Garuda (GIAA) Tunda Penambahan Pesawat Baru, Pengamat: Tak Mendesak!
Garuda Indonesia (GIAA) menunda ekspansi armada dan fokus perbaikan pesawat demi keselamatan dan efisiensi.
(Bisnis.Com) 14/11/25 15:03 38586
Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat penerbangan memandang langkah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA) menunda ekspansi armada dan memilih perbaikan pesawat eksiting, menjadi pilhan paling tepat di tengah kondisi keuangan saat ini.
Pengamat Penerbangan Alvin Lie melihat pilihan ini jauh lebih realistis. Mengingat, perbaikan pesawat lebih mendesak karena terkait keselamatan penerbangan, On Time Performance, dan peningkatan utilisasi pesawat.
“Ini lebih realistis. [Penambahan pesawat] Tidak mendesak,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (14/11/2025).
Alvin berujar, pertimbangan ekspansi harus menyesuaikan rute yang dilayani. Selain itu, juga terkait utilisasi pesawat yang ada.
Idealnya, operasional pesawat minimal 12 jam per hari dan 250 jam per bulan. Namun, saat ini pesawat Garuda rata-rata terbang kurang dari 10 jam per hari.
Senada, Ketua Forum Transportasi Penerbangan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Aris Wibowo memandang solusi ini paling efektif karena kondisi keuangan Garuda yang belum mencatatkan keuntungan.
Sementara melihat sisi untung rugi keputusan tersebut, Aris menuturkan bahwa optimalisasi aset yang ada saat ini menjadi pilihan paling bijak. Namun, sebaiknya skenario tersebut hanya bersifat jangka pendek.
Dalam jangka panjang, Garuda Indonesia tetap harus merencanakan pembelian armada baru untuk menghindari kerugian di masa mendatang.
“Secara logika, semakin tua usia suatu sarana, dia akan memerlukan biaya pemeliharaan yang lebih besar, ini bisa jadi potenis kerugian,” tutur Aris.
Kerugian lainnya adalah apabila regenerasi armada tak kunjung dilakukan, maka khawatir akan mengubah perspektif para pengguna jasa angkutan udara karena kondisi pesawat sudah berumur.
Menurutnya, pengadaan armada baru dapat dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi finansial di masa mendatang. Selain itu, juga terhadap tren perkembangan penumpang angkutan udara, baik empat tahun atau lima tahun mendatang.
“Ini pilihan bijak untuk jangka pendek, tapi menengah dan panjang, Garuda tetap harus mempertimbangkan opsi itu [penambahan pesawat]” tambahnya.
Direktur Utama Garuda Indonesia Glenny Kairupan mengatakan, seiring dengan dorongan dari Danantara dan ancang-ancang private placement, Garuda Indonesia telah menjajaki nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) untuk mendatangkan empat pesawat.
Kemudian, hanya satu pesawat saja yang jadi untuk didatangkan, sebab satu pesawat itu telah terlanjur untuk dibayarkan uang muka atau down payment (DP). Sisanya, pesawat yang sudah dipesan GIAA diputuskan untuk ditunda kedatangannya.
"Diprioritaskan kemudian ke perbaikan [pesawat]. Alasannya prioritasnya ke perbaikan, kalau tidak diperbaiki kami bayar terus," kata Glenny dalam konferensi pers Garuda Indonesia pada Kamis (13/11/2025).
Mengacu hasil rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada Rabu (12/11/2025), para pemegang saham menyetujui nilai private placement sebesar Rp23,67 triliun.
Nilai itu susut dari rencana sebelumnya berdasarkan keterbukaan informasi per Oktober 2025 sebesar Rp30,31 triliun.
Dalam keterbukaan informasi terkait rencana private placement sebelumnya, GIAA juga disebutkan akan memanfaatkan 22% dana dari private placement untuk melakukan ekspansi armada Garuda Indonesia dan Citilink. Namun, pada keputusannya, tidak ada lagi peruntukan dana private placement untuk ekspansi armada.
#garuda-indonesia #tunda-armada #perbaikan-pesawat #pengamat-penerbangan #kondisi-keuangan #keselamatan-penerbangan #on-time-performance #utilisasi-pesawat #ekspansi-rute #operasional-pesawat #forum-tr