Mengenal Pendanaan Iklim, Kenapa jadi Topik Penting di COP30?

Mengenal Pendanaan Iklim, Kenapa jadi Topik Penting di COP30?

Pendanaan iklim menjadi fokus utama di COP30 di Brasil untuk mendukung transisi energi dan adaptasi perubahan iklim, terutama bagi negara miskin.

(Bisnis.Com) 11/11/25 15:27 35252

Bisnis.com, JAKARTA — Kebutuhan transisi energi ke sumber terbarukan untuk menurunkan emisi hasil pembakaran fosil makin besar. Begitu pula persiapan menghadapi cuaca ekstrem efek pemanasan global yang makin mendesak.

Kondisi inilah yang membuat pendanaan iklim menjadi salah satu topik penting yang dibawa ke meja perundingan konferensi iklim COP30 di Belem, Brasil.

Apa itu Pendanaan Iklim?

Pendanaan iklim merupakan segala bentuk pembiayaan dari pemerintah, bank pembangunan, investor dan filantropis atau lembaga hibah yang ditujukan untuk membantu negara menurunkan emisi gas rumah kaca atau beradaptasi menghadapi dampak perubahan ikim. Salah satu contoh pendanaan iklim adalah proyek-proyek energi terbarukan di negara berkembang maupun dukungan infrastruktur untuk menghadapi bencana banjir.

Mengapa Pendanaan Iklim Penting?

Pendanaan iklim merupakan aspek penting untuk negara-negara miskin. Tanpa dukungan ini, negara-negara dalam kelompok tersebut akan kesulitan menurunkan emisi dalam aktivitas ekonomi mereka atau dekarbonisasi. Populasi di negara miskin yang rentan terhadap dampak krisis iklim juga berisiko tak terlindungi tanpa pendanaan iklim yang memadai.

Selain itu, negara-negara miskin secara historis meninggalkan jejak emisi karbon yang jauh lebih rendah daripada negara-negara industri dan maju. Berdasarkan Traktat Iklim PBB 1992 atau United Nations Framework Conventions on Climate Change (UNFCCC) telah menegaskan bahwa negara dengan kontribusi emisi yang jauh lebih rendah menanggung beban tanggung jawab dalam mengatasi masalah iklim yang lebih sedikit pula.

Berangkat dari perbedaan tanggung jawab ini, pendanaan iklim telah menjadi pusat perdebatan dalam negosiasi iklim internasional. Jumlah komitmen pendanaan yang diberikan negara-negara maju acap kali menjadi dasar untuk mengukur keseriusan mereka dalam menangani krisis iklim.

Perselisihan Utama

Terlepas dari beban tanggung jawab yang berbeda sebagaimana tertuang dalam UNFCCC, perselisihan soal negara mana yang harus membayar pendanaan iklim masih mengemuka. Begitu pula jumlah dan mekanisme distribusi dana. Secara historis, hanya negara-negara industri seperti Amerika Serikat, Jepang, dan negara-negara Eropa yang telah berkontribusi.

Namun, negara-negara berkembang baru dengan jejak emisi tinggi seperti China, India dan negara-negara Teluk produsen minyak kini mulai didesak untuk ikut serta dalam pembiayaan ini. Menanggapi ini, Beijing bersikeras bahwa China harus tetap masuk dalam kategori negara berkembang di bawah UNFCCC.

Sementara itu, negara-negara berkembang yang mayoritas telah dibebani dengan tingkat utang yang tinggi juga mendesak distribusi dana dalam bentuk hibah daripada utang. Laporan Bank Dunia pada Desember 2024 menunjukkan bahwa utang luar negeri negara berpenghasilan rendah dan menengah telah naik lebih dari US$205 miliar daripada 2023 sehingga secara total menembus US$8,8 triliun.

