dasar yang valid.CEO Grab Indonesia Neneng Goenadi menyatakan Grab tetap berkomitmen menjalankan bisnisnya di Indonesia serta terus mendukung pengembangan ekonomi digital nasional. Menurutnya, perusahaan juga akan terus menghormati berbagai kebijakan dan arahan yang ditetapkan pemerintah.
Ia menegaskan Indonesia merupakan salah satu pasar dan ekosistem yang sangat penting bagi Grab. Selama lebih dari satu dekade beroperasi di Tanah Air, Grab terus berupaya tumbuh bersama masyarakat dan mengambil peran aktif dalam mendukung aktivitas ekonomi di berbagai daerah.
“Indonesia merupakan ekosistem penting bagi Grab, kami telah hadir untuk Indonesia selama lebih dari 10 tahun dan kami berkomitmen untuk terus bertumbuh dan mengambil peran aktif dalam mendukung kehidupan masyarakat Indonesia,” ujar Neneng dalam pernyataan resmi, dikutip Kamis, 4 Juni 2026.
Perusahaan menyebut kontribusinya tidak hanya melalui layanan transportasi dan pengantaran daring, tetapi juga lewat berbagai program pemberdayaan ekonomi. Grab mengklaim berkontribusi terhadap sekitar 50 persen industri ride-hailing dan layanan pengantaran online di Indonesia.
Selain itu, Grab menyatakan telah membantu menciptakan sekitar 4,6 juta peluang kerja melalui digitalisasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Perusahaan juga menjalankan berbagai program dukungan bagi mitra pengemudi melalui inisiatif Grab untuk Indonesia dengan nilai manfaat yang disebut telah melampaui Rp100 miliar.
Grab menegaskan akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah, mitra pengemudi, pelaku UMKM, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya. Bagi perusahaan, Indonesia bukan hanya pasar bisnis, melainkan rumah tempat Grab tumbuh dan berkembang bersama jutaan masyarakat yang menjadi bagian dari ekosistemnya.
(SAW)
Google Buka Program Accelerator AI, Startup RI Bisa Masuk Radar Investor Dunia
Google membuka program akselerator untuk membantu startup Indonesia mengembangkan produk AI hingga bertemu investor global. [719] url asal
Google Cloud membuka peluang bagi startup Indonesia untuk mengakses teknologi AI generasi terbaru sekaligus memperluas jaringan bisnis hingga ke level global melalui program Google for Startups Accelerator: Southeast Asia.
Program itu merupakan inisiatif lintas-negara terbaru yang dirancang untuk membantu para pendiri startup mengembangkan dan mengomersialisasikan produk AI agentik yang dikembangkan.
Melalui program tersebut, startup yang memenuhi syarat akan memperoleh akses ke teknologi full-stack AI Google Cloud, termasuk Tensor Processing Units (TPUs), Agentic Data Cloud, Gemini Enterprise Agent Platform, dan Google Antigravity, serta dukungan hingga US$ 350 ribu dalam bentuk cloud credits melalui Google for Startups Cloud Program untuk pelatihan end-to-end, fine-tuning, dan serving agen AI yang aman dan grounded.
Para startup juga bakal mendapatkan akses awal atau first-mover advantage ke model AI terbaru Google, termasuk Gemini 3.5, serta berbagai agentic enterprise tools melalui program Trusted Tester dan Early Access.
Akses tersebut memungkinkan startup mulai mengembangkan solusi berbasis AI sebelum model dan tools tersebut tersedia secara luas di pasar.
Dalam program ini, startup peserta juga akan memperoleh peningkatan kemampuan teknis melalui bootcamp yang digelar di Google Developer Space, Garuda Spark Innovation Hub (GSIH), fasilitas NIC, dan kantor pusat SIHUB.
Para founder dan tim startup akan dibekali kemampuan lanjutan di bidang agentic coding, AI context engineering, large language model operations (LLMOps), hingga orkestrasi sistem multi-agent.
Selain pelatihan, startup peserta akan mengikuti product development sprint dan architectural review bersama technical lead dari pusat engineering Google Cloud dan laboratorium riset AI Google DeepMind di Singapura, dengan dukungan wawasan dari tim AI global Google.
Google Cloud juga menyiapkan dukungan ekosistem lintas fungsi bagi startup peserta. Dukungan tersebut mencakup mentorship dari tim produk Android, Google Ads, Google Pay, dan Google Play.
