#30 tag 24jam
Emiten Transportasi ASSA, BIRD Cs Siap Tadah Berkah Meredanya Konflik AS-Iran
Meredanya konflik Iran-AS membawa dampak positif bagi emiten transportasi seperti ASSA dan BIRD, meningkatkan stabilitas ekonomi dan potensi pertumbuhan bisnis. [904] url asal
#iran-as-damai #emiten-transportasi #assa-bird #geopolitik-stabil #pasokan-energi #nilai-tukar-rupiah #suku-bunga #bisnis-rental-kendaraan #bisnis-logistik #pertumbuhan-bisnis #harga-energi #ekonomi-gl
(Bisnis.Com - Market) 25/06/26 11:10
v/259315/
Bisnis.com, JAKARTA — Meredanya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) melalui kesepakatan damai sementara dinilai menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten transportasi seperti ASSA hingga BIRD.
Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jerry Fandy melihat stabilitas geopolitik berpotensi memperbaiki pasokan energi, nilai tukar rupiah, hingga tingkat suku bunga yang pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan bisnis rental kendaraan dan logistik.
Emiten yang terafiliasi dengan Grup konglomerasi TP Rachmat mengatakan dengan kondisi geopolitik yang lebih kondusif diharapkan dapat mengurangi ketidakpastian global yang selama ini membayangi dunia usaha.
"Kalau bicara soal geopolitik yang mereda, tentu saja kita sangat berharap keadaan semakin membaik. Baik itu suplai BBM maupun nilai tukar. Kalau itu membaik, kita juga bisa membukukan kinerja yang lebih baik," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, stabilitas harga energi dan membaiknya kondisi ekonomi global berpotensi mendorong peningkatan permintaan pada bisnis utama ASSA, baik di segmen rental kendaraan maupun logistik. Selain itu, penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan suku bunga juga dapat memberikan dampak positif terhadap profitabilitas perusahaan.
ASSA sendiri masih mengandalkan pembiayaan perbankan untuk mendukung ekspansi bisnis. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar Rp1,5 triliun yang sebagian besar akan digunakan untuk pembelian armada kendaraan baru dan peremajaan armada eksisting.
"Jika tingkat suku bunga membaik, otomatis akan berpengaruh positif terhadap profitabilitas ASSA karena sebagian besar capex kami berasal dari pinjaman bank," katanya.
Meski demikian, perseroan tetap memilih bersikap konservatif dalam menyusun target kinerja 2026. ASSA membidik pertumbuhan atau top line sekitar 5%-10% dengan kenaikan laba bersih pada level dua digit rendah.
Perseroan menilai masih banyak faktor eksternal yang sulit dikendalikan, mulai dari dinamika harga energi, kondisi makroekonomi global, hingga perubahan permintaan pasar.
Untuk tahun ini, ASSA menargetkan mesin pertumbuhan utama berasal dari bisnis logistik yang diproyeksikan masih mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit. Sementara segmen rental kendaraan dan bisnis mobil bekas diperkirakan tumbuh lebih moderat seiring kondisi pasar otomotif yang masih berfluktuasi.
Di sisi lain, ASSA menegaskan kenaikan harga BBM non subsidi belum memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan. Pada bisnis rental, biaya bahan bakar ditanggung pelanggan, sementara pada segmen logistik perseroan memiliki mekanisme penyesuaian tarif dengan pelanggan apabila terjadi kenaikan harga BBM maupun upah minimum.
Meski demikian, dia tetap mencermati potensi perlambatan permintaan akibat kenaikan harga energi.
Dengan mulai meredanya ketegangan geopolitik global dan tetap kuatnya permintaan domestik, ASSA berharap kondisi bisnis pada paruh kedua 2026 dapat bergerak lebih positif dibandingkan ekspektasi awal yang konservatif.
Kinerja ASSA pada kuartal I/2026 ditandai oleh pertumbuhan pendapatan yang kuat, meski laba bersih sedikit terkoreksi. Per Maret 2026, perseroan membukukan pendapatan Rp1,54 triliun, tumbuh 11% secara tahunan (YoY) dari Rp1,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi laba bersih, ASSA mencatatkan sebesar Rp98,47 miliar, turun tipis 3,25% dibandingkan Rp101,77 miliar pada kuartal I/2025.
Bluebird (BIRD) Proyeksikan Mobilitas Berpotensi Melesat
Sementara itu, emiten transportasi milik keluarga Djokosoetono PT Blue Bird Tbk. (BIRD) melihat dengan mulai meredanya tensi geopolitik global dapat mendorong stabilitas harga minyak, memperbaiki nilai tukar rupiah, serta meningkatkan mobilitas masyarakat yang menjadi faktor utama pertumbuhan bisnis perseroan.
Direktur Utama BIRD Adrianto Djokosoetono mengatakan konflik geopolitik sebelumnya telah menciptakan berbagai tekanan terhadap perekonomian global, termasuk risiko kenaikan harga energi yang berdampak pada aktivitas perjalanan regional maupun internasional.
