Garut Tak Mau Gagal Panen jadi Bencana Ekonomi, Gencarkan Proteksi Asuransi
Pemerintah Garut berikan bantuan alsintan dan asuransi pertanian untuk cegah gagal panen, tingkatkan produktivitas, dan lindungi petani dari risiko ekonomi.
(Bisnis.Com) 20/11/25 19:42 44951
Bisnis.com, GARUT — Pemerintah Kabupaten Garut menyalurkan bantuan alat mesin pertanian (alsintan) serta premi asuransi pertanian kepada kelompok tani belum lama ini.
Langkah ini menjadi salah satu strategi daerah dalam menjaga stabilitas produksi pangan di tengah peningkatan biaya budidaya, risiko iklim ekstrem, serta tekanan permintaan yang terus naik di tingkat regional Jawa Barat.
Bupati Garut Abdusy Syakur Amin mengatakan bahwa kebijakan tersebut menyasar dua kebutuhan mendasar petani, yakni peningkatan produktivitas dan pengurangan risiko gagal panen.
Bantuan alsintan yang diberikan mencakup traktor, pompa air, corn sheller, dan power thresher. Seluruhnya merupakan peralatan dasar yang menentukan efisiensi kerja di lahan maupun pascapanen.
"Kami juga menanggung premi AUTP [asuransi usaha tani padi] dan asuransi mikro [ASMIK] untuk melindungi petani dari kerugian langsung saat terjadi serangan hama, banjir, kekeringan, hingga anomali cuaca," kata Syakur, dikutip pada Kamis (20/11/2025).
Syakur menyebut bahwa penguatan sektor pangan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan struktural daerah. Dia menilai Garut memiliki peran penting dalam menjaga suplai pangan Jawa Barat, sehingga setiap kebijakan yang bersifat produktif dan mitigatif harus diprioritaskan.
"Kalau terjadi gagal panen, setidaknya petani tidak jatuh sampai titik nol. Ada modal untuk kembali menanam dan mempertahankan siklus produksi,” ujarnya.
Ditambahkan Syakur, sebagian besar usaha tani masih bergantung pada modal operasional musiman. Ketika gagal panen terjadi, dampaknya bukan hanya hilangnya pendapatan satu musim, tetapi juga terputusnya kemampuan petani melanjutkan proses budidaya.
Tanpa intervensi jaminan kerugian, lanjut Syakur, roda produksi bisa macet, harga bergejolak, dan ketahanan pangan daerah terganggu.
Sementara itu, pemberian alsintan diproyeksikan mengurangi beban biaya tenaga kerja sekaligus meningkatkan kecepatan olah tanah dan proses panen.
Pada komoditas padi, misalnya, penggunaan traktor dapat memangkas waktu pengolahan lahan hampir separuh dibandingkan metode manual. Sementara corn sheller dan power thresher mempercepat proses pascapanen yang selama ini menjadi salah satu titik kehilangan hasil (losses) bagi petani.
Dengan demikian, bantuan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai stimulus, tetapi juga menjadi instrumen efisiensi ekonomi," kata Syakur.
Di sisi lain, skema AUTP menjadi instrumen risiko yang krusial. Asuransi ini memberi talangan ketika petani mengalami gagal panen, sehingga arus ekonomi di tingkat desa tetap terjaga.
Tanpa jaminan, petani rentan terjebak utang atau menghentikan aktivitas produksi. Dalam konteks ketahanan pangan, gangguan kecil di hilir dapat berimbas pada kenaikan harga beras atau defisit stok di tingkat kabupaten.
Syakur menekankan agar penguatan kapasitas produksi menjadi tujuan utama kebijakan ini. Menurutnya, Garut memiliki peluang besar untuk mempertahankan diri sebagai lumbung pangan Jawa Barat, tetapi peluang itu hanya bisa diwujudkan bila efisiensi produksi dan perlindungan risiko berjalan bersamaan.
"Kami mendorong agar seluruh intervensi pertanian diarahkan pada peningkatan hasil yang signifikan, bukan sekadar mempertahankan pola lama yang rawan stagnasi," ujarnya.
#asuransi-pertanian #gagal-panen #proteksi-asuransi #alsintan-garut #produksi-pangan #risiko-iklim-ekstrem #premi-autp #asuransi-mikro #efisiensi-ekonomi #ketahanan-pangan #harga-beras #suplai-pangan-j