Lorena (LRNA) Masuk Bisnis Kargo pada Semester II/2026, Bidik Perbaikan Kinerja

Lorena (LRNA) Masuk Bisnis Kargo pada Semester II/2026, Bidik Perbaikan Kinerja

PT Eka Sari Lorena Transport Tbk. (LRNA) akan meluncurkan layanan kargo pada semester II/2026 untuk meningkatkan pendapatan dan margin keuntungan.

(Bisnis.Com) 26/06/26 14:39 260702

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten transportasi darat PT Eka Sari Lorena Transport Tbk. (LRNA) menyiapkan diversifikasi usaha melalui peluncuran layanan kargo pada semester II/2026 sebagai motor pertumbuhan baru.

Hal itu dilakukan perseroan untuk mendongkrak pendapatan dan memperbaiki margin keuntungan di tengah tekanan bisnis angkutan penumpang antarkota antarprovinsi (AKAP).

Direktur Pelaksana Lorena Dwi Rianta Soerbakti mengatakan layanan kargo akan dijalankan melalui sinergi dengan ESL Express yang merupakan sister company perseroan.

"Kami berencana meluncurkan layanan kargo berkolaborasi dengan ESL Express pada semester II 2026," ujarnya dalam paparan publik usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST), Jumat (26/6/2026).

Menurut Dwi, bisnis kargo dipilih karena mampu memberikan tambahan pendapatan tanpa membutuhkan kenaikan biaya operasional yang signifikan. Perseroan menilai model pengiriman tersebut memiliki potensi margin keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan bisnis inti angkutan penumpang.

"Layanan kargo akan memberikan tambahan pendapatan yang cukup baik sekaligus meningkatkan net profit margin karena tidak ada tambahan biaya operasional yang besar," katanya.

Selain mengembangkan bisnis kargo, LRNA juga memperkuat bisnis rental kendaraan. Dalam waktu dekat, perseroan mengantisipasi masuknya kontrak baru yang akan mendorong penambahan unit armada yang disewakan sehingga menghasilkan pendapatan berulang (fixed income).

Perseroan juga mulai melakukan peremajaan dan rekondisi armada secara bertahap pada semester II/2026. Langkah tersebut diyakini akan meningkatkan produktivitas armada sekaligus menopang target pertumbuhan hingga 2027.

"Penambahan armada dan rekondisi armada akan menjadi salah satu strategi utama untuk mencapai target pertumbuhan pada 2026 dan berlanjut hingga 2027," ujar Dwi.

Dia optimistis kinerja perseroan pada 2026 akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga akhir semester I/2026, realisasi kinerja dinilai sudah menunjukkan perbaikan, sementara implementasi strategi baru pada semester II diharapkan semakin memperkuat pendapatan dan profitabilitas.

Di sisi pemasaran, LRNA terus memperluas kanal penjualan digital melalui layanan e-ticketing, termasuk penjualan tiket di platform seperti Traveloka, RedBus, Alfamart, dan Indomaret.

Perseroan juga mengembangkan sistem teknologi informasi yang terintegrasi untuk meningkatkan efisiensi operasional, mulai dari proses front-end hingga back-end. Langkah efisiensi lainnya dilakukan melalui penguatan pengawasan biaya operasional, evaluasi penggunaan bahan bakar, hingga penyesuaian jumlah tenaga kerja.

Dwi mengakui industri bus AKAP masih menghadapi tantangan besar. Perseroan bahkan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan rute sepanjang 2025 yang berdampak pada penurunan pendapatan.

Menurutnya, bisnis bus penumpang menghadapi persaingan ketat dari moda transportasi kereta api dan pesawat, terutama di jalur-jalur padat di Pulau Jawa. Selain itu, masyarakat juga semakin banyak beralih menggunakan kendaraan pribadi maupun jasa travel seiring tersambungnya jaringan jalan tol.

Di sisi lain, biaya operasional terus meningkat akibat kenaikan harga suku cadang yang dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, sementara ruang kenaikan tarif semakin terbatas karena kompetisi yang ketat.

Perseroan juga menghadapi tantangan regenerasi pengemudi dan awak bus. Banyak pengemudi memasuki usia pensiun, sedangkan minat generasi muda untuk menjadi sopir bus AKAP masih rendah.


Sepanjang 2025, LRNA membukukan pendapatan sebesar Rp59,52 miliar, yang terdiri atas kontribusi bisnis bus AKAP sebesar Rp47,68 miliar, shuttle bus Rp7,81 miliar, dan bus jarak pendek Rp4,03 miliar.

Penurunan pendapatan terutama dipengaruhi berakhirnya dua kontrak kerja sama pada divisi rental.

Dari sisi profitabilitas, perseroan mencatat rugi kotor sebesar Rp1,26 miliar, berbalik dari laba kotor Rp3,72 miliar pada 2024. Beban pendapatan langsung mencapai Rp60,78 miliar yang terdiri atas biaya bahan bakar minyak Rp15,44 miliar, penyusutan armada Rp18,22 miliar, serta biaya penyeberangan, terminal, dan tol sebesar Rp9,47 miliar.

Total aset perseroan tercatat sebesar Rp303,47 miliar pada akhir 2025, turun 9,3% secara tahunan. Sementara itu, liabilitas turun 17,88% menjadi Rp36,73 miliar dan ekuitas menyusut 7,97% menjadi Rp266,74 miliar.

Untuk membalikkan kinerja pada 2026, perseroan menerapkan kebijakan efisiensi berlapis, mulai dari evaluasi rute berdasarkan tingkat keterisian minimum (break-even load factor), pengawasan konsumsi BBM berbasis realisasi perjalanan, hingga memperkuat program perawatan preventif armada guna menekan biaya perbaikan dan meminimalkan armada yang tidak beroperasi.

#lorena-kargo #bisnis-kargo #lorena-transport #layanan-kargo #semester-ii-2026 #pendapatan-lorena #margin-keuntungan #esl-express #bisnis-rental-kendaraan #peremajaan-armada #pertumbuhan-lorena #kanal

https://market.bisnis.com/read/20260626/192/1983552/lorena-lrna-masuk-bisnis-kargo-pada-semester-ii2026-bidik-perbaikan-kinerja