#30 tag 24jam
Inflasi AS Capai Level Tertinggi Sejak 2023, Bitcoin Sentuh Harga Terendah dalam Setahun
Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 3 persen, sedangkan Ethereum merosot lebih dari 5 persen dalam 24 jam terakhir. [625] url asal
#bitcoin #btc #harga-bitcoin #harga-bitcoin-anjlok
(Kompas.com - Money) 26/06/26 13:28
v/260596/
JAKARTA, KOMPAS.com- Biro Analisis Ekonomi Amerika Serikat (AS) atau Bureau of Economic Analysis (BEA) melaporkan indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) untuk Mei 2026 naik 4,1 persen secara tahunan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak April 2023 dan semakin menjauh dari target inflasi The Fed sebesar 2 persen.
Sementara itu, Core PCE yang tidak memasukkan komponen pangan dan energi juga meningkat dari 3,3 persen menjadi 3,4 persen. Sebagian besar lonjakan inflasi dipicu kenaikan harga energi akibat konflik di Iran yang secara bertahap mulai merambat ke berbagai sektor ekonomi.
Pasar pun langsung merespons data tersebut. Bitcoin (BTC) anjlok lebih dari 3 persen, sedangkan Ethereum merosot lebih dari 5 persen dalam 24 jam terakhir. Bahkan, Ethereum menyentuh level harga terendahnya dalam satu tahun.
Di pasar saham AS, indeks Nasdaq turun hampir 4 persen dalam sepekan, sementara S&P 500 melemah sekitar 1,73 persen. Tekanan terbesar terjadi pada saham-saham sektor teknologi dan semikonduktor.
Analis Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai data inflasi terbaru tersebut mengubah peta ekspektasi pasar secara fundamental.
“Pasar selama ini masih menggantungkan harapan pada kemungkinan pemangkasan suku bunga. Sekarang skenario itu tidak hanya ditunda, tapi digantikan dengan potensi kenaikan. Perubahan ekspektasi seperti ini yang biasanya menggerakkan pasar lebih tajam dari perubahan kebijakan itu sendiri,” ujar Fahmi, Jumat (26/6/2026).
Pada rapat Federal Open Market Committee (FOMC) 16-17 Juni 2026, The Fed di bawah kepemimpinan Ketua baru Kevin Warsh memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Namun, perhatian pasar justru tertuju pada perubahan arah kebijakan bank sentral tersebut. The Fed merevisi proyeksi inflasi PCE dari 2,7 persen menjadi 3,6 persen, menghapus seluruh forward guidance terkait pemangkasan suku bunga, serta menggantinya dengan sinyal kemungkinan kenaikan suku bunga.
Saat ini, sebanyak 9 dari 18 anggota komite memproyeksikan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026, dengan median proyeksi suku bunga pada akhir tahun berada di level 3,8 persen.
Bank of America bahkan memproyeksikan hingga tiga kali kenaikan suku bunga sepanjang 2026. Sementara itu, Deutsche Bank memperkirakan akan terjadi dua kali kenaikan pada September dan Desember.
Apabila skenario tersebut terealisasi, aset-aset berisiko tinggi, termasuk altcoin, berpotensi menghadapi tekanan yang jauh lebih besar dibandingkan yang telah terjadi saat ini.
Fahmi menyebut kuartal III-2026 sebagai momentum konvergensi yang belum pernah dihadapi pasar dalam beberapa tahun terakhir. Pasar sudah mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga September, tapi ketidakpastian inflasi masih terlalu tinggi untuk memberikan kepastian.
“Investor perlu siap menghadapi skenario di mana kenaikan suku bunga bisa terjadi lebih dari sekali,” paparnya.
Rilis data berikutnya yang perlu dicermati adalah laporan ketenagakerjaan AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) pada 2 Juli 2026. Jika pasar tenaga kerja AS terbukti masih kuat, skenario kenaikan suku bunga pada September diperkirakan akan semakin menguat dan berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap pasar saham maupun aset kripto.
Implikasi bagi investor Indonesia
Penguatan dollar AS akibat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah maupun aset-aset berisiko berbasis rupiah.
Dalam kondisi tersebut, strategi position sizing yang lebih konservatif, diversifikasi lintas aset, serta pemahaman yang mendalam terhadap fundamental masing-masing aset dinilai menjadi semakin penting.
“Kuartal ini bukan saat yang tepat untuk menambah eksposur secara agresif. Tapi bagi investor yang sudah memiliki posisi, disiplin dan diversifikasi adalah dua hal yang paling melindungi portofolio dalam kondisi seperti ini,” tukas Fahmi.
Investor dapat memantau pergerakan aset kripto dan saham AS secara real time melalui platform Reku dengan biaya transaksi sebesar 0,1 persen, yang diklaim menjadi salah satu yang paling kompetitif di antara platform investasi teregulasi di Indonesia di bawah pengawasan OJK, JFX, dan KBI.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bitcoin Melemah Usai FOMC, Investor Diminta Tetap Fokus pada Fundamental
Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran 64.000 dollar AS setelah pasar merespons hasil pertemuan FOMC. [645] url asal
#bitcoin #harga-bitcoin #harga-btc #fomc #etf-kripto
(Kompas.com - Money) 19/06/26 19:19
v/254808/
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga Bitcoin (BTC) kembali bergerak di kisaran 64.000 dollar AS setelah pasar merespons hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) terbaru yang dipimpin Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh.
Meski bank sentral Amerika Serikat (AS) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,50 persen hingga 3,75 persen, nada kebijakan yang dinilai lebih hawkish membuat pelaku pasar menyesuaikan ekspektasi terhadap peluang pelonggaran moneter dalam waktu dekat.
Chief Marketing Officer Indodax, Aloysia Dian, mengatakan koreksi harga BTC setelah FOMC merupakan hal yang lazim terjadi dalam dinamika pasar global, terutama ketika ada perubahan ekspektasi terkait kebijakan moneter.
WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin."Volatilitas seperti ini bukan sesuatu yang baru bagi pasar aset kripto. Yang terpenting adalah investor memahami bahwa pergerakan harga jangka pendek seringkali dipengaruhi sentimen makro, sehingga keputusan investasi sebaiknya tetap didasarkan pada riset dan strategi yang matang," ujar Aloysia dalam keterangan tertulis, Jumat (19/6/2026).
Arus dana ETF kripto mengalami net outflow
Sentimen pasca-FOMC juga tercermin pada pergerakan dana investor institusional.
ETF spot Bitcoin dan Ethereum di AS tercatat mengalami arus keluar bersih (net outflow) sebesar 112,8 juta dollar AS.
Menurut Aloysia, kondisi tersebut menunjukkan sebagian pelaku pasar mengambil sikap yang lebih defensif setelah pertemuan bank sentral AS tersebut.
"Setiap periode volatilitas dapat menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali tujuan investasi, profil risiko, dan strategi yang digunakan. Karena itu, kami selalu mengingatkan masyarakat untuk melakukan Do Your Own Research (DYOR), menerapkan strategi investasi berkala seperti Dollar Cost Averaging (DCA), dan menghindari keputusan yang didorong oleh fear maupun euforia pasar," kata dia.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Meski demikian, Aloysia menilai investor perlu melihat perkembangan pasar secara lebih komprehensif dan tidak terjebak pada sentimen jangka pendek.
