Pasar Obligasi Negara Dibayangi Tren Penurunan Harga SUN
Pasar obligasi negara menunjukkan penurunan yield SUN hingga 95 bps di 2025, dengan permintaan lelang kuat dan likuiditas domestik mendukung stabilitas.
(Bisnis.Com) 04/11/25 09:37 26544
Bisnis.com, JAKARTA – Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) mencatat pasar obligasi negara melanjutkan perbaikan kinerja pada kuartal III/2025 yang ditandai oleh berlanjutnya penurunan yield SUN dan permintaan yang kuat dalam lelang SUN.
Berdasarkan data KSSK dalam konferensi pers, Senin (3/11/2025), yield Surat Utang Negara (SUN) seri acuan tenor 10 tahun turun 62 basis poin (bps) year-to-date (YtD) ke level 6,36% pada akhir kuartal III/2025 dan terus turun hingga level 6,07% pada 31 Oktober 2025 atau turun 95 bps sepanjang tahun ini.
Spread SUN seri benchmark tenor 10 tahun dengan obligasi Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun juga turun ke level 221 bps pada akhir kuartal III/2025 dan 196 bps pada 31 Oktober 2025.
Di sisi lain, pasar perdana Surat Berharga Negara (SBN) juga diklaim terjaga kuat. Salah satunya tecermin dari bid to cover ratio dalam lelang SUN yang mencapai 3,86 kali selama kuartal III/2025.
"Kinerja pasar SBN didukung oleh likuiditas domestik yang memadai, kinerja fiskal yang kuat, serta prospek perekonomian domestik yang solid," tulis KSSK dalam siaran pers, dikutip Selasa (4/11/2025).
Berdasarkan data BNI Sekuritas tren penurunan harga SUN masih berlanjut pada sesi perdagangan kemarin.
Berdasarkan data dari PHEI, yield SUN Benchmark 5-tahun (FR0104) naik sebesar 8 bps menjadi 5,50% dan yield SUN Benchmark 10-tahun (FR0103) meningkat sebesar 6 bps ke level 6,13%. Data Bloomberg menunjukkan yield curve SUN 10-tahun (GIDN10YR) meningkat sebesar 8 bps menjadi 6,16%.
Volume transaksi SBN secara outright traded tercatat sebesar Rp18,9 triliun kemarin, lebih rendah dari volume transaksi di hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp38,4 triliun.
FR0103 dan FR0108 menjadi dua seri obligasi negara teraktif di pasar sekunder, dengan volume transaksi masing-masing sebesar Rp5,1 triliun dan Rp3,8 triliun. Sementara itu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp3,5 triliun.
Per pagi ini, indikator global menunjukkan sinyal yang cenderung negatif. Yield curve US Treasury (UST) 5-tahun dan 10-tahun masing-masing meningkat sebesar 1 bps dan 2 bps menjadi 3,72% dan 4,13%. Sementara itu, Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia bertahan di 74 bps.
Head of Fixed Income Research BNI Sekuritas Amir Dalimunthe mengatakan peningkatan volatilitas harga dan yield SBN berdenominasi rupiah perlu terus diantisipasi. Berdasarkan valuasi yield curve, BNI Sekuritas memperkirakan bahwa obligasi berikut akan menarik bagi para investor: FR0098, FR0079, FR0083, FR0106.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual obligasi. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#obligasi-negara #harga-sun #pasar-obligasi #yield-sun #lelang-sun #spread-sun #pasar-sbn #likuiditas-domestik #kinerja-fiskal #prospek-ekonomi #tren-penurunan-harga #yield-curve #volume-transaksi-sbn #n-a