#30 tag 24jam
Wall Street Bisa Menguat 10 Persen, AI Tak Lagi Jadi Andalan
Wall Street diprediksi masih menguat hingga akhir tahun, didorong sektor keuangan dan industri, bukan lagi saham AI. [670] url asal
#wall-street #the-fed #pertumbuhan-ekonomi #pasar-saham #pasar-saham-as #saham-ai
(Kompas.com - Money) 20/06/26 21:46
v/255366/
KOMPAS.com - Kenaikan pasar saham Amerika Serikat (AS) dalam beberapa bulan ke depan diperkirakan tidak lagi hanya ditopang saham-saham kecerdasan buatan (AI).
Kombinasi pertumbuhan ekonomi yang tetap kuat, inflasi yang terkendali, dan kebijakan suku bunga yang stabil dinilai dapat mendorong penguatan pasar secara lebih luas.
Pasar saham AS diperkirakan masih memiliki ruang untuk melanjutkan penguatan tanpa harus bergantung pada lonjakan saham AI atau penawaran saham perdana (IPO) berskala besar.
Pendiri Macro Compass, Alfonso Peccatiello, menilai kondisi ekonomi saat ini menciptakan lingkungan yang mendukung bagi pasar saham.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi tetap solid, inflasi relatif terkendali, dan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) menjaga arah kebijakan moneter tetap dapat diprediksi dengan mempertahankan suku bunga.
"Kombinasi tersebut secara historis menjadi kondisi yang positif bagi pasar saham," tulis Peccatiello, dikutip dari Yahoo Finance, Sabtu (20/6/2026).
Berdasarkan kerangka analisis yang digunakannya, indeks S&P 500 berpotensi mencapai kisaran 8.000 hingga 8.150 dalam enam bulan ke depan. Proyeksi itu berarti indeks masih berpeluang naik sekitar 8-10 persen dibandingkan posisi penutupan pada Kamis lalu.
Kondisi "Goldilocks" Dinilai Mendukung Pasar
Peccatiello menyebut kondisi pasar saat ini sebagai skenario "Goldilocks", yakni ketika pertumbuhan ekonomi tetap kuat setelah memperhitungkan inflasi, tetapi tidak terlalu panas.
Dalam kondisi tersebut, inflasi inti masih terkendali dan The Fed tidak melakukan pengetatan agresif. Menurut definisinya, bank sentral hanya menahan suku bunga atau menaikkannya paling banyak satu kali.
Data Macro Compass menunjukkan, sejak 1990, kondisi seperti itu menghasilkan rata-rata kenaikan S&P 500 sebesar 9,5 persen dalam periode enam bulan. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata kenaikan 5,8 persen pada periode enam bulan biasa.
Tingkat keberhasilan pola tersebut juga mencapai 96 persen.
Peccatiello menilai pasar saham tidak memerlukan kondisi yang sempurna untuk mencatat kenaikan di atas rata-rata. Yang dibutuhkan adalah kombinasi pertumbuhan ekonomi dan kepastian arah kebijakan.
Ia melihat likuiditas di ekonomi AS masih cukup kuat, didukung oleh defisit fiskal pemerintah dan pertumbuhan kredit sektor swasta yang menopang pertumbuhan nominal.
Di sisi lain, indikator pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi yang mulai membaik tanpa menimbulkan tekanan berlebihan. Perlambatan inflasi sektor perumahan juga dinilai dapat membantu meredam kenaikan inflasi barang.
Peran The Fed Tetap Krusial
Menurut Peccatiello, keberhasilan skenario tersebut tidak bergantung pada pemangkasan suku bunga oleh The Fed.
Yang lebih penting adalah bank sentral tidak memberikan kejutan yang lebih agresif dari ekspektasi pasar.
Pertemuan pertama The Fed di bawah kepemimpinan Kevin Warsh menjadi ujian bagi asumsi tersebut.
Meski suku bunga tetap dipertahankan, pernyataan resmi yang lebih singkat dan berkurangnya panduan mengenai arah kebijakan ke depan membuat pasar memperoleh kepastian yang lebih terbatas.
Karena itu, rotasi sektor yang terjadi belakangan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan investor.
Kepemimpinan Pasar Mulai Bergeser
Pada Juni 2026, sektor-sektor yang memimpin penguatan pasar bukan lagi kelompok saham AI yang mendominasi dalam beberapa tahun terakhir.
Sektor jasa keuangan, industri, dan material menjadi kelompok yang menunjukkan kinerja lebih baik dibandingkan sektor lain.
Sebaliknya, sektor teknologi yang didominasi perusahaan kapitalisasi besar, layanan komunikasi, dan barang konsumsi non-primer justru tertinggal. Sektor energi juga mengalami tekanan.
Meski demikian, Peccatiello menegaskan bahwa AI masih memiliki peran besar terhadap pergerakan pasar saham AS.
Ia memperkirakan sekitar 70 persen variasi pergerakan S&P 500 masih dapat dijelaskan oleh faktor AI.
Namun, karena valuasi saham teknologi raksasa AS dinilai semakin berat, ia lebih memilih menempatkan pandangan optimistisnya pada saham-saham di pasar negara berkembang dan Eropa dibandingkan saham teknologi berkapitalisasi besar di AS.
Pandangan serupa juga tercermin dari kinerja pasar terbaru. ETF Roundhill Magnificent Seven (MAGS), yang berisi saham-saham teknologi raksasa AS, tercatat turun sekitar 8 persen sepanjang Juni.
Penurunan tersebut memperpanjang tekanan pada kelompok saham "Magnificent Seven" yang sebelumnya telah menghapus nilai pasar hingga triliunan dollar AS.
Pada akhirnya, menurut Peccatiello, faktor penentu bagi pasar bukanlah apakah The Fed akan memangkas suku bunga atau tidak, melainkan apakah bank sentral mampu menjaga ekspektasi investor dan menghindari kejutan kebijakan yang terlalu agresif.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Saham SpaceX Terbang pada Hari Pertama, Naik 19 Persen
Saham SpaceX melonjak 19,2 persen pada hari pertama perdagangannya di Nasdaq, Jumat (12/6/2026) waktu AS [766] url asal
#bursa-saham #elon-musk #pasar-saham-as #bursa-nasdaq #ipo-spacex #ipo-spacex-elon-musk #saham-spacex
(Kompas.com - Money) 13/06/26 09:11
v/248986/
KOMPAS.com – Saham SpaceX melonjak 19,2 persen pada hari pertama perdagangannya di Nasdaq, Jumat (12/6/2026) waktu AS, setelah perusahaan milik Elon Musk itu mencatatkan penawaran saham perdana (IPO) terbesar dalam sejarah pasar modal.
Dikutip dari Yahoo Finance, saham SpaceX yang diperdagangkan dengan kode SPCX dibuka pada harga 150 dollar AS, atau naik sekitar 11 persen dibandingkan harga IPO sebesar 135 dollar AS per saham yang ditetapkan sehari sebelumnya.
Saham perusahaan roket dan satelit tersebut bahkan sempat melonjak lebih dari 30 persen pada awal perdagangan sebelum memangkas sebagian kenaikannya dan ditutup di level 160,95 dollar AS per saham.
IPO SpaceX berhasil menghimpun dana sebesar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.345 triliun (kurs Rp 17.941 per dollar AS), menjadikannya penawaran saham perdana terbesar yang pernah tercatat.
Mengutip CNBC, lonjakan harga saham pada hari pertama perdagangan mengangkat valuasi SpaceX menjadi sekitar 2,1 triliun dollar AS atau setara Rp 37.676 triliun (asumsi kurs Rp 17.941 per dollar AS).