Startup juga dapat memanfaatkan jaringan mitra Google yang terdiri dari modal ventura, konglomerasi, unicorn, dan konsultan spesialis untuk membantu menghadapi tantangan bisnis, mulai dari pengelolaan kekayaan intelektual hingga akuisisi talenta dan growth marketing.
Tak hanya itu, startup peserta akan memperoleh kesempatan mempresentasikan produk mereka kepada investor modal ventura, angel investor, dan pelanggan enterprise dalam demo day serta startup summit yang diselenggarakan Google di Singapura.
Head of Developer Ecosystems Asia Pacific Google Cloud, Sami Kizilbash, mengatakan Google for Startups Accelerator: Southeast Asia akan mendukung startup AI tahap Seed hingga Series B dari berbagai industri di enam negara.
Sejak 2018, program akselerator tersebut telah membantu lebih dari 200 startup tahap awal di Asia Tenggara membangun produk baru, memperoleh pendanaan senilai US$6,6 miliar, serta menciptakan lebih dari 11.300 lapangan kerja.
Program itu dijalankan bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) Indonesia, EnterpriseSG, serta NIC dan SIHUB yang akan memberikan dukungan tambahan yang disesuaikan bagi startup dari Indonesia, Singapura, dan Vietnam.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan, penguatan ekosistem AI menjadi langkah penting dalam mempercepat transformasi digital Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
“Sebagai salah satu ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara, Indonesia terus mendorong pengembangan dan adopsi solusi AI yang memberikan dampak nyata di berbagai sektor strategis, termasuk pendidikan, ketahanan pangan, dan kesehatan,” kata Edwin dalam keterangan pers, Rabu (3/6).
Ia mengatakan dukungan berkelanjutan dari Google Cloud dalam pengembangan kapasitas, akses terhadap teknologi frontier, dan pengembangan ekosistem diharapkan dapat mendorong semakin banyak founder Indonesia membangun dan mengembangkan inovasi digital yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat di seluruh Indonesia.
Country Director Google Indonesia Veronica Utami menambahkan, program Google for Startups telah menunjukkan dampak nyata dalam membantu startup Indonesia meningkatkan kapabilitas AI engineering.
Menurut dia, peningkatan kemampuan tersebut membantu startup mengembangkan solusi yang relevan dan berdampak bagi masyarakat.
Veronica mencontohkan tutor AI adaptif milik Analitica yang telah membantu lebih dari 200.000 pelajar. Selain itu, terdapat agen AI agronomi DayaTani yang memberikan panduan real-time kepada petani untuk mengoptimalkan hasil panen.
Ia juga menyinggung solusi rekomendasi diagnosis dan transkripsi konsultasi berbasis AI dari Nexmedis yang membantu dokter memberikan layanan kesehatan lebih cepat dan mendalam bagi pasien di wilayah terpencil.
“Kolaborasi kami dengan Komdigi dalam koridor inovasi ini akan menghubungkan lebih banyak founder lokal dengan sumber daya kelas dunia dan pusat teknologi global, sehingga mereka dapat membangun, memiliki, dan mengembangkan solusi yang mendukung prioritas nasional serta menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia yang beragam,” ujar Veronica.
Pendaftaran program telah dibuka untuk 25 startup pertama yang akan mengikuti Google for Startups Accelerator: Southeast Asia selama tiga bulan tanpa pengambilan ekuitas atau equity-free. Program ini dijadwalkan dimulai pada Agustus.
Berikan Pendanaan ke 72 Tim Siswa, Ini Cara East Ventures Dorong Ekosistem Startup Muda di Singapura
Program “My First $1000” memberikan pandanaan kepada 72 tim siswa. Program yang diinisiasi oleh East Ventures ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem startup di Singapura dengan menumbuhka [608] url asal
#singapura #siswa #startup #ekosistem-startup #kewirausahaan #ekonomi-indonesia #ekonomi-global
Singapora: Program “My First $1000” memberikan pandanaan kepada 72 tim siswa. Program yang diinisiasi oleh East Ventures ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem startup di Singapura dengan menumbuhkan budaya kewirausahaan sejak usia sekolah.Program yang dimulai pada Februari 2026 tersebut resmi mencapai puncaknya melalui Showcase Day yang digelar pada 30 Mei 2026 di SCAPE, Singapura. Kegiatan ini menutup rangkaian delapan minggu pembelajaran kewirausahaan yang dirancang untuk mendorong pelajar membangun dan menjalankan ide bisnis secara langsung, dengan penekanan pada integritas, rasa kepemilikan, serta akuntabilitas.
