Mengapa Belanja Impulsif Sulit Dihindari? Ini Penjelasan Penelitian
Di era digital, impulse buying semakin mudah terjadi. Belanja kini hanya membutuhkan beberapa sentuhan jari melalui aplikasi e-commerce atau medsos.
(Kompas.com) 25/06/26 16:16 259704
JAKARTA, KOMPAS.com – Pernah membeli barang hanya karena melihat diskon besar, flash sale, atau rekomendasi yang muncul di media sosial? Jika ya, Anda tidak sendiri.
Perilaku tersebut dikenal sebagai impulse buying atau belanja impulsif, yakni keputusan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan sebelumnya.
Di era digital, impulse buying semakin mudah terjadi. Belanja kini hanya membutuhkan beberapa sentuhan jari melalui aplikasi e-commerce atau media sosial.
Dok. Freepik Ilustrasi belanja online promo tanggal kembar.Berbagai fitur seperti notifikasi promo, flash sale, rekomendasi produk yang dipersonalisasi, hingga metode pembayaran yang semakin praktis membuat konsumen dapat bertransaksi dalam hitungan detik.
Meski sering dianggap sebagai hal yang wajar, kebiasaan membeli secara impulsif dapat menimbulkan berbagai konsekuensi finansial maupun psikologis jika dilakukan berulang kali.
Apa itu impulse buying?
Impulse buying didefinisikan sebagai pembelian yang terjadi secara spontan, tidak direncanakan sebelumnya, dan umumnya dipicu oleh dorongan emosional yang kuat.
Dalam proses ini, konsumen cenderung mengambil keputusan secara cepat tanpa mempertimbangkan secara matang manfaat, kebutuhan, maupun dampak keuangan dari pembelian tersebut.
Kajian ilmiah berjudul Impulse Buying: A Literature Review yang dipublikasikan dalam jurnal Frontiers inPsychology menjelaskan, impulse buying merupakan perilaku konsumsi yang terjadi ketika seseorang mengalami dorongan mendadak untuk membeli sesuatu dan kesulitan menahan keinginan tersebut.
Dorongan itu sering kali muncul akibat rangsangan eksternal seperti promosi, tampilan produk, suasana belanja, maupun faktor internal seperti suasana hati dan emosi.
PEXELS/COTTONBRO STUDIO Ilustras belanja, belanja pakaian di mal.Penelitian tersebut juga menunjukkan impulse buying berbeda dengan pembelian yang direncanakan.
Pada pembelian terencana, konsumen umumnya melakukan pencarian informasi, membandingkan alternatif, serta mempertimbangkan kebutuhan dan kemampuan keuangan sebelum mengambil keputusan.
Sebaliknya, pembelian impulsif lebih banyak dipengaruhi oleh emosi dibandingkan pertimbangan rasional.
Media sosial memicu belanja spontan
Fenomena impulse buying semakin menguat seiring meningkatnya penggunaan media sosial dan platform digital.
Penelitian bertajuk The Relationship Between Social Media Addiction and Impulse Buying Behavior: The Mediating Role of Self-Control and Moderating Role of Consumption Culture yang dipublikasikan dalam jurnal Computers in Human Behavior pada 2023 menemukan, kecanduan media sosial memiliki hubungan positif dengan perilaku impulse buying.
Semakin tinggi tingkat keterikatan seseorang terhadap media sosial, semakin besar pula kecenderungannya melakukan pembelian impulsif.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga telah berkembang menjadi ruang pemasaran yang sangat efektif.
Pengguna terus-menerus terpapar iklan, konten promosi, ulasan produk, hingga rekomendasi influencer yang dapat memicu keinginan membeli secara spontan.
Dalam penelitian itu dijelaskan, individu yang memiliki tingkat kecanduan media sosial lebih tinggi cenderung mengalami penurunan kontrol diri ketika berhadapan dengan berbagai stimulus pemasaran yang muncul di platform digital.
Kondisi tersebut membuat pengguna lebih mudah terdorong melakukan pembelian tanpa perencanaan sebelumnya, terutama ketika produk yang ditawarkan dianggap menarik, sedang tren, atau tersedia dalam waktu terbatas.
Dok. Unsplash/charlesdeluvio Ilustrasi belanja.Peran emosi dalam keputusan belanja
Salah satu faktor utama yang mendorong impulse buying adalah emosi.
Banyak orang menggunakan aktivitas belanja sebagai cara untuk memperbaiki suasana hati ketika sedang merasa stres, sedih, bosan, atau lelah.
Aktivitas membeli barang dapat memberikan sensasi menyenangkan dan kepuasan instan yang membuat seseorang merasa lebih baik dalam jangka pendek.
Namun, efek tersebut sering kali bersifat sementara.
Kajian dalam Frontiers in Psychology menemukan kondisi emosional memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan seseorang melakukan pembelian impulsif. Ketika individu berada dalam kondisi emosional tertentu, kemampuan untuk berpikir rasional dan mengevaluasi kebutuhan dapat menurun.
Akibatnya, keputusan pembelian lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan sesaat dibandingkan pertimbangan logis.
