Oleh-Oleh Gibran dari KTT G20 Afrika Selatan: Bahas MBG hingga Tata Kelola AI
Wapres Gibran Rakabuming Raka bahas makan bergizi gratis (MBG) saat pidato di KTT G20, singgung juga soal krisis pangan global yang terus menghantui dunia.
(Bisnis.Com) 24/11/25 12:56 47999
Bisnis.com, JAKARTA – Wakil Presiden (Wapres) Gibran Rakabuming Raka untuk pertama kalinya sejak dilantik, mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah forum internasional di luar negeri, yakni Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Johannesburg, Afrika Selatan.
Kehadirannya menandai debut diplomatik Gibran di panggung global sekaligus menunjukkan kepercayaan Presiden Prabowo terhadap peran strategis sang wakil dalam membawa agenda Indonesia ke dunia internasional.
Wapres Ke-14 RI itu pun muncul membawa satu gagasan yang mungkin tak disangka menjadi sorotan: pentingnya makan bergizi bagi anak-anak Indonesia dan dunia.
Bagi sebagian orang, topik pangan dan makan bergizi mungkin tidak terdengar seprestisius pembahasan utang global, kecerdasan buatan, atau transisi energi hijau. Tetapi bagi Indonesia, isu ini justru menjadi kunci membangun generasi masa depan.
Dan di panggung G20, Gibran membawa “oleh-oleh” pemikiran yang mencerminkan penggabungan kepentingan kemanusiaan, pembangunan ekonomi, dan strategi geopolitik yang lebih luas.
Bersama para pemimpin dari 37 negara dan berbagai organisasi internasional, Gibran mengikuti sesi-sesi pembahasan yang berlangsung maraton. Dari ketahanan pangan global, pengurangan risiko bencana, hingga tata kelola kecerdasan buatan, Indonesia tampil bukan sekadar peserta, melainkan penggerak agenda Global South yang semakin bersuara lantang.
Dalam sesi pembukaan KTT, Gibran menyoroti krisis pangan global yang terus menghantui dunia. Menurut laporan KTT, terdapat 720 juta penduduk dunia masih mengalami kelaparan. Angka itu menjadi latar penting ketika Indonesia memaparkan pengalaman di dalam negeri melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Program ini bukan hanya untuk memberi makan, tetapi menjadi model pembangunan manusia yang semakin relevan dalam konteks krisis global. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan pesan kunci Gibran dalam forum itu.
"Wakil Presiden menegaskan ketahanan pangan bukan hanya agenda ekonomi, tetapi juga kebutuhan mendasar dan investasi strategis," kata Airlangga dalam konferensi pers di Johannesburg, Sabtu (22/11).
Melalui MBG, Indonesia ingin menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak bisa dipisahkan dari strategi pembangunan ekonomi. Program ini berdampak langsung pada produksi pangan lokal, pemberdayaan petani, stabilitas harga, hingga aktivitas ekonomi UMKM.
Airlangga menambahkan bahwa Gibran melihat MBG sebagai model yang bisa diterapkan lebih luas. Dia menegaskan kembali bagaimana program ini dapat memperkuat rantai pasok dalam negeri.
“Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi contoh nyata yang memperkuat pemanfaatan produk lokal, memberdayakan petani dan peternak, sekaligus memperluas kegiatan ekonomi dengan rantai pasok yang menjangkau seluruh pelosok Indonesia,” ucap Airlangga.
Dengan membawa MBG ke forum G20, Indonesia ingin menunjukkan bahwa investasi pada pangan dan gizi bukan sekadar kebijakan domestik, tetapi tonggak pembangunan berkelanjutan yang layak dicontoh negara lain terutama negara berkembang di Afrika.
Di G20, Gibran juga menekankan perlunya membangun ketangguhan menghadapi bencana. Sebagai negara yang berada di ring of fire, Indonesia sangat rentan terhadap gempa bumi, letusan gunung api, dan tsunami.
“Bapak Wakil Presiden menggarisbawahi bahwa bencana tidak hanya bersifat alamiah. Sebagian merupakan akibat perbuatan manusia. Kita melihat hal itu terjadi di Gaza, Ukraina, Sudan, Sahel, dan banyak kawasan lain,” kata Airlangga.
Ucapan ini menggambarkan posisi Indonesia yang mengedepankan solidaritas dan kemanusiaan. Di panggung global, Gibran membawa pesan bahwa tata kelola dunia harus menempatkan kepentingan manusia sebagai pusat kebijakan, bukan sekadar kepentingan geopolitik.
Dalam konteks domestik, Indonesia juga tengah membangun sistem peringatan dini dan penguatan mitigasi untuk meminimalkan dampak bencana. Dengan empat dari lima penduduk hidup di wilayah rawan bencana, Indonesia menjadikan isu ini sebagai prioritas jangka panjang.
