Bisnis.com, JAKARTA – Rencana calon emiten PT Nitrasanata Dharma Tbk. (JECX) melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menarik dicermati karena memiliki keterkaitan dengan Grup Emtek.
Melalui anak usahanya, PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk. (SAME), Emtek tercatat telah menjadi pemegang saham strategis JEC sejak 2022.
Berdasarkan catatan Bisnis.com, pada April 2022, emiten rumah sakit berkode saham SAME, yang merupakan anak usaha dari PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. atau (EMTK) mengakuisisi 28% saham PT Nitrasanata Dharma (NSD), pengelola Jakarta Eye Center (JEC).
Akuisisi tersebut dilakukan melalui pembelian 16.396 saham dari Keutenberg Holdings B.V. sehingga SAME resmi menjadi pemegang saham strategis JEC.
Grup yang dikenal sebagai pemilik stasiun televisi SCTV dan Indosiar tersebut dalam beberapa tahun terakhir agresif membangun ekosistem kesehatan melalui jaringan EMC Healthcare. Dalam laporan tahunan Emtek, disebutkan bahwa investasi di JEC merupakan bagian dari ekspansi ekosistem kesehatan grup untuk memperkuat jaringan layanan kesehatan berstandar internasional.
Hingga saat ini, JECX memiliki dan mengoperasikan 5 RS khusus mata dan 11 klinik mata yang tersebar di berbagai wilayah.
Dengan dukungan pemegang saham strategis yang memiliki rekam jejak kuat di pasar modal dan sektor kesehatan, JECX berpotensi memperoleh manfaat dari sinergi jaringan rumah sakit, pengembangan teknologi kesehatan, hingga akses pendanaan yang lebih luas.
Sebagai informasi, calon emiten dengan kode saham JECX tersebut akan melakukan Initial Public Offering (IPO) dan menawarkan maksimal sekitar 487,98 juta saham. Jumlah ini setara 10% dari modal ditempatkan dan disetor pasca IPO.
Berdasarkan prospektusnya, JECX akan menawarkan 162,88 saham divestasi pemilik yang mewakili 2% dari modal ditempatkan disetor pasca penawaran umum saham.
Baik saham baru maupun saham divestasi tersebut akan ditawarkan dengan harga di kisaran Rp1.200– Rp1.400. Alhasil JECX berpotensi mengantongi dana sebesar Rp683,17 miliar dari aksi IPO tersebut. Dari nilai tersebut sekitar Rp455,45 miliar merupakan dana hasil dari penawaran umum atas saham baru dan sisanya Rp227,72 miliar merupakan hasil penawaran umum atas saham divestasi.
Perseroan akan menggunakan dana hasil IPO tersebut untuk sejumlah kepentingan, yakni sebesar Rp49 miliar untuk pembayaran lebih awal sebagian pokok pinjaman kepada PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA). Kemudian sebesar Rp100 miliar digunakan untuk pembayaran lebih awal kepada PT Bank HSBC Indonesia atas sebagian pokok pinjaman.
Selanjutnya senilai Rp 185 miliar akan disalurkan kepada perusahaan anak. Rinciannya adalah senilai Rp50 miliar untuk PT Nitra Sanata Bali, Rp100 miliar disalurkan sebagai pinjaman pada PT Orbita dan Rp 35 miliar akan dijadikan pinjaman kepada PT JEC Candi Sejahtera.
Sisa dana IPO akan digunakan untuk modal kerja, yaitu biaya-biaya yang sehubungan dengan kegiatan operasional sehari-hari yang akan digunakan secara bertahap maksimal sampai 31 Desember 2027.
_____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.