Penelitian tersebut juga menunjukkan, karakteristik individu seperti tingkat pengendalian diri turut memengaruhi kemungkinan seseorang melakukan impulse buying.
Individu dengan kontrol diri yang lebih rendah cenderung lebih rentan terhadap perilaku pembelian spontan.
Strategi platform digital mendorong konsumsi
Perkembangan teknologi digital turut menciptakan lingkungan yang semakin mendukung perilaku impulse buying.
Platform e-commerce dan media sosial memanfaatkan berbagai strategi untuk mempercepat proses pengambilan keputusan konsumen. Mulai dari notifikasi diskon, hitung mundur flash sale, stok terbatas, hingga rekomendasi produk yang disesuaikan dengan preferensi pengguna.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Computers in Human Behavior menemukan, paparan berulang terhadap konten komersial di media sosial dapat memperkuat dorongan untuk membeli secara impulsif.
Dok. Shutterstock Ilustrasi belanja onlineKehadiran fitur belanja langsung di media sosial juga memperpendek proses antara melihat produk dan melakukan transaksi.
Konsumen tidak perlu lagi berpindah platform atau melakukan pencarian tambahan untuk menyelesaikan pembelian.
Dengan semakin sedikit hambatan dalam proses transaksi, keputusan pembelian menjadi lebih cepat dan sering kali kurang mempertimbangkan kebutuhan sebenarnya.
Dampak terhadap kondisi keuangan
Meskipun satu kali pembelian impulsif mungkin tidak memberikan dampak besar, kebiasaan tersebut dapat menjadi masalah ketika terjadi secara berulang.
Impulse buying berpotensi mengganggu perencanaan keuangan karena pengeluaran dilakukan tanpa alokasi anggaran yang jelas.
Uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan prioritas, tabungan, atau investasi dapat habis untuk pembelian yang sebenarnya tidak diperlukan.
Kajian dalam Frontiers in Psychology mencatat, perilaku impulse buying yang berlebihan dapat berkaitan dengan berbagai masalah keuangan, termasuk kesulitan mengelola pengeluaran dan meningkatnya risiko tekanan finansial.
Dalam beberapa kasus, kebiasaan membeli secara impulsif juga dapat menimbulkan penyesalan setelah transaksi selesai dilakukan.
Konsumen menyadari barang yang dibeli tidak benar-benar dibutuhkan atau tidak memberikan manfaat yang sebanding dengan uang yang telah dikeluarkan.
Penyesalan tersebut kemudian dapat memicu stres dan ketidakpuasan terhadap kondisi keuangan pribadi.
Dari kebiasaan menjadi masalah serius
Dok. Freepik/rawpixel.com Ilustrasi belanja online di e-commerce.Penelitian ilmiah menunjukkan, impulse buying yang tidak terkendali berpotensi berkembang menjadi perilaku pembelian kompulsif.
Perilaku ini ditandai dengan dorongan yang terus-menerus untuk berbelanja meskipun individu menyadari konsekuensi negatif yang ditimbulkan terhadap kondisi keuangan maupun kehidupan pribadinya.
Kajian yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology menjelaskan, pembelian kompulsif memiliki keterkaitan dengan faktor psikologis seperti stres, kecemasan, serta kesulitan dalam mengendalikan emosi.
Dalam kondisi tertentu, individu menggunakan aktivitas belanja sebagai mekanisme pelarian dari masalah atau tekanan yang sedang dihadapi.
Akibatnya, siklus belanja terus berulang. Setelah membeli barang, seseorang mungkin merasa puas untuk sementara waktu.
Namun, ketika perasaan tersebut menghilang, dorongan untuk berbelanja kembali muncul sehingga menciptakan pola konsumsi yang sulit dihentikan.
Mengapa sulit menolak godaan?
Salah satu alasan impulse buying sulit dihindari adalah karena keputusan pembelian sering kali terjadi dalam waktu yang sangat singkat.
Penelitian menunjukkan, ketika konsumen menghadapi rangsangan yang menarik, seperti diskon besar atau promosi waktu terbatas, fokus cenderung tertuju pada manfaat jangka pendek yang akan diperoleh.
Sebaliknya, konsekuensi jangka panjang seperti berkurangnya tabungan atau terganggunya anggaran rumah tangga sering kali kurang diperhatikan.
Lingkungan digital juga memperkuat kondisi tersebut. Berbagai platform dirancang agar pengguna dapat bertransaksi dengan cepat dan mudah.
Semakin sedikit hambatan dalam proses pembelian, semakin besar kemungkinan seseorang bertindak berdasarkan dorongan sesaat.
Penelitian dalam Computers in Human Behavior menegaskan, kombinasi antara kecanduan media sosial dan rendahnya kontrol diri dapat meningkatkan risiko impulse buying secara signifikan.
Karena itu, paparan yang terus-menerus terhadap konten promosi dan iklan digital menjadi faktor yang perlu diperhatikan oleh konsumen dalam mengelola perilaku belanja mereka.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#belanja #belanja-impulsif #e-commerce #indepth #impulse-buying #apa-itu-impulse-buying