Dalam perdagangan setelah jam bursa, saham SpaceX masih menguat hingga mendekati 167 dollar AS per saham sehingga kapitalisasi pasarnya mendekati 2,2 triliun dollar AS.
Investor Berebut Saham SpaceX
Minat investor terhadap saham SpaceX terbilang sangat tinggi sejak masa penawaran awal.
SpaceX menawarkan sekitar 555,6 juta saham dalam IPO tersebut. Penjamin emisi juga memiliki opsi greenshoe untuk menjual tambahan sekitar 83 juta saham jika permintaan pasar melebihi alokasi awal.
Laporan Reuters menyebutkan IPO SpaceX mengalami kelebihan permintaan atau oversubscribed hingga empat kali lipat.
Data awal dari Vanda Research menunjukkan investor ritel menjadi salah satu pendorong utama reli saham SpaceX pada hari pertama perdagangan.
"SPCX kini menjadi saham yang paling banyak dibeli investor ritel hari ini dan bahkan tidak ada yang mendekati," tulis Vanda Research dalam catatannya.
X/@SpaceX SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.Sementara itu, CNBC melaporkan volume perdagangan saham SpaceX menembus lebih dari 500 juta saham pada hari pertama, mendekati rekor yang pernah dicatat Facebook saat melantai di bursa pada 2012.
Citadel Securities juga menyebut debut SpaceX mencatat aktivitas pemesanan investor ritel tertinggi yang pernah terjadi dalam sebuah IPO.
SpaceX Jadi Perusahaan AS Terbesar Keenam
Menurut Bespoke Investment Group, valuasi SpaceX saat ini menjadikannya perusahaan publik terbesar keenam di Amerika Serikat.
Nilai perusahaan tersebut berada di bawah Amazon yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar 2,54 triliun dollar AS, tetapi sudah melampaui Broadcom yang bernilai sekitar 1,81 triliun dollar AS.
Bespoke juga mencatat nilai SpaceX kini sekitar 700 miliar dollar AS lebih besar dibandingkan Tesla, perusahaan kendaraan listrik yang juga dipimpin Musk. Kapitalisasi pasar SpaceX bahkan lebih dari dua kali lipat nilai Berkshire Hathaway.
Ist Ilustrasi SpaceX akuisisi xAI.Ambisi Besar di Bisnis AI dan Satelit
Elon Musk mengatakan SpaceX telah mencatat arus kas positif sejak sekitar 2015.
Musk menjelaskan keputusan membawa perusahaan ke pasar saham dilakukan untuk mendanai fase pertumbuhan berikutnya.
Dana hasil IPO akan digunakan untuk memperluas jaringan satelit komunikasi Starlink, menambah lebih dari 100.000 satelit di orbit, serta membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) di luar angkasa.
Pada Februari 2026, SpaceX juga mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan xAI milik Musk. Akuisisi tersebut membawa model AI Grok, pusat data, dan platform media sosial X ke dalam ekosistem bisnis SpaceX.
Analis Wedbush Dan Ives mengatakan IPO SpaceX merupakan momen penting bagi sektor teknologi, khususnya di tengah pesatnya perkembangan industri AI.
"SpaceX melantai di bursa merupakan momen penting bagi sektor teknologi yang lebih luas ketika revolusi AI dan data memasuki fase berikutnya," tulis Ives dalam catatan risetnya.
Analis Ingatkan Risiko Volatilitas
Meski mendapat sambutan luar biasa dari investor, sejumlah analis memperingatkan bahwa pergerakan saham SpaceX berpotensi sangat fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan.
Pendiri dan CEO Kurv Investment Management Howard Chan mengatakan volatilitas harga saham masih akan tinggi hingga pasar menemukan valuasi yang dianggap wajar.
"Saham ini diperkirakan akan mengalami volatilitas tinggi," ujar Chan.
Pandangan serupa juga disampaikan analis CFRA Research Keith Snyder. Dikutip dari CNBC, Snyder menilai valuasi SpaceX saat ini sulit dibenarkan berdasarkan fundamental perusahaan.
Menurut prospektus, SpaceX masih membukukan akumulasi kerugian sebesar 41,3 miliar dollar AS sejak berdiri pada 2002. Pada 2025, perusahaan mencatat pendapatan sekitar 18,7 miliar dollar AS dan rugi bersih sekitar 4,9 miliar dollar AS.
Meski demikian, debut gemilang SpaceX semakin memperkuat posisi Elon Musk sebagai orang terkaya di dunia. Bahkan, kombinasi kepemilikannya di SpaceX dan Tesla membuat Musk tercatat sebagai triliuner pertama dalam sejarah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Wall Street Berguncang, Saham Chip AI Rontok dan Nasdaq Anjlok 4 Persen
Nasdaq anjlok 4,18 persen setelah aksi jual besar-besaran saham chip AI. Investor beralih ke saham defensif dan obligasi. [606] url asal
#wall-street #bursa-saham #pasar-saham #pasar-saham-as #nasdaq-composite #saham-amerika #saham-ai
(Kompas.com - Money) 06/06/26 11:43
v/241967/
KOMPAS.com – Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup melemah tajam pada perdagangan Jumat (5/6/2026) waktu setempat. Gelombang aksi jual pada saham-saham semikonduktor dan teknologi menyeret indeks Nasdaq Composite mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2025.
Nasdaq Composite anjlok 4,18 persen ke level 25.709,43. Sementara itu, indeks S&P 500 turun 2,64 persen ke posisi 7.383,74 dan Dow Jones Industrial Average melemah 695,15 poin atau 1,35 persen ke level 50.866,78.
Penurunan tersebut sekaligus mengakhiri reli Wall Street dalam beberapa pekan terakhir. Sepanjang pekan ini, S&P 500 terkoreksi lebih dari 2 persen, menjadi penurunan mingguan pertama dalam 10 pekan terakhir. Nasdaq bahkan merosot sekitar 4,7 persen dalam sepekan.
Saham chip jadi sumber tekanan
Tekanan terbesar datang dari sektor semikonduktor yang selama ini menjadi motor penggerak reli kecerdasan buatan (AI).
Dana indeks iShares Semiconductor ETF anjlok 10 persen, mencatat kinerja harian terburuk sejak Maret 2020.
Saham Broadcom turun hampir 8 persen setelah sehari sebelumnya merosot lebih dari 12 persen. Marvell Technology jatuh lebih dari 16 persen, sementara Intel dan Advanced Micro Devices (AMD) masing-masing kehilangan sekitar 11 persen.
Produsen chip memori Micron Technology juga terpuruk 13 persen setelah sehari sebelumnya sudah melemah 8 persen.
Mengutip CNBC, Sabtu (6/6/2026), pelaku pasar menilai koreksi tajam ini dipicu kombinasi aksi ambil untung dan meningkatnya kekhawatiran terhadap valuasi saham-saham AI yang telah melesat tinggi dalam beberapa bulan terakhir.
"Kebanyakan investor sebenarnya sudah bersiap menekan tombol jual. Bukan untuk keluar sepenuhnya dari pasar, tetapi untuk merealisasikan keuntungan setelah kenaikan besar saham semikonduktor selama dua bulan terakhir," kata Kepala Strategi Pasar Nationwide, Mark Hackett.
Data tenaga kerja dorong lonjakan yield
Sentimen negatif semakin kuat setelah pemerintah AS melaporkan penambahan tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls) sebanyak 172.000 pada Mei 2026.
Angka tersebut jauh melampaui perkiraan ekonom yang hanya memperkirakan tambahan sekitar 80.000 pekerjaan.
Data yang lebih kuat dari ekspektasi memicu lonjakan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS. Yield obligasi tenor 10 tahun menembus 4,5 persen, sedangkan yield tenor 30 tahun melampaui 5 persen.
