Studi UOB Ungkap Perubahan Perilaku Belanja Hadapi Inflasi
Masyarakat Indonesia tidak mengurangi pengeluaran, tetapi lebih memperketat kebiasaan belanja.
(Bisnis Tempo) 03/12/25 08:54 58866
PARTNER Boston Consulting Group Ferry Malvina mengungkapkan masyarakat Indonesia cenderung mengubah perilaku belanja karena khawatir terhadap kenaikan biaya hidup. “Sekitar 40 persen dari mereka ada yang mengurangi big spending-nya,” kata Ferry dalam forum diskusi, di Jakarta, Selasa, 2 Desember 2025.
Pernyataan itu disampaikan Ferry saat memaparkan hasil penelitian ASEAN Consumer Sentiment Study (ACSS) 2025. Penelitian tersebut dilakukan pada Mei–Juni 2025 dengan sampel sebanyak 1.000 warga Indonesia berusia 18 hingga 65 tahun.
Dalam penelitian itu, saat menghadapi kenaikan harga, Ferry mengatakan masyarakat tidak mengurangi porsi pengeluaran. Namun konsumen Indonesia, kata Ferry, cenderung bersikap berhati-hati terhadap pengeluaran.
Sebagai rinciannya, Ferry mengungkapkan terdapat tiga perilaku belanja yang dilakukan konsumen Indonesia. Pertama, sebanyak 46 persen responden mengaku menunda pengeluaran besar. Kedua, sebanyak 44 persen responden mengurangi kebutuhan non-esensial. Sementara itu sebanyak 42 persen responden mencari diskon jika ingin membeli sesuatu.
Sementara itu, Head of Cards and Payment UOB Indonesia Herman Soesatyo mengatakan tingkat optimisme masyarakat Indonesia melemah. Itu tergambarkan dari indeks sentimen konsumen ASEAN UOB yang mencatat sentimen keseluruhan Indonesia di angka 55 atau turun dari posisi 58 pada tahun sebelumnya. Menurut Herman, penurunan indeks tersebut disebabkan oleh meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap perekonomian dan tekanan pada sisi pengeluaran.
Indeks tersebut dirancang untuk mempelajari kepercayaan konsumen di seluruh pasar utama ASEAN. Indeks itu didasarkan enam pertanyaan yang mencerminkan persepsi konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan, serta kekhawatiran dan ekspektasi keuangan pribadi.
Herman menyatakan masyarakat Indonesia tidak mengurangi pengeluaran, tetapi lebih memperketat kebiasaan belanja. Dalam setahun terakhir, ACSS mencatat perubahan besar dalam kebiasaan belanja masyarakat.
Hampir separuh responden atau 49 persennya membeli lebih banyak produk saat diskon. Sementara 43 persen membeli lebih banyak produk multifungsi untuk memaksimalkan nilai. Kemudian 38 persen lebih memilih belanja produk lokal.
Selain itu, 34 persen responden mengaku lebih sering membeli produk dengan kualitas optimal atau tanpa merek. Sementara sebanyak 33 persen responden membutuhkan waktu lebih lama untuk mempertimbangkan membeli produk. “Kami melihat bahwa konsumen kami lebih bijak,” kata Herman saat menanggapi kebiasaan belanja ini.
Herman juga menyoroti perubahan alokasi pengeluaran masyarakat. Ia mengungkapkan sebanyak 45 persen konsumen mengalokasikan pengeluaran untuk pendidikan dan kesehatan. Alokasi ini merupakan yang terbesar dibandingkan dengan biaya hidup sehari-hari.
Sementara itu Herman mengungkapkan terjadi peningkatan alokasi pengeluaran untuk gaya hidup mewah dan pengalaman. “Kalau kita lihat ada pergeseran nih. (uang) Disimpan, diirit-irit. Tapi spending-nya di tempat lain yang lebih berguna,” tutur dia.
#belanja #uob-indonesia #pengeluaran #biaya-hidup #asean #kenaikan-harga
https://tempo.co/ekonomi/studi-uob-ungkap-perubahan-perilaku-belanja-hadapi-inflasi-2095314