Bisnis.com, SEMARANG — PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo) menegaskan dukungannya terhadap pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Semarang melalui penyediaan layanan penjaminan, guna mendorong pengembangan bisnis usaha.
Branch Manager Askrindo Semarang, Gami Aji L mengatakan sampai April 2026 Askrindo Semarang telah membukukan penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp1,3 triliun dengan jumlah 24.000 debitur.
“Total premi yang kami bukukan di tahun 2026 sampai April itu Rp40,2 miliar. Total klaim kami di Rp10,7 miliar, take up risk Rp6,2 miliar, dan total laba kami di Rp22,2 miliar,” katanya dalam media gathering di Semarang, Jawa Tengah, Kamis (7/5/2026).
Dilanjutkan Gami, untuk kinerja KUR saat ini tetap didominasi oleh sektor perdagangan. Wilayah Semarang membawahi dua kota dan empat kabupaten di Jawa Tengah.
Tidak hanya fokus pada program KUR, Askrindo juga memiliki program lainnya hingga merambah ke sektor ritel lainnya. Gami berujar saat ini pihaknya telah bekerja sama untuk asuransi kecelakaan diri wisata dengan Perhutani Jawa Tengah.
“Selain itu, kami juga melakukan kerja sama dengan vendor-vendor info wisata untuk kegiatan wisata, sampai wisata Haji Umrah itu kita juga cuma masuk di situ, dan kita sedang melakukan MoU dengan biro asosiasi wisata seluruh Jawa Tengah,” bebernya.
Selain hal tersebut, dia turut mengungkapkan kini Askrindo Semarang menginisiasi dan akan menjalankan asuransi mikro dalam waktu dekat. Kemudian, pihaknya juga akan bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat terkait asuransi nelayan dan asuransi kapal.
Dukung Keberlanjutan UMKM
Penjaminan kredit yang dijalankan Askrindo telah membantu pelaku UMKM yang ada di Semarang untuk mengembangkan bisnisnya dengan rasa aman. Hal ini dirasakan Slamet Riyanto (43), pengusaha wingko babat rumahan yang telah berbisnis sejak 2010.
Slamet bercerita, mulanya dia adalah seorang pekerja di salah satu perusahaan mebel sehingga membuat wingko babat hanya sebagai sambilan saja.
“Jadi saya nyambi gitu, setiap pagi jualan, siangnya masuk kantor, sudah bosan akhirnya fulltime sekarang. Saya terus belajar, cara produksinya, akhirnya kurang lebih 2010, setahunan lah sudah mulai merangkak sedikit-sedikit,” tuturnya saat ditemui di Semarang pada Kamis (7/5/2026).
Slamet berujar untuk membuat tujuh loyang wingko babat, butuh bahan baku tepung ketan antara 3-4 kilogram. Harga satu loyang dibanderol Rp30.000, dengan 12 potong. Sementara itu, harga per potongnya sebesar Rp2.500.
Dia meneruskan, pada awal membuka usaha hanya memiliki satu kompor dengan dua tungku, sedangkan sekarang sudah memiliki 6 kompor sehingga ada 12 tungku untuk membuat wingko babat.
Lebih lanjut, Slamet berujar untuk terus mengembangkan usahanya, dia pertama kali mengambil KUR sebesar Rp5 juta dari BRI dan dijamin oleh Askrindo.
“Pertama kali ambil KUR Rp5 juta dari BRI, untuk tambahan-tambahan. Dulu kelapa kami ambil dari pasar sampai sekarang bisa marut sendiri. Dari Rp5 juta itu akhirnya bisa beli mesin parut,” ungkapnya.
Lebih jauh, dia menyampaikan wingko babat yang tahan 3-4 hari tanpa dimasukkan ke kulkas itu bisa dipesan untuk ke luar kota bahkan hingga ke luar negeri.
Tidak hanya Slamet, Askrindo juga hadir untuk Seno Sudono (74), pengusaha mebel yang dulunya pernah menjadi atlet balap sepeda nasional. Seno bercerita, awal mula dirinya membuka usaha karena ada rasa ketakutan tidak mendapat pekerjaan seusai Asian Games Chiang Mai.
Seno menjadi pengusaha sejak 1981 pada usia 31 tahun dan sebelum dirinya diangkat menjadi PNS. Dia mengaku lebih senang membuka usaha karena selama 32 tahun sudah kerja sebagai staf terus-menerus.
Untuk mendirikan usahanya, dia menggunakan modal sendiri dengan sisa-sisa bonus sebagai atlet. Pada saat itu, orang tuanya tidak tahu-menahu ide untuk membuka usaha.
“Jadi, ide saya sendiri, orang tua saya enggak tahu. Usaha mulai dari rak piring dari kayu, terus dipan-dipan dari kayu. Yang belinya orang yang lewat saja,” katanya saat ditemui di Semarang pada Kamis (7/5/2026).
Saat ini, omzet per bulan usaha Seno mencapai Rp30 juta. Adapun, harga furnitur yang dijualnya dibanderol beraneka harga karena disesuaikan dengan jenis barangnya, mulai dari Rp12,5 juta hingga Rp25 juta.
Lebih lanjut, hingga kini Seno telah meminjam KUR untuk usahanya ke bank pemerintah yakni ke BNI sebanyak dua kali. Dia pernah meminjam Rp150 juta untuk kebutuhan usahanya. Adapun, terbanyak pernah sampai Rp600 juta dengan agunan rumah.
Seno merasa keberadaan Askrindo sebagai penjamin KUR dapat membantu pengusaha UMKM sepertinya memperoleh akses pembiayaan dari perbankan.
“Kalau saya enggak bisa bayar kan Askrindo yang di belakangnya toh, tapi saya Alhamdulillah tetap kewajiban bayar itu harus tetap ada, jadi lancar,” pungkasnya.