Utang Luar Negeri Indonesia Turun jadi Rp7.091 Triliun, Efek SBN Kurang Peminat

Utang Luar Negeri Indonesia Turun jadi Rp7.091 Triliun, Efek SBN Kurang Peminat

Utang Luar Negeri Indonesia turun jadi Rp7.091 triliun pada September 2025, dipengaruhi kontraksi sektor swasta dan melambatnya pertumbuhan sektor publik.

(Bisnis.Com) 17/11/25 11:47 40331

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia melaporkan Utang Luar Negeri Indonesia turun menjadi US$424,4 miliar pada September 2025, atau sekitar Rp7.091,7 triliun (asumsi kurs JISDOR 14 November 2025 Rp16.710 per dolar AS). Posisi itu lebih rendah dari bulan sebelumnya yakni US$431,9 miliar.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Ramdan Denny Prakoso melaporkan bahwa posisi utang eksternal itu terkontraksi 0,6% (year on year/YoY). Pertumbuhannya lebih rendah dari bulan yang mencapai 2% (YoY).

"Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh melambatnya pertumbuhan ULN sektor publik dan kontraksi pada ULN sektor swasta," terang Denny dalam keterangannya, Senin (17/11/2025).

Adapun, ULN terbagi ke utang pemerintah dan swasta. ULN pemerintah tercatat sebesar US$210,1 miliar atau tumbuh 2,9% (YoY) pada September 2025. Pertumbuhannya juga melambat dari bulan sebelumnya yang mencapai 6,7%.

Menurut Denny, perkembangan ULN pemerintah itu dipengaruhi oleh kontraksi pertumbuhan aliran masuk modal asing pada Surat Berharga Negara (SBN) domestik seiring ketidakpastian pasar keuangan global yang masih tinggi.

Lebih lanjut, dia menyebut ULN diarahkan untuk untuk mendukung pembiayaan program-program prioritas yang mendorong keberlanjutan dan penguatan perekonomian nasional.

Berdasarkan sektornya, ULN pemerintah dimanfaatkan untuk Sektor Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial (23,1% dari total ULN pemerintah); Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib (20,7%); Jasa Pendidikan (17,0%); Konstruksi (10,7%); Transportasi dan Pergudangan (8,2%); serta Jasa Keuangan dan Asuransi (7,5%).

"Posisi ULN pemerintah tersebut didominasi utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,9% dari total ULN pemerintah," paparnya.

Sementara itu, ULN swasta sebesar US$191,3 miliar pada September 2025. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan posisi bulan sebelumnya sebesar US$194,2 miliar.

Perinciannya, kontraksi pertumbuhan terjadi kepada ULN bukan lembaga keuangan atau nonfinancial corporations yakni 1,7% (YoY). Sementara itu, ULN lembaga keuangan atau financial corporations terkontraksi 3% (YoY).

Berdasarkan sektor ekonomi, pangsa ULN swasta terbesar berasal dari Sektor Industri Pengolahan; Jasa Keuangan dan Asuransi; Pengadaan Listrik dan Gas; serta Pertambangan dan Penggalian, dengan pangsa mencapai 81% terhadap total ULN swasta.

Sejalan dengan itu, rasio ULN Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) turun menjadi 29,5% pada September 2025, relatif stabil dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 30%. Dominasi ULN jangka panjang juga sebesar 86,1% terhadap total ULN, sedikit meningkat dari bulan sebelumnya sebesar 85,9%.

"Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN. Peran ULN juga akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. Upaya tersebut dilakukan dengan meminimalkan risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," tutup Denny.

#utang-luar-negeri #utang-indonesia #utang-pemerintah #utang-swasta #utang-luar-negeri-september-2025 #uln #uln-september-2025 #berapa-utang-luar-negeri #berapa-utang-negara #berapa-utang-pemerintah #b

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251117/9/1929352/utang-luar-negeri-indonesia-turun-jadi-rp7091-triliun-efek-sbn-kurang-peminat