Menurut dia, faktor fundamental seperti tingkat adopsi aset digital dan kripto, perkembangan teknologi blockchain, serta partisipasi investor jangka panjang tetap menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan.
The Fed hapus forward guidance
Selain mempertahankan suku bunga acuan, The Fed juga menghapus forward guidance, yakni panduan atau sinyal eksplisit dari bank sentral mengenai kemungkinan arah kebijakan suku bunga ke depan.
Langkah tersebut membuat pasar semakin bergantung pada data ekonomi terkini seperti inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan pertumbuhan ekonomi untuk membentuk ekspektasi kebijakan moneter selanjutnya.
Dalam kesempatan yang sama, Warsh mengumumkan pembentukan lima gugus tugas (task forces) yang akan mengkaji berbagai aspek kebijakan The Fed.
Kelima gugus tugas itu akan menelaah komunikasi bank sentral, neraca keuangan, sumber data, kerangka pengendalian inflasi, hingga produktivitas, lapangan kerja, dan dampak artificial intelligence (AI) terhadap perekonomian.
Tim tersebut akan melibatkan ahli dari dalam maupun luar The Fed untuk mengevaluasi kebijakan yang berjalan serta menyusun rekomendasi pengembangan kebijakan ke depan.
Langkah ini disebut mencerminkan upaya The Fed untuk meninjau kembali kerangka kebijakan moneternya di tengah perubahan ekonomi global dan perkembangan teknologi.
AI jadi perhatian baru The Fed
Aloysia menilai masuknya isu produktivitas dan dampak AI terhadap perekonomian menjadi salah satu aspek yang menarik untuk dicermati pelaku pasar.
"Menariknya, salah satu fokus kajian The Fed adalah produktivitas dan dampak AI terhadap ekonomi. Ini menunjukkan bahwa bank sentral mulai memperhatikan faktor-faktor struktural baru yang berpotensi membentuk pertumbuhan ekonomi di masa depan. Sehingga, pelaku pasar juga perlu melihat perkembangan ini sebagai bagian dari gambaran yang lebih besar, tak hanya bereaksi terhadap pergerakan harga harian," ujar dia.
Sebagai bursa kripto di Indonesia, Indodax mengingatkan investor untuk tetap menerapkan manajemen risiko, melakukan diversifikasi sesuai kebutuhan, berinvestasi secara rutin dengan metode DCA untuk meredam volatilitas, serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Menurut perusahaan, edukasi dan pemahaman yang kuat terhadap aset kripto menjadi fondasi penting bagi investor dalam menghadapi dinamika pasar yang terus berkembang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangSiklus Rebound Bitcoin Diramal pada 2027, Sinyal Kuat Akumulasi?
Bitcoin turun 52% dari level tertinggi 2025. Analis memprediksi fase pemulihan kripto baru berpotensi terjadi pada 2027. [1,023] url asal
#bitcoin #harga-bitcoin #bitcoin-hari-ini #bitcoin-2026 #kripto #cryptocurrency #rebound-bitcoin #prediksi-bitcoin-2027 #halving-bitcoin #siklus-bitcoin #harga-btc #bear-market-bitcoin #bitcoin-turun
(Bisnis.Com - Market) 12/06/26 17:56
v/248623/
Bisnis.com, JAKARTA – Harga Bitcoin saat ini diperdagangkan di kisaran US$61.000, terpangkas 52% dari cycle high-nya di US$126.296 yang dicapai pada Oktober 2025. Berdasarkan siklusnya, rebound harga Bitcoin diperkirakan akan terjadi pada 2027.
Secara historis, Bitcoin sering bergerak mengikuti siklus halving. Halving Bitcoin adalah mekanisme dalam jaringan Bitcoin yang secara otomatis mengurangi imbalan (reward) yang diterima penambang sebesar 50% setiap sekitar empat tahun sekali. Tujuan utama halving adalah memperlambat laju penciptaan Bitcoin baru sehingga pasokannya menjadi semakin terbatas seiring waktu.
Biasanya, harga Bitcoin cenderung mengalami kenaikan dalam 12–18 bulan setelah halving. Pasca halving periode April 2024, tren bullish Bitcoin mencapai puncaknya pada Oktober 2025, dan mulai terkoreksi hingga saat ini.
Analis Reku Andri Fauzan menjelaskan bahwa saat ini pasar sedang berada di fase markdown siklus pasca-halving 2024, dan pola historis ini dia nilai masih cukup kuat meski ada dinamika baru dari institusi.
Menurutnya, 2026 ini menjadi tahun reset yang penuh tekanan, di mana harga kemungkinan besar akan sideways atau tes ulang support di level US$55.000 sampai US$60.000 sebelum benar-benar membentuk bottom.
"Rebound siklus besar baru saya perkirakan akan datang pada 2027, dengan target realistis US$100.000 sampai US$170.000, bahkan bisa lebih tinggi jika sentimen makro berbalik positif menjelang halving 2028," kata Andri kepada Bisnis, Kamis (11/6/2026).
Di sisi lain, Andri melihat bahwa faktor yang membedakan siklus tahun ini adalah ledakan perusahaan treasury digital asset yang kini memegang lebih dari 1,2 juta BTC di balance sheet mereka.
Di satu sisi, ini memang menjadi katalis jangka panjang karena menciptakan demand struktural dan mengurangi supply di pasar terbuka. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa jika banyak perusahaan menghadapi tekanan likuiditas, margin call, atau kebutuhan dividen, maka bisa timbul supply shock baru yang memperpanjang bear market 2026.
"Ditambah sikap Fed yang masih hawkish dan inflasi yang lengket, aset berisiko seperti Bitcoin masih tertekan," jelasnya.
Sementara itu, Financial Expert Ajaib, Panji Yudha menjelaskan bahwa siklus empat tahunan klasik Bitcoin (Bitcoin Four-Year Cycle) secara resmi telah patah (left-translated cycle), terkonfirmasi oleh penutupan akhir 2025 di zona negatif sebesar -6,34%.
Menilik gerak harganya, Bitcoin mencapai puncak siklusnya lebih awal pada Oktober 2025 di level US$126.296, dan saat ini per Juni 2026 diperdagangkan di kisaran US$63.000. Angka ini mencerminkan koreksi sebesar 50% dari harga tertinggi sepanjang masa (ATH) serta penurunan tahunan berjalan (YTD) sebesar -28,00%.
Meskipun struktur waktu berubah, sambungnya, kedalaman bear market kali ini jauh lebih terukur jika dibandingkan dengan siklus historis dua tahun pasca-halving, yakni pada 2014 sebesar -58%, pada 2018 sebesar -73%, dan 2022 sebesar -64%. Bila dirata-rata, drawdown tahunan mencapai -65
Menurutnya, masuknya likuiditas institusional di pasar Bitcoin menjadi bantalan yang menahan kejatuhan ekstrem. Panji memproyeksi sisa 2026 ini akan berjalan sebagai fase markdown dan konsolidasi, dengan potensi bottoming area yang realistis di rentang US$55.000 hingga US$58.000
"Siklus pemulihan (rebound) struktural memiliki probabilitas yang sangat kuat untuk terjadi pada tahun 2027. Secara teknikal, konfirmasi bahwa Bitcoin telah keluar dari momentum bearish (reversal) baru akan valid jika harga mampu kembali menembus dan bertahan di atas level US$85.000," kata Panji.
