Pendapatan untuk Konsumsi Turun, Tabungan Masyarakat Terdampak
Rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) mencapai 74,7 persen pada Oktober 2025.
(Kompas.com) 12/11/25 18:15 36700
JAKARTA, KOMPAS.com - Rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) mencapai 74,7 persen pada Oktober 2025.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni 75,1 persen.
Hal ini terungkap dalam Survei Konsumen (SK) Bank Indonesia (BI) Oktober 2025.
PIXABAY/TUNG LAM Ilustrasi belanja, belanja di supermarket.Sementara itu, proporsi pembayaran cicilan atau utang (debt to income ratio) sebesar 11,0 persen pada Oktober 2025, relatif stabil dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya sebesar 11,2 persen.
Lebih lanjut, proporsi pendapatan konsumen yang disimpan alias ditabung (saving to income ratio) sebesar 14,3 persen, lebih tinggi dibandingkan proporsi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 13,7 persen.
Proporsi konsumsi terhadap pendapatan terindikasi menurun pada sebagian kelompok pengeluaran yaitu kelompok Rp 1 juta sampai Rp 2 juta, yakni 76,5 persen). Kemudian, pada kelompok pengeluaran Rp 3,1 juta sampai Rp 4 juta mencapai 72,8 persen.
Adapun, proporsi konsumsi terhadap pendapatan pada kelompok pengeluaran di atas Rp 5 juta tercatat mencapai 70,5 persen.
Bank sentral mencatat, porsi pendapatan yang ditabung mengalami peningkatan pada mayoritas kelompok pengeluaran, terutama pada kelompok pengeluaran lebih dari Rp 5 juta, yaitu 16,5 persen.
Ini artinya, pendapatan masyarakat yang dibelanjakan sebagai konsumsi menurun pada Oktober 2025 dibandingkan September 2025.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.Sementara itu, porsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk membayar utang atau cicilan relatif stabil.
Adapun, pendapatan yang ditabung relatif meningkat pada Oktober 2025 dibandingkan bulan sebelumnya. Ini khususnya terjadi pada kelompok masyarakat menengah ke atas, dengan pengeluaran di atas Rp 5 juta per bulan.
Tren penurunan tabungan nasabah perorangan sudah terjadi sejak kuartal I 2025
Meski pendapatan yang ditabung relatif meningkat, namun jumlah tabungan atau simpanan nasabah perorangan tertekan.
Dalam laporannya, Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia menyatakan, pada kuartal I 2025 pertumbuhan tabungan tercatat mencapai 7,15 persen secara tahunan (year on year/yoy).
Angka ini meningkat dibandingkan 6,75 persen (yoy) pada kuartal IV 2024.
Namun demikian, LPEM FEB UI mencatat, simpanan nasabah perorangan terkontraksi 1,09 persen (yoy) pada kuartal I 2025.
"Hal ini menunjukkan bahwa banyak individu menarik dananya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jangka pendek," tulis LPEM FEB UI dalam laporannya yang berjudul Indonesia Economic Outlook 2026.
Tren ini, kata lembaga tersebut, mencerminkan tekanan pada kondisi keuangan masyarakat, di mana tabungan digunakan untuk membiayai kebutuhan pokok seperti makanan, listrik, air, dan transportasi.
Penurunan simpanan nasabah perorangan ini erat kaitannya dengan melemahnya daya beli.
"Data perbankan juga menunjukkan rerata tabungan untuk kelompok tabungan di bawah Rp 1 miliar terus menurun, sebuah indikasi masyarakat menggerus tabungan untuk memenuhi kebutuhan harian," ungkap LPEM FEB UI.
UNSPLASH/TOWFIQU BARBHUIYA Ilustrasi tabungan. Kehilangan pekerjaan bisa datang tiba-tiba. Agar keuangan tetap aman, dana darurat jadi penyelamat utama. Simak lima cara sederhana membangunnya sejak sekarang.Kemudian, pada kuartal II 2025, dana pihak ketiga (DPK) di bank umum dan bank perekonomian rakyat (BPR) melanjutkan tren perlambatan.
LPEM FEB UI mencatat, pada kuartal II 2025, pertumbuhan DPK perbankan mencapai 3,54 persen (yoy) dibandingkan pada kuartal I 2025 yang mencapai 5,04 persen (yoy).
"Perlambatan ini terjadi secara luas di seluruh jenis simpanan, mencerminkan fenomena rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan menengah ke bawah, yang menarik simpanan mereka untuk membiayai kebutuhan sehari-hari seperti makanan, listrik, air, dan transportasi, serta untuk menutupi peningkatan konsumsi selama periode Idul Fitri dan libur sekolah pertengahan tahun," jelas LPEM FEB UI.
Sementara itu, simpanan giro tumbuh 3,17 persen (yoy) pada kuartal II 2025, melambat dari 4,77 persen (yoy) pada kuartal I 2025.
Simpanan tabungan juga melemah menjadi 5,29 persen (yoy) pada kuartal II 2025 dari 7,15 persen (yoy) pada kuartal I 2025.
Adapun simpanan berjangka hanya tumbuh 2,30 persen (yoy) pada kuartal II 2025, turun dari 3,41 persen (yoy) pada kuartal I 2025.
Indeks menabung konsumen turun
Lembaga Penjamin Simpanan (LPSP) melaporkan, Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada bulan September 2025 berada di level 77,3, turun 1,6 poin dari posisi bulan sebelumnya.
