Mengapa Harga Bitcoin (BTC) Naik dan Turun? Ini Sejumlah Penyebabnya
Pergerakan harga bitcoin (BTC) kerap tampak misterius bagi banyak investor, termasuk investor pemula.
(Kompas.com) 04/11/25 17:18 27263
JAKARTA, KOMPAS.com - Pergerakan harga bitcoin (BTC) kerap tampak misterius bagi banyak investor, termasuk investor pemula.
Pada satu waktu harga bitcoin melesat ke rekor baru, di lain waktu anjlok puluhan persen.
Aset kripto terbesar di dunia ini bukan hanya menjadi barometer sentimen investor terhadap industri kripto, tetapi juga cerminan dinamika ekonomi global.
UNSPLASH/ERLING LOKEN ANDERSEN Ilustrasi bitcoin.Dalam beberapa bulan terakhir, harga BTC terus berfluktuasi dipengaruhi oleh beragam faktor, mulai dari arus dana institusional ke produk ETF, perubahan kebijakan suku bunga bank sentral, hingga sentimen pasar terhadap regulasi aset digital.
Pada Selasa (4/11/2025), harga bitcoin berada di level 104.376 dollar AS, dikutip dari Beincrypto.
Harga bitcoin hari ini melanjutkan kerugian dari akhir pekan setelah mencapai harga tertinggi 111.190 dollar AS pada Jumat (31/10/2025) dan 111.250 dollar AS pada hari Minggu.
Untuk memahami mengapa nilainya bisa naik atau turun begitu cepat, penting bagi investor dan masyarakat umum untuk mengenali faktor-faktor utama yang membentuk harga bitcoin di pasar.
Kenapa harga bitcoin naik dan turun?
Berikut beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan harga bitcoin.
1. Aliran uang institusional dan ETF
Unsplash/michael fortsch Ilustrasi Bitcoin, mata uang kripto paling bernilai di dunia.Masuknya modal institusi lewat produk seperti exchange-traded fund (spot) alias ETF Bitcoin terbukti memberi tekanan beli besar pada pasar.
Pada 2025, sejumlah laporan menyebut inflow ETF sebagai pendorong utama reli harga bitcoin, termasuk gelombang masuk modal yang tercatat di kuartal-kuartal tertentu dan hari-hari dengan arus masuk ratusan juta dollar AS.
Dikutip dari Reuters, ketika dana institusional membeli besar, permintaan naik sehingga harga terdorong naik. Namun, arus keluar (outflows) dari ETF juga bisa memicu koreksi cepat karena likuiditas yang berpindah keluar pasar dalam jumlah besar.
Contoh, beberapa hari di Oktober 2025 tercatat terjadi aliran masuk hampir 876 juta dollar AS ke spot ETF Bitcoin pada satu hari, sementara minggu lain ada catatan outflow ratusan juta dollar AS yang berkontribusi pada tekanan jual.
2. Sentimen makroekonomi: suku bunga, nilai tukar dollar AS, dan likuiditas global
Bitcoin sering bereaksi terhadap kondisi makro, seperti kebijakan bank sentral (The Fed, ECB), ekspektasi pemotongan suku bunga, dan pergerakan indeks dollar AS.
Periode di mana suku bunga sedang turun atau ekspektasi pelonggaran moneter meningkat biasanya memperkuat arus modal ke aset berisiko seperti bitcoin.
Sebaliknya, pengetatan kebijakan moneter atau penguatan dollar AS sering mendorong modal keluar dari aset risiko dan menekan harga.
Menurut Coin Desk, laporan pasar pada 2025 menunjukkan sentimen terhadap keputusan suku bunga dan arah kebijakan moneter turut membentuk pergerakan harga jangka pendek.
“Konsolidasi harga yang kita lihat saat ini sejatinya mencerminkan mekanisme adaptasi pasar digital terhadap kondisi makroekonomi global yang berubah cepat. Investor tidak lagi hanya bereaksi terhadap angka-angka suku bunga atau kebijakan moneter, tetapi mulai menilai konteks keseluruhan, dari geopolitik, arus modal institusional, hingga psikologi pasar. Koreksi yang terjadi setelah pengumuman The Fed adalah contoh nyata dari perilaku pasar yang semakin rasional," tutur Vice President Indodax Antony Kusuma, terkait koreksi harga bitcoin pada akhir pekan lalu, sebagai respons usai The Fed memangkas suku bunga acuan.
UNSPLASH/KANCHANARA Mata uang kripto paling mahal di dunia, bitcoin (BTC). Harga Bitcoin anjlok ke Rp 1,84 miliar akibat memanasnya perang dagang AS?China.Dalam kasus beberapa waktu terakhir, shutdown pemerintah AS telah merusak kepercayaan terhadap dollar AS dan mendorong investor mencari alternatif.
Dikutip dari Sky News, senior associate Bitwise Max Shannon mengatakan inflasi yang sangat tinggi, yang mengikis daya beli, merupakan faktor lainnya.