Kenaikan yield tersebut kembali memunculkan kekhawatiran bahwa suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama, sehingga meningkatkan biaya pendanaan perusahaan, termasuk emiten teknologi yang tengah agresif membangun infrastruktur AI.
Pasar keuangan AS bertahan meski Gedung Putih menggulirkan kebijakan kontroversial. Arus dana ke ETF saham terus mengalir deras.Investor bersiap menyambut IPO SpaceX
Di tengah koreksi saham teknologi, sebagian analis melihat investor mulai mengalihkan dana untuk mempersiapkan partisipasi pada penawaran saham perdana (IPO) SpaceX yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.
Perusahaan antariksa dan AI milik Elon Musk itu disebut akan melantai di bursa dengan valuasi sekitar 1,77 triliun dollar AS, menjadikannya IPO terbesar sepanjang sejarah.
Menurut Hackett, investor yang ingin masuk ke IPO SpaceX kemungkinan besar akan mencari sumber dana dari portofolio teknologi dan saham AI yang telah menghasilkan keuntungan besar, bukan dari saham-saham defensif.
Fenomena tersebut turut memicu tekanan tambahan pada saham semikonduktor, saham berbasis momentum, hingga aset kripto.
Bitcoin bahkan sempat turun di bawah level 60.000 dollar AS untuk pertama kalinya sejak akhir 2024, menandakan berkurangnya minat terhadap aset berisiko tinggi.
Dana mengalir ke saham defensif
Saat saham teknologi tertekan, investor justru memburu saham-saham defensif yang dianggap lebih aman menghadapi ketidakpastian ekonomi.
Saham Colgate-Palmolive naik 4 persen, Coca-Cola menguat lebih dari 3 persen, sedangkan Johnson & Johnson bertambah sekitar 2 persen.
Pergerakan tersebut menunjukkan terjadinya rotasi sektor, yakni perpindahan dana dari saham pertumbuhan berisiko tinggi menuju sektor kebutuhan pokok dan kesehatan yang dinilai lebih stabil.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
SpaceX Buka Data Keuangan Jelang IPO, Starlink Jadi Penopang Utama Bisnis
SpaceX akhirnya membuka laporan keuangan internal menjelang IPO yang sudah lama dinantikan investor [1,017] url asal
#data-keuangan #elon-musk #pasar-saham-as #bursa-nasdaq #spacex-ipo #ipo-spacex
(Kompas.com - Money) 21/05/26 10:52
v/227374/
JAKARTA, KOMPAS.com – Perusahaan teknologi antariksa milik Elon Musk, SpaceX, untuk pertama kalinya membuka gambaran rinci kondisi keuangan internalnya ke publik menjelang penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO).
Perusahaan yang nantinya diperdagangkan dengan kode saham SPCX di bursa Nasdaq itu telah mengajukan prospektus IPO atau dokumen S-1 kepada Securities and Exchange Commission (SEC) menjelang agenda roadshow investor yang dilaporkan dimulai pada 5 Juni 2026.
Dokumen tersebut menjadi gambaran pertama bagi investor mengenai kinerja bisnis SpaceX, termasuk sumber pendapatan utama perusahaan, tantangan operasional, hingga arah ekspansi bisnis ke depan.
Dikutip dari Yahoo Finance, Kamis (21/5/2026), SpaceX sebelumnya telah mengajukan dokumen IPO secara rahasia kepada SEC pada April 2026 untuk mendapatkan masukan regulator terkait rencana pencatatan saham.
Perusahaan disebut membidik penghimpunan dana hingga 75 miliar dollar AS dengan valuasi mendekati 1,8 triliun dollar AS.
Jika terealisasi, nilai tersebut akan melampaui kapitalisasi pasar sejumlah perusahaan teknologi besar dunia, termasuk Tesla yang saat ini memiliki nilai pasar sekitar 1,4 triliun dollar AS.
Kinerja keuangan SpaceX mulai terbuka
Berdasarkan dokumen IPO, SpaceX membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 4,694 miliar dollar AS pada tiga bulan pertama 2026 atau periode yang berakhir pada 31 Maret 2026.
Namun perusahaan masih mencatat rugi operasional sebesar 1,943 miliar dollar AS.
Sementara itu, adjusted EBITDA SpaceX tercatat mencapai 1,127 miliar dollar AS.
Secara tahunan, sepanjang 2025, perusahaan membukukan pendapatan konsolidasi sebesar 18,674 miliar dollar AS.
Meski pendapatan bertumbuh besar, SpaceX masih mencatat rugi operasional sebesar 2,589 miliar dollar AS.
Adapun adjusted EBITDA perusahaan pada 2025 mencapai 6,584 miliar dollar AS.
Dalam dokumen tersebut, SpaceX menyebut segmen Space dan Connectivity menjadi kontributor utama pendapatan konsolidasi perusahaan.
Starlink menjadi mesin utama pertumbuhan
Segmen Connectivity yang mayoritas ditopang layanan internet satelit Starlink menjadi bisnis paling menguntungkan SpaceX.
Pada kuartal I 2026, segmen tersebut membukukan pendapatan sebesar 3,257 miliar dollar AS.
Lini bisnis itu juga menghasilkan laba operasional 1,188 miliar dollar AS dan adjusted EBITDA sebesar 2,087 miliar dollar AS.
Sepanjang 2025, bisnis Connectivity menghasilkan pendapatan 11,387 miliar dollar AS.
Laba operasional unit tersebut mencapai 4,423 miliar dollar AS, sedangkan adjusted EBITDA tercatat 7,168 miliar dollar AS.
Kinerja tersebut menunjukkan pertumbuhan tahunan yang signifikan.
Pendapatan tumbuh 49,8 persen secara tahunan, laba operasional melonjak 120,4 persen, sementara adjusted EBITDA meningkat 86,2 persen.
SpaceX juga mengungkapkan bahwa hingga akhir Maret 2026, Starlink telah mengoperasikan lebih dari 9.600 satelit dan melayani sekitar 10,3 juta pelanggan.
Pertumbuhan layanan internet satelit itu kini menjadi faktor utama yang menopang profitabilitas perusahaan dan dinilai menjadi alasan kuat mengapa SpaceX memilih momentum IPO saat ini.
Bisnis peluncuran roket masih menanggung beban besar
Di luar Starlink, SpaceX juga menjalankan segmen Space yang mencakup bisnis peluncuran roket.
Pada kuartal I 2026, unit tersebut menghasilkan pendapatan 619 juta dollar AS.
Namun segmen itu masih mencatat rugi operasional sebesar 662 juta dollar AS.
Sementara kerugian adjusted EBITDA mencapai 351 juta dollar AS.
Sepanjang 2025, segmen Space menghasilkan pendapatan 4,086 miliar dollar AS.
Unit bisnis tersebut membukukan rugi operasional 657 juta dollar AS.
Namun adjusted EBITDA masih tercatat positif sebesar 653 juta dollar AS.
SpaceX juga mengungkapkan besarnya biaya pengembangan Starship, roket generasi terbaru yang dirancang untuk mengangkut kargo dalam jumlah besar sekaligus berpotensi menjadi wahana pendaratan di Bulan.
Perusahaan telah menggelontorkan lebih dari 15 miliar dollar AS untuk proyek Starship.
Nilai investasi itu bahkan melampaui anggaran awal yang sebelumnya direncanakan perusahaan.
Starship dijadwalkan menjalani misi uji terbang ke-12 pada pekan ini.
Bisnis AI menjadi sumber kerugian terbesar
Selain bisnis luar angkasa dan internet satelit, SpaceX kini juga mengembangkan bisnis kecerdasan buatan atau AI.
Segmen tersebut kini disebut SpaceXAI dan mencakup bisnis xAI.