Acara Showcase Day mempertemukan para peserta terpilih untuk memamerkan produk dan model bisnis mereka melalui pameran stan, gallery walk, hingga sesi presentasi di depan publik..
Dalam sesi penutupan, sejumlah penghargaan diberikan kepada tim peserta yang menunjukkan capaian terbaik di berbagai kategori. Selain itu, peserta juga menerima pencairan hibah padanan (matching grants) sebagai bentuk dukungan pengembangan usaha mereka.
Beragam kategori penghargaan diberikan, mulai dari tim dengan pendapatan tertinggi hingga inovasi paling inspiratif. Di antaranya, Drummer Dreammaker meraih penghargaan pendapatan tertinggi berkat layanan kursus drum dan penyewaan ruang latihan yang mereka kembangkan. Sementara itu, Brandy Club dinobatkan sebagai The Carousell Hustler Award atas performa penjualan tertinggi di platform Carousell melalui produk fesyen kurasi.
Kategori The Apprentice Award diberikan kepada Sweet Gains yang mengembangkan produk dessert tinggi protein sekaligus aktif memanfaatkan bimbingan mentor. Penghargaan The Booth Champion diraih Bucha Scoops yang konsisten menjalankan penjualan sorbet kombucha selama empat hari pameran.
Di sisi lain, Brewed By Davine menerima The Influencer Award berkat keberhasilan membangun komunitas digital dengan lebih dari 3.500 pengikut melalui strategi media sosial yang kuat.
Adapun 3Ds, tim yang fokus pada layanan pencetakan 3D dan penjualan kembali suku cadang komputer, meraih The Budding Star Award, dengan salah satu anggotanya masih berusia 13 tahun.
Untuk kategori keberlanjutan, Revive Tech dianugerahi The Eco Champion atas kontribusinya dalam layanan perbaikan dan penjualan laptop rekondisi guna mengurangi limbah elektronik.
Sementara itu, Kampong Keepsakes mendapatkan The Grit Award setelah menunjukkan ketangguhan dengan melakukan pivot produk dalam waktu singkat setelah eksperimen awal tidak berhasil. Penghargaan pilihan audiens (Audience Choice Award) jatuh kepada BloomBallSG yang bergerak di bidang dekorasi dan rangkaian balon.
Co-Founder and Managing Partner East Ventures, Willson Cuaca, mengatakan program ini dirancang sebagai ruang belajar langsung bagi generasi muda untuk memahami dunia kewirausahaan secara praktis. Ia menilai, seluruh peserta telah berhasil keluar dari zona nyaman mereka dan mengalami langsung proses membangun bisnis, mulai dari pengambilan risiko hingga eksekusi ide di lapangan.
“Program My First $1000 dibangun atas keyakinan bahwa cara terbaik belajar entrepreneurship adalah dengan praktik langsung. Para siswa telah menunjukkan keberanian untuk mencoba, gagal, dan mencoba lagi. Ini menjadi bukti bahwa Singapura memiliki fondasi kuat untuk melahirkan generasi entrepreneur masa depan,” ujar Willson.
Salah satu peserta, Avin Taishiran Teo dari tim Wuna, mengungkapkan pengalaman mengikuti program ini memberikan pelajaran penting tentang proses iterasi dalam bisnis. Wuna mengembangkan perangkat wearable yang dirancang untuk membantu meredakan nyeri menstruasi. Menurut Avin, pengalaman menjual produk pertama kepada mentor memberikan kepercayaan diri untuk terus mengembangkan ide tersebut ke tahap berikutnya.
Sementara itu, mentor Wuna, Ee Ling Lim, menilai para entrepreneur muda memiliki keunggulan dalam hal ketahanan dan keberanian untuk bereksperimen. Ia menyebut, para siswa tidak terbebani oleh ego kegagalan seperti yang sering terjadi pada pendiri bisnis yang lebih berpengalaman, sehingga lebih cepat beradaptasi terhadap feedback dan perubahan arah bisnis.
Program ini juga mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, termasuk Temasek Foundation, Golden Agri-Resources, Enterprise Singapore, JTC Corporation, ACE.SG, DBS PayLah!, Carousell, hingga berbagai institusi pendidikan dan komunitas startup di Singapura.
Melalui program ini, East Ventures berharap ekosistem kewirausahaan di Singapura dapat terus berkembang, sekaligus melahirkan generasi baru pendiri startup yang lebih adaptif, kreatif, dan berani mengambil risiko sejak usia muda.
(SAW)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56