Beberapa negara juga meningkatkan pasokan moneter yang melemahkan nilai uang yang beredar, seiring dengan meningkatnya utang pemerintah.
Hal ini menyebabkan apa yang dikenal sebagai "perdagangan penurunan nilai", di mana investor menumpuk uang tunai mereka ke dalam apa yang disebut aset "keras" seperti bitcoin dan emas.
Bitcoin memiliki pasokan tetap, artinya tidak akan ada lebih dari 21 juta. Hampir 95 persen di antaranya sudah beredar, dengan sejumlah kecil koin memasuki pasar setiap hari.
Para penggemar kripto berpendapat hal ini menciptakan bentuk kelangkaan yang mendorong harga naik, karena permintaan BTC jauh lebih tinggi daripada pasokan.
3. Regulasi dan kepastian hukum: faktor katalis dan pemecah sentimen
Perubahan regulasi, semisal persetujuan atau pelarangan produk kripto, aturan bursa, atau kebijakan pajak, memiliki dampak langsung pada permintaan.
Kejelasan regulasi, misalnya persetujuan spot ETF Bitcoin di AS atau sinyal positif dari pembuat kebijakan, bisa meningkatkan kepercayaan investor institusional dan ritel sehingga mendorong harga.
Sebaliknya, larangan, tindakan keras terhadap bursa, atau ancaman aturan ketat dapat memicu jual paksa dan penurunan harga.
DOK. Shutterstock. Ilustrasi Bitcoin.Kejelasan regulasi atau regulatory clarity sering dipandang sebagai pemicu reli besar harga bitcoin di 2024–2025.
4. Penawaran di pasar: halving, aktivitas penambang, dan likuiditas on-chain
Struktur penawaran bitcoin tetap terbatas, ketersediaan maksimal 21 juta koin dan mekanisme halving (pengurangan reward blok) mengurangi laju suplai baru.
Halving bitcoin 2024, yang terjadi pada April 2024, mengurangi reward penambangan dan menjadi bahan spekulasi pasar tentang peningkatan kelangkaan jangka menengah.
Selain itu, aktivitas penambang, yaitu apakah mereka menjual hasil tambang untuk biaya operasional dan seberapa banyak bitcoin yang diparkir di cold wallet versus yang berada di bursa memengaruhi pasokan yang tersedia untuk diperdagangkan.
5. Mekanisme pasar derivatif: futures, leverage, dan likuidasi
Kontrak berjangka (futures), opsi, dan pasar derivatif memungkinkan trader menggunakan leverage besar.
Ketika posisi berleveraged berbalik, terjadilah margin calls dan likuidasi yang bisa mempercepat penurunan harga (stop-loss cascade). Sebaliknya, short squeeze atau ketika posisi jual besar ditekan oleh kenaikan harga, dapat mempercepat kenaikan tajam.
6. Faktor pasar psikologis dan berita: viralitas memicu pergerakan ekstrem
Bitcoin sangat sensitif terhadap berita besar. Pengumuman korporasi, misalnya pembelian oleh perusahaan besar, kebangkrutan bursa, penegakan hukum terhadap pemain besar, atau cuitan figur publik di media sosial kerap memicu reaksi emosional pasar.
Selain itu, momentum teknikal (level support/resistance, moving averages) sering diperkuat oleh perilaku trading algoritmik sehingga pergerakan bisa menjadi self-fulfilling.
THINKSTOCKPHOTOS Ilustrasi Bitcoin.Ambil contoh, koreksi harga bitcoin pada akhir pekan lalu diyakini Antony adalah respons terhadap berita terkait perundingan perdagangan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Menurut dia, fenomena ini menunjukkan bahwa harga aset digital tidak hanya dipengaruhi oleh pemangkasan suku bunga, tetapi juga oleh ekspektasi terhadap pertumbuhan ekonomi global dan sentimen geopolitik yang berkembang.
Ia menambahkan, pertemuan Trump–Xi menegaskan bahwa faktor geopolitik masih menjadi salah satu penggerak utama sentimen investor.
"Kesepakatan tarif dan penyelesaian isu rare earths memberikan sinyal positif, tetapi pasar cenderung menunggu implementasi nyata sebelum benar-benar bereaksi. Investor kripto yang bijak akan memanfaatkan volatilitas ini untuk melakukan akumulasi, bukan sekadar ikut tren harga," terangnya.
7. Korelasi dengan aset lain dan diversifikasi portofolio
Dalam beberapa periode bitcoin menunjukkan korelasi yang lebih kuat dengan saham teknologi atau indeks tertentu.
Peningkatan korelasi ini mengurangi statusnya sebagai “non-korrelasi” tradisional dan menyebabkan bitcoin bergerak bersama aliran modal pasar global.
Misalnya, saat pasar saham turun tajam, bitcoin juga bisa turun.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#bitcoin #btc #harga-bitcoin #indepth #pergerakan-harga-bitcoin #harga-btc #kenapa-harga-bitcoin-naik-dan-turun