Bisnis.com, JAKARTA – PT Panin Asset Management memandang optimis kinerja industri reksa dana sepanjang 2026. Target dana kelolaan atauasset under managementbahkan mencapai Rp17 triliun.
Adapun data per 31 Desember 2025, Panin mencatatkan dana kelolaan di level Rp14,36 triliun. Posisi ini terkoreksi dari realisasi Rp15 triliun AUM yang mampu dicatatkan Panin AM pada 2024. Dari total dana kelolaan tersebut, AUM reksa dana saham mencatatkan kontribusi tertinggi pada 2025 senilai Rp6,29 triliun.
Memasuki 2026, Panin AM optimistisAUM perusahaan akan bertumbuh secara signifikan. Meskipun begitu, Panin tidak menargetkan pertumbuhan AUM pada jenis reksa dana tertentu.
“Kami menargetkan Rp17 triliun. Secara umum, kami tidak menargetkan jenis tertentu karena pilihan produk sesuai preferensi dan profil risiko nasabah,” kata Direktur Panin AM Rudiyanto kepada Bisnis, dikutip Minggu (4/12/2025).
Panin menilai kinerja pasar saham Tanah Air masih cenderung volatil belakangan. Dus, strategi Panin adalah memberikan investor eksposur terhadap efek global yang memiliki investasi di bursa saham AS.
Hal itu dilakukan dalam rangka mengurangi risiko terhadap volatilitas pasar saham Indonesia yang sepanjang 2025, kendati mampu mencetak 24 kali rekor baru, tetapi sempat mengalami pelemahan kinerja pada pertengahan tahun lalu lantaran pengumuman tarif Trump yang diumumkan pada April 2025.
“Mengingat kinerja saham Indonesia yang relatif volatil, kami menawarkan reksa dana syariah efek global yang berinvestasi di pasar saham AS,” kata Rudiyanto.
Adapun data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total AUM industri reksa dana pada Desember 2025 menjadi yang tertinggi sejak 2020. Total AUM reksa dana bahkan mencapai Rp679,18 triliun pada bulan terakhir 2025.
Pertumbuhan AUM industri reksa dana cukup bergejolak sepanjang 2025. Sempat menyentuh level terendahnya pada Januari 2025 senilai Rp493,95 triliun, AUM industri reksa dana perlahan-lahan tumbuh menjadi Rp505,83 triliun pada April 2025.
Tumbuhnya AUM reksa dana pada April sejalan dengan amblesnya kondisi pasar saham Tanah Air saat itu. Alhasil, investor memilih untuk mempercayakan asetnya kepada manajer investasi dengan harapan mampu mendulangreturnyang lebih baik ketimbang pasar saham.
Hal itu tampak dari pertumbuhan reksa dana saham dari posisi Rp67,49 triliun pada Maret 2025 dan menjadi Rp69,83 triliun saat pasar saham mencatatkan koreksi yang dalam.
Memasuki Oktober 2025, dana kelolaan industri reksa dana telah mencapai level Rp621,67 triliun. Berlanjut pada November 2025 mencapai Rp656,96 triliun dan Desember di level Rp679,18 triliun.
“Tren penurunan suku bunga membuat ada pengalihan ke reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap terutama dari nasabah perbankan,” kata Rudi.