Pada kuartal I 2026 saja, lini AI membukukan pendapatan sebesar 818 juta dollar AS.
Namun bisnis tersebut mencatat rugi operasional sangat besar, yakni mencapai 2,469 miliar dollar AS.
Kerugian adjusted EBITDA juga mencapai 609 juta dollar AS.
Secara tahunan, bisnis AI SpaceX membukukan kerugian hingga 6,355 miliar dollar AS sepanjang 2025.
Dokumen IPO menunjukkan bahwa rugi operasional perusahaan saat ini sebagian besar dipicu investasi besar pada pengembangan AI.
Sementara bisnis inti SpaceX sebelumnya, yakni Connectivity dan Space, sudah mampu menghasilkan keuntungan operasional dan EBITDA secara gabungan.
Kuartal I 2026 bahkan menunjukkan kerugian operasional semakin dalam seiring dampak konsolidasi penuh bisnis xAI.
IPO SpaceX dan ambisi besar Elon Musk
Sesuai aturan SEC, SpaceX wajib membuka prospektus publik setidaknya 15 hari sebelum roadshow investor dimulai.
Tahapan roadshow merupakan proses ketika perusahaan bersama penjamin emisi menawarkan saham kepada investor institusi besar dan perusahaan pialang.
Pada fase tersebut, harga IPO final biasanya mulai ditentukan sebelum saham resmi diperdagangkan di bursa.
Setelah alokasi saham kepada investor institusi selesai dilakukan, prospektus final diterbitkan dan saham mulai diperdagangkan sehari setelah harga IPO ditetapkan.
Bagi Elon Musk, IPO SpaceX menjadi salah satu tonggak penting dari ambisi panjang yang dibangun sejak perusahaan berdiri pada 2002.
Pada 2012, SpaceX mulai mengirimkan kargo menuju Stasiun Luar Angkasa Internasional menggunakan roket buatannya.
Di balik cerita valuasi besar SpaceX, Starlink menjadi salah satu alasan utama yang menarik perhatian investor.
Layanan internet satelit yang mulai beroperasi pada 2019 tersebut kini menjadi sumber keuntungan terbesar perusahaan.
Di sisi lain, SpaceX bersama Tesla juga mengumumkan Terafab, perusahaan patungan yang dirancang untuk mengintegrasikan seluruh tahapan produksi semikonduktor dalam satu fasilitas.
Terafab akan mengembangkan dua jenis chip utama.
Pertama, prosesor edge inference untuk mendukung sistem full self-driving Tesla, robot humanoid Optimus, serta armada Robotaxi.
Kedua, chip berdaya tinggi yang dirancang untuk kebutuhan luar angkasa, termasuk mendukung satelit SpaceX, pusat data orbital, serta pengembangan AI.
Dana segar hasil IPO nantinya juga akan digunakan untuk mendukung pembangunan pusat data orbital yang menjadi salah satu prioritas Elon Musk.
Musk meyakini pengembangan komputasi AI di luar angkasa berpotensi lebih murah dibandingkan di Bumi.
Di sisi kepemilikan saham, Musk dilaporkan masih menguasai sekitar 42 persen saham SpaceX sebelum potensi dilusi dari IPO.
Jika valuasi perusahaan mampu mencapai 1,6 triliun dollar AS, Musk berpotensi menjadi orang pertama di dunia dengan kekayaan menembus 1 triliun dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
IPO SpaceX Makin Dekat, BlackRock Dikabarkan Siap Investasi Jumbo
BlackRock, dikabarkan mempertimbangkan investasi senilai 5 miliar dollar AS hingga 10 miliar dollar AS dalam IPO SpaceX [611] url asal
#elon-musk #pasar-saham #pasar-saham-as #blackrock #bursa-nasdaq #penawaran-umum-perdana-saham #ipo-spacex
(Kompas.com - Money) 17/05/26 13:00
v/222843/
KOMPAS.com - Raksasa pengelola aset dunia, BlackRock, dikabarkan tengah mempertimbangkan investasi senilai 5 miliar dollar AS hingga 10 miliar dollar AS atau sekitar Rp 88 triliun-Rp 176 triliun dalam penawaran umum perdana saham (IPO) SpaceX.
Dikutip dari Reuters, Minggu (17/5/2026), pembahasan investasi tersebut dilakukan menjelang IPO SpaceX yang diperkirakan berlangsung bulan depan.
SpaceX disebut menargetkan penghimpunan dana sekitar 75 miliar dollar AS dengan valuasi mencapai 1,75 triliun dollar AS. Jika terealisasi, nilai tersebut berpotensi menjadikan IPO SpaceX sebagai yang terbesar dalam sejarah pasar modal dunia.
BlackRock disebut akan menggunakan dana dari portofolio active managed funds senilai 536 miliar dollar AS untuk investasi tersebut. Meski demikian, nilai akhir investasi masih dapat berubah tergantung harga IPO dan kondisi pasar menjelang pencatatan saham.
Reuters sebelumnya melaporkan SpaceX berencana mencatatkan saham di bursa Nasdaq paling cepat pada 12 Juni 2026 dengan kode saham SPCX.
Hingga kini, BlackRock menolak memberikan komentar terkait laporan tersebut. Sementara itu, SpaceX belum merespons permintaan tanggapan media.
Investor antusias, analis ingatkan risiko
Rencana IPO SpaceX memicu antusiasme besar di kalangan investor karena perusahaan milik Elon Musk itu dinilai memiliki posisi dominan dalam industri antariksa global.
Didirikan pada 2002, SpaceX kini menguasai lebih dari 80 persen peluncuran roket global dan memiliki lebih dari 10.000 satelit Starlink yang menyediakan layanan internet berbasis satelit.
Perusahaan tersebut juga menjadi mitra utama NASA dan Pentagon, termasuk dalam pengembangan proyek pertahanan rudal “Golden Dome” yang diinisiasi Presiden AS Donald Trump.
Namun, di tengah optimisme tersebut, sejumlah analis mengingatkan investor agar berhati-hati terhadap tingginya valuasi SpaceX.
Perusahaan pengelola aset terbesar dunia, BlackRock, berhasil mencatat rekor baru dengan total aset kelolaan (assets under management/AUM) melampaui 14 triliun dollar AS pada akhir 2025.Berdasarkan riset Nasdaq, sekitar 64 persen IPO tercatat berkinerja lebih buruk dibanding pasar saham secara umum dalam tiga tahun pertama setelah melantai di bursa.
Beberapa IPO besar sebelumnya juga mengalami tekanan harga setelah debut di pasar saham. Saham Meta Platforms misalnya sempat turun 47 persen dari puncak pasca-IPO, sementara Alibaba terkoreksi 26 persen dan Uber turun 18 persen.
Analis menilai valuasi SpaceX yang mencapai 1,75 triliun dollar AS membuat ruang kenaikan saham menjadi semakin terbatas. Kondisi itu dinilai meningkatkan risiko koreksi apabila pertumbuhan bisnis melambat atau ekspektasi pasar tidak terpenuhi.
Investor ritel juga dinilai berpotensi menghadapi risiko lonjakan harga pada hari pertama perdagangan, karena investor institusi biasanya memperoleh saham pada harga IPO sebelum diperdagangkan ke publik.
Fenomena serupa sebelumnya terjadi pada IPO Coinbase dan Rivian yang sempat melonjak tinggi sebelum akhirnya mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan berikutnya.
Struktur tata kelola jadi sorotan
Selain valuasi, struktur tata kelola perusahaan SpaceX juga menjadi perhatian investor.
Laporan Reuters menyebut SpaceX mengusulkan struktur yang memberi Elon Musk kewenangan sangat besar melalui saham dengan hak suara super (super-voting shares).
