Ekonomi RI Kuat di Angka, Rapuh di Struktur?

Ekonomi RI Kuat di Angka, Rapuh di Struktur?

PHK menghantui, rupiah loyo. Pemerintah klaim ekonomi kuat, namun pakar soroti rapuhnya struktur. Kenapa angka positif tak selaras realita?

(Kompas.com) 30/06/26 14:41 263725

JAKARTA, KOMPAS.com - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor manufaktur dan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS yang melemah belakangan membuat masyarakat khawatir dengan kondisi ekonomi Indonesia

Padahal, pemerintah dan DPR RI berulang kali menyebut kondisi fundamental Indonesia saat ini baik-baik saja.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 memang mencapai 5,61 persen.

Itu capaian yang baik dan pemerintah tidak keliru menyampaikannya sebagai kabar positif.

"Kalau ditanya apakah fundamental ekonomi kita benar-benar kuat, saya akan bilang kuat di angka, tetapi belum kuat secara struktur," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Namun, bagi dia, pertanyaannya bukan hanya seberapa tinggi pertumbuhannya, tetapi apa yang mendorong pertumbuhan itu.

Kalau dilihat lebih dalam, pertumbuhan masih ditopang konsumsi rumah tangga yang terdorong momentum Idul Fitri, THR, dan berbagai stimulus pemerintah.

Kemudian, belanja pemerintah juga meningkat sangat tinggi.

Sementara investasi swasta dan ekspor belum menjadi penggerak utama.

"Artinya, pertumbuhan ini masih bergantung pada faktor yang sifatnya sementara, bukan pada fondasi ekonomi yang benar-benar kuat," imbuh dia.

Yusuf bilang, hal tersebut juga menjelaskan mengapa pertumbuhan tinggi bisa terjadi bersamaan dengan rupiah yang melemah dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang meningkat.

"Ini bukan kontradiksi, tetapi cerminan masalah yang sama," ungkap dia.

Ia menjelaskan, struktur ekonomi masih bergantung pada impor bahan baku.

Ketika rupiah melemah, biaya produksi naik, industri kehilangan daya saing, lalu perusahaan melakukan efisiensi.

"Dampaknya paling terasa di sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki yang belakangan mencatat PHK cukup besar," tutup dia.

Pertumbuhan ekonomi bersifat temporer

Ekonom sekaligus Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Esther Sri Astuti mengatakan, prospek ekonomi Indonesia sebenarnya cukup baik.

Indonesia mempunyai Sumber Daya Alam (SDA) melimpah, Sumber Daya Manusia (SDM) yang banyak dan murah, serta pasar domestik yang menjanjikan.

"Namun memang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih didominasi konsumsi, yang sifatnya temporer," kata dia kepada Kompas.com, Selasa (30/6/2026).

Ia menambahkan, untuk menguatkan fundamental ekonomi maka tidak hanya butuh stabilitas nilai tukar tetapi juga stabilitas harga.

"Agar stabilitas nilai tukar terjaga maka butuh aliran modal yang besar dari investasi dan devisa negara dari ekspor dan pariwisata serta pekerja migran," ungkap dia.

Sementara itu untuk menciptakan stabilitas harga dibutuhkan pasokan bahan pangan dan produk domestik yang lebih besar daripada impor.

Dengan demikian, devisa negara juga tidak tergerus oleh impor.

Dominasi fiskal akan berdampak pada pelemahan nilai tukar, jika alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tidak berorientasi mendorong investasi dan ekspor.

"Oleh karena itu, independensi bank sentral dan disiplin fiskal menjadi salah satu solusi bagi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dan indikator makroekonomi lainnya," pungkas dia.

Momentum pertumbuhan tertekan

Sementara itu, Ekonom sekaligus Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Budi Frensidy mengatakan ekonomi Indonesia sedang berada dalam fase perlambatan yang serius.

"Dengan kata lain, fondasi ekonomi mungkin belum mengalami krisis, tetapi momentum pertumbuhannya sedang menghadapi tekanan," kata dia kepada Kompas.com, Senin (29/6/2026).

Oleh karena itu, ia bilang, tantangan utama pemerintah adalah mengembalikan kepercayaan investor, memperkuat investasi, dan mendorong penciptaan lapangan kerja.

Hal ini bertujuan agar klaim pemerintah yang menyebut kondisi ekonomi Indonesia kuat itu dapat benar-benar dirasakan oleh dunia usaha dan masyarakat.

"Tidak seperti kondisi yang kita hadapi dan saksikan saat ini," imbuh dia.

Freepik Ilustrasi pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, ia berujar, dari sisi inflasi, pertumbuhan ekonomi, kesehatan perbankan, dan fundamental Indonesia memang masih relatif terjaga.

Namun begitu, pasar keuangan juga menilai faktor lain seperti nilai tukar, arus modal asing, kredibilitas kebijakan, prospek industri, tren suku bunga, dan kesempatan kerja baru.

"Yang terjadi justru semakin banyak PHK dan sulit mencari kerja untuk para lulusan kita. Di sinilah tantangan Indonesia saat ini masih cukup besar," ucap dia.

Ia menambahkan, pelemahan nilai tukar rupiah lebih banyak dipengaruhi kombinasi penguatan dollar AS, arus keluar modal, dan meningkatnya persepsi risiko investor.

Sementara itu, gelombang PHK mencerminkan tekanan di sektor atau industri tertentu akibat melemahnya permintaan, kenaikan biaya, serta proses restrukturisasi perusahaan.

"Jadi, keduanya tidak otomatis bertentangan dengan indikator makro yang diklaim pemerintah masih relatif baik," tutup dia.

Sebagai informasi, Wakil Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Mari Elka Pangestu mengatakan, pemerintah dan DPR sepakat bahwa fundamental ekonomi Indonesia baik-baik saja, setelah mereka melakukan rapat koordinasi mengenai pertumbuhan ekonomi.

Hanya saja, Mari mengakui bahwa saat ini sedang terjadi pelemahan mata uang rupiah.

"Mungkin juga yang disepakati, keadaan ekonomi Indonesia sebetulnya secara fundamental cukup baik. Namun, kita memang menghadapi pelemahan rupiah yang lebih daripada peers kita," ujar Mari, dalam jumpa pers di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Atas kondisi ini, Mari menyebut pemerintah harus mewaspadai, serta menjaga isu confidence dan trust dari pasar.

Kepercayaan pasar tidak terlepas dari kebijakan-kebijakan yang akan diambil oleh pemerintah.

Mari mengatakan, pemerintah sepakat semua negara sedang menghadapi keadaan global yang tidak pasti.

"Yang penting bagaimana sebuah negara itu merespons terhadap keadaan global yang tidak pasti itu, dan ada kesepakatan saya rasa yang tercapai bahwa yang penting adalah menjaga kestabilan makroekonomi di jangka pendek," tutup dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#fundamental-ekonomi #rupiah-melemah #stabilitas-makroekonomi #phk-manufaktur

https://money.kompas.com/read/2026/06/30/144100826/ekonomi-ri-kuat-di-angka-rapuh-di-struktur-