Untuk benar-benar menuju ekspektasi tersebut, sejumlah katalis positif pendorong harga Bitcoin antara lain adalah berakhirnya konflik geopolitik, penurunan harga minyak global, serta inflasi yang mulai terkendali. Ini akan mengalirkan kembali likuiditas global ke pasar kripto.
Sebaliknya, sentimen negatif yang menahan harga Bitcoin antara lain adalah adanya supply shock korporasi, ketika banyak perusahaan treasury digital asset terpaksa melikuidasi aset Bitcoin mereka karena tekanan internal atau kewajiban dividen. Selain itu, kebijakan moneter higher-for-longer The Fed juga bisa mengganjal forecast rebound 2027. Terakhir, ada risiko di balik ketergantungan pada arus modal ETF, di mana spot ETF kini memegang kendali penuh atas harga spot Bitcoin.
Panji mencatat, dalam lima minggu terakhir akumulasi net outflow dari emiten ETF spot Bitcoin telah mencapai hampir US$5,8 miliar, menandakan nasabah institusi sedang agresif mengurangi risiko. Menurutnya, sinyal reversal Bitcoin baru muncul jika arus modal mingguan ETF berbalik mencatat net inflow yang konsisten.
Strategi Investasi
Seiring dengan harapan rebound Bitcoin pada 2027, Andri melihat koreksi tajam tahun ini justru sebagai peluang akumulasi terbaik. Dia menyarankan investor menggunakan strategi Dollar Cost Averaging secara disiplin di bawah US$65.000.
"Alokasikan hanya 5%-10% portofolio agar tetap nyaman, dan fokus hodling melewati 2026 menuju 2027. Pantau terus on-chain metric seperti supply in loss yang sudah mulai mendominasi, sinyal historis bottom semakin dekat," kata Andri.
Andri memperingatkan bahwa risiko memang tetap tinggi, namun jika pola siklus lama bertahan, momentum 2027 bisa sangat menguntungkan bagi yang sabar mengakumulasi sekarang.
Sementara itu, Panji menambahkan bahwa koreksi tajam yang membawa Bitcoin ke kisaran US$63.000 telah memberikan ruang margin keamanan (margin of safety) yang jauh lebih aman bagi investor jangka panjang
Menurutnya, 2026 harus dilihat sebagai momentum akumulasi yang ideal sebelum siklus pemulihan berjalan di 2027. Menghadapi sisa 2026 yang penuh konsolidasi, Panji merekomendasikan strategi alokasi portofolio taktis bertajuk "Swing Alts, DCA BTC".
Strategi tersebut adalah mengalokasikan 50% pada cash/stablecoin. Dia menjelaskan, porsi likuiditas terbesar wajib dijaga untuk mengantisipasi volatilitas, salah satunya dengan diversifikasi ke dolar AS melalui stablecoin seperti USDT dan USDC.
"Langkah ini terbukti efektif setelah nilai tukar kedua stablecoin tersebut berhasil menguat hampir 8% YTD terhadap rupiah, jauh mengungguli performa Bitcoin yang saat ini masih terkoreksi 28% YTD," jelasnya.
Berikutnya, mengalokasikan 30% pada Bitcoin yang menjadi core asset. Menjadikan Bitcoin sebagai aset inti portofolio dengan melakukan akumulasi bertahap menggunakan metode Dollar-Cost Averaging secara disiplin sepanjang tahun ini menurutnya dapat mengoptimalkan potensi keuntungan di tahun depan.
Ketiga, alokasi 20% untuk altcoins yang memiliki aggressive narratives. Menurutnya, alokasi minoritas dapat ditempatkan pada altcoin yang memiliki narasi fundamental kuat dan volume likuiditas tinggi yang sedang tren, seperti sektor Decentralized Exchange (Perp DEX), Real World Assets (RWA), dan Artificial Intelligence (AI).
"Strategi yang digunakan adalah swing trading jangka pendek, di mana keuntungan harus segera dikonversi kembali ke bentuk stablecoin," tandasnya.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual aset investasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Bitcoin Tergelincir ke Level 62.750 Dollar AS, Pasar Masih Tertekan
Harga Bitcoin turun ke kisaran 62.750 dollar AS setelah sentimen pasar memburuk. Analis menilai fase bear market mulai mendekati akhir [468] url asal
#aset-kripto #harga-bitcoin #pasar-kripto #harga-btc #harga-btc-hari-ini
(Kompas.com - Money) 04/06/26 21:19
v/240442/
KOMPAS.com – Harga Bitcoin (BTC) kembali tertekan pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Aset kripto terbesar di dunia itu merosot lebih dari 6 persen dan diperdagangkan di kisaran 62.750 dollar AS.
Penurunan harga Bitcoin ini memperpanjang tren pelemahan yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di tengah memburuknya sentimen investor.
Penjualan Bitcoin oleh Strategy tekan sentimen pasar
Mengutip Yahoo Finance, salah satu faktor yang memicu tekanan di pasar kripto adalah langkah perusahaan treasury aset digital Strategy yang menjual sebagian kepemilikan Bitcoin untuk pertama kalinya sejak 2022.
Meski jumlah yang dilepas hanya 32 Bitcoin dan merupakan sebagian kecil dari total kepemilikan perusahaan, keputusan tersebut tetap menarik perhatian pelaku pasar.
Selama ini, Strategy dikenal sebagai salah satu perusahaan yang agresif mengoleksi Bitcoin dan mempertahankan aset tersebut dalam jangka panjang. Karena itu, aksi penjualan tersebut dianggap sebagai perubahan dari strategi yang selama ini dijalankan perusahaan.
Kondisi itu membuat kekhawatiran investor meningkat dan mendorong aksi jual yang lebih luas di pasar.
Bitcoin terancam turun ke level 60.000 dollar AS
Sejumlah analis kini menyoroti level 65.000 dollar AS sebagai area penting yang perlu dipertahankan Bitcoin.
Senior Market Analyst Trade Nation, David Morrison mengatakan, jika harga Bitcoin terus bergerak di bawah level tersebut dalam waktu yang cukup lama, tekanan jual berpotensi semakin besar.
"Jika terjadi penurunan yang berkepanjangan dan signifikan di bawah level ini, maka peluang Bitcoin untuk kembali menguji titik terendah Februari di level 60.000 dollar AS akan semakin besar," ujar Morrison.
Data CoinMarketCap menunjukkan harga Bitcoin berada di kisaran 64.362 dollar AS pada perdagangan Kamis sore waktu UTC, atau turun sekitar 3,6 persen dibandingkan posisi sebelumnya.
Investor yang membeli di harga tinggi mulai menyerah
Di tengah pelemahan pasar, analis Compass Point Ed Engel melihat tanda-tanda bahwa sebagian investor mulai menyerah menghadapi penurunan harga Bitcoin.
Menurut Engel, sekitar 26 persen penjualan Bitcoin dalam 30 hari terakhir berasal dari investor yang membeli aset tersebut ketika harganya berada di atas 90.000 dollar AS.