"Tentu itu salah satu katalis yang positif bagi kinerja. Salah satu tantangan sebelumnya adalah ketika harga minyak tinggi, maka pergerakan regional maupun internasional bisa terganggu. Harapannya dengan stabilisasi harga minyak, mobilitas regional, nasional, maupun internasional bisa kembali meningkat," ujarnya.
Dia melanjutkan dampak perdamaian Iran-AS terhadap perseroan memang tidak terjadi secara langsung. Namun stabilitas geopolitik berpotensi menciptakan efek berantai yang menguntungkan, mulai dari meredanya tekanan harga energi, membaiknya kurs rupiah, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi dan perjalanan masyarakat.
"Harapannya dolar juga membaik dan industri bisa berkembang lebih baik. Mudah-mudahan mobilitas kembali seperti sebelum terdampak konflik," katanya.
Selama ini imbas kenaikan BBM non subsidi memang berdampak ke sejumlah lini usaha tetapi Andre menyebut kontribusi segmen tersebut terhadap keseluruhan bisnis Bluebird masih relatif kecil sehingga dampaknya terhadap kinerja perusahaan belum material.
Optimisme pada kuartal II/2026 tersebut muncul di tengah kinerja pendapatan BIRD yang tumbuh dua digit mencapai Rp1,45 triliun, namun laba bersih mengalami penurunan sebesar 6% secara tahunan menjadi Rp155 hingga Rp157 miliar.
menilai paruh kedua tahun ini berpotensi menjadi periode yang lebih baik seiring normalisasi kondisi global dan faktor musiman yang biasanya mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.
"Kami melihat secara historis mobilitas memang cenderung meningkat pada semester kedua. Dengan kondisi global yang lebih kondusif, kami berharap momentum pertumbuhan juga semakin kuat," ujar Andre.
Di tengah optimisme tersebut, Blue Bird tetap melanjutkan ekspansi armada secara terukur. Perseroan menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp1,9 triliun pada 2026 yang akan digunakan untuk penggantian armada, penambahan kendaraan baru, serta pengembangan infrastruktur pendukung.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Emiten Transportasi ASSA, BIRD Cs Siap Tadah Berkah Meredanya Konflik AS-Iran
Meredanya konflik Iran-AS membawa dampak positif bagi emiten transportasi seperti ASSA dan BIRD, meningkatkan stabilitas ekonomi dan potensi pertumbuhan bisnis. [904] url asal
#iran-as-damai #emiten-transportasi #assa-bird #geopolitik-stabil #pasokan-energi #nilai-tukar-rupiah #suku-bunga #bisnis-rental-kendaraan #bisnis-logistik #pertumbuhan-bisnis #harga-energi #ekonomi-gl
(Bisnis.Com - Market) 24/06/26 18:35
v/258782/
Bisnis.com, JAKARTA — Meredanya tensi geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) melalui kesepakatan damai sementara dinilai menjadi sentimen positif bagi sejumlah emiten transportasi seperti ASSA hingga BIRD.
Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk. (ASSA) Direktur PT Adi Sarana Armada Tbk Jerry Fandy melihat stabilitas geopolitik berpotensi memperbaiki pasokan energi, nilai tukar rupiah, hingga tingkat suku bunga yang pada akhirnya dapat mendukung pertumbuhan bisnis rental kendaraan dan logistik.
Emiten yang terafiliasi dengan Grup konglomerasi TP Rachmat mengatakan dengan kondisi geopolitik yang lebih kondusif diharapkan dapat mengurangi ketidakpastian global yang selama ini membayangi dunia usaha.
"Kalau bicara soal geopolitik yang mereda, tentu saja kita sangat berharap keadaan semakin membaik. Baik itu suplai BBM maupun nilai tukar. Kalau itu membaik, kita juga bisa membukukan kinerja yang lebih baik," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (24/6/2026).
Menurutnya, stabilitas harga energi dan membaiknya kondisi ekonomi global berpotensi mendorong peningkatan permintaan pada bisnis utama ASSA, baik di segmen rental kendaraan maupun logistik. Selain itu, penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan suku bunga juga dapat memberikan dampak positif terhadap profitabilitas perusahaan.
ASSA sendiri masih mengandalkan pembiayaan perbankan untuk mendukung ekspansi bisnis. Tahun ini, perseroan mengalokasikan belanja modal (capex) sekitar Rp1,5 triliun yang sebagian besar akan digunakan untuk pembelian armada kendaraan baru dan peremajaan armada eksisting.
"Jika tingkat suku bunga membaik, otomatis akan berpengaruh positif terhadap profitabilitas ASSA karena sebagian besar capex kami berasal dari pinjaman bank," katanya.
Meski demikian, perseroan tetap memilih bersikap konservatif dalam menyusun target kinerja 2026. ASSA membidik pertumbuhan atau top line sekitar 5%-10% dengan kenaikan laba bersih pada level dua digit rendah.
