Bisnis.com, JAKARTA — Universitas Paramadina menilai pasar modal Indonesia tengah berada pada fase krusial menyusul evaluasi lembaga internasional MSCI dan Moody’s. Penilaian tersebut mengemuka dalam diskusi panel daring bertajuk “Prospek dan Arah Pasar Modal Indonesia Pasca MSCI dan Moody’s” yang digelar Selasa (18/2/2026).
Rektor Universitas Paramadina Didik J. Rachbini menyatakan pasar modal merupakan sektor paling sensitif dalam perekonomian karena menjadi pintu masuk arus modal keuangan, terutama dari pasar global. Ia mengibaratkan pasar modal sebagai bendungan besar yang mengairi dunia usaha, sebagaimana peran modal publik dalam membesarkan perusahaan seperti First Media hingga Gojek.
“Pasar modal adalah koneksi modal keuangan terutama dengan pasar keuangan global. Dia seperti bendungan, begitu juga dengan APBN dan Dana Pensiun, maka pasar modal juga sebuah bendungan yang amat besar yang bisa mengairi banyak bisnis," ujar Didik dalam keterangan tertulisnya, Kamis (19/2/2026).
Namun, Didik mengingatkan kondisi terkini mengindikasikan tekanan serius. Menurut dia, dinamika pasca-evaluasi MSCI menjadi sinyal bahwa pasar modal Indonesia sedang tidak sehat. Ia menambahkan, gejolak pasar juga mencerminkan problem ekosistem ekonomi yang lebih luas, terutama bila pengelolaan fiskal dipersepsikan tidak kredibel sehingga memicu keluarnya dana.
Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menambahkan, rilis MSCI muncul pada saat yang kritis ketika portofolio investasi Indonesia mencatat angka negatif sekitar 14 miliar dolar AS pada periode 2025 hingga kuartal III-2026. Kondisi itu membuat investor asing menahan masuk, sementara arus keluar modal domestik justru meningkat.
“Keriuhan di pasar modal sebetulnya hanya puncak gunung es dari masalah yang lebih besar. Jika pasar modal bermasalah, sektor lain hampir pasti lebih bermasalah,” ujarnya.
Wijayanto juga menyinggung penurunan outlook dari Moody’s pada 5 Februari lalu yang dipicu sovereign selling. Ia menilai fokus lembaga pemeringkat dan penyusun indeks tersebut tertuju pada kualitas tata kelola, risiko fiskal, serta kebijakan yang sulit diprediksi.
Diskusi yang dipandu M. Rosyid Jazuli tersebut menyimpulkan bahwa konsistensi penegakan hukum dan stabilitas makroekonomi menjadi kunci pemulihan kepercayaan investor di tengah tekanan global.