Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa hari terakhir dinilai membuka ruang seleksi di pasar modal seiring pergeseran minat investor menuju saham berfundamental kuat.
Di tengah koreksi yang menekan mayoritas emiten, indeks tematik seperti IDX BUMN 20 diprediksi mencuri perhatian karena profilnya yang berisi saham-saham pelat merah dengan skala usaha besar serta memiliki likuiditas tinggi.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), David Kurniawan, menilai prospek IDX BUMN 20 relatif memiliki daya tahan lebih baik karena ditopang oleh emiten yang berperan strategis dalam perekonomian nasional.
Menurut David, fluktuasi pasar saat ini merupakan momentum bagi pemodal untuk mencermati kembali saham-saham pelat merah, yang memiliki fundamental kokoh tetapi harganya sudah mengalami koreksi.
“Koreksi IHSG justru membuka peluang selektif pada saham BUMN dengan valuasi lebih menarik, terutama bagi investor jangka menengah hingga panjang,” ujarnya saat dihubungi Bisnis pada Selasa (3/2/2026).
Secara relatif, indeks yang beranggotakan 20 saham BUMN pilihan ini dianggap lebih defensif jika dibandingkan dengan indeks sektoral lainnya. Hal tersebut berlandaskan fakta bahwa banyak saham pelat merah memiliki arus kas stabil, pangsa pasar besar, serta dukungan kebijakan pemerintah yang kuat.
David menambahkan bahwa volatilitas saham-saham ini juga cenderung lebih terkendali dibanding sektor siklikal atau saham berkapitalisasi kecil.
Sementara itu, dalam dinamika rotasi menuju saham berfundamental kuat, David memproyeksikan bahwa sejumlah saham BUMN bakal diuntungkan.
“Emiten perbankan besar seperti BBRI, BMRI, BBNI, serta sektor energi dan telekomunikasi seperti TLKM dan PGAS, berpotensi paling diuntungkan karena memiliki fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan peran strategis,” kata David.
Sentimen positif ini semakin diperkuat dengan masuknya badan pengelola investasi Danantara Indonesia sebagai pembeli strategis di pasar modal.
David memandang langkah Danantara berfungsi sebagai sentimen psikologis positif sekaligus sinyal kepercayaan terhadap stabilitas pasar keuangan.
“Hal tersebut dapat membantu menahan tekanan jual, meningkatkan kepercayaan investor, serta memperkuat narasi rotasi dana ke saham berkualitas di tengah volatilitas,” pungkas David.
Sebagai lembaga pengelola investasi negara, Danantara menyatakan komitmennya untuk tetap aktif di lantai bursa setiap hari. Langkah ini merupakan bagian dari strategic asset allocation perseroan yang mencakup penempatan dana pada instrumen obligasi maupun ekuitas publik.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, menyatakan bahwa pihaknya melalui manajer investasi yang ditunjuk telah melakukan identifikasi terhadap emiten-emiten yang memiliki profil bisnis sehat.
Danantara, lanjutnya, berfokus pada saham-saham yang kini berada pada level harga menarik namun tetap didukung oleh likuiditas dan arus kas yang solid.
“Danantara sendiri sudah aktif kembali di pasar hari ini, melakukan pembelian saham-saham yang memiliki valuasi menarik, perusahaan yang baik, arus kas yang sehat, serta fundamental dan likuiditas yang kuat,” pungkas Pandu saat ditemui awak media di Gedung BEI, Jakarta, Senin (2/2/2026).
Pada penutupan perdagangan hari ini, IDX BUMN 20 tercatat menguat tipis sebesar 0,53% menuju level 393,94. Tercatat, sebanyak 12 saham pelat merah menguat, 7 saham membukukan koreksi, dan hanya 1 saham jalan di tempat.
_________
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.