Industri Ekonomi Kreatif RI Butuh Insentif dan Regulasi yang Fleksibel
Industri kreatif RI hadapi tantangan birokrasi, insentif, fasilitasi, efek pengganda, dan konsolidasi. Solusi diperlukan untuk pertumbuhan pesat.
(Bisnis.Com) 19/11/25 15:36 43407
Bisnis.com, JAKARTA — Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Jakarta mengungkapkan beragam tantangan dalam pengembangan industri ekraf di Tanah Air.
Ketua Dewan Pengawas Komite Ekraf Jakarta Ricky Pesik menyampaikan Indonesia, khususnya DKI Jakarta, memiliki banyak platform industri kreatif seperti musik hingga sinema.
Namun, dia menilai terdapat sejumlah tantangan yang mesti diselesaikan agar industri ekonomi kreatif berkembang dengan pesat. Pertama adalah permasalahan birokrasi, yang semestinya lebih efektif.
“Karena natur industri kreatif yang sangat berubah-ubah, cepat sekali mengalami disrupsi, dan teknologi sangat mempengaruhi perkembangannya,” kata Ricky dalam acara Jakarta IP Market 2025 di Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, Rabu (19/11/2025).
Menurutnya, tanpa birokrasi yang efektif, perkembangan pesat industri kreatif terbilang mustahil. Hal ini berkaitan dengan tantangan berikutnya terkait insentif.
Ricky menyoroti kurangnya insentif untuk industri kreatif Tanah Air, terutama jika dibandingkan dengan negara tetangga. Dia mencontohkan, di sektor perfilman, insentif pajak dapat diberikan agar industri dalam negeri lebih bersaing.
Tantangan ketiga adalah fasilitasi yang berkelanjutan dari pemerintah. Dari sisi pembiayaan, misalnya, dia mendorong kemudahan fasilitasi secara terus-menerus.
“Jadi kita harus menemukan rumus baru sebenarnya, bagaimana pengelolaan fasilitasi yang lebih sustainable buat banyak sektor kreatif, terutama platform-platform besar,” ujar Ricky.
Keempat, Ricky menggarisbawahi tantangan terkait pemanfaatan efek pengganda alias multiplier effect.
Dia melihat adanya peluang untuk mengisi kekosongan ekosistem industri kreatif, yang menyangkut tantangan kelima yaitu konsolidasi industri.
“Kita belum punya ekosistem yang memastikan, misalnya film-film box office kita juga akan menikmati multiplier effect dari penjualan merchandise, licensing, segala macam,” terang Ricky.
Diberitakan sebelumnya, Komite Ekonomi Kreatif Jakarta bersama Asosiasi IP Kreatif Indonesia (AIPI) menggelar Jakarta IP Market 2025 yang mempertemukan pemilik lisensi kekayaan intelektual, brand global, dan industri manufaktur terbesar di Indonesia.
Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno berharap pergelaran ini dapat menjadi wadah kolaborasi antara para pencipta karya intelektual dengan berbagai pelaku industri untuk memperkuat komersialisasi karya kreatif lokal.
“Ini pertama kalinya Indonesia memiliki kegiatan yang mempertemukan IP creator dengan brand dan manufaktur dalam satu ruang kolaborasi strategis,” kata Rano usai pembukaan JIPM 2025, dikutip dari laman Pemprov DKI Jakarta, Selasa (18/11/2025).
#industri-kreatif #ekonomi-kreatif #tantangan-industri #pengembangan-ekraf #birokrasi-efektif #insentif-industri-kreatif #fasilitasi-pemerintah #multiplier-effect #ekosistem-kreatif #konsolidasi-indust