Reformasi Sistem Pembiayaan Global: Suara Tuntas dari Negara Berkembang
Tidak hanya soal pangan dan bencana, Gibran memasuki arena yang jauh lebih kompleks: sistem pembiayaan global. Dalam sesi pleno, dia menyampaikan pentingnya akses pembiayaan yang lebih adil bagi negara berkembang.
“Wakil Presiden menegaskan bahwa pembiayaan internasional harus lebih mudah diakses dan setara bagi negara berkembang, termasuk melalui penghapusan utang, pembiayaan inovatif, dan dukungan untuk transisi hijau,” ujar Airlangga.
Indonesia melihat ketimpangan yang terus melebar antara negara maju dan negara berkembang. Banyak negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin masih terjebak dalam beban utang yang menghambat pembangunan jangka panjang.
Pemerintah juga tidak hanya menyerukan perubahan, tetapi menunjukkan contoh melalui pembiayaan campuran (blended finance), pendanaan hijau, dan penguatan kerja sama multilateral.
Pesan Indonesia jelas: tanpa perubahan mendasar, arsitektur keuangan global tidak akan mampu menopang pertumbuhan yang inklusif.
Di luar topik berat seperti utang dan transisi energi, Indonesia juga membawa sesuatu yang lebih ringan tetapi sangat berdampak: teknologi pembayaran digital QRIS.
Dalam forum G20, solusi digital berbiaya rendah itu dijadikan contoh bagaimana inovasi sederhana dapat memperluas inklusi keuangan.
“Gibran juga menyoroti keberhasilan solusi digital sederhana seperti QR yang telah diadopsi berbagai negara Asia, serta mendorong dimulainya dialog G20 mengenai ekonomi kecerdasan di tengah pesatnya perkembangan teknologi keuangan,” kata Airlangga.
QRIS telah dipakai di Jepang, Korea Selatan, dan berpotensi diperluas ke negara-negara Afrika. Dengan biaya rendah dan kompatibilitas lintas negara, QRIS menjadi salah satu inovasi yang memperlihatkan potensi besar kolaborasi Global South.
Salah satu kontribusi gagasan Gibran yang menarik perhatian adalah dorongan agar G20 mulai membahas economy of intelligence—konsep yang menyoroti dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap perekonomian global.
Indonesia melihat bahwa AI tidak lagi sekadar isu teknologi, tetapi telah menjadi pusat dinamika ekonomi global. Dari keuangan, pertanian, logistik, hingga pertahanan, AI membentuk sistem baru yang memerlukan tata kelola kolektif. Indonesia ingin agar G20 menjadi tempat bagi dialog lebih terstruktur mengenai framework global untuk AI—agar teknologi ini tidak hanya dikendalikan oleh negara-negara maju.
G20 tahun ini menjadi penutup rangkaian presidensi tiga tahun negara-negara Global South—Indonesia (2022), India (2023), dan Afrika Selatan (2025).
Negara berkembang tidak lagi sekadar mengikuti agenda negara besar, tetapi aktif membentuk kebijakan global, termasuk reformasi keuangan, ketahanan pangan, dan isu kebencanaan. Disebutkan pula bahwa dokumen Leaders Declaration tahun ini lebih panjang dan lebih sarat kepentingan negara berkembang.
Minat Kerja Sama Bilateral: Afrika Melirik Indonesia
Di sela-sela KTT, Airlangga menyebut sejumlah negara menyampaikan minat memperdalam kerja sama bilateral dengan Indonesia. Angola dan Ethiopia, misalnya, menunjukkan ketertarikan kuat di sektor pertanian.
“Baik dari Anggola maupun Ethiopia menyatakan keinginan untuk berkunjung ke Indonesia… dan tentunya mereka juga membutuhkan support dari Indonesia, terutama untuk sektor agrikultur,” ucapnya
Ethiopia bahkan telah memiliki 5–6 perusahaan Indonesia yang beroperasi di sana. Sementara itu, Finlandia menunjukkan minat pada sektor data center dan telekomunikasi.
Ada pula penandatanganan MoU antara PT Dahana dan Rheinmetall untuk pembangunan fasilitas bahan peledak, serta rencana investasi hulu migas senilai US$2,6 miliar.
Kerja sama-kerja sama ini menunjukkan bahwa G20 tidak hanya melahirkan kesepakatan di atas kertas, tetapi membuka jalan hubungan ekonomi yang nyata.
Ketika delegasi meninggalkan ruang konferensi Johannesburg dan kamera televisi berhenti menyorot, jejak diplomasi Indonesia di G20 tetap terasa kuat. Dari MBG hingga kecerdasan buatan, dari pengurangan risiko bencana hingga reformasi keuangan global, Gibran membawa pulang “oleh-oleh” yang bukan hanya simbolis, tetapi strategis.
#gibran #gibran-rakabuming-raka #wapres #wapres-gibran #wapres-gibran-rakabuming-raka #ktt-g20 #g20 #pidato-gibran-di-ktt-g20 #mbg #makan-bergizi-gratis #topik-gibran-di-ktt-g20 #ktt-g20-di-afrika-sela