Bisnis.com, JAKARTA — AirAsia mempercepat program peremajaan pesawat sebagai strategi utama meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menjaga harga tiket penerbangan tetap terjangkau di tengah tingginya permintaan di kawasan Asean.
CEO AirAsia Group, Bo Lingam mengatakan beberapa bulan terakhir menjadi momentum penting bagi maskapai untuk memperkuat fondasi bisnis sekaligus meningkatkan ketahanan operasional.
"Kami tetap fokus memperkuat operasional, meningkatkan efisiensi, serta mempercepat pemanfaatan teknologi berbasis AI dan data untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan efektif," kata Bo dalam keterangannya, dikutip Selasa (23/6/2026).
Sebelumnya, maskapai berbiaya hemat (low cost carrier/LCC) itu telah mendatangkan Airbus A321LR dengan efisiensi bahan bakar lebih tinggi. Langkah tersebut juga menjadi fondasi bagi ekspansi jaringan dan pemulihan kapasitas penerbangan hingga kembali penuh pada Agustus 2026.
Peremajaan pesawat dilakukan seiring dengan membaiknya stabilitas kawasan dan terus menguatnya permintaan penerbangan di berbagai pasar utama. AirAsia menilai momentum tersebut menjadi peluang untuk mempercepat pertumbuhan jangka panjang sekaligus memperluas konektivitas di Asia Tenggara.
AirAsia mencatat dalam dua kuartal terakhir fokus perusahaan diarahkan pada pengelolaan pesawat yang lebih disiplin, optimalisasi jaringan penerbangan, serta pengendalian biaya operasional secara berkelanjutan.
Perseroan menyebut Airbus A321LR mampu mengurangi konsumsi bahan bakar hingga 20% per kursi dibandingkan pesawat generasi sebelumnya. Efisiensi tersebut diharapkan memperkuat struktur biaya sekaligus mempertahankan daya saing tarif penerbangan.
Ke depan, lanjutnya, AirAsia juga berencana mengoperasikan Airbus A220 untuk melengkapi proses modernisasi pesawat. Kehadiran pesawat tersebut diproyeksikan makin meningkatkan efisiensi operasional sekaligus mendukung pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Diketahui, AirAsia telah melakukan kesepakatan pembelian pasti dengan Airbus untuk 150 unit Airbus A220-300, dengan nilai sekitar US$19 miliar berdasarkan harga katalog. Dibandingkan dengan A320ceo, pesawat ini 20% lebih hemat bahan bakar serta menghasilkan sekitar 20% emisi lebih rendah.
Sejalan dengan penguatan pesawat, AirAsia terus mengembalikan kapasitas penerbangan secara bertahap di seluruh jaringan grup dengan target pulih sepenuhnya pada Agustus 2026.
Ekspansi juga dilakukan melalui pembukaan sejumlah destinasi baru seperti Busan, Bahrain, London, Batam, serta berbagai rute domestik lainnya. Langkah tersebut diharapkan mampu memenuhi permintaan perjalanan sekaligus memperkuat konektivitas yang menopang sektor pariwisata dan perdagangan di kawasan.
Di sisi lain, tren penurunan harga avtur turut membuka ruang bagi AirAsia untuk kembali memperluas penawaran tarif hemat kepada pelanggan di seluruh jaringan penerbangan.
Bo menambahkan keterjangkauan biaya perjalanan udara menjadi faktor penting untuk menjaga momentum pertumbuhan pariwisata dan ekonomi kawasan.
Menurutnya, kolaborasi antara maskapai, pengelola bandara, regulator, dan pelaku industri pariwisata diperlukan agar biaya perjalanan tetap terjangkau sehingga manfaat konektivitas udara dapat dinikmati masyarakat secara lebih luas.