Bisnis.com, SURABAYA – Puluhan rumah serta sejumlah bangunan fasilitas umum (fasum) yang terletak di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang dilaporkan rusak berat akibat diterjang erupsi Gunung Semeru, Rabu (19/11/2025).
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Timur, Satriyo Nurseno menjelaskan, berdasar data sementara yang dihimpun pihaknya, terdapat 21 rumah dan satu bangunan sekolah yang teridentifikasi rusak berat di Desa Supiturang.
“Dampak kerusakan di Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo terdata 21 unit rumah rusak berat, kemudian fasum yaitu SDN Supiturang 02 rusak berat,” ucap Satriyo, Kamis (20/11/2025).
Selain itu, ia menjelaskan terdapat satu bangunan tempat ibadah atau musala di Desa Supiturang yang rusak berat usai tersapu terjangan material erupsi Gunung Semeru.
Selanjutnya, lanjut Satriyo, terdapat pula ruas jalan kabupaten yang menjadi penghubung Dusun Sumbersari dengan Dusun Gumukmas tertutup material vulkanik, termasuk ratusan hewan ternak milik warga yang terdampak erupsi Semeru.
“Hewan ternak terdampak ada 4 ekor sapi dan 120 ekor kambing,” bebernya.
Satriyo menyatakan, sebanyak enam unit alat berat telah dikerahkan untuk membantu proses pembukaan jalur yang tertutup material abu vulkanik di Dusun Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo.
“TRC BPBD Prov. Jatim bersama tim gabungan memberikan masker dan membantu warga untuk evakuasi hewan ternak serta barang-barang berharga di Dusun Sumbersari, Desa Sumbersari, Kecamatan Pronojiwo,” bebernya.
Selanjutnya, TRC BPBD Provinsi Jawa Timur serta petugas Damkar Kabupaten Lumajang juga telah melakukan pembersihan material di Jembatan Gladak Perak.
Saat ini, total pengungsi tercatat telah mencapai 191 jiwa, yang tersebar di delapan titik pengungsian yang berada di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Lumajang. Angka tersebut tercatat menurun dari data pengungsi yang dihimpun malam tadi.
Satriyo menjelaskan, mayoritas warga telah memutuskan pulang ke kediaman masing-masing untuk menyelamatkan barang-barang berharga beserta hewan ternak milik mereka.
“Total jumlah pengungsi kurang lebih 191 jiwa, data sementara,” jelasnya.
Seperti diketahui, Gunung Api Semeru mengalami erupsi pukul 14.13 WIB hingga pukul 18.11 WIB, Rabu (19/11), dengan Amplitudo Maksimum 45 mm, durasi 14.283 detik dengan jarak luncuran lebih dari 13 kilometer mengarah ke Tenggara Selatan (Besuk Kobokan).
Tingkat aktivitas Gunung Semeru saat ini berada di Level IV atau Awas. Pada pukul 19.56 WIB semalam, getaran banjir sudah tidak terekam. Erupsi dinyatakan berakhir, tetapi status Awas tetap diberlakukan.
Hingga Rabu (19/11) malam, sebanyak 1.156 jiwa dilaporkan telah mengungsi akibat erupsi Semeru. Mereka terpaksa meninggalkan kediaman mereka dan dievakuasi ke sejumlah titik pengungsian yang ada di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, Kabupaten Lumajang.
Terdapat juga dua orang yang dirawat akibat mengalami luka bakar saat melintas di sekitar Gladak Perak, yakni pasangan suami-istri, Haryono (48) dan Normawati (43) warga Desa Maron, Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri yang saat ini menjalani perawatan intensif di RSUD Haryoto, Lumajang.
Kemudian, Hosen (44), warga Dusun Umbulan Sumbersari, Desa Supiturang, Kecamatan Pronojiwo, yang mengalami luka bakar akibat terkena banjir lahar Semeru saat terjebak di dalam rumahnya. Saat ini, ia sedang dirawat di RSUD Pasirian, Lumajang.
Pendakian Gunung Semeru hingga Ranu Kumbolo di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Provinsi Jawa Timur, juga dinyatakan ditutup total oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menyusul aktivitas vulkanik tersebut.
Di sisi lain, terdata 178 orang yang dilaporkan sempat terjebak di lereng Gunung Semeru, tepatnya di kawasan Ranu Kumbolo. Mereka terdiri dari para pendaki, petugas, saver, porter hingga tim dari Kementerian Pariwisata (Kemenpar), di mana saat ini tengah dalam perjalanan menuju titik aman di kawasan Ranupani.