Dalam skema tersebut, Musk bahkan disebut menjadi satu-satunya pihak yang dapat memberhentikan dirinya sendiri dari posisi CEO.
Sejumlah dana pensiun publik terbesar di AS dikabarkan telah mengirim surat keberatan terhadap struktur tata kelola tersebut dan menyebutnya sebagai salah satu yang paling menguntungkan manajemen dalam sejarah pasar modal AS.
Meski demikian, sebagian investor tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang SpaceX. Mereka menilai dominasi bisnis peluncuran roket dan pertumbuhan Starlink membuat perusahaan itu memiliki keunggulan kompetitif yang sulit ditandingi.
Pada 2025, pendapatan SpaceX tercatat naik lebih dari 30 persen menjadi 18,7 miliar dollar AS. Namun perusahaan membukukan rugi 4,9 miliar dollar AS akibat meningkatnya kerugian unit kecerdasan buatan xAI.
Di sisi lain, laba Starlink dilaporkan melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 4,4 miliar dollar AS.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangSentimen AI dan Inflasi Uji Wall Street Pekan Depan
Raksasa semikonduktor Nvidia serta sejumlah peritel yang dipimpin oleh Walmart akan merilis laporan keuangannya. [373] url asal
#pasar-saham-as #pekan-depan #nvidia #walmart
(IDX-Channel - Market News) 17/05/26 06:00
v/222666/
IDXChannel - Dua tema yang krusial bagi pasar saham AS, yaitu ledakan kecerdasan buatan (AI) dan tekanan inflasi terhadap belanja konsumen, akan menjadi sorotan investor pekan depan.
Raksasa semikonduktor Nvidia serta sejumlah peritel yang dipimpin oleh Walmart akan merilis laporan keuangannya.
Melansir Reuters, indeks saham melonjak dalam beberapa pekan terakhir, dengan acuan S&P 500 dan indeks teknologi Nasdaq Composite berada di dekat level tertinggi sepanjang masa. Dua faktor yang memengaruhi pergerakan pasar yaitu perkembangan AI dan lonjakan harga energi akibat perang.
Saham sempat melemah pada Jumat lantaran kenaikan harga minyak mentah memicu kekhawatiran inflasi yang juga mendorong imbal hasil obligasi naik tajam.
Meski begitu, S&P 500 telah naik hampir 17 persen sejak titik terendah tahun ini pada akhir Maret, dan kini sudah menguat lebih dari 8 persen sepanjang 2026.
Setelah kenaikan tajam tersebut, beberapa investor menilai pasar siap untuk jeda. Ada kekhawatiran hanya sedikit saham yang akan memimpin kenaikan, yang artinya reli mungkin tidak sekuat yang terlihat. Sebagai contoh, hanya sekitar seperlima komponen S&P 500 yang mengungguli indeks sejak titik terendah 30 Maret hingga Kamis pagi, menurut data LSEG.
Laporan Nvidia jadi sorotan
Nvidia akan melaporkan kinerjanya pada Rabu pekan depan, di tengah berakhirnya kuartal pertama yang tercatat kuat untuk pertumbuhan laba perusahaan AS.
Saham Nvidia, perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia serta saham semikonduktor lainnya telah mendorong indeks naik dalam beberapa pekan terakhir. Saham Nvidia naik 36 persen sejak titik terendah Maret, sementara indeks semikonduktor Philadelphia melonjak lebih dari 60 persen, didorong permintaan chip yang sangat tinggi seiring perusahaan teknologi menggelontorkan dana besar untuk membangun pusat data dan infrastruktur AI.
Produk AI Nvidia telah mendorong sahamnya naik lebih dari 1.800 persen sejak pasar bullish terbaru dimulai pada Oktober 2022.
Analis PNC Financial Services, Yung-Yu Ma, mengatakan salah satu fokus adalah apakah para pesaing mulai menggerus pangsa pasar Nvidia.
“Apakah Nvidia mampu mempertahankan posisi kepemimpinannya seperti beberapa tahun terakhir,” ujarnya.
Investor menunggu sinyal belanja konsumen dari sektor ritel
Pekan depan juga akan memberikan gambaran terbaru tentang industri ritel. Walmart akan merilis laporan kuartalannya pada Kamis. Peritel lain yang juga melaporkan kinerja termasuk Home Depot, Target, dan TJX Companies.
Investor mulai waspada bahwa inflasi akibat perang dapat mulai menekan belanja konsumen, yang menyumbang lebih dari dua pertiga ekonomi AS.
(NIA DEVIYANA)
Data Inflasi dan Pertemuan AS-China Jadi Fokus Pelaku Pasar Wall Street Pekan Depan
Bursa saham AS pada pekan depan akan dipengaruhi oleh data inflasi-pengeluaran konsumen, perkembangan perang Iran, dan pertemuan pemimpin AS-China. [441] url asal
#wall-street #wall-street-pekan-depan #pasar-saham-as #pertemuan-as-china #konflik-timur-tengah #inflasi-as
(IDX-Channel - Market News) 10/05/26 09:00
v/216832/
IDXChannel - Bursa saham Amerika Serikat (AS) yang sedang dalam tren naik, pada pekan depan akan dipengaruhi oleh data inflasi dan pengeluaran konsumen, perkembangan perang di Iran, dan pertemuan penting antara para pemimpin AS dan China.
Dilansir dari Reuters, Minggu (10/5/2026), saham-saham AS tercatat melonjak. Indeks acuan S&P 500 naik lebih dari 16 persen dari titik terendah tahun ini, yang dicapai pada akhir Maret.
Musim pendapatan kuartalan AS terkuat dalam lebih dari empat tahun telah meningkatkan sentimen pasar saham, sementara kekhawatiran tentang dampak ekonomi terburuk dari perang Iran telah mereda dan investor berbondong-bondong masuk karena takut kehilangan keuntungan.
"Kita telah melihat pemulihan yang luar biasa ini karena pasar telah bertekad untuk fokus hanya pada hal-hal positif," kata Kepala Strategi Pasar di Man Group, Kristina Hooper.
Harapan akan berakhirnya konflik Timur Tengah, yang dimulai pada akhir Februari dengan serangan AS-Israel terhadap Iran, tetap menjadi perhatian utama Wall Street. Secara khusus, investor sangat ingin melihat pembukaan kembali Selat Hormuz yang merupakan titik penting bagi pasokan minyak global.
Harga energi telah melonjak setelah perang Iran, dengan harga minyak mentah AS naik lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini.
Perang tersebut juga diperkirakan akan menjadi topik pembicaraan ketika Presiden AS Donald Trump bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Beijing akhir pekan depan. Investor akan memantau setiap perkembangan antara kedua negara mengenai akses ke logam tanah jarang dan teknologi, serta isu-isu lainnya.
Selanjutnya, lonjakan pasar terbaru, yang telah mendorong S&P 500 naik 8 persen pada 2026 hingga Jumat, dibangun di atas tiga tahun berturut-turut dengan pengembalian dua digit. Nasdaq Composite yang didominasi teknologi terakhir kali naik hampir 13 persen sepanjang tahun, dengan kedua indeks mencapai level rekor.
Meskipun musim hasil kuartal pertama akan segera berakhir, laporan perusahaan akan tetap menjadi pendorong utama bagi saham dalam beberapa hari mendatang.
Pada pekan depan, perusahaan peralatan jaringan teknologi Cisco dan pembuat peralatan semikonduktor Applied Materials akan merilis hasil laporannya. Kemudian disusul oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Nvidia dan Walmart di akhir bulan.
Selain itu, Indeks harga konsumen (CPI), sebuah indikator inflasi kini tengah dipantau ketat. Pelaku pasar memperkirakan naik 0,6 persen. CPI naik 0,9 persen pada Maret, yang tertinggi dalam hampir empat tahun, didorong oleh lonjakan harga bensin.
