Kejahatan Siber Meningkat, ABI Perkuat Literasi Keamanan Digital
Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital dan kejahatan siber.
(Kompas.com) 26/06/26 21:38 261202
JAKARTA, KOMPAS.com – Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk penipuan digital dan kejahatan siber yang semakin berkembang.
Ini terutama seiring meningkatnya aktivitas transaksi digital dan pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Ajakan tersebut disampaikan dalam Festival Aman Digital 2026 yang diselenggarakan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) di Balai Kota Jakarta sebagai bagian dari upaya memperkuat literasi keamanan siber nasional melalui kolaborasi lintas sektor.
SHUTTERSTOCK/TIERNEYMJ Ilustrasi keamanan siber.Forum tersebut mempertemukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, regulator sektor keuangan, komunitas, hingga pelaku industri teknologi.
Direktur Operasi Keamanan dan Pengendalian Informasi BSSN Satryo Suryantoro mengatakan, peningkatan literasi keamanan siber merupakan bagian dari implementasi rencana aksi nasional keamanan siber yang membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan.
Aksi gerakan nasional 90 hari literasi keamanan siber sebagai bagian dari upaya bersama dalam mendukung implementasi rencana aksi nasional keamanan siber.
"Keberhasilan literasi keamanan siber tidak dapat diwujudkan oleh satu institusi saja. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh pemangku kepentingan, baik kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dunia pendidikan, komunitas, dunia usaha, media, maupun masyarakat luas," ujar Satryo dalam siaran pers, Jumat (26/6/2026).
Senada, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik Provinsi DKI Jakarta Marulina Dewi mengapresiasi kolaborasi berbagai pihak dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap keamanan siber.
shutterstock Ilustrasi keamanan siber."Forum ini menjadi bagian gerakan kita bisa mengantisipasi beragam ancaman siber. Serangan siber hari ini bukan lagi sekadar soal sistem yang down, melainkan sudah menyasar sisi psikologis manusia melalui social engineering, kebocoran data pribadi, hingga maraknya disinformasi," kata Marulina.
OJK: Kelompok usia produktif paling banyak menjadi sasaran
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur Departemen Perlindungan Konsumen OJK sekaligus Sekretariat Satgas PASTI Daniel Apriandi mengungkapkan, rendahnya literasi digital masih menjadi salah satu celah yang dimanfaatkan pelaku kejahatan siber.
Menurut dia, kelompok usia produktif menjadi target utama pelaku penipuan karena memiliki intensitas transaksi digital yang tinggi.
Kelompok usia 25 sampai 49 tahun adalah yang paling produktif sekaligus paling banyak disasar penipu, karena mereka yang paling aktif bertransaksi secara digital.
"Scam dengan modus phishing dan social engineering terus meningkat, diperparah dengan penggunaan AI dan deep fake yang kini mampu meniru wajah, suara, dan bahasa tubuh korban secara sempurna," ujar Daniel.
ABI dorong edukasi melalui Bulan Literasi Kripto
Mewakili Asosiasi Blockchain Indonesia, Anggota Departemen Advokasi Strategis ABI yang juga Public Policy & Government Relations Manager PINTU, Deny Giovanno, mengatakan pihaknya terus mendorong peningkatan literasi keamanan siber melalui berbagai program edukasi.
Salah satu program yang dijalankan adalah Bulan Literasi Kripto (BLK), yang telah diselenggarakan sejak 2023.
"Untuk memerangi kejahatan siber, kami terus mendorong peningkatan literasi keamanan siber yang dilakukan oleh ABI dan para anggotanya. Salah satunya melalui Bulan Literasi Kripto yang diadakan sejak tahun 2023. BLK adalah kampanye edukasi tahunan berskala nasional di Indonesia yang diinisiasi OJK bersama ABI yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang aset kripto dan teknologi blockchain," kata Deny.
Ia menambahkan, berbagai program literasi tersebut merupakan bentuk komitmen industri untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam mengenali berbagai modus penipuan di era digital.
"Berbagai inisiatif program literasi dan edukasi yang kami galakkan ini merupakan komitmen bersama kami untuk meningkatkan kritisisme masyarakat Indonesia dalam menghadapi berbagai bentuk penipuan di era digital," ujarnya.
Festival Aman Digital 2026 merupakan forum kolaboratif yang diselenggarakan BSSN untuk memperkuat ketahanan siber nasional sekaligus mempererat sinergi antarpemangku kepentingan dalam berbagi praktik baik, menyusun rekomendasi, dan memperluas jejaring literasi keamanan siber nasional.
Deny mengatakan, partisipasi ABI dalam Festival Aman Digital 2026 merupakan bagian dari komitmen asosiasi untuk mendukung agenda nasional peningkatan literasi keamanan siber sekaligus perlindungan konsumen.
"Ke depan, kami akan memperkuat sinergi dengan regulator, instansi pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan masyarakat dapat memanfaatkan teknologi blockchain dan aset kripto secara aman, bijak, dan bertanggung jawab," tutur Deny.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#keamanan-siber #kejahatan-siber #penipuan-digital #blockchain