Bisnis.com, JAKARTA— Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan kemunculan objek bercahaya di langit yang sempat ramai diperbincangkan di media sosial.
Fenomena tersebut terlihat di langit Lampung, Kalimantan, Sulawesi, Bali, NTB, dan NTT sekitar pukul 18.40 WIB atau 19.40 WITA pada Sabtu malam (11/4/2026).
Peneliti Ahli Utama Bidang Astronomi dan Astrofisika BRIN Thomas Djamaluddin mengungkap objek bercahaya itu merupakan bagian dari proses peluncuran roket China jenis Smart Dragon-3 (Jielong-3) yang diluncurkan pada hari yang sama.
“Cahaya yang terlihat di langit itu adalah jejak roket Jielong-3 yang sedang menuju orbit. Ekor cahaya tersebut berasal dari semburan gas roket saat melintasi atmosfer atas menuju antariksa,” kata Thomas dalam keterangannya dikutip pada Rabu (15/4/2026).
Thomas menjelaskan roket tersebut diluncurkan pada pukul 18.32 WIB atau 19.32 WITA dari sistem peluncuran berbasis laut di wilayah pantai Yangjiang, Guangdong, China. Lintasan peluncuran roket itu melintasi wilayah Indonesia sehingga fenomenanya dapat terlihat dari sejumlah daerah.
Dia menambahkan roket Jielong-3 merupakan roket berbahan bakar padat yang mampu mencapai ketinggian hingga sekitar 500 kilometer. Roket tersebut digunakan untuk meluncurkan satelit internet ke orbit sun-synchronous.
Lebih lanjut, dia membeberkan fenomena cahaya yang tampak melengkung dan memanjang di langit malam merupakan efek visual dari gas buang roket yang memantulkan cahaya matahari di atmosfer atas pada awal malam.
“Kondisi ini membuat semburan gas tampak terang meskipun di permukaan Bumi sudah memasuki waktu malam,” katanya.
Thomas menegaskan kejadian ini berbeda dengan fenomena sebelumnya yang terjadi pada awal April 2026 dan juga sempat terlihat di langit Indonesia. Dia mengatakan kejadian pada 4 April merupakan jatuhnya sampah antariksa berupa sisa roket lama tipe CZ-3B, sedangkan yang terlihat pada 11 April ini adalah roket yang sedang diluncurkan, bukan benda jatuh.
Dia menjelaskan perbedaan utama dari kedua fenomena tersebut terletak pada prosesnya. Sampah antariksa biasanya terlihat terpecah dan terbakar saat memasuki atmosfer, sementara peluncuran roket akan tampak sebagai semburan gas buang yang berinteraksi dengan atmosfer atas.
“Fenomena seperti ini bukanlah hal berbahaya bagi masyarakat. Justru, kejadian ini merupakan bagian dari aktivitas keantariksaan global yang sesekali dapat diamati dari wilayah Indonesia, terutama ketika lintasan peluncuran melintasi kawasan ini,” ungkap Thomas.