Dengan pasar yang mengharapkan penyelesaian perang dalam waktu dekat, investor mengatakan mereka mungkin akan fokus pada angka inti CPI, yang tidak memasukkan energi dan dapat memberikan petunjuk yang lebih jelas untuk memproyeksikan arah suku bunga.
Menyusul lonjakan harga energi terkait perang, pasar telah mengesampingkan pemotongan suku bunga yang menguntungkan pasar saham tahun ini, dan pertemuan Federal Reserve terbaru menunjukkan sentimen yang lebih hawkish dari beberapa pembuat kebijakan.
(Dhera Arizona)
Pasar Saham AS Tetap Kuat di Tengah Gejolak Politik
Pasar keuangan AS bertahan meski Gedung Putih menggulirkan kebijakan kontroversial. Arus dana ke ETF saham terus mengalir deras. [767] url asal
#wall-street #donald-trump #pasar-saham #pasar-keuangan #pasar-saham-as #kebijakan-trump #investor-global #gejolak-politik
(Kompas.com - Money) 17/01/26 10:01
v/105722/
KOMPAS.com - Pasar keuangan Amerika Serikat (AS) menunjukkan ketahanan di tengah serangkaian perkembangan politik yang sebelumnya berpotensi mengguncang sentimen investor.
Pada awal 2026, Presiden Venezuela ditangkap, Departemen Kehakiman AS membuka penyelidikan terhadap Federal Reserve, dan Gedung Putih melakukan intervensi di sejumlah sektor perdagangan.
Namun, alih-alih tertekan, pasar saham AS justru menguat. Kondisi tersebut memperpanjang tren pengambilan risiko yang selama ini menopang agenda kebijakan agresif Presiden AS Donald Trump.
Aliran Dana Mengalir Deras ke Pasar Saham
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (17/1/2026), minat investor tercermin dari derasnya arus dana ke exchange-traded fund (ETF) berbasis saham. Pada Januari, inflow ETF saham tercatat mencapai lima kali lipat rata-rata bulanan.
Dalam tiga bulan terakhir, dana yang masuk ke ETF saham mencapai rekor sekitar 400 miliar dollar AS atau sekitar Rp 6.763,6 triliun (asumsi kurs Rp 16.909 per dollar AS).
ETF leveraged-long kini mengelola aset senilai 145 miliar dollar AS atau sekitar Rp 2.451,8 triliun, jauh melampaui dana sekitar 12 miliar dollar AS atau Rp 202,9 triliun yang diposisikan untuk penurunan pasar.
Menurut Bank of America Corp., alokasi kas investor turun ke level terendah sepanjang sejarah.
Sikap agresif investor juga terlihat di pasar kredit. Premi risiko untuk memegang obligasi berimbal hasil tinggi terus menyempit, meskipun penerbitan utang korporasi meningkat.
Kondisi tersebut membuat perilaku pasar kredit dinilai menyerupai situasi menjelang krisis keuangan global 2007.
AFP/JIM WATSON Pasar keuangan AS bertahan meski Gedung Putih menggulirkan kebijakan kontroversial. Arus dana ke ETF saham terus mengalir deras.Pasar Jadi Tolok Ukur Gedung Putih
Tingginya kepercayaan pasar dinilai memberi ruang bagi Gedung Putih untuk semakin berani menguji batas kebijakan.
“Presiden saat ini sangat menjadikan pasar sebagai papan skor, dan papan skor itu, dari sudut pandang presiden, menunjukkan bahwa dia menang,” ujar Chief Investment Officer Siebert Financial, Mark Malek.
Menurut dia, kondisi ini berpotensi mendorong pemerintahan Trump memperluas agenda kebijakan yang sebelumnya belum dijalankan. “Dengan kata lain, bersiaplah pada hal-hal tak terduga,” katanya.
Situasi saat ini berbeda dengan April tahun lalu, ketika pasar global sempat bergejolak akibat rencana kenaikan tarif yang berpotensi mengganggu rantai pasok global.
Saat itu, indeks S&P 500 sempat anjlok dan mendorong pemerintahan Trump menarik kembali kebijakan proteksionisnya.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen langka dalam periode kedua kepemimpinan Trump ketika reaksi investor secara langsung memengaruhi arah kebijakan.
Optimisme terhadap Pemulihan Ekonomi
Kini, berbagai kejutan kebijakan cenderung dipandang sebagai gangguan sementara. Sejumlah investor meyakini, jika pasar bereaksi keras, Gedung Putih akan kembali melunak sebagaimana terjadi pada April lalu.
Sementara itu, dana terus mengalir ke sektor-sektor yang dikaitkan dengan kecerdasan buatan, pemulihan industri, dan meningkatnya permintaan siklikal.
Optimisme tersebut tercermin dari pergerakan indeks. ETF S&P 500 berbobot sama mengungguli versi berbobot kapitalisasi, sementara salah satu dana yang melacak indeks tersebut mencatat arus masuk sebesar 3,7 miliar dollar AS.
Indeks Russell 2000 naik 2 persen dalam sepekan, mengungguli S&P 500 yang mencatat penurunan tipis.
“Kami melihat pertumbuhan tanpa tekanan inflasi. Perekonomian berada pada fondasi yang kuat di saat inflasi masih terkendali,” kata Portfolio Manager Brandywine Global Investment Management, Jack McIntyre.
Ia juga menyinggung adanya unsur fear of missing out (FOMO) di kalangan investor.
Serangkaian data ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan turut memperkuat sentimen tersebut, mulai dari klaim pengangguran yang menunjukkan pasar tenaga kerja tetap tangguh hingga produksi pabrik AS yang meningkat secara tak terduga pada Desember.
Volatilitas Tetap Rendah
Di pasar opsi, indeks volatilitas VIX berada di persentil ke-17 dalam rentang lima tahunnya, meski pemerintahan Trump mengusulkan pembatasan suku bunga kartu kredit, meningkatkan retorika terhadap Iran, dan menyita aset minyak Venezuela.
Skew, atau premi perlindungan terhadap risiko penurunan tajam, masih berada di bawah rata-rata. Permintaan instrumen lindung nilai juga tetap rendah.
"Investor selama ini begitu diuntungkan dengan mengabaikan risiko geopolitik, sehingga pada titik ini mereka membutuhkan sesuatu yang benar-benar nyata untuk menggoyahkan kepercayaan tersebut,” kata pendiri Financial Insyghts, Peter Atwater.
Risiko Posisi Pasar yang Terlalu Seragam
Meski demikian, risiko utama bukan berasal dari satu kebijakan tertentu, melainkan dari posisi pasar yang semakin seragam. Ketika mayoritas pelaku pasar bergerak ke arah yang sama, perubahan sentimen kecil berpotensi memicu pergerakan besar.
Head of Derivatives Strategy RBC Capital Markets, Amy Wu Silverman, menilai sebagian investor institusional masih bersikap lebih berhati-hati.
"Setidaknya ada kelompok investor institusional yang cukup signifikan yang akan melakukan lindung nilai jika ada konfirmasi penurunan, kelompok yang sama yang terpukul pada 2 April kemungkinan masih lebih pesimistis dibandingkan yang tercermin di pasar," ujarnya.