Ini sejalan dengan pelemahan Indeks Intensitas Menabung (IIM) pada periode yang sama, yakni 3,6 poin ke level 67,1. Sementara itu, komponen Indeks Waktu Menabung (IWM) tercatat sedikit meningkat, yakni 0,4 poin ke level 87,4.
SHUTTERSTOCK/LOVEYDAY12 Ilustrasi menabung, bijak mengelola keuangan.
1. Jumlah uang yang ditabung lebih kecil
Adapun, terkait komponen IIM, porsi responden yang menilai bahwa jumlah yang ditabung lebih kecil dari yang direncanakan naik dari 47,5 persen pada Agustus 2025 menjadi 54,4 persen pada September 2025.
Akan tetapi, di periode yang sama, porsi responden yang menyatakan tidak pernah menabung turun dari 32,0 persen menjadi 30,3 persen.
2. Waktu yang tepat untuk menabung menurut konsumen
LPS menyatakan, terkait komponen IWM, persentase responden yang menilai saat ini adalah waktu yang tepat untuk menabung tercatat meningkat menjadi 26,1 persen pada September 2025 dari 24,5 persen pada Agustus 2025.
Di samping itu, persentase responden yang menyatakan tiga bulan mendatang merupakan waktu yang tepat untuk menabung tercatat meningkat, yaitu menjadi 35,8 persen dari 31,6 persen pada periode yang sama.
“Perkembangan ini mencerminkan intensitas menabung konsumen yang melandai seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga untuk pendidikan pada tahun akademik baru. Meski demikian, niat menabung konsumen masih terjaga, baik untuk saat ini maupun tiga bulan ke depan,” ujar Direktur Group Riset LPS, Seto Wardono di Jakarta, Kamis (2/10/2025).
3. Indeks menabung rumah tangga berpendapatan rendah turun
Selanjutnya, IMK pada beberapa kelompok pendapatan rumah tangga (RT) tercatat menurun di bulan September 2025.
IMK kelompok RT berpendapatan di atas Rp 1,5 juta sampai Rp 3 juta per bulan mengalami kontraksi paling dalam, yakni turun 6,1 poin secara bulanan atau month on month (mom).
Kemudian, diikuti IMK RT berpendapatan antara Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per bulan, turun 1,9 poin.
Dok. SHUTTERSTOCK Ilustrasi tabungan, rekening dormant.Lalu, IMK RT berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan tercatat turun 0,4 poin.
Meski menurun, IMK RT berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan tetap berada di atas 100. Sebaliknya, terjadi peningkatan IMK pada kelompok RT berpendapatan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan naik 21,8 poin (mom).
Sebagai informasi, Indeks Menabung Konsumen (IMK) menunjukkan niat dan kemampuan menabung konsumen.
Level IMK di atas 100 menunjukkan niat dan kemampuan menabung konsumen yang tinggi.
IMK terdiri dari dua komponen penyusun yaitu Indeks Intensitas Menabung (IIM) dan Indeks Waktu Menabung (IWM).
IIM menunjukkan penilaian konsumen tentang intensitas dan kemampuan menabung, sedangkan IWM menggambarkan penilaian konsumen terhadap waktu yang tepat untuk menabung atau niat untuk menabung.
Sementara itu, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) menunjukkan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi, lapangan kerja dan pendapatan rumah tangga.
Level IKK di atas 100 menunjukkan konsumen lebih optimis terhadap kondisi ekonomi secara umum, ekonomi wilayah, kondisi lapangan kerja saat ini, dan prospeknya dalam enam bulan mendatang.
Tabungan ditarik untuk konsumsi jangka pendek
LPEM FEB UI dalam laporannya sempat menyatakan, kontraksi simpanan nasabah perorangan mengindikasikan banyak masyarakat tarik dana tabungan untuk memenuhi konsumsi jangka pendek.
THINKSTOCKS Saat ini suku bunga tabungan berkisar antara 0 persen hingga di bawah 1 persen. Uang yang ditabung juga bisa berkurang tergerus biaya admin dan inflasi."Hal ini menunjukkan bahwa banyak individu menarik dananya untuk memenuhi kebutuhan konsumsi jangka pendek," kata lembaga tersebut dalam laporannya.
LPEM FEB UI mengatakan, tren ini mencerminkan tekanan pada kondisi keuangan masyarakat, di mana tabungan digunakan untuk membiayai kebutuhan pokok seperti makanan, listrik, air, dan transportasi.
"Penurunan simpanan nasabah perorangan ini erat kaitannya dengan melemahnya daya beli," ungkap LPEM FEB UI.
Sementara itu, Direktur Group Riset LPS Seto Wardono menyatakan, intensitas menabung konsumen yang melandai seiring dengan meningkatnya pengeluaran rumah tangga.
"Terutama untuk pendidikan di tahun ajaran baru,” ujar Seto dalam keterangan resmi pada Kamis (02/10/2025).
Menurut Seto, penurunan jumlah tabungan erat kaitannya dengan tekanan biaya hidup, terutama kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, hingga kondisi lapangan kerja yang belum sepenuhnya pulih.
“Konsumen menghadapi kenaikan harga sembako dan kondisi lapangan kerja yang sulit, sehingga berkontribusi pada penurunan IKK bulan lalu. Faktor lain adalah kegagalan panen akibat cuaca ekstrem dan harga pupuk yang mahal,” jelas Seto.
Meski jumlah tabungan menurun, LPS menegaskan niat menabung konsumen tetap ada, tercermin dari optimisme masyarakat untuk menyisihkan uang dalam beberapa bulan ke depan.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang#tabungan #membayar-utang #simpanan-nasabah #indepth #pendapatan-konsumen #pendapatan-yang-ditabung