Kelompok investor ini sebelumnya dinilai cukup bertahan selama periode bear market. Namun, saat harga Bitcoin mendekati titik terendah dalam siklus saat ini, sebagian mulai melepas kepemilikannya.
"Kelompok investor yang membeli di puncak harga selama ini cukup tangguh menghadapi bear market. Namun kini mereka mulai menyerah ketika Bitcoin mendekati level terendah siklus," kata Engel dalam catatannya.
Analis nilai fase bear market sudah mendekati akhir
Meski kondisi pasar masih tertekan, Engel menilai kapitulasi atau menyerahnya sebagian investor justru dapat menjadi pertanda bahwa fase penurunan berkepanjangan mulai mendekati akhir.
Menurut dia, ketika investor yang selama ini bertahan mulai melakukan penjualan, pasar biasanya telah memasuki tahap akhir dari bear market.
"Hal ini membuat kami semakin yakin bahwa bear market Bitcoin telah berada pada fase akhir," ujar Engel.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Masih Dalam Tekanan, Bitcoin Terkoreksi ke Area USD 66.000
Pasar kripto kembali berada dalam tekanan pada awal Juni 2026 setelah Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir. [479] url asal
#aset-kripto #bitcoin #harga-aset-kripto #ekonomi-global #geopolitik #the-fed #btc #kripto
Jakarta: Pasar kripto kembali berada dalam tekanan pada awal Juni 2026 setelah Bitcoin (BTC) mengalami penurunan tajam dalam 24 jam terakhir. Aset kripto terbesar di dunia itu tercatat berada di level sekitar USD 66.800 atau setara Rp1,19 miliar, melemah sekitar 6,3% secara harian.Koreksi ini turut menekan kapitalisasi pasar kripto global yang turun sekitar 5,6% ke level USD 2,28 triliun. Sementara itu, dominasi Bitcoin di pasar (BTC dominance) masih berada di level tinggi, yakni 58,6%, menunjukkan aset ini tetap menjadi acuan utama di tengah volatilitas yang meningkat.
Dalam riset Ajaib, tekanan jual yang terjadi tidak lepas dari meningkatnya ketegangan geopolitik global serta memburuknya sentimen risiko di pasar keuangan. Salah satu pemicu utama adalah eskalasi konflik di Timur Tengah setelah pemerintah Iran mengklaim serangan rudal ke fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait pada 3 Juni 2026. Peristiwa ini memicu kekhawatiran baru di pasar global dan mendorong investor untuk mengurangi eksposur pada aset berisiko, termasuk kripto.
Dalam kondisi tersebut, Bitcoin tercatat telah melemah lebih dari 9% sejak awal bulan. Koreksi tajam ini juga memicu likuidasi besar di pasar derivatif kripto yang mencapai sekitar USD 1,5 miliar, sekaligus menghapus nilai kapitalisasi pasar hingga ratusan miliar dolar.
Dari sisi arus dana institusional, tekanan semakin terlihat melalui keluarnya dana dari produk ETF Bitcoin spot. Dalam sepuluh hari perdagangan terakhir, tercatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar USD 2,1 miliar, yang menjadi salah satu periode penarikan dana terpanjang sejak ETF tersebut diluncurkan.
Di saat yang sama, pasar juga merespons kekhawatiran terhadap arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Menjelang rapat Federal Open Market Committee (FOMC), ekspektasi pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 23%. Sentimen hawkish ini memperburuk tekanan di pasar aset berisiko, termasuk saham-saham yang memiliki eksposur terhadap kripto seperti Strategy, Coinbase, dan Circle yang masing-masing tercatat mengalami koreksi di tengah aksi jual global.
Meski pasar secara umum berada dalam tekanan, sejumlah aset kripto alternatif justru mencatat
perkembangan positif di tengah volatilitas.
Ekosistem Avalanche (AVAX), misalnya, mengalami lonjakan aktivitas on-chain hingga 761% setelah FIFA merilis koleksi digital “Right-to-Ticket” untuk Piala Dunia 2026 di jaringan tersebut. Aktivitas ini mendorong peningkatan interaksi pengguna secara signifikan.
Sementara itu, Stellar (XLM) mendapat dorongan dari adopsi institusional setelah perusahaan remitansi global MoneyGram meluncurkan stablecoin MGUSD untuk memfasilitasi transaksi lintas negara berbasis dolar secara langsung melalui aplikasinya.
Di sisi lain, token decentralized exchange Hyperliquid (HYPE) juga menarik perhatian pasar setelah muncul spekulasi terkait potensi peluncuran ETF oleh Grayscale di Amerika Serikat. Analis ETF Bloomberg James Seyffart menyebutkan revisi dokumen pengajuan terbaru Grayscale, termasuk detail ticker dan biaya manajemen, menjadi sinyal kuat bahwa peluncuran dapat terjadi dalam waktu dekat.
Dengan kombinasi tekanan geopolitik, ketidakpastian kebijakan moneter, dan dinamika arus dana institusional, pasar kripto diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam waktu dekat, meski beberapa ekosistem altcoin menunjukkan ketahanan dan perkembangan yang kontras di tengah pelemahan Bitcoin.
(SAW)
Bitcoin (BTC) Masuk Zona Rawan, Investor Tunggu Arah Baru
Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir. [879] url asal
#bitcoin #the-fed #btc #harga-bitcoin #harga-bitcoin-turun
(Kompas.com - Money) 28/05/26 12:12
v/233941/
JAKARTA, KOMPAS.com - Harga Bitcoin (BTC) kembali berada dalam tekanan dalam beberapa hari terakhir.
Aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia itu bergerak melemah dan mendekati level support penting yang dinilai akan menentukan arah pergerakan berikutnya.
Dikutip dari NewsBTC, Kamis (28/5/2026), data pasar menunjukkan Bitcoin sempat turun ke area di bawah 75.500 dollar AS dan terus bergerak di zona merah seiring meningkatnya tekanan jual di pasar kripto global.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Sejumlah analis menilai, apabila level support utama gagal dipertahankan, pelemahan harga Bitcoin bisa berlanjut lebih dalam.
Di tengah tekanan tersebut, perhatian investor global justru mengarah ke saham-saham teknologi, khususnya produsen chip memori berbasis kecerdasan buatan (AI).
Pergerakan modal ke sektor teknologi disebut ikut memengaruhi minat investor terhadap aset kripto, termasuk Bitcoin.
Harga Bitcoin turun di tengah tekanan pasar
CoinDesk melaporkan, Bitcoin masih berada di bawah tekanan ketika saham perusahaan semikonduktor Korea Selatan, SK Hynix, melonjak dan menembus valuasi 1 triliun dollar AS.
Sebelumnya, Micron Technology juga mencapai kapitalisasi pasar serupa setelah sahamnya melesat lebih dari 20 persen.
Saham-saham produsen chip memori menarik perhatian dan aliran modal investor global, sementara pasar kripto justru bergerak stagnan dan kehilangan momentum.
UNSPLASH/TRAXER Ilustrasi kripto.Situasi ini terjadi ketika Bitcoin gagal mempertahankan area harga di atas 76.000 dollar AS.