“Mereka kemungkinan akan kembali masuk jika terjadi aksi jual besar dengan deviasi standar yang ekstrem,” pungkas dia.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang
Walmart Masuk Nasdaq 100 Mulai 20 Januari, Gantikan AstraZeneca
Walmart Inc akan bergabung ke dalam indeks Nasdaq 100 mulai 20 Januari 2026. Masuknya raksasa ritel AS ini menggantikan posisi AstraZeneca Plc. [450] url asal
#walmart #pasar-saham-as #bursa-efek-new-york #indeks-nasdaq #nasdaq-100 #saham-walmart
(Kompas.com - Money) 10/01/26 22:09
v/99456/
KOMPAS.com – Walmart Inc resmi bergabung ke dalam indeks Nasdaq 100, menggantikan AstraZeneca Plc. Perubahan tersebut diumumkan Nasdaq Global Indexes pada Jumat (9/1/2026).
Perubahan komposisi indeks akan berlaku sebelum pembukaan perdagangan pada 20 Januari 2026. Sementara itu, pasar saham Amerika Serikat (AS) akan tutup pada 19 Januari karena hari libur.
Masuknya Walmart menyusul langkah perusahaan yang pada tahun lalu memindahkan pencatatan sahamnya dari New York Stock Exchange (NYSE) ke Nasdaq. Perpindahan tersebut tercatat sebagai transfer pencatatan saham terbesar dalam sejarah.
Dikutip dari Bloomberg, Sabtu (10/1/2026), analis Jefferies Financial Group Inc pada Desember lalu memperkirakan, bergabungnya Walmart ke dalam Nasdaq 100 berpotensi memicu aliran dana hampir 19 miliar dollar AS.
Dana tersebut berasal dari penyesuaian portofolio dana indeks dan produk reksa dana berbasis bursa (ETF).
Walmart sebelumnya diperkirakan akan masuk ke dalam indeks tersebut pada rebalancing tahunan Desember. Namun, waktu perpindahan pencatatan saham membuat perusahaan ini melewati batas waktu pengumpulan data pasar yang digunakan dalam proses rebalancing.
Perusahaan yang berbasis di Bentonville, Arkansas, itu kini memiliki nilai kapitalisasi pasar mendekati 1 triliun dollar AS.
Kenaikan tersebut ditopang pertumbuhan penjualan yang stabil serta peningkatan pangsa pasar, seiring konsumen beralih ke kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau.
Selain itu, Walmart terus memperluas bisnis digitalnya. Bisnis e-commerce Walmart di Amerika Serikat diperkirakan mencapai titik profitabilitas pada tahun ini, didukung pertumbuhan pendapatan dari iklan, marketplace, dan layanan keanggotaan.
Walmart juga meningkatkan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam berbagai operasi internal, termasuk penjadwalan dan manajemen rantai pasok. Perusahaan mulai meluncurkan alat berbasis AI untuk konsumen melalui kemitraan dengan OpenAI.
Dalam tiga tahun terakhir, saham Walmart mencatatkan total return sebesar 146 persen. Sebaliknya, saham AstraZeneca hanya naik 42 persen pada periode yang sama.
Keluarnya AstraZeneca dari Nasdaq 100 memperpanjang tren pelemahan saham perusahaan tersebut sejak mencapai puncaknya pada masa pandemi Covid-19.
Saat itu, penjualan vaksin Covid-19 mendorong AstraZeneca masuk ke dalam indeks. Namun, kinerja saham tertinggal setelah pendapatan vaksin menurun dan fokus investor beralih ke pengembangan obat obesitas oleh perusahaan pesaing.
Sebagai informasi, Nasdaq 100 adalah indeks pasar saham yang terdiri dari 100 perusahaan non-keuangan terbesar yang melantai di bursa efek Nasdaq. Indeks ini menjadi acuan bagi ratusan miliar dollar AS produk investasi.
Hingga Desember 2025, lebih dari 600 miliar dollar AS aset tercatat mengikuti pergerakan Nasdaq 100 melalui ETF. Salah satunya adalah Invesco QQQ Trust Series 1 dengan dana kelolaan sekitar 408 miliar dollar AS, berdasarkan data Nasdaq.
Sepanjang 2025, Nasdaq 100 mencatatkan kenaikan sekitar 21 persen secara total return. Kinerja tersebut melampaui S&P 500 yang naik 18 persen dan Dow Jones Industrial Average yang menguat 16 persen.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangPanin Asset Management Bidik Dana Kelolaan Rp17 Triliun di 2026
PT Panin Asset Management menargetkan dana kelolaan Rp17 triliun pada 2026, dengan fokus pada diversifikasi investasi global. [395] url asal
#panin-asset-management #dana-kelolaan #reksa-dana #asset-under-management #aum-panin #reksa-dana-saham #pasar-saham-indonesia #investasi-global #reksa-dana-syariah #efek-global #pasar-saham-as #otorit
(Bisnis.Com - Market) 04/01/26 11:08
v/92604/
Bisnis.com, JAKARTA – PT Panin Asset Management memandang optimis kinerja industri reksa dana sepanjang 2026. Target dana kelolaan atauasset under managementbahkan mencapai Rp17 triliun.
Adapun data per 31 Desember 2025, Panin mencatatkan dana kelolaan di level Rp14,36 triliun. Posisi ini terkoreksi dari realisasi Rp15 triliun AUM yang mampu dicatatkan Panin AM pada 2024. Dari total dana kelolaan tersebut, AUM reksa dana saham mencatatkan kontribusi tertinggi pada 2025 senilai Rp6,29 triliun.
Memasuki 2026, Panin AM optimistisAUM perusahaan akan bertumbuh secara signifikan. Meskipun begitu, Panin tidak menargetkan pertumbuhan AUM pada jenis reksa dana tertentu.
“Kami menargetkan Rp17 triliun. Secara umum, kami tidak menargetkan jenis tertentu karena pilihan produk sesuai preferensi dan profil risiko nasabah,” kata Direktur Panin AM Rudiyanto kepada Bisnis, dikutip Minggu (4/12/2025).
Panin menilai kinerja pasar saham Tanah Air masih cenderung volatil belakangan. Dus, strategi Panin adalah memberikan investor eksposur terhadap efek global yang memiliki investasi di bursa saham AS.
Hal itu dilakukan dalam rangka mengurangi risiko terhadap volatilitas pasar saham Indonesia yang sepanjang 2025, kendati mampu mencetak 24 kali rekor baru, tetapi sempat mengalami pelemahan kinerja pada pertengahan tahun lalu lantaran pengumuman tarif Trump yang diumumkan pada April 2025.
“Mengingat kinerja saham Indonesia yang relatif volatil, kami menawarkan reksa dana syariah efek global yang berinvestasi di pasar saham AS,” kata Rudiyanto.
Adapun data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat total AUM industri reksa dana pada Desember 2025 menjadi yang tertinggi sejak 2020. Total AUM reksa dana bahkan mencapai Rp679,18 triliun pada bulan terakhir 2025.
Pertumbuhan AUM industri reksa dana cukup bergejolak sepanjang 2025. Sempat menyentuh level terendahnya pada Januari 2025 senilai Rp493,95 triliun, AUM industri reksa dana perlahan-lahan tumbuh menjadi Rp505,83 triliun pada April 2025.
Tumbuhnya AUM reksa dana pada April sejalan dengan amblesnya kondisi pasar saham Tanah Air saat itu. Alhasil, investor memilih untuk mempercayakan asetnya kepada manajer investasi dengan harapan mampu mendulangreturnyang lebih baik ketimbang pasar saham.
Hal itu tampak dari pertumbuhan reksa dana saham dari posisi Rp67,49 triliun pada Maret 2025 dan menjadi Rp69,83 triliun saat pasar saham mencatatkan koreksi yang dalam.
Memasuki Oktober 2025, dana kelolaan industri reksa dana telah mencapai level Rp621,67 triliun. Berlanjut pada November 2025 mencapai Rp656,96 triliun dan Desember di level Rp679,18 triliun.
“Tren penurunan suku bunga membuat ada pengalihan ke reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap terutama dari nasabah perbankan,” kata Rudi.
