Bedah Prospek Emiten IPO: RANS, EMMI, JELI hingga PRDL

Bedah Prospek Emiten IPO: RANS, EMMI, JELI hingga PRDL

Enam perusahaan siap IPO di tengah tekanan pasar saham 2026, menawarkan valuasi menarik dan prospek pertumbuhan. RANS, EMMI, JELI, dan PRDL jadi sorotan.

(Bisnis.Com) 29/06/26 10:47 262501

Bisnis.com, JAKARTA – Gelombang penawaran umum perdana saham (IPO) kembali ramai menjelang paruh kedua 2026. Di tengah tekanan yang masih membayangi pasar saham, enam perusahaan bersiap menguji minat investor sekaligus membuktikan daya tarik fundamental bisnis mereka.

Enam calon emiten tersebut adalah PT RANS Entertainment Indonesia Tbk. (RANS), PT Bach Multi Global Tbk. (BACH), PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX), PT Esa Medika Mandiri Tbk. (EMMI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk. (PRDL), serta PT Niramas Utama Tbk. (JELI).

Gelombang IPO tersebut berlangsung ketika pasar saham domestik masih berada dalam tekanan. Indeks harga saham gabungan (IHSG) tercatat melemah 31,81% secara year-to-date (YtD) ke level 5.896,14 hingga penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026).

Pelemahan IHSG juga diiringi aksi jual bersih (net sell) investor asing yang secara agregat mencapai Rp71,68 triliun. Dalam kondisi seperti ini, keberhasilan IPO akan sangat ditentukan oleh kemampuan emiten menawarkan valuasi yang menarik dan prospek pertumbuhan yang meyakinkan.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai antrean IPO saat ini memang bertepatan dengan tingginya BI Rate. Kondisi tersebut membuat biaya dana (cost of fund) dari sektor perbankan meningkat sehingga bunga kredit modal kerja maupun investasi menjadi lebih mahal.

Di sisi lain, melalui pasar modal perusahaan dapat menghimpun dana segar tanpa dibebani pembayaran bunga secara berkala maupun kewajiban pelunasan pokok utang sebagaimana pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Karena itu, IPO dinilai menjadi alternatif restrukturisasi permodalan yang lebih sehat untuk menjaga likuiditas perusahaan.

“Pendanaan lewat IPO di sisa akhir tahun ini sangat menarik dari sisi kebutuhan emiten, tetapi proses eksekusinya akan menuntut kompromi besar pada penentuan harga perdana agar bisa memikat likuiditas investor yang sedang selektif,” jelas Nafan, dikutip Minggu (28/6/2026).

Menurut Nafan, investor tetap perlu bersikap selektif dengan mempertimbangkan kombinasi valuasi, profitabilitas, sponsor atau ultimate beneficial owner (UBO), penggunaan dana IPO, hingga risiko likuiditas setelah saham tercatat di Bursa.

Dalam penilaiannya, PRDL menjadi salah satu emiten yang menarik dari sisi valuasi. Emiten yang didukung Grup Prodia tersebut diperdagangkan pada kisaran price to earnings ratio (PER) 10,3–12,3 kali dengan price to book value (PBV) pasca-IPO sekitar 1,2–1,4 kali.

“Kalau BACH mencatat ROE tertinggi 28,9% dan didukung Grup Djarum, dengan potensi market cap sekitar Rp2,04 triliun,” jelas Nafan.

Sementara itu, JECX memiliki keunggulan berupa dukungan Grup Emtek serta potensi kapitalisasi pasar terbesar di antara calon emiten IPO lainnya, yakni sekitar Rp4,55 triliun. Namun, valuasinya juga menjadi yang paling premium dengan PER sekitar 52,9–61,8 kali.

Untuk RANS, Nafan menilai perusahaan memiliki keunggulan dari sisi brand awareness, mencatat return on assets (ROA) tertinggi sebesar 13,2%, serta debt to equity ratio (DER) terendah di antara para calon emiten IPO, yakni 0,35 kali.

“JELI dan EMMI sama-sama mencatat ROE solid masing-masing 27,0% dan 25,2%, namun valuasi yang premium dan leverage keduanya relatif lebih tinggi,” terang Nafan.

Growth Story

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai EMMI dan PRDL merupakan dua calon emiten yang memiliki growth story paling solid. Menurutnya, kedua perusahaan di sektor kesehatan tersebut masih ditopang oleh ekspansi bisnis diagnostik dan peluang penetrasi pasar yang luas.

Selain itu, Abida menilai RANS memiliki keunggulan sebagai emiten ekonomi kreatif dengan tingkat brand recognition yang tinggi. Namun, model bisnis berbasis konten masih memerlukan pembuktian mengenai keberlanjutan pertumbuhan usahanya.

Di sisi lain, JELI sebagai emiten sektor konsumer dinilai memiliki basis permintaan yang relatif stabil sehingga dapat menopang prospek pertumbuhan jangka panjang.

Dalam menilai penggunaan dana IPO, Abida menjelaskan bahwa alokasi dana untuk melunasi utang tidak serta-merta mengurangi daya tarik suatu emiten, selama langkah tersebut dibarengi dengan rencana ekspansi bisnis yang jelas.

Menurutnya, pelunasan utang pada periode suku bunga tinggi justru dapat memperkuat struktur neraca dan meningkatkan profitabilitas perusahaan pada masa mendatang. Yang perlu dicermati investor adalah proporsi penggunaan dana antara deleveraging dan investasi untuk pertumbuhan sebagai indikator kualitas growth story perusahaan.

Secara keseluruhan, Abida menilai momentum IPO pada semester kedua 2026 berpotensi membaik seiring meredanya tensi geopolitik, meningkatnya kepastian pasca-evaluasi MSCI, serta peluang rebound IHSG yang dapat membuka window of opportunity lebih kondusif bagi emiten baru.

“Antrean IPO yang mulai ramai adalah sinyal pemulihan kepercayaan pasar modal dengan kualitas emiten sebagai penentu keberlanjutan momentum,” jelas Abida.

Gelombang IPO pada sisa tahun ini juga dinilai mendapat dukungan dari tingginya tingkat suku bunga. Menurutnya, IPO justru menjadi alternatif pendanaan yang lebih menarik di tengah BI Rate sebesar 5,75% karena tidak menambah beban bunga sebagaimana pinjaman bank.

_____

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

#ipo-2026 #emiten-ipo #pasar-saham #rans-entertainment #bach-multi-global #nitrasanata-dharma #esa-medika-mandiri #prodia-diagnostic-line #niramas-utama #ihsg-melemah #net-sell-investor #valuasi-emiten

https://market.bisnis.com/read/20260629/192/1984012/bedah-prospek-emiten-ipo-rans-emmi-jeli-hingga-prdl