Tren Slow Living Gambarkan Pergeseran Nilai Kerja Generasi Muda
Slow living adalah gaya hidup yang menekankan kesadaran dan kenyamanan, menolak hustle culture generasi sebelumnya. Tren ini lebih cocok untuk kelas menengah ke atas.
(Bisnis.Com) 18/12/25 13:10 77255
Bisnis.com, JAKARTA - Ketika membahasslow living, sebagian orang sering membayangkan kehidupan di pedesaan yang jauh dari kesibukan kota. Namun, inti dari gaya hidup ini bukanlah soal tempat tinggal, melainkan kemampuan untuk menjalani hidup dengan lebih berkesadaran.
Sosiolog dari Universitas Padjadjaran (Unpad) Yusar Muljadi mengatakanslow livingadalah gaya hidup yang menekankan kenyamanan dengan berusaha menikmati setiap momen, alih-alih terburu-buru mengejar kuantitas atau target. Menurut Yusar, gaya hidup ini belakangan muncul dan ramai dibicarakan bukan sekadar karena sedang tren.
Lebih dari itu, Yusar melihatslow livingsebagai tawaran antitesis dari generasi muda saat ini terhadap generasi sebelumnya. Hal ini menurutnya sebagai hal yang wajar, karena setiap zaman punya preferensi yang berbeda-beda dalam melihat suatu hal.
"Generasi sebelumnya itu hustle culture, mereka rela menukar waktu dengan uang atau bekerja keras demi pencapaian diri, terutama dalam hal pekerjaan. Generasi sekarang, bisa jadi tidak," ungkapnya.
Jika ditarik lebih jauh, Yusar menyebut pada masa industrial, sekiranya pada 1920-an hingga 1970an, aspek-aspek kerja keras, produktivitas, dan kenaikan umum jadi hal yang prestise dianut oleh golongan masyarakat di seluruh dunia. Namun, saat ini, nilai-nilai tersebut tengah diuji ulang oleh generasi baru.
"Nilai-nilai kerja keras, prestise, atau karir seolah diantitesiskan olehslow living. Praktikslow livingumumnya bekerja sesuai dengan yang diinginkan, tidak terikat oleh waktu yang ketat, dan selalu ingin memiliki waktu pribadi yang tidak terikat ketat oleh pekerjaan," imbuhnya.
Menurutnya, jikaslow livingdipandang sebagai bentuk resistensi terhadap kapitalisme, hal itu masih ada benarnya juga, terutama dalam konteks produksi. Sebab, dalam sistem kapitalisme, makin tinggi intensitas kerja biasanya diikuti dengan meningkatnya produktivitas. Namun, penting untuk disadari bahwa kapitalisme bersifat fleksibel juga.
Dalam hal ini,slow livingjustru bisa jadi muncul sebagai salah satu alternatif yang ditawarkan oleh sistem itu sendiri. Konsep produktivitas yang biasanya diukur secara kuantitatif dapat digantikan dengan pendekatan kualitatif. Dengan demikian, gaya hidup ini bisa berperan ganda.
Namun, apa pun itu, dirinya memahamislow livingsejatinya melampaui sekadar lokasi atau pekerjaan tertentu. Aspek penting gaya hidup ini justru lebih menekankan kesadaran diri, kenyamanan, dan kualitas pengalaman sehari-hari, sehingga menjadi suatu cara hidup baru yang menekankan keseimbangan antara aktivitas dan kesejahteraan individu.
Dengan demikian,slow livingbukanlah gaya hidup yang dapat diterapkan oleh semua lapisan masyarakat. Bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah, kerja keras tetap menjadi kebutuhan utama untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sebaliknya, praktikslow livinglebih memungkinkan bagi mereka yang berpenghasilan lebih tinggi, yang memiliki fleksibilitas untuk menukar waktu dengan kualitas hidup tanpa sepenuhnya terikat oleh tekanan produktivitas.
"Saya rasa, perlu digarisbawahi bahwa praktikslow livinghanya dapat dilakukan jika jaminan hidup sudah memadai. Artinya tidak semua lapisan masyarakat cocok mempraktikkan gaya hidupslow living," jelasnya.
Ke depan, meskipunslow livingakan tetap menjadi topik perbincangan, Yusar memprediksi gaya hidup ini tidak akan diadopsi secara luas. Praktikslow livingcenderung bersifat eksklusif, terutama di kalangan masyarakat kelas menengah ke atas. Bagi kelompok kelas menengah ke bawah, mencoba menerapkannya justru dapat membatasi kemampuan mereka dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Terlebih, di Indonesia, ada kenyataan bahwa sebagian kelas menengah mengalami penurunan status sosial menjadi kelas menengah ke bawah. Hal ini membuat pilihan untuk menjalanislow livingjustru berisiko menurunkan posisi sosial mereka lebih lanjut.
#slow-living #gaya-hidup #generasi-muda #nilai-kerja #pergeseran-nilai #kesadaran-diri #kenyamanan-hidup #kualitas-hidup #resistensi-kapitalisme #keseimbangan-aktivitas #kesejahteraan-individu #produkt