Warren Buffett Pensiun, Indikator Favoritnya Isyaratkan Koreksi Saham
Warren Buffett akan menyerahkan kepemimpinan Berkshire Hathaway. Indikator pasar favoritnya kini berada di level tertinggi sepanjang sejarah [507] url asal
#warren-buffett #pasar-saham #pasar-saham-as #berkshire-hathaway #greg-abel #valuasi-saham #saham-ai #buffett-indicator
(Kompas.com - Money) 31/12/25 10:11
v/89432/
KOMPAS.com - Warren Buffett akan segera mengakhiri kiprahnya sebagai CEO Berkshire Hathaway. Menjelang tonggak penting tersebut, indikator pasar saham favorit Buffett menunjukkan sinyal yang patut dicermati investor.
Buffett, yang kini berusia 95 tahun, dijadwalkan menyerahkan kendali Berkshire Hathaway kepada penerus pilihannya, Greg Abel, pada Rabu (31/12/2025). Serah terima kepemimpinan ini menutup perjalanan panjang Buffett sebagai salah satu investor paling berpengaruh di dunia.
Sepanjang kariernya, Warren Buffett dikenal melalui berbagai langkah besar, mulai dari akuisisi perusahaan kereta api Burlington Northern hingga menjalin hubungan erat dengan pendiri Microsoft, Bill Gates.
Ia juga konsisten membagikan pandangannya melalui surat tahunan kepada para pemegang saham.
“Budaya di Berkshire sebenarnya cukup sederhana. Anda melakukan apa yang Anda katakan akan Anda lakukan, dan Anda melakukannya pada saat yang Anda janjikan. Anda bersikap jujur. Anda membuat kesalahan dan bertanggung jawab atas kesalahan tersebut,” kata Howard Buffett, dikutip dari Yahoo Finance.
Howard Buffett disebut berada dalam antrean untuk menggantikan ayahnya sebagai chairman Berkshire Hathaway.
Sepanjang hidupnya, Buffett dikenal sebagai penganut setia investasi nilai (value investing), sebuah pendekatan yang menekankan pentingnya tidak membayar terlalu mahal untuk sebuah aset. Prinsip tersebut dipelajarinya dari sang mentor, Benjamin Graham.
Salah satu alat ukur pasar yang kerap dikaitkan dengan Buffett adalah Buffett Indicator.
Indikator ini membandingkan total kapitalisasi pasar saham Amerika Serikat, yang direpresentasikan oleh Indeks Wilshire 5000, dengan produk domestik bruto (PDB) tahunan AS.
Buffett Indicator dikenal luas setelah Buffett menulis artikel di Fortune Magazine pada 2001 bersama jurnalis senior Carol Loomis.
“Rasio ini memiliki keterbatasan tertentu dalam menjelaskan semua hal yang perlu Anda ketahui,” tulis Buffett dalam artikel tersebut.
“Meski demikian, rasio ini kemungkinan merupakan ukuran tunggal terbaik untuk melihat posisi valuasi pada suatu waktu tertentu,” lanjutnya.
Saat ini, Buffett Indicator berada di level yang belum pernah tercatat sebelumnya, didorong oleh lonjakan saham terkait kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Kondisi ini mengindikasikan valuasi saham yang sangat tinggi dan membuka peluang terjadinya koreksi sehat pada awal 2026.
Berdasarkan data GuruFocus, Buffett Indicator tercatat di kisaran 221,4 persen, melonjak sekitar 22 persen sejak 30 April. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak data GuruFocus dimulai pada 1970.
Pada saat yang sama, Indeks S&P 500 melesat hampir 17 persen sepanjang tahun ini. Kenaikan tersebut ditopang oleh optimisme terhadap potensi laba perusahaan berbasis AI serta revisi naik proyeksi keuntungan oleh para analis.
Buffett sendiri tetap menempatkan investasinya pada perusahaan-perusahaan yang terkait dengan masa depan teknologi, termasuk Apple, Amazon, dan belakangan Alphabet.
Ke mana pun arah pasar saham bergerak selanjutnya, satu hal tak terbantahkan: pengaruh Warren Buffett dalam dunia investasi sangat besar.
“Saya pikir Warren Buffett adalah yang terbaik sepanjang masa dalam dunia kapitalisme,” ujar CEO Brooks Running, Dan Sheridan, dalam wawancara Opening Bid pada Oktober.
“Ada begitu banyak arahan dan kebijaksanaan yang kami peroleh dari Warren selama bertahun-tahun,” lanjutnya.
Berkshire Hathaway mengakuisisi Brooks pada 2006. Setiap tahun, dalam pertemuan tahunan pemegang saham Berkshire, Brooks merilis sepatu edisi khusus bergambar wajah Buffett dan mitra bisnis lamanya, Charlie Munger.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarangWall Street Pekan Depan, Pasar Menanti Reli Santa Claus di Tengah Gejolak Akhir Tahun
Wall Street pada awal pekan depan diperkirakan menghadapi gejolak menjelang penutupan tahun. [309] url asal
#wall-street #gejolak #pasar-saham-as #reli-santa-claus
(IDX-Channel - Market News) 21/12/25 05:00
v/80063/
IDXChannel - Wall Street pada awal pekan depan diperkirakan menghadapi gejolak menjelang penutupan tahun.
Meski indeks saham masih berada di jalur kinerja yang solid pada 2025, indeks acuan S&P 500 (.SPX) sejauh ini melemah pada Desember, berlawanan dengan tren historisnya yang cenderung menguat.
Dua hal utama memicu fluktuasi pasar saham AS dalam beberapa pekan terakhir. Pertama, pengawasan terhadap belanja korporasi besar-besaran untuk pengembangan kecerdasan buatan (AI), lalu perubahan ekspektasi terkait pemangkasan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve pada 2026.
"Data ekonomi pekan ini memperkuat ekspektasi bahwa The Fed memiliki bias untuk memangkas suku bunga," ujar senior global investment strategist di Edward Jones, kata Angelo Kourkafas, dilansir Reuters, Minggu (21/12/2025).
Investor dalam beberapa hari ke depan mungkin memilih mengunci keuntungan setelah kinerja tahunan yang solid, sehingga memicu tekanan jual. Meski begitu, data terbaru kemungkinan memberikan lampu hijau bagi terjadinya reli Santa Claus tahun ini.
Menurut Stock Trader’s Almanac, sejak 1950 fenomena reli Santa Claus rata-rata mendorong S&P 500 naik 1,3 persen selama lima hari perdagangan terakhir di akhir tahun dan dua hari pertama Januari.
Tahun ini, periode tersebut dimulai pada Rabu pekan depan dan berlangsung hingga 5 Januari.
Sementara itu, sektor-sektor yang tertinggal sepanjang tahun ini mulai membantu menopang pasar. Sektor tersebut mencakup area yang sensitif terhadap siklus ekonomi seperti transportasi, keuangan, dan saham berkapitalisasi kecil, yang semuanya mencatat kenaikan sejauh Desember ini.
"Kami melihat dana bergerak menjauh dari teknologi. Area lain mulai mengambil peran dan membantu menjaga pasar tetap bergerak dalam kisaran yang relatif terbatas," kata Kourkafas.
Investor pekan depan juga masih mencerna sejumlah besar data ekonomi yang sebelumnya tertunda akibat penutupan pemerintah federal selama 43 hari. Data-data tersebut sangat berpengaruh bagi peritel memberikan diskon musim liburan.
Laporan ekonomi yang akan dirilis pekan depan mencakup produk domestik bruto (PDB) kuartal ketiga, pesanan barang tahan lama, dan kepercayaan konsumen.
(NIA DEVIYANA)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found
in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56