Kemarau Mengintai, Pasokan Air Irigasi untuk Musim Tanam 2026 Dipastikan Aman
Keberadaan D.I. Jatiluhur memiliki kontribusi yang sangat strategis terhadap keberlanjutan produksi pangan nasional.
(Kompas.com) 25/06/26 14:49 259580
JAKARTA, KOMPAS.com - Ancaman musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026, hal itu berdasarkan pemutakhiran prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Juni 2026.
Merespon ancaman tersebut, Perum Jasa Tirta II (PJT II) memastikan pasokan airirigasi tetap aman untuk mendukung musim tanam (MT) II 2026. Saat ini perusahaan tengah memperkuat langkah koordinatif dan antisipatif, khususnya memenuhi kebutuhan air irigasi.
Direktur Utama Perum Jasa Tirta II, Imam Santoso, menyebut pada Mei 2026, realisasi penyediaan air irigasi di D.I. Jatiluhur mencapai 231,33 meter kubik per detik, melampaui rencana penyediaan (alokasi) sebesar 185,52 meter kubik per detik.
Dari total realisasi tersebut, PJT II menyuplai 177,35 meter kubik per detik. Pasokan itu dihitung untuk melayani Saluran Tarum Barat, Saluran Tarum Utara, Saluran Tarum Timur, serta Sungai Cikao.
Dengan dukungan distribusi air PJT II, progres aktivitas tanam MT II 2026 hingga Mei 2026 mencapai hampir 30 persen dari target seluas 211.541,90 hektare. Adapun untuk D.I. Selatan Jatiluhur, aktivitas tanam telah mencapai 93 persen dari target seluas 28.099 hektare.
“Ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari ketahanan air. Karena itu, PJT II terus melakukan langkah antisipatif dan pengelolaan yang terukur agar kebutuhan air irigasi tetap terpenuhi sehingga aktivitas pertanian dapat berjalan secara optimal,” ujar Imam lewat keterangan pers, Kamis (25/6/2026).
Sebagai BUMN pengelola sumber daya air, setiap dua pekan, PJT II menggelar pembahasan bersama Tim Koordinasi Operasi Sumber Daya Air (TKOSDA) yang melibatkan Unit Wilayah I, Unit Wilayah II, Unit Wilayah III, Unit Wilayah IV, serta Unit PLTA.
Keterlibatan seluruh unit wilayah tersebut mencerminkan cakupan layanan D.I. Jatiluhur yang mengairi kawasan pertanian di dataran rendah pantai utara Jawa Barat, meliputi Kabupaten Purwakarta, Karawang, Bekasi, Subang, hingga Indramayu.
Sebagai salah satu sistem irigasi terbesar di Indonesia, D.I. Jatiluhur memiliki peran strategis mendukung program swasembada pangan nasional dan menjadi urat nadi produksi pangan yang memberikan manfaat bagi kesejahteraan masyarakat.
Menurut Imam, pembahasan rutin bersama TKOSDA menjadi instrumen penting untuk memastikan operasi sumber daya air berjalan adaptif terhadap dinamika iklim dan kebutuhan di lapangan.
“Kami mengedepankan pengelolaan yang terkendali dan berbasis koordinasi. Langkah ini penting untuk mengantisipasi potensi kemarau panjang sekaligus memastikan petani tetap memperoleh pasokan air yang cukup untuk mendukung produktivitas lahan pertanian,” paparnya.
Ia menambahkan, keberadaan D.I. Jatiluhur memiliki kontribusi yang sangat strategis terhadap keberlanjutan produksi pangan nasional.
“D.I. Jatiluhur bukan sekadar sistem irigasi, tetapi merupakan salah satu tulang punggung ketahanan pangan nasional. Oleh karena itu, kami berkomitmen menjaga keandalan pasokan air agar dapat terus mendukung pencapaian swasembada pangan dan kesejahteraan masyarakat,” lanjut dia.
Imam memastikan penguatan ketahanan air merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya mewujudkan Asta Cita pemerintah, khususnya memperkuat ketahanan pangan nasional.
“PJT II akan terus memastikan pengelolaan sumber daya air dilakukan secara berkelanjutan, adaptif, dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Dengan ketahanan air yang kuat, stabilitas produksi pangan nasional dapat terus terjaga,” katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang