Indramayu Jadi Poros Logistik Baru Ungguli Cirebon, Ini Penyebabnya
Indramayu kini menjadi pusat logistik baru di Jawa Barat, dengan peningkatan volume muatan signifikan, sementara Pelabuhan Cirebon mengalami penurunan tajam.
(Bisnis.Com) 04/12/25 15:40 60928
Bisnis.com, CIREBON - Aktivitas bongkar muat barang dan peti kemas di Jawa Barat menunjukkan dinamika yang timpang pada Oktober 2025. Dua pelabuhan strategis di wilayah timur provinsi, yakni Pelabuhan Indramayu dan Pelabuhan Cirebon, mencatat tren berlawanan untuk angkutan domestik maupun internasional.
Data terbaru yang dirilis Tim Statistik Distribusi memotret bagaimana Indramayu menjadi pusat kenaikan volume, sementara Cirebon justru mengalami kontraksi signifikan.
Menurut Statistisi Distribusi Madya Tim Statistik BPS Jabar Ninik Anisah mengatakan, perubahan pola pergerakan logistik ini menggambarkan pergeseran preferensi industri dan dinamika operasional di lapangan.
"Kenaikan aktivitas di Pelabuhan Indramayu dipengaruhi oleh konsolidasi peran pelabuhan Balongan dan Eretan, serta peningkatan permintaan distribusi dari sektor energi dan industri agro,” ujarnya, Kamis (4/12/2025).
Pada Oktober 2025, volume muat barang dan peti kemas domestik di Pelabuhan Indramayu melonjak 36,46% dibanding bulan sebelumnya. Kenaikan ini menyumbang porsi terbesar terhadap total volume muatan domestik Jawa Barat yang mencapai 119.260 ton.
Ninik menjelaskan, Indramayu kini memainkan peran yang lebih kuat dalam melayani arus barang domestik di kawasan Ciayumajakuning. “Kegiatan industri di sekitar Balongan dan Eretan memberi basis muatan yang stabil. Ini membuat kontribusi Indramayu tetap meningkat meskipun kondisi makro sedang tertekan,” katanya.
Secara tahunan (year-on-year), muatan domestik di pelabuhan ini juga menunjukkan tren impresif. Volume Oktober 2025 meningkat dari 67.820 ton menjadi 101.430 ton, atau naik hampir 50%.
Ninik menilai capaian ini menandai adanya pergeseran rute distribusi dari sejumlah perusahaan yang memilih akses lebih dekat dan efisien melalui Indramayu.
Berbanding terbalik dengan Indramayu, Pelabuhan Cirebon justru mengalami penurunan tajam pada muatan domestik. Pada Oktober 2025, aktivitas muat turun 33,66% dibanding September. Lebih parah lagi, pada basis tahunan, volume muat Cirebon anjlok hingga 57,45%.
Menurut Ninik, tren ini dipengaruhi oleh pergeseran pola distribusi ke pelabuhan lain yang dianggap lebih efisien oleh industri.
“Sebagian komoditas yang sebelumnya melalui Cirebon kini dialihkan ke Indramayu atau bahkan ke Patimban, terutama untuk perusahaan yang membutuhkan kapasitas lebih besar atau akses industri yang lebih dekat,” jelasnya.
Selain itu, faktor teknis seperti jadwal sandar, kedalaman kolam pelabuhan, dan biaya operasional menjadi penentu preferensi logistik para pelaku usaha.
Dalam muatan internasional Oktober 2025, Pelabuhan Indramayu kembali mencatat kenaikan signifikan. Volume muatan meningkat hampir 98%, dari 32,63 ribu ton pada September menjadi 64,59 ribu ton pada Oktober.
Sementara itu, Pelabuhan Cirebon tidak mencatat aktivitas muat internasional pada periode tersebut. “Pelabuhan Cirebon belum kembali mengisi segmen internasional karena konsentrasi rute dan fasilitas belum sepenuhnya mendukung penguatan layanan ekspor-impor,” kata Ninik.
Perbedaan kinerja kedua pelabuhan ini menjadi indikator bahwa arah logistik Jawa Barat bagian timur sedang bergerak. Indramayu tampil sebagai pusat aktivitas distribusi baru, sementara Cirebon menghadapi tekanan dan perlu strategi untuk memulihkan perannya.
Ninik menegaskan, pemantauan data bulanan sangat penting untuk membaca arah ekonomi daerah. “Dinamika pelabuhan selalu mencerminkan denyut industri. Ketika satu pelabuhan melemah dan yang lain menguat, itu tandanya struktur distribusi sedang berubah,” ujarnya.
#indramayu-logistik #pelabuhan-indramayu #cirebon-pelabuhan #bongkar-muat-indramayu #cirebon-logistik #distribusi-indramayu #pelabuhan-cirebon #logistik-jawa-barat #indramayu-distribusi #cirebon-muatan