Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BSI) tengah gencar menyiapkan infrastruktur komputasi dan meningkatkan kapabilitas aplikasi internal guna mendongkrak kualitas kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang dimiliki.
Langkah penguatan ekosistem teknologi ini diharapkan mampu memberikan output sistem yang lebih bermanfaat sekaligus sesuai dengan nilai-nilai prinsip syariah, dan juga mencegah praktik shadow AI.
Strategy & Innovation Departemen Head BSI I Wayan Pulantara menjelaskan arsitektur AI sebagai sebuah aplikasi komersial ditopang oleh tiga lapisan utama, yaitu model, infrastruktur, dan tata kelola data.
Dari ketiga pilar tersebut, aspek tata kelola data (data governance) menempati posisi paling krusial dalam menentukan arah akurasi sistem digital perbankan.
Bagi emiten perbankan syariah terbesar di Tanah Air ini, pengelolaan data bukan sekadar urusan pemenuhan kontrol administrasi komputasi semata. BSI memandang pengelolaan informasi tersebut merupakan sebuah amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan kepada nasabah.
Perusahaan melakukan berbagai upaya terintegrasi untuk menjaga keselarasan informasi, termasuk memastikan data yang digunakan untuk melatih kecerdasan buatan tidak memicu gharar (ketidakpastian) atau halusinasi informasi.
“Jadi dari entri sampai analitik kami pantau, sehingga kami tahu keputusannya AI,” ujar Wayan dalam Indonesia Ethical AI Summit, Rabu (17/6/2026).
Pada lapisan kedua yang berkaitan dengan pengembangan model AI, industri teknologi domestik dinilai masih memiliki ketergantungan tinggi pada pihak eksternal.
Saat ini hampir 100% adopsi teknologi di Indonesia masih memanfaatkan platform global seperti Gemini dan sejenisnya yang dikembangkan oleh institusi Barat.
Kondisi tersebut menimbulkan tantangan tersendiri karena pasokan data mentah dari luar negeri sering kali belum selaras dengan karakteristik budaya masyarakat Indonesia. Tantangan ini menjadi lebih spesifik bagi operasional BSI yang murni berbasis syariah. Di dalam sistem BSI, penggunaan istilah ekonomi konvensional seperti bunga atau riba tidak diakomodasi karena berpotensi menurunkan tingkat kepercayaan nasabah secara signifikan.
Merujuk pada perbandingan budaya Indonesia dengan konsep AI versi barat tersebut, masyarakat domestik memiliki kecenderungan yang jauh lebih nasionalis dan memegang erat nilai-nilai ketimuran.
Merespons kesenjangan kultural pada model global ini, BSI menerapkan beberapa pendekatan strategis yang terukur. Perusahaan menyiapkan infrastruktur AI gateway untuk menyaring informasi serta memastikan data yang keluar dari sistem internal tetap berada dalam koridor aman.
Langkah ini sekaligus diambil untuk menjamin tidak ada ruang bagi shadow AI atau penggunaan sistem kecerdasan buatan ilegal di luar pengawasan resmi perusahaan. Aspek tata kelola operasional ini sedang digarap secara intensif guna meminimalisir risiko kebocoran data. Manajemen memperkuat pertahanan teknologi melalui sisi infrastruktur pendukung ekosistem digital tersebut.
“Dan kami usahakan tahun ini siap untuk infrastruktur itu,” kata Wayan.
Selain fokus pada pos infrastruktur, manajemen meningkatkan performa lapisan aplikasi. BSI menyiapkan sistem otomatisasi dari proses stress test guna menguji ketahanan teknologi informasi perusahaan dari berbagai tekanan operasional.
Guna mengantisipasi potensi serangan siber yang kian canggih, bank pelat merah ini juga telah menyiagakan agen digital khusus sebagai garda depan pertahanan. Melalui integrasi pencegahan berlapis pada tingkat infrastruktur dan aplikasi, BSI optimistis dapat menghadirkan layanan digital berbasis kecerdasan buatan yang aman, andal, dan membawa kemaslahatan bagi seluruh nasabah.