Warisan Pemikiran Sumitro, Prabowo Beberkan Inspirasi Ekonomi dari Sang Ayah

Warisan Pemikiran Sumitro, Prabowo Beberkan Inspirasi Ekonomi dari Sang Ayah

Prabowo Subianto mengungkapkan pandangan ekonominya yang terinspirasi dari ayahnya, Sumitro Djojohadikusumo, yang menggabungkan kapitalisme dan sosialisme.

(Bisnis.Com) 16/10/25 06:33 4996

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto berbicara tentang pandangan ekonominya yang berakar pada sejarah panjang keluarganya untuk berjalan beriringan antara kapitalisme dan sosialisme.

Hal ini dia sampaikan saat berdialog dengan Steve Forbes, Ketua dan Pemimpin Redaksi Forbes Media, dalam sesi “Pertemuan Pikiran” di ajang Forbes Global CEO Conference 2025 bertajuk “The World Pivot” di Hotel St. Regis Jakarta, Rabu (15/10/2025).

Awalnya, Steve Forbes menyinggung garis keturunan Prabowo yang berasal dari keluarga intelektual dan ekonom terkemuka Indonesia.

“Kakek Anda adalah pendiri salah satu bank terkenal, dan ayah Anda adalah ekonom brilian yang pernah melayani dua presiden Indonesia Soekarno dan Soeharto. Bagaimana latar belakang keluarga Anda membentuk pandangan ekonomi Anda?” tanya Forbes.

Menanggapi pertanyaan itu, Presiden Ke-8 RI itu menjawab dengan lugas, sambil mengaitkan sejarah keluarganya dengan dinamika perjuangan Indonesia melawan kolonialisme.

“Kakek saya hidup pada masa Indonesia masih menjadi koloni Belanda. Ayah saya menempuh pendidikan ekonomi di Belanda pada tahun 1940-an, masa ketika bangsa kami tengah berjuang untuk merdeka,” kata Prabowo.

Prabowo menjelaskan, pada masa itu, banyak pemimpin Asia dan Afrika yang berpandangan sosialis karena ideologi tersebut identik dengan perjuangan melawan imperialisme dan kolonialisme.

“Saat itu, hampir semua gerakan muda di Asia dan Afrika berhaluan kiri sosialis, bahkan komunis. Ayah saya pun seorang sosialis muda dan sempat menjadi pemimpin Partai Sosialis Indonesia,” ujarnya.

Namun, perjalanan sang ayah, Prof. Sumitro Djojohadikusumo, ke Amerika Serikat sebagai perwakilan Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) membawa perubahan besar dalam cara pandangnya.

“Di New York, beliau bergaul dengan banyak tokoh bisnis Amerika. Mereka para kapitalis, tapi juga anti-kolonialis dan menentang imperialisme. Ayah saya sering menyebut nama Matthew B. Fox, pendiri 20th Century Fox, yang membantu perjuangan kemerdekaan Indonesia,” imbuhnya.

Dari pengalaman itu, kata Prabowo, sang ayah belajar bahwa kapitalisme juga memiliki nilai-nilai penting yang dapat bersinergi dengan semangat sosialisme.

“Ketika kembali ke Indonesia di awal masa kemerdekaan, beliau menjadi lebih seimbang. Masih berpikir sosialis, tapi memahami pentingnya kebebasan berusaha dan kewirausahaan,” ungkapnya.

Prabowo kemudian mengenang salah satu percakapan yang membekas di masa kecilnya, saat dia bertanya langsung kepada ayahnya tentang sistem ekonomi terbaik bagi Indonesia.

“Ayah saya menjawab, sistem terbaik untuk Indonesia haruslah sistem ekonomi campuran mengambil yang terbaik dari kapitalisme dan sosialisme. Saya rasa, pandangan itu kini menjadi arus utama dunia, seperti the third way ala Tony Blair,” imbuhnya.

Menurut Prabowo, setiap negara harus menemukan keseimbangan sendiri antara efisiensi pasar dan tanggung jawab sosial, tanpa terjebak dalam ekstrem ideologis.

“Di abad ke-21 ini, tidak mungkin satu filosofi ekonomi cocok untuk semua negara. Setiap bangsa harus menemukan sistem yang bekerja untuk dirinya sendiri,” tegas Prabowo.

#prabowo-ekonomi #sumitro-djojohadikusumo #kapitalisme-sosialisme #ekonomi-indonesia #sejarah-ekonomi #prabowo-subianto #forbes-global-ceo-conference #ekonomi-campuran #sistem-ekonomi-terbaik #kapitali

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251016/9/1920721/warisan-pemikiran-sumitro-prabowo-beberkan-inspirasi-ekonomi-dari-sang-ayah