Dorong Investasi Migas AS di Venezuela, Trump Pertimbangkan Beri Subsidi

Dorong Investasi Migas AS di Venezuela, Trump Pertimbangkan Beri Subsidi

Trump pertimbangkan subsidi untuk dorong investasi migas AS di Venezuela pasca penggulingan Maduro, meski ada risiko pelanggaran hukum internasional.

(Bisnis.Com) 06/01/26 13:48 94944

Bisnis.com, JAKARTA - Presiden AS Donald Trump membuka peluang pemberian subsidi kepada perusahaan energi Amerika Serikat untuk membangun kembali industri minyak mentah Venezuela, menyusul penggulingan Nicolás Maduro dan upaya Washington menarik investasi ke negara kaya cadangan minyak tersebut.

Dalam wawancara dengan NBC News pada Senin (5/1/2026) waktu setempat, Trump mengatakan proyek perluasan operasi perusahaan minyak AS di Venezuela dapat mulai berjalan dalam waktu kurang dari 18 bulan.

Target tersebut bertolak belakang dengan perkiraan para pakar energi, sementara perusahaan minyak besar sejauh ini belum menunjukkan sinyal kuat untuk kembali berinvestasi.

“Saya pikir kita bisa melakukannya dalam waktu yang lebih singkat, tetapi akan membutuhkan dana yang sangat besar. Jumlah uang yang dikeluarkan akan luar biasa besar. Perusahaan minyak akan mengeluarkannya, lalu akan diganti oleh kami atau melalui pendapatan," ujar Trump sebagaimana dilansir dari Bloomberg, Selasa (6/1/2026).

Pernyataan tersebut menegaskan pandangan pemerintahan Trump bahwa cadangan minyak Venezuela yang sangat besar menjadi kunci pemulihan ekonomi negara itu sekaligus kepentingan strategis AS. Namun, Trump belum memaparkan secara rinci bagaimana produksi akan dipulihkan atau siapa yang akan mengendalikan pendapatan minyak dalam masa transisi.

Saat ditanya apakah dirinya telah berbicara dengan pimpinan Exxon Mobil Corp., Chevron Corp., dan ConocoPhillips, Trump mengatakan masih terlalu dini untuk mengungkapkan detail tersebut.

“Saya berbicara dengan semua orang,” katanya singkat.

Sementara itu, Menteri Energi AS Chris Wright disebut berencana bertemu para eksekutif industri migas pekan ini. Wright dijadwalkan menghadiri Goldman Sachs Energy, Clean Tech & Utilities Conference di Miami, yang juga akan dihadiri pimpinan Chevron, ConocoPhillips, dan perusahaan energi lainnya.

Bertahun-tahun korupsi, minim investasi, kebakaran, dan pencurian telah membuat fasilitas minyak mentah Venezuela rusak parah. Perusahaan minyak besar cenderung bungkam terkait minat untuk kembali beroperasi.

Para ahli memperkirakan pemulihan industri migas Venezuela bisa memakan waktu hingga satu dekade dengan biaya lebih dari US$100 miliar. Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak raksasa yang masih beroperasi di negara tersebut.

Trump tidak merinci besaran biaya pembangunan ulang infrastruktur migas Venezuela, selain menyebut akan ada jumlah uang yang sangat besar yang dikeluarkan.

Dia juga menilai peningkatan pasokan energi dari Venezuela berpotensi menekan harga minyak global.

“Memiliki Venezuela sebagai produsen minyak menguntungkan Amerika Serikat karena membantu menekan harga minyak,” ujarnya.

Potensi Pelanggaran Hukum Internasional

Komentar Trump muncul di tengah upaya meyakinkan pemilih menjelang pemilu paruh waktu tahun ini bahwa pemerintahannya menangani isu biaya hidup, meski kekhawatiran publik lebih banyak tertuju pada harga pangan dan perumahan.

Pernyataan tersebut juga disampaikan di tengah skeptisisme terhadap intervensi militer AS di Venezuela yang berujung pada penangkapan Maduro. Trump menegaskan operasi tersebut diperlukan untuk menangkap sosok yang dituduh otoritas AS mengendalikan jaringan perdagangan narkoba serta untuk merebut kembali aset minyak.

Namun, para pengkritik menilai AS berpotensi melanggar hukum internasional dan memperingatkan bahwa Trump tidak memiliki mandat Kongres maupun dukungan publik untuk menjalankan proyek nation-building di Venezuela.

Ketua DPR AS Mike Johnson mengatakan penyitaan ekspor minyak Venezuela menjadi alat tekanan bagi Washington.

“Sekarang kami punya cara persuasi karena ekspor minyak mereka telah disita. Itu akan membawa negara tersebut ke tata kelola baru dalam waktu singkat,” katanya.

Johnson menepis kemungkinan eskalasi keterlibatan AS dan menegaskan langkah tersebut bukan perubahan rezim. Dia mengatakan, AS tidak mengharapkan pengerahan pasukan di darat atau keterlibatan langsung, selain menekan pemerintah sementara agar proses berjalan.

Sementara itu, Maduro yang ditangkap telah menjalani sidang awal di New York pada Senin dan menyatakan tidak bersalah atas dakwaan narkotika dan senjata. Dia mengklaim sebagai orang yang tidak bersalah.

Trump mengatakan Delcy Rodríguez, mantan wakil presiden Maduro yang dilantik sebagai presiden sementara, telah bekerja sama dengan pemerintah AS. Dia juga mengecilkan kemungkinan pemilu cepat.

“Kami harus memperbaiki negara ini terlebih dahulu. Anda tidak bisa menggelar pemilu sekarang. Ini akan memakan waktu. Kami harus merawat negara ini hingga kembali sehat," kata Trump.

Pemimpin oposisi Venezuela sekaligus peraih Nobel Perdamaian 2025, María Corina Machado, mengatakan kepada Fox News bahwa dirinya belum berbicara dengan Trump sejak 10 Oktober lalu, bertepatan dengan pengumuman penghargaan tersebut.

Sebelumnya, Trump meremehkan kemungkinan peran Machado dalam menentukan masa depan Venezuela dengan menyebutnya sebagai perempuan baik namun dinilai kurang memiliki dukungan luas di dalam negeri.

#investasi-migas #subsidi-migas #trump-venezuela #minyak-mentah-venezuela #perusahaan-energi-as #investasi-minyak #cadangan-minyak-venezuela #pemulihan-ekonomi-venezuela #produksi-minyak-venezuela #exx

https://kabar24.bisnis.com/read/20260106/19/1941991/dorong-investasi-migas-as-di-venezuela-trump-pertimbangkan-beri-subsidi