AI Jadi Pisau Bermata Dua, Perusahaan Perlu Perkuat Keamanan Siber
Perkembangan teknologi cloud computing dan AI menghadirkan peluang bagi dunia usaha untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
(Kompas.com) 26/06/26 19:11 261093
JAKARTA, KOMPAS.com – Perkembangan teknologi cloud computing dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) menghadirkan peluang bagi dunia usaha untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Namun, di sisi lain, kemajuan teknologi tersebut juga memunculkan ancaman siber yang semakin kompleks sehingga perusahaan dituntut memperkuat ketahanan digital.
Associate Director IT & Digital BDO di Indonesia Reza Aminy mengatakan, kasus serangan siber yang menimpa salah satu bank daerah di Indonesia pada awal 2026 menjadi pengingat penting bagi perusahaan untuk memperkuat sistem keamanan digital.
Freepik/biancoblue ilustrasi artificial intelligencePada Februari 2026, bank tersebut mengalami serangan auto-debit massal oleh peretas yang menguras dana sebesar Rp 143 miliar dari lebih dari 6.000 rekening nasabah.
Akibat insiden tersebut, layanan mobile banking dan ATM nasabah harus dibekukan selama berbulan-bulan.
"Investigasi menunjukkan bahwa insiden tersebut bisa datang dari beberapa faktor, dari kegagalan keamanan kritis, termasuk sistem IT yang belum diperbarui sejak 2012, tata kelola yang lemah tanpa Security Operation Centre (SOC) 24 jam, serta risiko vendor yang tidak dikelola dengan baik. Pada akhirnya, kerugian Rp 143 miliar harus ditutup menggunakan laba tahun lalu perusahaan, yang menegaskan realitas pahit bahwa biaya pemulihan jauh lebih besar daripada biaya pencegahan," ujar Reza dalam keterangannya, Jumat (26/6/2026).
Menurut dia, perkembangan ancaman siber kini berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Jeda waktu antara ditemukannya sebuah kerentanan sistem dengan eksploitasi secara massal kini menyusut dari hitungan minggu menjadi hanya beberapa hari.
Dok. Shutterstock Ilustrasi komputasi awanDi lingkungan cloud, kompromi identitas menjadi titik awal dari 83 persen intrusi utama. Pelaku serangan memanfaatkan berbagai metode, mulai dari rekayasa sosial berbasis suara (vishing), pencurian token autentikasi (authentication token), hingga penyalahgunaan pipeline CI/CD untuk memperoleh akses administratif penuh dalam waktu singkat.
Target utama serangan tersebut tetap berfokus pada pencurian data dalam jumlah besar, baik yang dilakukan oleh pelaku eksternal maupun orang dalam yang menyalahgunakan platform penyimpanan cloud pribadi untuk mengekstraksi data perusahaan.
AI disebut menjadi pisau bermata dua
Selain cloud computing, penggunaan AI juga dinilai membawa tantangan baru bagi keamanan siber.
Reza mengatakan, meskipun AI mampu meningkatkan produktivitas perusahaan, teknologi tersebut juga memperkenalkan risiko privasi yang lebih kompleks sekaligus dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
"Di sisi lain, meskipun AI meningkatkan produktivitas, teknologi ini bertindak bagai pisau bermata dua dengan memperkenalkan risiko privasi yang kompleks dan memfasilitasi pelaku kejahatan siber," kata Reza.
Ia menjelaskan, pelaku ancaman siber kini memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi pembuatan malware, melancarkan serangan phishing yang semakin realistis, hingga menghasilkan konten deepfake.
Menurutnya, kerugian akibat serangan tingkat lanjut tersebut dapat mencapai nilai yang sangat besar. Salah satu contohnya adalah kasus penipuan yang memanfaatkan audio dan video berbasis AI untuk meniru seorang Chief Financial Officer (CFO) sebuah perusahaan sehingga pelaku berhasil mencuri dana sebesar 25 juta dollar AS.
Empat langkah memperkuat ketahanan siber
Menghadapi perkembangan ancaman tersebut, Reza mengatakan organisasi perlu beralih dari sistem pertahanan manual menuju postur keamanan yang lebih otomatis dan tangguh.
Dok. Shutterstock Ilustrasi keamanan siberMenurut dia, terdapat empat pilar utama yang perlu diterapkan perusahaan dalam membangun ketahanan siber.
Pertama, menerapkan kontrol keamanan yang mempertimbangkan identitas dan konteks pengguna.
Perusahaan perlu menggunakan autentikasi multifaktor (multi-factor authentication/MFA) berbasis perangkat keras yang tahan terhadap phishing serta sistem akses berbasis konteks agar hanya pengguna terverifikasi dengan perangkat yang aman dapat mengakses data sensitif.
Kedua, mengotomatisasi pertahanan dan penegakan postur keamanan. Tim keamanan disarankan beralih dari proses penambalan (patching) manual menuju sistem pertahanan otomatis, termasuk menggunakan Web Application Firewall (WAF) untuk memblokir ancaman sebelum pembaruan perangkat lunak dilakukan.
Ketiga, memodernisasi respons terhadap insiden siber. Menurut Reza, pelaku ancaman modern kini secara aktif berupaya menghancurkan log maupun cadangan data (backup), sehingga perusahaan perlu memiliki pipeline respons insiden berbasis cloud yang berjalan secara otomatis.
Integrasi analisis berbasis AI serta pengumpulan bukti secara otomatis juga dinilai mampu memangkas waktu penanganan ancaman dari hitungan hari menjadi hanya beberapa menit.
Keempat, membangun budaya keamanan yang kuat di lingkungan perusahaan. Menurut Reza, manajemen risiko siber harus menjadi bagian dari budaya organisasi sehingga karyawan tetap menjadi lini pertahanan pertama dalam menghadapi rekayasa sosial maupun ancaman berbasis AI.
BDO dorong penerapan manajemen risiko siber
Melihat kompleksitas ancaman digital yang terus berkembang, BDO Indonesia menyatakan berkomitmen mendampingi organisasi dalam membangun ketahanan siber melalui penerapan kerangka kerja manajemen risiko siber yang terstruktur.
Pendekatan tersebut dilakukan dengan membantu perusahaan mengidentifikasi aset kritis beserta kerentanannya, kemudian menerapkan kontrol keamanan yang dinilai mampu melindungi infrastruktur digital perusahaan.
Selain berfokus pada aspek teknologi, BDO Indonesia juga menyebut pendekatan yang diterapkan mencakup pembentukan budaya keamanan melalui pelatihan karyawan, pemantauan berkelanjutan, pengujian berkala, serta pengembangan sistem pertahanan agar organisasi lebih siap menghadapi berbagai ancaman siber di masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#kecerdasan-buatan #keamanan-digital #ancaman-siber #cloud-computing #ai