Bisnis.com, JAKARTA – Emiten maskapai PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) telah menyiapkan sejumlah rencana untuk mampu mencatatkan kinerja solid pada 2026. Strategi itu terutama disiapkan perseroan dalam rangka memperkuat fundamental bisnis di tengah kerugian yang menghantui kinerja perseroan sepanjang 2025.
Direktur Utama AirAsia Raden Achmad Sadikin menerangkan bahwa sepanjang kuartal III/2025, kinerja lesu perseroan terutama disebabkan oleh beberapa faktor, seperti kenaikan biaya operasional, pelemahan kurs rupiah, fluktuasi harga bahan bakar, keterbatasan armada, hingga persaingan ketat di pasar LCC.
Hal itu telah membawa AirAsia kembali menorehkan rugi yang kian membengkak sepanjang periode Januari–September 2025, kendati mampu membukukan pertumbuhan pendapatan usaha 2,08% YoY menjadi Rp6,02 triliun pada periode ini.
Pada periode hingga kuartal III/2025, AirAsia membukukan lonjakan beban usaha. Pada beban perbaikan dan pemeliharaan misalnya, CMPP membukukan beban senilai Rp1,46 triliun. Beban pemasaran juga naik menjadi Rp364,87 miliar.
Belum lagi, rugi selisih kurs dari kegiatan operasional senilai Rp182,52 miliar per September 2025, naik dari Rp72,3 miliar pada periode yang sama 2024. Alhasil CMPP membukukan rugi usaha senilai Rp466,65 miliar, membengkak dari Rp366,62 miliar pada periode Januari–September 2024.
“Pergerakan nilai tukar berpengaruh pada biaya transaksi yang berbasis dolar AS, khususnya untuk biaya sewa pesawat, perawatan, serta pembelian suku cadang. Hal ini berdampak langsung pada profitabilitas perseroan,” katanya, Kamis (27/11/2025).
Di tahun mendatang, perseroan turut memasang sejumlah target, seperti tingkat keterisian kursi hingga lebih dari 85%, ketepatan waktu lebih dari 85%, kapasitas kursi meningkat 30% dibandingkan proyeksi 2025, hingga penambahan jumlah penumpang sebesar 32% dibandingkan proyeksi yang sama.
Target tersebut sejalan dengan fokus perseroan pada tahun mendatang, yang akan lebih berfokus pada sejumlah target utama, seperti memperluas jangkauan domestik dan memperkuatfeederinternasional, melakukan pengembangan rute baru, perluasan jangkauan pasar, optimalisasi channel distribusi, hingga peningkatan pendapatan non-tiket.
Adapun hingga September 2025, AirAsia telah memiliki 8 rute domestik dan 22 rute internasional. Sepanjang periode ini, AirAsia juga menambah 7 rute baru. Diperinci, tiga rute merupakan rute internasional dan empat lainnya domestik.
Dari segi jumlah penumpang, rute internasional menorehkan jumlah penumpang sebesar 71,2% dan domestik hanya 28,8%. Dari kedua segmen itu, tingkat keterisian kursi juga menyusut di masing-masing segmen.
“Perseroan juga akan memperluas jangkauan pasar dengan menggarap pasarisland-to-islanddan meningkatkan lalu lintas domestik melalui kontribusifly-thru,” katanya.
Upaya memperluas pasar hingga pengembangan rute baru diharapkan mampu memenuhi target CMPP dalam aspek keterisian kursi hingga penambahan jumlah penumpang di tahun mendatang. Dalam jangka panjang, upaya ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja perseroan.
Nantinya, upaya perluasan pasar juga bakal dilakukan perseroan melalui penguatanfeederinternasional. Artinya, CMPP bakal meningkatkan koneksi penerbangan pengumpan ke rute internasional melalui virtual hub di Makassar dan menambah armada di Medan.
“Kemudian juga kami pastinya, selaku penerbangan yang bergerak di bidang LCC, pastinya adalah efisiensi biaya,” tegasnya.