Defisit Neraca Perdagangan Ancam Emiten Energi? Ini Kata Analis

Defisit Neraca Perdagangan Ancam Emiten Energi? Ini Kata Analis

Defisit neraca perdagangan tidak serta-merta merusak prospek bisnis emiten di sektor energi. Namun...

(Kompas.com) 02/07/26 07:10 265821

JAKARTA, KOMPAS.com - Defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 dinilai belum langsung mengganggu prospek bisnis emiten batu bara atau energi.

Namun, kondisi tersebut berpotensi menekan kinerja emiten apabila pelemahan volume ekspor berlanjut dan memicu tekanan terhadap nilai tukar rupiah serta sentimen di pasar saham.

Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatat defisit pada Mei 2026.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan defisit sebesar 1,61 miliar dollar AS, mengakhiri tren surplus perdagangan yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.

Capaian tersebut berbalik dibandingkan April 2026 yang masih membukukan surplus 89,1 juta dollar AS.

Defisit pada Mei 2026 terutama dipicu oleh lonjakan defisit sektor minyak dan gas (migas), seiring meningkatnya nilai impor migas yang jauh melampaui ekspornya.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan defisit neraca perdagangan tidak serta-merta merusak prospek bisnis emiten di sektor energi.

Pasalnya, penyebab utama defisit berasal dari lonjakan impor minyak dan gas (migas) yang meningkat 70,78 persen secara tahunan (year on year/YoY), sehingga dampaknya terhadap fundamental emiten energi relatif terbatas.

“Secara langsung, defisit neraca perdagangan tidak serta-merta merusak prospek bisnis emiten energi, karena pemicu utamanya adalah lonjakan impor migas (naik 70,78 persen YoY),” ujar Nafan saat dihubungi Kompas.com, Rabu malam (1/7/2026).

Meski demikian, secara tidak langsung defisit dapat menekan nilai tukar rupiah.

Untuk diketahui, setelah BPS merilis data neraca perdagangan RI, kurs rupiah di pasar spot terdepresiasi 45 poin ke level Rp 17.952 per dollar AS, saat penutupan perdagangan Rabu sore.

Prospek operasional emiten batu bara masih tetap solid karena mayoritas merupakan net exporter. Justru, tekanan yang muncul lebih banyak berasal dari sentimen di pasar modal, khususnya terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi arus modal keluar (capital outflow) dari bursa RI.

“Bagi emiten batu bara, prospek bisnis operasional mereka sebenarnya masih solid karena mereka adalah net exporter. Tekanan lebih bersifat sentimen pasar di bursa efek (IHSG) akibat adanya kekhawatiran arus modal keluar (capital outflow) dari pasar domestik,” paparnya.

Di sisi lain, data BPS menunjukkan volume ekspor batu bara secara kumulatif pada Januari-Mei 2026 turun 8,19 persen secara tahunan menjadi 143,56 juta ton.

Penurunan menjadi sinyal bahwa permintaan dari negara tujuan utama, seperti China dan India, mulai melambat.

Hal itu dipengaruhi oleh tingginya produksi batu bara domestik di China, serta meningkatnya penggunaan energi terbarukan (EBT) di pasar global yang secara bertahap mengurangi kebutuhan impor batu bara termal dalam volume besar.

“Selain karena tingginya produksi domestik di China, peningkatan penetrasi energi terbarukan di pasar global perlahan mulai mengikis urgensi impor batu bara termal volume tinggi,” sebut dia.

Jika ekspor batu bara melambat, bagaimana dampaknya terhadap pendapatan dan laba emiten batu bara pada semester II-2026?

Nafan mencatat apabila tren perlambatan volume ekspor batu bara berlanjut hingga semester II-2026, emiten batu bara berpotensi mengalami penurunan pendapatan dan laba bersih secara tahunan.

Tekanan tersebut merupakan efek ganda (double whammy) dari menyusutnya volume penjualan, serta lebih rendahnya harga jual rata-rata (average selling price/ASP) dibandingkan saat periode booming komoditas, meskipun harga batu bara global saat ini masih bertahan di kisaran 125 dollar AS hingga 129 dollar AS per ton.

Emiten yang paling rentan menghadapi tekanan tersebut adalah perusahaan dengan porsi ekspor sangat tinggi, yakni di atas 70-80 persen, yang didominasi batu bara berkalori rendah hingga menengah, serta memiliki fleksibilitas pasar dan logistik yang terbatas.

Ia memastikan PT Adaro Energy Indonesia Tbk (ADRO) dan PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi contoh emiten dengan volume ekspor yang besar.

Selain itu, emiten batu bara skala menengah hingga kecil yang belum memiliki kontrak jangka panjang dengan pembeli global juga dinilai lebih berisiko apabila tren pelemahan ekspor terus berlanjut.

“Contohnya ADRO dan BUMI dari sisi volume ekspor yang masif, serta emiten batu bara skala menengah-kecil yang tidak memiliki kontrak jangka panjang terproteksi dengan penyerap global,” lanjut Nafan.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#defisit-neraca-perdagangan #impor-migas #kurs-rupiah #emiten-batu-bara

https://money.kompas.com/read/2026/07/02/071000526/defisit-neraca-perdagangan-ancam-emiten-energi-ini-kata-analis