Tekanan jual yang terus berlanjut membuat harga BTC bergerak turun dan mendekati area support krusial di kisaran 74.000 dollar AS hingga 75.000 dollar AS.
NewsBTC melaporkan, Bitcoin memulai penurunan baru setelah bergerak di bawah zona 75.500 dollar AS.
Harga BTC juga diperdagangkan di bawah rata-rata pergerakan sederhana 100 jam, yang mengindikasikan tren jangka pendek masih bearish.
BTC dipandang sedang berkonsolidasi dan mungkin akan kesulitan untuk bertahan di atas level support 74.000 dollar AS.
Tekanan harga tidak hanya terjadi di Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama lain seperti Solana dan XRP juga mengalami pelemahan seiring meningkatnya aksi jual di pasar.
CoinDesk bahkan mencatat posisi long kripto senilai 500 juta dollar AS mengalami likuidasi ketika Bitcoin turun ke area 78.000 dollar AS pada pertengahan Mei 2026.
Level 74.950 dollar AS jadi area kritis
Coinpedia menyebut level 74.950 dollar AS menjadi titik penting yang harus dipertahankan pelaku pasar. Jika level tersebut gagal dijaga, risiko penurunan lebih dalam disebut semakin terbuka.
Posisi Bitcoin saat ini berada langsung di atas area support utama yang sebelumnya terbentuk pada April 2024. Kondisi tersebut membuat pasar berada dalam fase yang sangat sensitif terhadap tekanan jual tambahan.
Para bullish atau investor yang masih optimistis terhadap kenaikan harga harus mampu mempertahankan area 74.950 dollar AS agar potensi koreksi lebih dalam dapat dihindari. Jika support tersebut jebol, harga Bitcoin berisiko bergerak menuju level yang lebih rendah.
PIXABAY/MICHAELWUENSCH Ilustrasi bitcoin. Harga bitcoin turun hampir 30 persen dari rekor tertingginya. Data historis menunjukkan volatilitas bitcoin seperti ini merupakan pola yang berulang dalam setiap siklus bitcoin.Sementara itu, NewsBTC menilai Bitcoin kini menghadapi beberapa area resistensi di kisaran 75.500 dollar AS hingga 76.200 dollar AS. Selama harga belum mampu kembali menembus area tersebut, tekanan bearish dinilai masih dominan.
Analis juga memperhatikan pola teknikal jangka pendek yang menunjukkan kecenderungan pelemahan lanjutan.
Bitcoin disebut telah gagal bertahan di atas 76.000 dollar AS dan terus mencatat lower high dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Bitcoin sebelumnya bergerak di kisaran 76.300 dollar AS hingga 82.500 dollar AS sepanjang reli Mei 2026. Namun aset tersebut gagal menembus area resistance penting meski telah beberapa kali mencoba breakout.
Ketegangan geopolitik ikut membebani kripto
Selain faktor teknikal, pasar kripto juga dibayangi ketidakpastian geopolitik global. Beberapa laporan menyebut meningkatnya tensi di Timur Tengah turut memicu aksi risk-off investor terhadap aset berisiko seperti kripto.
Tekanan geopolitik juga disebut memengaruhi sentimen investor ritel. Bitcoin sempat menyentuh area 73.000 dollar AS ketika pasar global dihantam kekhawatiran terhadap eskalasi konflik internasional.
Bitcoin mengalami tekanan signifikan dan turun ke level terendah dalam lebih dari enam pekan terakhir di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi global dan geopolitik.
Investor menunggu arah kebijakan The Fed
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) juga masih menjadi perhatian utama pasar kripto.
UNSPLASH/KANCHANARA Ilustrasi bitcoin.CoinDesk sebelumnya melaporkan Bitcoin cenderung bergerak mendatar di kisaran 77.000 dollar AS menjelang pergantian kepemimpinan di The Fed.
Pasar menunggu arah kebijakan moneter berikutnya setelah Kevin Warsh resmi dilantik menjadi Ketua The Fed.
Dalam pidatonya, Warsh mengatakan akan memimpin The Fed dengan pendekatan reformasi dan pembelajaran dari kesalahan masa lalu.
Meski demikian, ketidakpastian mengenai arah suku bunga masih membuat investor berhati-hati terhadap aset berisiko. Bitcoin yang sebelumnya sempat mencatat reli kuat pada awal Mei akhirnya kembali kehilangan momentum.
Di sisi lain, sebagian pelaku pasar masih melihat peluang pemulihan apabila tekanan makroekonomi mulai mereda. Namun dalam jangka pendek, fokus utama investor tetap berada pada kemampuan Bitcoin mempertahankan area support penting di bawah 75.000 dollar AS.
Coinpedia menyebut level tersebut akan menjadi penentu apakah Bitcoin mampu bertahan dan kembali rebound atau justru melanjutkan tren penurunan yang lebih dalam.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Investor Bitcoin (BTC) Ramai Jual Aset Saat Harga Mulai Pulih, Ada Apa?
Harga Bitcoin mulai pulih, tetapi investor ETF justru ramai menjual aset. Arus dana keluar pun membayangi pemulihan pasar kripto. [651] url asal
#aset-kripto #harga-bitcoin #etf-bitcoin #pasar-kripto #harga-btc #harga-btc-hari-ini
(Kompas.com - Money) 22/05/26 10:05
v/228640/
KOMPAS.com – Pemulihan harga Bitcoin (BTC) kembali menghadapi tantangan. Ketika harga BTC mulai bergerak naik mendekati titik impas investasi, sebagian investor justru memilih menjual kepemilikannya.
Fenomena tersebut terlihat dari meningkatnya arus dana keluar atau outflow dari produk exchange traded fund (ETF) Bitcoin spot di Amerika Serikat (AS). Kondisi ini menunjukkan pemulihan harga belum sepenuhnya mampu memulihkan kepercayaan pasar.
Arus dana ETF Bitcoin keluar Rp 29,9 triliun
Berdasarkan data K33 Research, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus dana keluar sebesar 1,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 29,9 triliun (kurs Rp 17.600 per dollar AS) dalam lima hari perdagangan hingga Senin (18/5/2026).
Nilai tersebut menjadi arus keluar mingguan terbesar kesembilan sejak ETF Bitcoin spot pertama kali diluncurkan pada awal 2024.
Gelombang aksi jual itu muncul ketika harga Bitcoin mendekati 83.000 dollar AS. Level tersebut menjadi perhatian pasar karena merupakan rata-rata harga pembelian investor ETF Bitcoin atau titik impas investasi mereka.
Riset K33 menunjukkan peluang arus dana keluar dalam jumlah besar meningkat ketika harga Bitcoin bergerak mendekati rata-rata harga beli investor.
Ketika Bitcoin diperdagangkan di sekitar titik tersebut, kemungkinan terjadinya hari dengan arus keluar besar dapat menembus 10 persen.
Sebaliknya, ketika harga BTC berada jauh di atas rata-rata harga beli investor, probabilitasnya hanya sekitar 3 persen.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (22/5/2026), Kepala Riset K33 Vetle Lunde menilai kondisi itu menunjukkan investor cenderung menghindari risiko kerugian.
