BKPM Pamer Dampak Hilirisasi Nikel: Ekonomi Daerah Tumbuh hingga Pengangguran Turun
Hilirisasi nikel di Sulawesi dan Maluku Utara meningkatkan ekonomi lokal dan menurunkan pengangguran, dengan ekspor produk turunan melonjak 4 kali lipat.
(Bisnis.Com) 20/11/25 16:53 44661
Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM) mengungkap pertumbuhan hilirisasinikel dalam lima tahun terakhir telah memicu pertumbuhan positif ekonomi daerah, utamanya Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Maluku Utara.
Direktur Hilirisasi Mineral dan Batu Bara BKPM Rizwan Aryadi Ramdhan mengatakan pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tengah dan Maluku Utara tumbuh hingga melampaui pertumbuhan nasional pada periode 2019-2023.
Pada 2019, pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara masih berada di angka 6,25%, sedangkan ekonomi nasional tumbuh 5,02%. Pada 2023, ekonomi di wilayah tersebut tumbuh hingga 20,49% sedangkan ekonomi Indonesia di angka 5,05%.
Sementara itu, di wilayah Sulawesi Tengah tumbuh 8,83% pada 2019, sedangkan pada 2023 tumbuh hingga 11,91%. Namun, pertumbuhan ekonomi di Sulawesi Tenggara masih stabil di angka 5% lantaran hilirisasi nikel yang tidak semasif di dua wilayah sebelumnya.
"Lalu juga tingkat penganggurannya berkurang meskipun di Maluku Utara ada peningkatan sedikit di 2023 karena ada tingkat seimbangan supply dan penyerapannya," kata Rizwan dalam Bisnis Indonesia Forum (BIF), Kamis (20/11/2025).
Dalam catatan BKPM, tingkat pengangguran terbuka (TPT) di provinsi-provinsi lokasi hilirisasi nikel tersebut relatif rendah yakni dikisaran 2%-4% atau dibawah TPT nasional sebesar 5%.
Untuk diketahui, hilirisasi nikel hingga saat ini memang masif dilakuakn di Sulawesi Tengah dan Sulawesi Utara. Sementara itu, hilirisasi atau pengolahan produk turunannya berada di wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur.
"Disana memang ekosistem turunan bahan baku realisasi di semihilir dan hilir. Misalnya kalau di Jawa Barat ada kawasan ekosistem kendaraan listrik dan baterai bahan baku EV," tuturnya.
Di sisi lain, dia juga menyoroti masifnya perusahaan hilirisasi nikel membuat nilai ekspor produk turunan nikel mengalami lonjakan dalam 5 tahun terakhir hingga 4 kali lipat dibandingkan tahun 2019.
Kontribusi ekspor produk turunan nikel Indonesia di pasar global meningkat dari semula hanya 2,77% pada 2019 menjadi 10,9% pada 2023. Adapun, 5 besar negara tujuan ekspor produk turunan nikel yaitu China, Taiwan, India, Jepang, dan Vietnam.
Dari segi teknologi, fasilitas pengolahan dan pemurnian nikel di Indonesia juga makin beragam. Teknologi pirometalurgi (pengolahan biji saprolite) masih mendominasi hingga 77% atau 131 dari 170 fasilitas nikel di Tanah Air.
Sementara itu, smelter dengan teknologi hidrometalurgi (pengolahan bijih limonite) tumbuh ekspansif. Adapun, saat ini terdapat 22 semlter HPAL yang masih konstruksi dan 3 telah beroperasi.
#hilirisasi-nikel #ekonomi-daerah #pertumbuhan-ekonomi #sulawesi-tengah #maluku-utara #sulawesi-tenggara #pengangguran-turun #ekspor-nikel #produk-turunan-nikel #teknologi-pirometalurgi #teknologi-hidr