RI Masih Impor Beras dari India hingga Thailand, Total Rp2,97 Triliun Oktober 2025
Indonesia mengimpor beras senilai Rp2,97 triliun dari Myanmar, Thailand, dan India hingga Oktober 2025. Sementara itu, potensi produksi beras dalam negeri diperkirakan meningkat 13,60% pada 2025.
(Bisnis.Com) 01/12/25 15:46 56700
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia masih mengimpor beras dengan nilai mencapai US$178,5 juta atau sekitar Rp2,97 triliun (asumsi kurs Rp16.652 per dolar AS) sepanjang Januari—Oktober 2025.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini mengatakan importasi beras tersebut berasal dari Myanmar, Thailand, dan India.
“Sepanjang Januari—Oktober 2025, impor beras sebesar 364.300 ton dengan nilai US$178,5 juta, dan negara asal utama impor beras ini adalah Januari—Oktober 2025, ini dari Myanmar, Thailand, dan India,” kata Pudji dalam Rilis BPS, Senin (1/12/2025).
Adapun pada Oktober 2025, Pudji menuturkan impor beras mencapai 40.700 ton dengan nilai US$19,1 juta atau sekitar Rp318,05 miliar.
Menurut catatan BPS, potensi produksi beras dalam negeri akan mencapai 34,79 juta ton sepanjang Januari—Desember 2025. Angka ini sedikit lebih tinggi dari proyeksi bulan sebelumnya sebesar 34,77 juta ton.
Pudji menyampaikan, kenaikan potensi produksi terutama ditopang subround I (Januari–April 2025) yang melonjak 26,54%.
“Potensi produksi beras sepanjang Januari—Desember 2025 diperkirakan akan mencapai 34,79 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 4,17 juta ton atau 13,60% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024,” ungkapnya.
Peningkatan ini juga sejalan dengan potensi luas panen padi sepanjang Januari—Desember 2025 yang diperkirakan akan mencapai 11,36 juta hektare. BPS memperkirakan, luas panen padi naik 1,31 juta hektare atau 13,03% dibandingkan dengan periode yang sama 2024.
“Peningkatan potensi luas panen Januari—Desember 2025 ini utamanya disumbang oleh peningkatan luas panen pada subround I, yaitu Januari—April 2025 yang meningkat sebesar 25,82%,” ujarnya.
Namun, Pudji mengingatkan angka potensi ini masih dapat berubah tergantung pada kondisi pertanaman padi sepanjang November 2025–Januari 2026, mulai dari serangan hama, banjir, kekeringan, maupun pelaksanaan panen yang dilakukan oleh para petani.
Seiring dengan gambaran luas panen, potensi produksi padi sepanjang 2025 juga diperkirakan naik 7,23 juta ton gabah kering giling (GKG) menjadi 60,37 juta ton GKG. Dengan kata lain, ada potensi mengalami peningkatan sebesar 13,61% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 53,14 juta ton GKG.
Dia menambahkan, peningkatan potensi produksi padi Januari—Desember 2025 utamanya disumbang oleh peningkatan pada subround I, yaitu Januari—April 2025 yang meningkat sebesar 26,57%.
BPS juga melakukan koreksi terhadap angka luas panen dan produksi Oktober 2025 seiring pembaruan data lapangan, termasuk potensi gagal panen dan realisasi panen aktual. Angka potensi luas panen bulan tersebut kini berstatus angka tetap, sementara potensi produksi padi dan beras dikoreksi menjadi angka sementara.
“Secara umum, koreksi disebabkan oleh perkembangan terkini dari kondisi pertanaman padi di lapangan seperti adanya potensi gagal panen, waktu realisasi panen petani, serta adanya serangan hama OPT [organisme pengganggu tanaman], dan lain sebagainya,” pungkasnya.
#beras-impor #impor-beras #beras-myanmar #beras-thailand #beras-india #nilai-impor-beras #produksi-beras-indonesia #potensi-produksi-beras #luas-panen-padi #produksi-padi-2025 #peningkatan-produksi-pad