Inflasi AS Capai Level Tertinggi Sejak 2023, Bitcoin Sentuh Harga Terendah dalam Setahun

Inflasi AS Capai Level Tertinggi Sejak 2023, Bitcoin Sentuh Harga Terendah dalam Setahun

Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 3 persen, sedangkan Ethereum merosot lebih dari 5 persen dalam 24 jam terakhir.

(Kompas.com) 26/06/26 13:28 260596

JAKARTA, KOMPAS.com- Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (AS) atau Bureau of Economic Analysis (BEA) melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Mei 2026 naik 4,1 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2023 dan semakin menjauh dari target inflasi The Fed sebesar 2 persen.

Sementara itu, Core PCE yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi juga meningkat dari 3,3 persen menjadi 3,4 persen. Sebagian besar lonjakan inflasi dipicu kenaikan harga energi akibat konflik di Iran yang secara bertahap mulai merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Pasar pun langsung merespons data tersebut. Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 3 persen, sedangkan Ethereum merosot lebih dari 5 persen dalam 24 jam terakhir. Bahkan, Ethereum menyentuh level harga terendahnya dalam satu tahun.

Di pasar saham AS, indeks Nasdaq turun hampir 4 persen dalam sepekan, sementara S&P 500 melemah sekitar 1,73 persen. Tekanan terbesar terjadi pada saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor.

Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai data inflasi terbaru tersebut mengubah peta ekspektasi pasar secara fundamental.

“Pasar selama ini masih menggantungkan harapan pada kemungkinan pemangkasan suku bunga. Sekarang skenario itu tidak hanya ditunda, tapi digantikan dengan potensi kenaikan. Perubahan ekspektasi seperti ini yang biasanya menggerakkan pasar lebih tajam dari perubahan kebijakan itu sendiri,” ujar Fahmi, Jumat (26/6/2026).

Pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 16-17 Juni 2026, The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.

Namun, perhatian pasar justru tertuju pada perubahan arah kebijakan bank sentral tersebut. The Fed merevisi proyeksi inflasi PCE dari 2,7 persen menjadi 3,6 persen, menghapus seluruh forward guidance terkait pemangkasan suku bunga, serta menggantinya dengan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga.

Saat ini, sebanyak 9 dari 18 anggota komite memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026, dengan median proyeksi suku bunga pada akhir tahun berada di level 3,8 persen.

Bank of America bahkan memproyeksikan hingga tiga kali kenaikan suku bunga sepanjang 2026. Sementara itu, Deutsche Bank memperkirakan akan terjadi dua kali kenaikan pada September dan Desember.

Apabila skenario tersebut terealisasi, aset-aset berisiko tinggi, termasuk altcoin, berpotensi menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan yang telah terjadi saat ini.

Fahmi menyebut kuartal III-2026 sebagai momentum konvergensi yang belum pernah dihadapi pasar dalam beberapa tahun terakhir. Pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga September, tapi ketidakpastian inflasi masih terlalu tinggi untuk memberikan kepastian.

“Investor perlu siap menghadapi skenario di mana kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih dari sekali,” paparnya.

Rilis data berikutnya yang perlu dicermati adalah laporan ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) pada 2 Juli 2026. Jika pasar tenaga kerja AS terbukti masih kuat, skenario kenaikan suku bunga pada September diperkirakan akan semakin menguat dan berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap pasar saham maupun aset kripto.

Implikasi bagi investor Indonesia

Penguatan dollar AS akibat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah maupun aset-aset berisiko berbasis rupiah.

Dalam kondisi tersebut, strategi position sizing yang lebih konservatif, diversifikasi lintas aset, serta pemahaman yang mendalam terhadap fundamental masing-masing aset dinilai menjadi semakin penting.

“Kuartal ini bukan saat yang tepat untuk menambah eksposur secara agresif. Tapi bagi investor yang sudah memiliki posisi, disiplin dan diversifikasi adalah dua hal yang paling melindungi portofolio dalam kondisi seperti ini,” tukas Fahmi.

Investor dapat memantau pergerakan aset kripto dan saham AS secara real time melalui platform Reku dengan biaya transaksi sebesar 0,1 persen, yang diklaim menjadi salah satu yang paling kompetitif di antara platform investasi teregulasi di Indonesia di bawah pengawasan OJK, JFX, dan KBI.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#bitcoin #btc #harga-bitcoin #harga-bitcoin-anjlok

https://money.kompas.com/read/2026/06/26/132831326/inflasi-as-capai-level-tertinggi-sejak-2023-bitcoin-sentuh-harga-terendah