Investor yang sebelumnya hampir mengalami kerugian memilih menjual untuk mengamankan posisi. Sementara investor yang masih berada di zona rugi memanfaatkan kenaikan harga untuk mengurangi kerugian.
Akibatnya, titik impas investasi yang seharusnya dapat menjadi penopang harga justru berubah menjadi area tekanan jual.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin. Harga Bitcoin bergerak sangat fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak tajam, reli kripto terbesar di dunia itu mulai kehilangan momentum.Level 83.000 dollar AS jadi titik penting
Selain menjadi rata-rata harga pembelian investor ETF, level 83.000 dollar AS juga menjadi area teknikal penting bagi Bitcoin.
Angka tersebut berada di sekitar rata-rata pergerakan harga 200 hari atau 200-day moving average, indikator yang kerap dipakai pelaku pasar untuk membaca tren jangka panjang.
Analis CryptoQuant menilai area tersebut beberapa kali menjadi penghalang kenaikan harga Bitcoin, termasuk saat pasar kripto menghadapi tekanan pada Maret 2022.
Kondisi tersebut membuat pemulihan Bitcoin saat ini menghadapi tantangan tambahan karena pasar harus menembus tekanan teknikal sekaligus aksi jual investor.
Investor institusi mulai mundur
Momentum Bitcoin sepanjang 2026 juga menunjukkan perlambatan.
Aset kripto terbesar di dunia itu sebelumnya menikmati dorongan besar dari peluncuran ETF Bitcoin spot, masuknya institusi keuangan besar, serta semakin luasnya penerimaan aset digital di pasar keuangan tradisional.
Namun, situasi mulai berubah. Investor ritel mulai mengurangi aktivitas perdagangan, sementara aliran dana institusi ikut melambat seiring berkurangnya peluang arbitrase di pasar kripto.
Saat ini Bitcoin diperdagangkan di kisaran 77.600 dollar AS, masih jauh di bawah rekor tertinggi yang sempat menembus 126.000 dollar AS.
Tekanan arus dana keluar ETF juga belum mereda. Data Bloomberg menunjukkan investor kembali menarik dana sekitar 1,1 miliar dollar AS dari ETF Bitcoin hingga perdagangan Rabu (20/5/2026).
ETF yang sebelumnya dipandang sebagai penghubung pasar kripto dan sistem keuangan konvensional kini juga menjadi sarana yang mempermudah investor keluar dari pasar.
Investor ritel tambah kepemilikan
Di tengah berkurangnya minat investor institusi, investor ritel justru bergerak ke arah berbeda.
Data K33 menunjukkan investor institusi mengurangi kepemilikan ETF Bitcoin sebanyak 26.733 token sepanjang kuartal I 2026.
Sebaliknya, investor ritel menambah kepemilikan sebesar 19.395 token.
Pengurangan eksposur institusi dipicu menyusutnya potensi keuntungan di pasar kripto serta munculnya alternatif investasi lain yang dinilai lebih menarik.
Kondisi tersebut membuat pasar Bitcoin kini menghadapi tantangan baru, yakni minimnya dorongan pembelian besar di tengah kecenderungan investor melepas aset saat harga mulai pulih.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Indodax: BTC tembus 80.000 dolar didorong ETF dan sentimen geopolitik
Mata uang digital Bitcoin (BTC) kembali menguat dan menembus level 80.000 dolar AS pada Selasa, sekaligus mencatatkan posisi tertinggi dalam tiga bulan ... [361] url asal
Jakarta (ANTARA) - Mata uang digital Bitcoin (BTC) kembali menguat dan menembus level 80.000 dolar AS pada Selasa, sekaligus mencatatkan posisi tertinggi dalam tiga bulan terakhir sejak Januari 2026.
Vice President Indodax Antony Kusuma menyatakan hal itu karena mendapatkan dorongan dari dua arah sekaligus yakni oleh arus masuk dana institusional yang signifikan melalui ETF Bitcoin, yang tercatat mencapai 625 juta dolar AS dalam satu hari perdagangan.
Di sisi lain, tambah dia, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa, pergerakan Bitcoin juga dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global yang menguat, termasuk meningkatnya minat terhadap aset berisiko di tengah membaiknya likuiditas pasar kripto yang membaik, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
"Bitcoin saat ini berada dalam posisi yang unik karena mendapatkan dorongan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ia bergerak mengikuti sentimen pasar global, namun di sisi lain juga mulai dipertimbangkan sebagai alternatif di tengah ketidakpastian geopolitik," ujarnya.
Kondisi tersebut, menurut dia, mendorong investor untuk mencari alternatif aset lindung nilai di luar sistem keuangan tradisional, apalagi penguatan ini turut didukung oleh oleh lonjakan aktivitas pasar, dengan volume perdagangan harian mencapai sekitar 48 miliar dolar AS.
"Kondisi ini mengindikasikan adanya momentum positif di pasar, namun tetap perlu dianalisis secara cermat dinamika yang terjadi di pasar," ujar Antony.
Selain itu, tambahnya, data pada CoinMarketCap menunjukkan bahwa total aset dalam ETF Bitcoin kini berada di kisaran 105 miliar dolar AS dan hal ini mencerminkan meningkatnya partisipasi serta kepercayaan investor institusional yang turut menjadi salah satu faktor penting dalam menopang pergerakan pasar.
Antony menyatakan momentum penguatan ini mulai mencerminkan kecenderungan bullish di pasar, meskipun masih berada dalam fase yang perlu dicermati secara hati-hati.
Kenaikan harga yang didukung oleh arus dana institusional dan sentimen global menunjukkan bahwa minat terhadap aset kripto, khususnya Bitcoin, masih cukup kuat.
Namun, dia mengingatkan keberlanjutan momentum ini akan sangat bergantung pada konsistensi likuiditas pasar serta perkembangan faktor eksternal, seperti kondisi makroekonomi dan dinamika geopolitik global.
"Oleh karena itu, volatilitas tetap menjadi karakter utama aset kripto yang perlu dipahami investor dalam mengambil keputusan," katanya.
Antoy mengharapkan masyarakat Indonesia dapat memanfaatkan momentum pasar secara lebih bijak dan terukur, dengan tetap mengedepankan manajemen risiko di tengah dinamika global yang terus berkembang.
Pewarta: Subagyo
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
BTC dekati 79.500 dolar momentum positif di tengah dinamika geopolitik
Penguatan harga Bitcoin (BTC) mendekati level 79.500 dolar AS pada Rabu (22/4), setelah sebelumnya sempat terkoreksi ke sekitar 74.000 dolar AS di awal pekan ... [428] url asal
#kripto #aset-kripto #aset-digital #bitcoin #btc #geopolitik
Jakarta (ANTARA) - Penguatan harga Bitcoin (BTC) mendekati level 79.500 dolar AS pada Rabu (22/4), setelah sebelumnya sempat terkoreksi ke sekitar 74.000 dolar AS di awal pekan (20/4), dinilai sebagai momentum positif di tengah dinamika geopolitik.
Menurut Vice President INDODAX Antony Kusuma, penguatan itu didorong oleh arus masuk dana institusional yang tetap solid, tercermin dari akumulasi dana pada produk spot Bitcoin ETF sekitar 250,22 juta dolar AS sepanjang pekan dengan total akumulasi sebesar 57,95 miliar dolar AS.