Target yang Telah Disepakati dan Dicapai

Target pendanaan iklim global pertama ditetapkan pada 2009, ketika negara-negara kaya berjanji menyalurkan US$30 miliar per tahun. Komitmen tersebut meningkat pada 2010 menjadi US$100 miliar per tahun hingga 2020, tetapi target tersebut baru tercapai sepenuhnya pada 2022.

Secara terpisah, bank-bank pembangunan multilateral menyalurkan sekitar US$137 miliar untuk pendanaan iklim pada 2024, dengan 62% atau US$85,1 miliar di antaranya dialokasikan ke negara berpenghasilan rendah dan menengah. Setahun sebelumnya, total pendanaan mencapai US$125 miliar.

Dalam kesepakatan COP29 di Baku, negara donor sepakat menaikkan target gabungan menjadi US$300 miliar per tahun pada 2035, sementara hingga tahun tersebut target tahunan diasumsikan tetap di US$100 miliar.

Seberapa Besar Dana yang Dibutuhkan?

Pendanaan iklim dari pemerintah negara kaya kini berfungsi sebagai modal awal untuk menarik investasi swasta ke proyek ramah lingkungan. Lembaga nirlaba Climate Policy Initiative (CPI) memperkirakan arus pendanaan iklim global pada 2022 mencapai sekitar US$1,46 triliun, sekitar separuhnya berasal dari sektor swasta. Angka ini naik menjadi hampir US$1,6 triliun pada 2023.

Bagi negara berkembang, para peserta COP29 di Baku sepakat meningkatkan pendanaan tahunan menjadi paling sedikit US$1,3 triliun. Puluhan menteri keuangan juga meluncurkan “Baku-to-Belem Roadmap” yang berisi rekomendasi untuk mencapai target tersebut. Namun, jumlah ini masih jauh di bawah kebutuhan tahunan sebesar US$7,4 triliun hingga 2030 yang dihitung CPI untuk memenuhi target iklim global.

Untuk negara berkembang di luar China setelah 2030, Independent High-Level Expert Group on Climate Finance memperkirakan kebutuhan tahunan mencapai US$2,4 triliun dan meningkat menjadi US$3,3 triliun pada 2035.

Saat Negara Kaya Mulai Mengurangi Dukungan, Apa Selanjutnya?

Negara-negara maju telah memangkas bantuan pembangunan dalam beberapa tahun terakhir karena fokus pada keamanan energi, stabilitas ekonomi, serta pembiayaan perang dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Tahun lalu, bantuan pembangunan luar negeri hanya mencapai US$212,1 miliar. Angka ini merefleksikan penurunan lebih dari 7% dibandingkan tahun sebelumnya menurut data sementara OECD.

Kondisi ini pun mendorong reformasi regulasi keuangan untuk menarik lebih banyak modal swasta, perbaikan peringkat kredit, dan praktik pinjaman baru di bank pembangunan multilateral. Salah satu gagasan yang tengah berkembang adalah blended finance, yakni skema pembiayaan di mana pemerintah dan lembaga filantropi bersedia menanggung sebagian kerugian atau pengembalian rendah untuk menarik partisipasi investor swasta dengan risiko lebih kecil.

Brasil sendiri mendorong negara-negara di COP30 untuk berkontribusi pada inisiatif Tropical Forests Forever Facility (TFFF) yang baru diluncurkan. Fasilitas ini menargetkan penghimpunan dana sebesar US$25 miliar dari pemerintah dan lembaga filantropi guna memobilisasi tambahan US$100 miliar dari modal swasta.

#pendanaan-iklim #transisi-energi #emisi-gas-rumah-kaca #perubahan-iklim #energi-terbarukan #krisis-iklim #negara-berkembang #negara-miskin #unfccc #cop30 #pembiayaan-iklim #proyek-ramah-lingkungan #in

https://hijau.bisnis.com/read/20251111/653/1927918/mengenal-pendanaan-iklim-kenapa-jadi-topik-penting-di-cop30