Bisnis.com, SURABAYA – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menyatakan Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur akan segera dibangun ulang.
Kendati demikian, pembangunan gedung tersebut akan digelar tidak pada lokasi bangunan yang ambruk sebelumnya, pada Senin (29/9/2025).
Dody membeberkan bahwa lahan lama dari gedung tersebut saat ini ditetapkan sebagai tempat kejadian perkara (TKP) ambruknya gedung tiga lantai yang menewaskan 63 santri tersebut. Menurutnya, jajaran kepolisian masih mendalami perkara tersebut sehingga lokasi lama dari gedung tersebut harus steril.
“Progresnya masih dicek sama teman-teman. Cuman kemarin terakhir kan ada info, mereka [pengurus pesantren] mau menyerahkan tanah yang lain karena tanah yang [lama] itu kan tidak bisa kita utak-atik karena sudah diproses di Polda 'kan,” ujarnya kepada Bisnis usai mengisi studium generale di Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jumat (14/11/2025).
Dody menegaskan bahwa, jajaran pengurus Ponpes Al Khoziny telah menyerahkan lahan baru sebagai lokasi pembangunan gedung baru, yang lokasinya tidak jauh dari letak kawasan pondok pesantren yang sebelumnya.
“Jadi, kemudian mereka menyerahkan tanah lain untuk dipikirkan [jadi lokasi pembangunan gedung baru ponpes Al Khoziny],” tambahnya.
Dody juga menjelaskan, terdapat sekitar 2.000 santri yang memerlukan bangunan baru untuk melanjutkan proses pembelajaran. Menurutnya, pemerintah sudah seharusnya terjun langsung untuk menyediakan akses dan fasilitas pendidikan bagi mereka, pasca tragedi runtuhnya gedung di kawasan asrama putra ponpes itu.
“Karena 'kan di situ ada sekitar hampir 2.000-an santri, yang hari ini kesulitan untuk mendapatkan akses pendidikan karena 'kan sekolahnya roboh,” bebernya.
Dody pun menegaskan, pihaknya berkomitmen agar pembangunan gedung baru Ponpes Al Khoziny dapat dimulai secepatnya pada akhir tahun 2025 ini. Namun, terdapat serangkaian kajian teknis yang harus terlebih dahulu dilakukan pihaknya.
“Mulai start-nya [pembangunan gedung baru Al Khoziny] kami upayakan secepat-cepatnya, tapi kan teknokrasinya mesti benar. Misalnya kan disampaikan ada tanah baru tuh kan. Bisa kami cek, tanahnya itu seperti apa, tanahnya siapa,” jelasnya.
Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU, Dewi Chomistriana menerangkan, pihaknya kini tengah menyelesaikan tahap perencanaan teknis dan administrasi tanah. Termasuk detail engineering design (DED), yang mengisyaratkan proses pembangunan gedung baru ponpes tersebut akan segera dimulai di atas lahan seluas 4.100 meter persegi milik yayasan.
“Mudah-mudahan bisa segera disetujui dan di-approve. Total luasannya [lahan untuk pembangunan gedung baru Ponpes Al Khoziny] 4.100, sesuai dengan ketersediaan lahan yang disiapkan oleh yayasan. Jadi, sekarang kami sedang berproses untuk menyelesaikan administrasi tanahnya,” ucapnya.
Dengan berbagai proses administrasi dan teknis yang tengah dipersiapkan oleh kementerian, Dewi menyatakan proses pembangunan gedung baru Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, selambat-lambatnya dapat dimulai pada akhir tahun 2025 ini.
“Jadi, mudah-mudahan ini bisa diselesaikan cepat dan tentunya harapannya mulai akhir tahun ini kita bisa laksanakan,” tegasnya.
Ia menjelaskan, bangunan baru Ponpes Al Khoziny tersebut akan dibangun di lokasi baru, yang berlokasi di Jalan Siwalanpanji II, Desa Siwalanpanji, Kecamatan Buduran, Kabupaten Sidoarjo. Saat ini, lahan itu disebut-sebut masih berupa kawasan persawahan.
Dewi mengatakan, pemindahan lokasi ponpes tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Pemerintah mempertimbangkan terhadap sejumlah faktor, seperti aspek keamanan dan aksesibilitas, terutama setelah pengalaman proses penyelamatan atau evakuasi terhadap para korban dan alat berat yang sukar untuk masuk ke lokasi kejadian.
“Kami mempertimbangkan di sana tentunya ada proses yang tetap harus berjalan. Kemudian, kami bisa lihat di sana aksesnya juga sangat terbatas pada saat kemudian terjadi kejadian seperti kemarin, akses untuk alat berat itu juga sangat sulit,” jelasnya.
Menurutnya, lokasi baru yang dipilih tersebut berada lebih dekat dengan jalan raya dan memiliki akses yang lebih lebar, sehingga akan memudahkan proses pembangunan serta proses evakuasi oleh petugas bila terjadi kondisi kedaruratan.
“Nah itu sebenarnya salah satu kriteria keandalan bangunan. Jadi kalau terjadi kebakaran, terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan, itu ada kemudahan akses dari sarana-prasarana yang menanggulangi terjadinya bencana, itu bisa mudah untuk masuk. Jadi, di sini kita lihat aksesnya sangat mudah, dekat dengan jalan raya, cukup lebar jalannya, jadi kami kira pemindahan ini adalah jalan yang terbaik,” pungkasnya.