"Tren ini mengindikasikan bahwa permintaan serta kepercayaan terhadap aset kripto masih terjaga di tengah dinamika pasar global," ujar dia dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.
Yang cukup menarik, menurut dia, kenaikan itu terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Iran menolak melanjutkan negosiasi dengan AS, meskipun sebelumnya terdapat upaya perpanjangan gencatan senjata dari pihak AS.
Kondisi tersebut, tambahnya, menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen risiko global, tetapi juga oleh kekuatan permintaan, khususnya dari investor institusional dalam jangka panjang.
Dia menilai penguatan Bitcoin saat ini mencerminkan perubahan struktur pasar yang semakin didorong oleh partisipasi investor institusional.
“Pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh sentimen jangka pendek, tetapi juga oleh permintaan yang semakin konsisten dari investor institusional, yang terlihat dari arus masuk melalui produk spot ETF," katanya.
Di tengah ketidakpastian global, lanjutnya, kondisi tersebut justru dimanfaatkan oleh sebagian investor sebagai momentum akumulasi. Hal itu menjadi salah satu faktor yang menopang harga, meskipun volatilitas jangka pendek tetap perlu diantisipasi.
Dia menjelaskan selain faktor permintaan institusional, dinamika kebijakan moneter Amerika Serikat juga turut memengaruhi pergerakan pasar. Penegasan independensi bank sentral mencerminkan komitmen The Fed dalam menjaga stabilitas ekonomi, namun di sisi lain, ketidakpastian arah suku bunga di tengah kondisi inflasi yang belum sepenuhnya stabil membuat pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati terhadap aset berisiko, termasuk kripto, dalam jangka pendek.
Namun, semakin terbukanya pandangan terhadap aset digital sebagai bagian dari sistem keuangan modern turut memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang industri kripto.
Selain itu, pergerakan harga juga dipengaruhi oleh aktivitas di pasar derivatif. Dalam beberapa waktu terakhir, banyak posisi jual (short) yang terpaksa ditutup ketika harga mulai naik, sehingga memicu terjadinya short squeeze.
Hal itu meningkatkan permintaan dalam waktu singkat dan mempercepat penguatan harga dalam jangka pendek.
Secara keseluruhan, menurut Antony, kombinasi antara dinamika geopolitik, faktor makroekonomi, partisipasi institusional, serta kondisi teknikal di pasar derivatif mengindikasikan bahwa struktur pasar kripto saat ini semakin kompleks.
Namun demikian, tambahnya, volatilitas tetap menjadi karakter utama, sehingga investor perlu tetap mengedepankan manajemen risiko serta melakukan riset secara mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.
Pewarta: Subagyo
Editor: Virna P Setyorini
Copyright © ANTARA 2026
Bitcoin Menguat ke USD74.000, Sentimen Iran dan Data AS Jadi Penggerak
Pasar kripto kembali bergairah. Bitcoin (BTC) melonjak lebih dari 4% dalam 24 jam terakhir dan menembus level USD74.000, tertinggi dalam tiga pekan. [343] url asal
Jakarta: Pasar kripto kembali bergairah. Bitcoin (BTC) melonjak lebih dari 4% dalam 24 jam terakhir dan menembus level USD74.000, tertinggi dalam tiga pekan.Panji Yudha, Financial Expert Ajaib mengatakan Berdasarkan data perdagangan terbaru, BTC kini berada di kisaran USD74.100 atau sekitar Rp1,26 miliar.
Kenaikan ini turut mendorong dominasi pasar Bitcoin ke level 59,7%, sementara total kapitalisasi pasar kripto naik menjadi USD2,49 triliun.
Kenaikan juga diikuti Ethereum (ETH) yang berhasil bertahan di atas USD2.300, memperkuat sentimen positif di pasar aset digital.
Salah satu faktor pendorong datang dari dinamika geopolitik. Pasar menceBrmati laporan bahwa Iran berpotensi membuka opsi pembayaran menggunakan Bitcoin untuk kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz.
Langkah ini dinilai signifikan karena jalur tersebut menjadi lintasan sekitar 20% pasokan minyak global. Jika kebijakan tersebut direalisasikan, potensi pendapatan yang dihasilkan diperkirakan mencapai puluhan juta dolar per hari.
Isu ini sempat memicu lonjakan harga minyak hingga USD105 per barel sebelum kembali stabil di kisaran USD98, menambah kompleksitas sentimen pasar global.
Selain faktor geopolitik, pelaku pasar juga menantikan rilis data ekonomi Amerika Serikat, khususnya indeks harga produsen atau Producer Price Index (PPI) yang dijadwalkan pada Selasa malam WIB.
Secara konsensus, PPI diproyeksikan naik dari 3,4% menjadi 4,6% secara tahunan, sementara Core PPI diperkirakan berada di level 3,7%. Data ini akan menjadi penentu arah pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek.
Jika realisasi data sesuai atau di bawah ekspektasi, BTC berpotensi melanjutkan tren kenaikan menuju area USD76.000. Sebaliknya, angka yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menahan laju reli pasar kripto.
Di sisi korporasi, langkah agresif MicroStrategy kembali menjadi sorotan. Perusahaan tersebut dilaporkan menambah kepemilikan Bitcoin senilai USD1 miliar atau sekitar 13.927 BTC. Dengan tambahan ini, total cadangan Bitcoin perusahaan mendekati 781 ribu BTC.
Sementara itu, Circle, penerbit stablecoin USDC, mencatat lonjakan saham signifikan seiring optimisme pasar terhadap perkembangan regulasi stablecoin di Amerika Serikat.
Harapan terhadap kejelasan aturan hukum dinilai menjadi katalis penting bagi industri kripto ke depan. Kombinasi sentimen geopolitik, data ekonomi, dan aksi korporasi membuat pergerakan pasar kripto saat ini berada dalam fase yang sangat dinamis.
(SAW)
Masih Rapuh, BTC Hanya Naik Tipis
Pergerakan pasar kripto masih menunjukkan fase rapuh. Bitcoin (BTC) dalam 24 jam terakhir hanya mencatat kenaikan tipis sekitar 0,10% dan bertahan di kisaran USD66.500 atau sekitar Rp1,12 miliar. [397] url asal
#bitcoin #aset-kripto #cryptocurrency #btc #digitalisasi #the-fed
Jakarta: Pergerakan pasar kripto masih menunjukkan fase rapuh. Bitcoin (BTC) dalam 24 jam terakhir hanya mencatat kenaikan tipis sekitar 0,10% dan bertahan di kisaran USD66.500 atau sekitar Rp1,12 miliar.Sebelumnya, aset kripto terbesar ini sempat turun menyentuh area support USD65.000 pada Senin (30/3/2026) dini hari.
Panji Yudha, Financial Expert Ajaib menuturkan di saat yang sama, dominasi pasar Bitcoin (BTC.D) berada di level 58,90%.
Namun, tekanan lebih luas terlihat dari total kapitalisasi pasar kripto global yang justru terkoreksi 2,85% ke posisi USD2,27 triliun.
Sentimen negatif ini tidak muncul tanpa sebab. Kombinasi faktor makro mulai dari kenaikan harga energi hingga memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi pemicu utama gejolak pasar.