Perseroan menilai masih banyak faktor eksternal yang sulit dikendalikan, mulai dari dinamika harga energi, kondisi makroekonomi global, hingga perubahan permintaan pasar.
Untuk tahun ini, ASSA menargetkan mesin pertumbuhan utama berasal dari bisnis logistik yang diproyeksikan masih mampu mencatatkan pertumbuhan dua digit. Sementara segmen rental kendaraan dan bisnis mobil bekas diperkirakan tumbuh lebih moderat seiring kondisi pasar otomotif yang masih berfluktuasi.
Di sisi lain, ASSA menegaskan kenaikan harga BBM non subsidi belum memberikan dampak langsung terhadap operasional perusahaan. Pada bisnis rental, biaya bahan bakar ditanggung pelanggan, sementara pada segmen logistik perseroan memiliki mekanisme penyesuaian tarif dengan pelanggan apabila terjadi kenaikan harga BBM maupun upah minimum.
Meski demikian, dia tetap mencermati potensi perlambatan permintaan akibat kenaikan harga energi.
Dengan mulai meredanya ketegangan geopolitik global dan tetap kuatnya permintaan domestik, ASSA berharap kondisi bisnis pada paruh kedua 2026 dapat bergerak lebih positif dibandingkan ekspektasi awal yang konservatif.
Kinerja ASSA pada kuartal I/2026 ditandai oleh pertumbuhan pendapatan yang kuat, meski laba bersih sedikit terkoreksi. Per Maret 2026, perseroan membukukan pendapatan Rp1,54 triliun, tumbuh 11% secara tahunan (YoY) dari Rp1,39 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Dari sisi laba bersih, ASSA mencatatkan sebesar Rp98,47 miliar, turun tipis 3,25% dibandingkan Rp101,77 miliar pada kuartal I/2025.
Bluebird (BIRD) Proyeksikan Mobilitas Berpotensi Melesat
Sementara itu, emiten transportasi milik keluarga Djokosoetono PT Blue Bird Tbk. (BIRD) melihat dengan mulai meredanya tensi geopolitik global dapat mendorong stabilitas harga minyak, memperbaiki nilai tukar rupiah, serta meningkatkan mobilitas masyarakat yang menjadi faktor utama pertumbuhan bisnis perseroan.
Direktur Utama BIRD Adrianto Djokosoetono mengatakan konflik geopolitik sebelumnya telah menciptakan berbagai tekanan terhadap perekonomian global, termasuk risiko kenaikan harga energi yang berdampak pada aktivitas perjalanan regional maupun internasional.
"Tentu itu salah satu katalis yang positif bagi kinerja. Salah satu tantangan sebelumnya adalah ketika harga minyak tinggi, maka pergerakan regional maupun internasional bisa terganggu. Harapannya dengan stabilisasi harga minyak, mobilitas regional, nasional, maupun internasional bisa kembali meningkat," ujarnya.
Dia melanjutkan dampak perdamaian Iran-AS terhadap perseroan memang tidak terjadi secara langsung. Namun stabilitas geopolitik berpotensi menciptakan efek berantai yang menguntungkan, mulai dari meredanya tekanan harga energi, membaiknya kurs rupiah, hingga meningkatnya aktivitas ekonomi dan perjalanan masyarakat.
"Harapannya dolar juga membaik dan industri bisa berkembang lebih baik. Mudah-mudahan mobilitas kembali seperti sebelum terdampak konflik," katanya.
Selama ini imbas kenaikan BBM non subsidi memang berdampak ke sejumlah lini usaha tetapi Andre menyebut kontribusi segmen tersebut terhadap keseluruhan bisnis Bluebird masih relatif kecil sehingga dampaknya terhadap kinerja perusahaan belum material.
Optimisme pada kuartal II/2026 tersebut muncul di tengah kinerja pendapatan BIRD yang tumbuh dua digit mencapai Rp1,45 triliun, namun laba bersih mengalami penurunan sebesar 6% secara tahunan menjadi Rp155 hingga Rp157 miliar.
menilai paruh kedua tahun ini berpotensi menjadi periode yang lebih baik seiring normalisasi kondisi global dan faktor musiman yang biasanya mendorong peningkatan mobilitas masyarakat.
"Kami melihat secara historis mobilitas memang cenderung meningkat pada semester kedua. Dengan kondisi global yang lebih kondusif, kami berharap momentum pertumbuhan juga semakin kuat," ujar Andre.
Di tengah optimisme tersebut, Blue Bird tetap melanjutkan ekspansi armada secara terukur. Perseroan menganggarkan belanja modal (capex) sekitar Rp1,7 triliun hingga Rp1,9 triliun pada 2026 yang akan digunakan untuk penggantian armada, penambahan kendaraan baru, serta pengembangan infrastruktur pendukung.
____
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56