Lonjakan harga minyak yang menembus USD100 per barel mengubah ekspektasi investor secara drastis: dari sebelumnya berharap pemangkasan suku bunga, kini justru mengantisipasi potensi kenaikan suku bunga lanjutan.
Perubahan ekspektasi tersebut tercermin pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat yang menyentuh 4,07%. Kondisi ini membuat daya tarik Bitcoin sebagai aset alternatif kembali tertekan, terutama jika dibandingkan dengan instrumen safe haven konvensional.
Dari sisi arus dana, tekanan juga terlihat jelas. Data SosoValue menunjukkan bahwa pada pekan yang berakhir 27 Maret 2026, terjadi arus keluar bersih (net outflow) sebesar USD296,18 juta. Angka ini sekaligus memutus tren inflow positif yang sebelumnya berlangsung selama empat pekan berturut-turut sejak akhir Februari.
Akibatnya, total aset bersih di pasar kripto ikut tergerus, turun dari US$90,30 miliar menjadi USD84,77 miliar. Ini menjadi sinyal bahwa investor institusional mulai mengambil posisi lebih defensif.
Sinyal kehati-hatian tersebut juga tercermin dari langkah MicroStrategy (MSTR) yang tidak melakukan penambahan kepemilikan Bitcoin dalam periode terakhir, berbeda dari pola agresif yang biasanya ditunjukkan perusahaan tersebut.
Fase Konsolidasi
Di sisi lain, dinamika berbeda datang dari proyek kripto Worldcoin (kini dikenal sebagai World). Proyek yang digagas oleh Sam Altman ini baru saja menyelesaikan penjualan over-the-counter (OTC) sebanyak 239 juta token WLD dengan nilai sekitar USD65 juta. Harga rata-rata penjualan berada di level USD0,2719 per token.Untuk meredam potensi tekanan jual di pasar sekunder, sebagian dari transaksi tersebut, sekitar USD25 juta, dikenakan periode penguncian (lock-up) selama enam bulan.
Dengan kombinasi tekanan makro dan perubahan perilaku investor, pasar kripto kini memasuki fase konsolidasi yang lebih sensitif terhadap sentimen global. Arah selanjutnya akan sangat ditentukan oleh perkembangan geopolitik serta kebijakan moneter dalam waktu dekat.
(SAW)
Harga Bitcoin Naik Turun Tajam, Pasar Masih Dibayangi Perang Iran
Harga Bitcoin bergerak fluktuatif di tengah ketidakpastian pasar global akibat perang Iran. Meski sempat melonjak, reli bitcoin mulai kehilangan momen [559] url asal
#aset-kripto #perang-iran #harga-bitcoin #pasar-kripto #harga-btc #perang-iran-amerika-israel
(Kompas.com - Money) 06/03/26 06:45
v/156634/
KOMPAS.com – Pergerakan harga Bitcoin (BTC) kembali tersendat setelah reli tajam yang terjadi sehari sebelumnya. Gejolak pasar global akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel masih membayangi sentimen investor dan membuat harga kripto bergerak sangat fluktuatif.
Pada Kamis (5/3/2026), harga Bitcoin sempat turun hingga 3,7 persen ke level 70.650 dollar AS. Penurunan ini terjadi setelah sehari sebelumnya mata uang kripto terbesar di dunia itu melonjak sekitar 9 persen.
Sejak perang Iran-AS dan Israel memicu ketegangan geopolitik, pergerakan harga Bitcoin cenderung naik-turun tajam hampir setiap hari. Volatilitas tinggi ini terjadi seiring investor global terus menilai dampak perang terhadap ekonomi dan pasar keuangan dunia.
Meski demikian, sepanjang pekan ini pelaku pasar kripto terlihat lebih optimistis dibandingkan investor di aset lain seperti saham dan emas.
Kedua aset tersebut justru mengalami tekanan jual besar ketika pasar kembali dibuka setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu.
Dikutip dari Bloomberg, Jumat (6/3/2026), Senior Research Strategist Pepperstone Ltd Michael Brown mengatakan arus berita geopolitik turut memicu pembalikan arah pasar yang sebelumnya terlalu agresif dalam mengurangi risiko.
“Ketika sentimen pasar sudah berada pada tingkat yang sangat pesimistis, biasanya tidak dibutuhkan katalis yang terlalu besar untuk memicu pembalikan arah yang cukup kuat,” tulis Brown dalam catatannya mengenai pergerakan makro global pada Kamis (5/3/2026).
Walaupun sempat menguat, harga Bitcoin masih jauh dari puncaknya. Sejak mencapai rekor lebih dari 126.000 dollar AS pada awal Oktober, Bitcoin telah turun sekitar 40 persen.
Penurunan tersebut dipengaruhi ketidakpastian geopolitik serta belum jelasnya rencana regulasi kripto baru di Amerika Serikat.
Data CoinGecko menunjukkan lebih dari 1,8 triliun dollar AS nilai pasar seluruh aset kripto telah menguap sejak Bitcoin mencapai level tertingginya.
Di tengah tekanan tersebut, sejumlah indikator mulai menunjukkan tanda pemulihan minat investor. Setelah berbulan-bulan mengalami arus keluar dana, exchange-traded fund (ETF) berbasis Bitcoin di Amerika Serikat mencatat arus masuk lebih dari 1,1 miliar dollar AS sepanjang Maret.
WIKIMEDIA COMMONS/JORGE FRANGANILLO Ilustrasi bitcoin.Bahkan pada Rabu (4/3/2026) saja, produk ETF tersebut mencatat inflow sekitar 462 juta dollar AS, menurut data yang dihimpun Bloomberg. Arus dana ke ETF kripto sering dipandang sebagai indikator penting tingkat kepercayaan investor terhadap pasar.
Co-founder Orbit Markets Caroline Mauron mengatakan sentimen di pasar kripto mulai kembali positif.
“Sentimen di dunia kripto kembali berubah menjadi bullish,” ujarnya.
Dalam beberapa hari terakhir, Bitcoin juga tercatat mengungguli emas, aset yang kerap dibandingkan dengan mata uang kripto tersebut.
Sejak Jumat lalu, atau sehari sebelum serangan militer terjadi, harga emas turun hampir 2 persen. Sebaliknya, Bitcoin justru naik lebih dari 10 persen pada periode yang sama.
Tren ini berbanding terbalik dengan beberapa bulan sebelumnya, ketika harga emas berulang kali mencetak rekor baru sementara Bitcoin justru mengalami penurunan tajam.
Di luar Bitcoin, sejumlah aset kripto lain juga menunjukkan ketahanan relatif di tengah gejolak perang Iran.
Analis kripto CryptoQuant Sylvain Olive mencatat indikator Total 3, yang mengukur total kapitalisasi pasar seluruh altcoin di luar Ether, naik sekitar 12 persen sejak awal Februari.
Menurut Olive, perkembangan ini cukup menonjol mengingat kondisi global yang masih rapuh.
“Dalam situasi yang penuh ketidakpastian seperti ini, investor perlu lebih selektif dalam memilih posisi dengan mengandalkan sinyal pasar yang mulai muncul,” tulisnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56